Translate

Kamis, 13 Januari 2011

GAIRAH JANDA KESEPIAN


Kisah ini terjadi
kurang lebih setahun yang lalu.
Tepatnya awal bulan mei 2003.
Panggil saja namaku Roni. Usiaku
saat ini 27 tahun. Dikampungku ada
seorang janda berusia 46 tahun,
namanya panggil aja Tente Ken.
Meski usianya sudah kepala empat
dan sudah punya 3 orang anak yang
sudah besar-besar, namun tubuhnya
masih tetap tampak bagus dan
terawat. Tante Ken mempunyai
wajah yang cantik dengan rambut
sebahu. Kulitnya putih bersih. Selain
itu yang membuatku selama ini
terpesona adalah payudara tante
Ken yang luar biasa montok.
Perkiraanku payudaranya berukuran
36C. Ditambah lagi pinggul aduhai
yang dimiliki oleh janda cantik itu.
Bodi tante Ken yang indah itulah
yang membuatku tak dapat
menahan birahiku dan selalu
berangan-angan bisa menikmati
tubuhnya yang padat berisi. Setiap
melakukan onani, wajah dan tubuh
tetanggaku itu selalu menjadi
inspirasiku.
Pagi itu jam sudah menunjukan
angka tujuh. Aku sudah bersiap
untuk berangkat ke kampus. Motor
aku jalankan pelan keluar dari
gerbang rumah. Dikejauhan aku
melihat sosok seorang wanita yang
berjalan sendirian. Mataku secara
reflek terus mengikuti wanita itu.
Maklum aja, aku terpesona melihat
tubuh wanita itu yang menurutku
aduhai, meskipun dari belakang.
Pinggul dan pantatnya sungguh
membuat jantungku berdesir. Saat
itu aku hanya menduga-duga kalau
wanita itu adalah tante Ken.
Bersamaan dengan itu, celanaku
mulai agak sesak karena kontolku
mulai tidak bisa diajak kompromi
alias ngaceng berat.
Perlahan-lahan motor aku arahkan
agak mendekat agar yakin bahwa
wanita itu adalah tante Ken.
Eh tante Ken. Mau kemana tante?”,
sapaku.
Tante Ken agak kaget mendengar
suaraku. Tapi beliau kemudian
tersenyum manis dan membalas
sapaanku.
Ehm.. Kamu Ron. Tante mau ke
kantor. Kamu mau ke kampus ?”,
tante Ken balik bertanya.
Iya nih tante. Masuk jam delapan.
Kalau gitu gimana kalau tante saya
anter dulu ke kantor? Kebetulan
saya bawa helm satu lagi ”, kataku
sambil menawarkan jasa dan
berharap tante Ken tidak menolak
ajakanku.
Nggak usah deh, nanti kamu
terlambat sampai kampus lho. ”
Suara tante Ken yang empuk dan
lembut sesaat membuat penisku
semakin menegang.
Nggak apa-apa kok tante. Lagian
kampus saya kan sebenarnya dekat”,
kataku sambil mataku selalu
mencuri pandang ke seluruh
tubuhnya yang pagi itu mengenakkan
bletzer dan celana panjang. Meski
tertutup oleh pakaian yang rapi,
tapi aku tetap bisa melihat
kemontokan payudaranya yang
lekukannya tampak jelas.
Benar nih Roni mau nganterin tante
ke kantor? Kalau gitu bolehlah
tante bonceng kamu ”, kata tante
Ken sambil melangkahkan kakinya
diboncengan.
Aku sempat agak terkejut karena
cara membonceng tante yang
seperti itu. Tapi bagaimanapun aku
tetap diuntungkan karena
punggungku bisa sesekali merasakan
empuknya payudara tante yang
memang sangat aku kagumi. Apalagi
ketika melewati gundukan yang ada
di jalan, rasanya buah dada tante
semakin tambah menempel di
punggungku. Pagi itu tante Ken aku
anter sampai ke kantornya. Dan aku
segera menuju ke kampus dengan
perasaan senang.
Waktu itu hari sabtu. Kebetulan
kuliahku libur. Tiba-tiba telepon di
sebelah tempat tidurku berdering.
Segera saja aku angkat. Dari
seberang terdengar suara lembut
seorang wanita.
Bisa bicara dengan Roni?”
Iya saya sendiri?”, jawabku masih
dengan tanda tanya karena merasa
asing dengan suara ditelepon.
Selamat pagi Roni. Ini tante Ken !”,
aku benar-benar kaget bercampur
aduk.
Se.. Selamat.. Pa.. Gi tante. Wah
tumben nelpon saya. Ada yang bisa
saya bantu tante ?”, kataku agak
gugup.
Pagi ini kamu ada acara nggak Ron?
Kalau nggak ada acara datang ke
rumah tante ya. Bisa kan ?”, pinta
tante Keny dari ujung telepon.
Eh.. Dengan senang hati tante. Nanti
sehabis mandi saya langsung ke
tempat tante ”, jawabku. Kemudian
sambil secara reflek tangan kiriku
memegang kontolku yang mulai
membesar karena membayangkan
tante Ken.
Baiklah kalau begitu. Aku tunggu ya.
Met pagi Roni.. Sampai nanti !” Suara
lembut tante Ken yang bagiku
sangat menggairahkan itu akhirnya
hilang diujung tepelon sana.
Pagi itu aku benar-benar senang
mendengar permintaan tante Ken
untuk datang ke rumahnya. Dan
pikiranku nglantur kemana-mana.
Sementara tanganku masih saja
mengelus-elus penisku yang makin
lama, makin membesar sambil
membayangkan jika yang memegang
kontolku itu adalah tante Ken.
Karena hasratku sudah menggebu,
maka segera saja aku lampiaskan
birahiku itu dengan onani
menggunakan boneka didol montok
yang aku beli beberapa bulan yang
lalu.
Aku bayangkan aku sedang
bersetubuh dengan tante Ken yang
sudah telanjang bulat sehingga
payudaranya yang montok menunggu
untuk dikenyut dan diremas. Mulut
dan tanganku segera menyapu
seluruh tubuh boneka itu.
Tante… Tubuhmu indah sekali.
Payudaramu montok sekali tante.
Aaah.. Ehs.. Ah ”, mulutku mulai
merancau membayangkan nikmatnya
ML dengan tante Ken.
Karena sudah tidak tahan lagi,
segera saja batang penisku,
kumasukkan ke dalam vagina didol
itu. Aku mulai melakukan gerakan
naik turun sambil mendekap erat
dan menciumi bibir boneka yang aku
umpamakan sebagai tante Ken itu
dengan penuh nafsu.
Ehm.. Ehs.. Nikmat sekali sayang..”
Kontolku semakin aku kayuh dengan
cepat.
Tante.. Nikmat sekali memekmu.
Aaah.. Punyaku mau keluar sayang.. ”,
mulutku meracau ngomong sendiri.
Akhirnya tak lama kemudian penisku
menyemburkan cairan putih kental
ke dalam lubang vagina boneka itu.
Lemas sudah tubuhku. Setelah
beristirahat sejenak, aku kemudian
segera menuju ke kamar mandi
untuk membersihkan kontol dan
tubuhku.
Jarum jam sudah menunjuk ke
angka 8 lebih 30 menit. Aku sudah
selesai mandi dan berdandan.
Nah, sekarang saatnya berangkat ke
tempat tante Ken. Aku sudah nggak
tahan pingin lihat kemolekan
tubuhmu dari dekat sayang ”,
gumamku dalam hati.
Kulangkahkan kakiku menuju rumah
tante Ken yang hanya berjarak 100
meter aja dari rumahku. Sampai di
rumah janda montok itu, segera
saja aku ketuk pintunya.
Ya, sebentar”, sahut suara seorang
wanita dari dalam yang tak lain
adalah tante Ken.
Setelah pintu dibuka, mataku benar-
benar dimanja oleh tampilan sosok
tante Ken yang aduhai dan berdiri
persis di hadapanku. Pagi itu tante
mengenakan celana street hitam
dipadu dengan atasan kaos ketat
berwarna merah dengan belahan
lehernya yang agak ke bawah.
Sehingga nampak jelas belahan yang
membatasi kedua payudaranya yang
memang montok luar biasa. Tante
Ken kemudian mengajakku masuk ke
dalam rumahnya dan menutup serta
mengunci pintu kamar tamu. Aku
sempat dibuat heran dengan apa
yang dilakukan janda itu.
Ada apa sih tante, kok pintunya
harus ditutup dan dikunci segala?”,
tanyaku penasaran.
Senyuman indah dari bibir sensual
tante Ken mengembang sesaat
mendengar pertanyaanku.
Oh, biar aman aja. Kan aku mau
ajak kamu ke kamar tengah biar
lebih rilek ngobrolnya sambil nonton
TV ”, jawab tante Ken seraya
menggandeng tanganku mengajak ke
ruangan tengah.
Sebenarnya sudah sejak di depan
pintu tadi penisku tegang karena
terangsang oleh penampilan tante
Ken. Malahan kali ini tangan halusnya
menggenggam tanganku, sehingga
kontolku nggak bisa diajak kompromi
karena semakin besar aja. Di ruang
tengah terhampar karpet biru dan
ada dua bantal besar diatasnya.
Sementara diatas meja sudah
disediakan minuman es sirup
berwarna merah. Kami kemudian
duduk berdampingan.
Ayo Ron diminum dulu sirupnya”, kata
tante padaku.
Aku kemudian mengambil gelas dan
meminumnya.
Ron. Kamu tahu nggak kenapa aku
minta kamu datang ke sini ?”, tanya
tante Ken sambil tangan kanan
beliau memegang pahaku hingga
membuatku terkejut dan agak
gugup.
Ehm.. Eng.. Nggak tante ”, jawabku.
Tante sebenarnya butuh teman
ngobrol. Maklumlah anak-anak tante
sudah jarang sekali pulang karena
kerja mereka di luar kota dan
harus sering menetap disana.
Jadinya ya.. Kamu tahu sendiri kan,
tante kesepian. Kira-kira kamu mau
nggak jadi teman ngobrol tante?
Nggak harus setiap hari kok.. !”, kata
tente Ken seperti mengiba.
Dalam hati aku senang karena
kesempatan untuk bertemu dan
berdekatan dengan tante akan
terbuka luas. Angan-angan untuk
menikmati pemandangan indah dari
tubuh janda itu pun tentu akan
menjadi kenyataan.
Kalau sekiranya saya dibutuhkan, ya
boleh-boleh aja tante. Justru saya
senang bisa ngobrol sama tante.
Biar saja juga ada teman. Bahkan
setiap hari juga nggak apa kok. ”
Tante tersenyum mendengar
jawabanku. Akhirnya kami berdua
mulai ngobrol tentang apa saja
sambil menikmati acara di TV. Enjoi
sekali. Apalagi bau wangi yang
menguar dari tubuh tante membuat
angan-anganku semakin melayang
jauh.
Ron, udara hari ini panas ya? Tante
kepanasan nih. Kamu kepanasan
nggak ?”, tanya tante Ken yang kali
ini sedikit manja.
Ehm.. Iya tante. Panas banget.
Padahal kipas anginnya sudah
dihidupin ”, jawabku sambil sesekali
mataku melirik buah dada tante
yang agak menyembul, seakan ingin
meloncat dari kaos yang
menutupinya.
Mata Tante Ken terus menatapku
hingga membuatku sedikit grogi,
meski sebenarnya birahiku sedang
menanjak. Tanpa kuduga, tangan
tante memegang kancing bajuku.
Kalau panas dilepas aja ya Ron, biar
cepet adem ”, kata tante Ken
sembari membuka satu-persatu
kancing bajuku, dan melepaskannya
hingga aku telanjang dada …
Aku saat itu benar-benar kaget
dengan apa yang dilakukan tante
padaku. Dan aku pun hanya bisa
diam terbengong-bengong. Aku
tambah terheran-heran lagi dengan
sikap tente Ken pagi itu yang
memintaku untuk membantu
melepaskan kaos ketatnya.
Ron, tolongin tante dong. Lepasin
kaos tante. Habis panas sih.. ”, pinta
tante Ken dengan suara yang manja
tapi terkesan menggairahkan.
Dengan sedikit gemetaran karena
tak menyangka akan pengalaman
nyataku ini, aku lepas kaos ketat
berwarna merah itu dari tubuh
tante Ken. Dan apa yang berikutnya
aku lihat sungguh membuat darahku
berdesir dan penisku semakin
tegang membesar serta jantung
berdetak kencang. Payudara tante
Ken yang besar tampak nyata di
depan mataku, tanpa terbungkus
kutang. Dua gunung indah milik janda
itu tampak kencang dan padat
sekali.
Kenapa Ron. Kok tiba-tiba diam?”,
tanya tante Ken padaku.
E.. Em.. Nggak apa-apa kok tante”,
jawabku spontan sambil
menundukkan kepala.
Ala.. enggak usah pura-pura. Aku
tahu kok apa yang sedang kamu
pikirkan selama ini. Tante sering
memperhatikan kamu. Roni
sebenarnya sudah lama pingin ini
tante kan ?” kata tante sambil
meraih kedua tanganku dan
meletakkan telapak tanganku di
kedua buah dadanya yang montok.
Ehm.. Tante.. Sa.. Ya.. Ee.. ”, aku
seperti tak mampu menyelesaikan
kata-kataku karena gugup. Apalagi
tubuh tante Ken semakin merapat
ke tubuhku.
Ron.. Remas susuku ini sayang. Ehm..
Lakukan sesukamu. Nggak usah
takut-takut sayang. Aku sudah lama
ingin menimati kehangatan dari
seorang laki-laki ”, rajuk tante Ken
sembari menuntun tanganku
meremas payudara montoknya.
Sementara kegugupanku sudah mulai
dapat dikuasai. Aku semakin
memberanikan diri untuk menikmati
kesempatan langka yang selama ini
hanya ada dalam angan-anganku
saja. Dengan nafsu yang membara,
susu tante Ken aku remas-remas.
Sementara bibirku dan bibirnya
saling berpagutan mesra penuh
gairah. Entah kapan celanaku dan
celana tante lepas, yang pasti saat
itu tubuh kami berdua sudah polos
tanpa selembar kainpun menempel di
tubuh. Permaianan kami semakin
panas. Setelah puas memagut bibir
tante, mulutku seperti sudah nggak
sabar untuk menikmati payudara
montoknya.
Uuhh… Aah…” Tante Ken mendesah-
desah tatkala lidahku menjilat-jilat
ujung puting susunya yang
berbentuk dadu.
Aku permainkan puting susu yang
munjung dan menggiurkan itu
dengan bebasnya. Sekali-kali
putingnya aku gigit hingga membuat
Tante Ken menggelinjang merasakan
kenikmatan. Sementara tangan
kananku mulai menggerayangi “vagina”
yang sudah mulai basah. Aku usap-
usap bibir vagina tante dengan
lembut hingga desahan-desahan
menggairahkan semakin keras dari
bibirnya.
Ron.. Nik.. Maat.. Sekali sa.. Yaang..
Uuuhh.. Puasilah tante sayang..
Tubuhku adalah milikmu ”, suara itu
keluar dari bibir janda montok itu.
Aku menghiraukan ucapan tante
karena sedang asyik menikmati
tubuh moleknya. Perlahan setelah
puas bermain-main dengan
payudaranya mulutku mulai kubawa
ke bawah menuju vagina tante Ken
yang bersih terawat tanpa bulu.
Dengan leluasa lidahku mulai
menyapu vagina yang sudah basah
oleh cairan.
Aku sudah tudak sabar lagi. Batang
penisku yang sudah sedari tadi
tegak berdiri ingin sekali merasakan
jepitan vagina janda cantik nan
montok itu. Akhirnya, perlahan
kumasukkan batang penisku ke
celah-celah vagina. Sementara
tangan tante membantu menuntun
tongkatku masuk ke jalannya.
Kutekan perlahan dan …
Aaah…”, suara itu keluar dari mulut
tante Ken setelah penisku berhasil
masuk ke dalam liang senggamanya.
Kupompa penisku dengan gerakan
naik turun. Desahan dan erangan
yang menggairahkanpun meluncur
dari mulut tante yang sudah
semakin panas birahinya.
Aach.. Ach.. Aah.. Terus sayang..
Lebih dalam.. Lagi.. Aah.. Nik.. Mat..”,
tante Ken mulai menikmati
permainan itu.
Aku terus mengayuh penisku sambil
mulutku melumat habis kedua buah
dadanya yang montok. Mungkin
sudah 20 menitan kami bergumul.
Aku merasa sudah hampir
tidak tahan lagi. Batang kemaluanku
sudah nyaris menyemprotkan cairan
sperma.
Tante.. Punyaku sudah mau keluar..”
Tahan seb.. Bentar sayang.. Aku jug..
A.. Mau sampai.. Aaach.. ”, akhirnya
tante Ken tidak tahan lagi.
Kamipun mengeluarkan cairan
kenikmatan secara hampir
bersamaan. Banyak sekali air mani
yang aku semprotkan ke dalam liang
senggama tante, hingga kemudian
kami kecapekan dan berbaring di
atas karpet biru.
Terima kasih Roni. Tante puas
dengan permainan ini. Kamu benar-
benar jantan. Kamu nggak nyeselkan
tidur dengan tante ?”, tanya beliau
padaku.
Aku tersenyum sambil mencium
kening janda itu dengan penuh
sayang.
Aku sangat senang tante. Tidak
kusangka tante memberikan
kenikmatan ini padaku. Karena sudah
lama sekali aku berangan-angan bisa
menikmati tubuh tante yang
montok ini ”
Tante Ken tersenyum senang
mendengar jawabanku.
Roni sayang. Mulai saat ini kamu
boleh tidur dengan tante kapan
saja, karena tubuh tante sekarang
adalah milikmu. Tapi kamu juga janji
lho. Kalau tante kepingin … Roni temani
tante ya.”, kata tante Ken kemudian.
Aku tersenyum dan mengangguk
tanda setuju. Dan kami pun mulai
saling merangsang dan bercinta
untuk yang kedua kalinya. Hari itu
adalah hari yang tidak pernah bisa
aku lupakan. Karena angan-anganku
untuk bisa bercinta dengan tante
Ken dapat terwujud menjadi
kenyataan. Sampai saat ini aku dan
tante Ken masih selalu melakukan
aktivitas sex dengan berbagai
variasi. Dan kami sangat bahagia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda