Translate

Sabtu, 01 Januari 2011

SENSASI BERCINTA DALAM KERETA


Ini adalah pengalamanku yang
benar-benar gila, karena aku sendiri
tak menyangka kalau kejadian ini
bisa terjadi pada diriku.
Jumat pagi, 16 Mei 2003, aku
kembali ke Jakarta setelah
bertugas di Semarang sejak hari
Senin. Karena Sabtu pagi aku ada
undangan pernikahan temanku, maka
kupaksakan diri untuk naik kereta
pagi. Ya, aku naik Argo Muria pagi,
dan benar-benar berangkat pukul
05.00 pagi. Sengaja aku memilih
kereta api, karena aku ingin
menikmati suasana pagi di sepanjang
perjalanan.
Akibat semalam kurang tidur (aku
dijamu oleh rekan di Semarang),
hampir saja aku ketinggalan kereta.
Tidur jam 01.00, terbangun karena
kaget jam 04.15. Terpaksa aku
hanya mandi koboy. Yang penting
bisa gosok gigi dan pakai parfum.
Terburu-buru aku meninggalkan
hotel di daerah candi, dan kupaksa
sopir taksi memacu kendaraan.
Terbukti, aku bisa sampai di stasiun
Tawang hanya lima menit sebelum
kereta berangkat.
Sampai di atas kereta, aku
merebahkan diri, tidur-tiduran dan
ternyata benar ketiduran. Aku baru
terbangun gara-gara seseorang
mencolek lenganku, dan aku merasa
nafas hangat menerpa pipiku.
“Minum teh atau kopi, Pak?”, seorang
wanita bertanya lembut padaku.
Oh, ternyata sang pramugari
menawarkan minuman pagi. Segera
kuminta teh panas, sekaligus aku
memesan kopi susu satu gelas
besar. Tak berapa lama, pesananku
tiba, dan aku tersenyum padanya
sebagai tanda terima kasih bahwa
dia telah mengantarkan pesananku
dengan cepat. Ia pun tersenyum
ramah namun penuh arti kepadaku.
Sempat kulirik name tag-nya,
ternyata namanya Risma.
Sambil menikmati kopi susu panas,
aku mengobrol sebentar dengan
penumpang sebangku, sekedar
membunuh waktu. Karena benar-
benar kurang tidur, maka aku pun
tertidur kembali. Nyenyak sekali
rasanya tidurku, sebab aku
terbangun pukul 08.30, dan tepat
pada saat itu, Risma dan rekannya
ternyata sedang membagikan
sarapan pagi.
Ah.., manis benar anak ini. Kulitnya
kuning langsat, tampaknya dia rajin
lulur, semampai, dadanya kutaksir
berukutan 36B. Dan pantatnya,
terbuai aku melihatnya. Apalagi saat
itu dia mengenakan rok mini ketat
seragam setinggi 15 cm di atas
lutut, membuatku bebas menikmati
pahanya yang selicin lilin. Hatiku
berdebar, darah kelelakianku terasa
mengalir, adrenalinku terpacu.
Kemusdian sampailah dia ke deretan
tempat dudukku. Karena stok yang
tersedia berada di bawah (dia dan
temannya mendorong trolley seperti
trolley yang ada di pesawat), maka
dia harus berjongkok untuk
mengambil nampan yang berisi
sarapan pagi. Sengaja kupandangi
pahanya yang benar-benar licin
terawat sambil berharap aku bisa
melihat lebih jauh (aku duduk di
pinggir dekat aisle/gang). Tapi
ternyata aku hanya bisa melihat
sepasang paha yang terkatup rapat.
Ah, sialnya.., dan ternyata aku sial
dua kali karena dia mengetahui arah
pandang mataku. Deg! Aku terkejut
dan malu hingga kubuang
pandanganku ke arah jendela. Namun
demikian aku tak dapat menahan
keinginanku untuk melirik ke
arahnya lagi. Dan dia melakukannya
untuk yang kedua kalinya,
berjongkok mengambil nampan, dan..,
thank God, kali ini aku bisa
mengintip celana dalamnya yang
warnanya ungu, serasi benar dengan
warna seragamnya. Tiga kali aku
melihat pemandangan indah itu yang
makin lama ternyata makin lebar
dia buka. Kembali, darah kelelakianku
bergejolak memberontak, menuntut
pelepasan, apalagi ditambah ekstra
bonus saat ia menyerahkan nampan
kepadaku dengan agak membungkuk
hingga tampak dua pasang bukit
kembar yang benar-benar.., ah.., aku
hanya mampu menelan ludah.
Segera kunikmati sarapan pagiku,
dan selesai sarapan aku menuju
bordes untuk merokok. Cukup lama
aku berada di bordes, dua batang
Dji Sam Soe aku habiskan. Aku
benar-benar pusing akibat
pemandangan indah tadi. Sambil
merokok aku berkhayal, seandainya
aku bisa membelai paha mulus itu,
meremas payudaranya yang montok
itu, ah.., nikmatnya. Tapi apa boleh
buat, aku hanya sebatas berkhayal,
karena aku tidak punya keberanian
untuk memulai.
Makin lama ternyata hasrat ini tak
mampu kubendung. Segera
kunyalakan Dji Sam Soe yang ketiga.
Pada saat yang sama, Risma
melintas lagi, entah hendak kemana.
Entah setan apa yang mampir di
benakku, tahu-tahu aku sudah
mencekal tangannya.
“ Mbak, sorry, tadi waktu ngasih
sarapan maksudnya apa, kok pake
buka-buka paha ?”, tanyaku kasar.
“Lho, bukannya Bapak yang memang
berniat ngintip saya ?”, sergahnya.
“Saya tadi melihat Bapak kayaknya
berusaha ngintip celana dalam saya,
ya sekalian aja saya buka.
Memangnya kenapa ?”.
“Kamu nggak takut kalo aku birahi,
Ris ?”, kataku.
“Soal birahi atau enggak, itu urusan
Bapak. Saya ‘kan cuma memperjelas
aja, biar Bapak nggak penasaran.
Kalo Bapak pengen lebih dari itu,
maaf, memangnya saya ini cewek
apaan ?”, Risma mulai kesal denganku.
Tak tahan kuseret dia ke toilet
hingga Risma menjerit-jerit minta
tolong, tapi suaranya tertelan
gemuruhnya roda-roda Argo Muria
yang sedang melaju dengan
kecepatan penuh. Di dalam toilet,
kusingkap rok mininya, dan rupanya
ia mengenakan G-String. Pantas
saja, aku tidak melihat garis celana
dalam di balik rok mininya. Tanpa
ampun, kutarik G-Stringnya hingga
robek, dan segera kujilat vaginanya
dengan rakus. Cukup sulit
melakukannya karena selain toilet
yang sempit, goncangan kereta,
diapun memberontak sambil
berusaha mengatupkan pahanya
atau menendangku. Tapi aku tidak
menyerah. Kepalang basah, sudah
berduaan di toilet, kalau nggak
tuntas, aku sendiri yang rugi.
Aku mulai merasakan ada cairan
mengalir dari lubang surgawinya.
Setelah kurasa cukup basah,
kuhentikan aktivitasku. Kupandangi
matanya yang mulai sayu, tanda
bahwa ia mulai terangsang juga.
“Kamu keberatan kalau aku bertindak
lebih dari ini ?”.
“Maksud Bapak..?”, Risma tak
memahami pertanyaanku.
“ Kontolku udah keras banget, Ris. Dia
pengen dituntaskan ”, sahutku.
“Tolong Pak, jangan.., saya belum
pernah begituan.., tolonglah Pak..”,
Risma memohon kepadaku.
Rupanya ia masih perawan sehingga
ia sangat ketakutan kalau aku
menyetubuhinya.
Aku tak peduli lagi, dan segera
kubalikkan badannya sehingga
memunggungiku. Kupaksa agar dia
membungkuk, dan dengan posisi
doggy style, kuterobos memeknya
yang sudah sangat basah itu dengan
kontolku yang sudah menegang
kemerahan.
“ Aawww.., Paakk.., ssaakiitt..”, Risma
menjerit kesakitan akibat
keperawanannya kutembus.
Aku sendiri merasakan ada sesuatu
yang sobek di dalam lubang
surganya. Aku tak peduli, dan
segera dengan gerakan memutar,
kukocok penisku. Risma rupanya
sudah mulai bisa menikmati
permainanku. Terbukti, ia tak lagi
melawan atau menolakku tetapi aku
bahkan merasa pinggulnya bergoyang
mengimbangi permainan penisku. Tak
lupa, kulucuti juga blazer dan kaos
dalamnya. Begitupun dengan BH-nya,
segera kurenggut paksa karena aku
sudah tak sabar ingin meremas
payudaranya. Nampak Risma sudah
telanjang bulat, dan aku makin
bernafsu melihat tubuhnya yang
kuning langsat mulus.
Sambil kuentot, kuremas
payudaranya dan kupilin putingnya
seperti aku memilin kapas. Risma
bergetar dan menggelinjang
menahan nikmat. Secara tiba-tiba
kucabut penisku dari memeknya, dan
kubalikkan Risma sehingga kami kini
berhadap-hadapan. Kuserbu bibirnya
yang mungil, perlahan aku turun ke
lehernya yang jenjang, dan kuhisap
habis putingnya yang berwarna
coklat muda. Risma kaget dan
menggeram karena ternyata pusat
rangsangannya ada di putingnya.
Kumainkan bergantian payudara
montok itu, kuhisap dan kukulum
yang kiri, kuremas yang kanan
begitu pula sebaliknya.
Puas dengan kedua bukit kembarnya,
lidahku turun menyusuri perutnya
yang rata, dan mataku terpaku
melihat semak belukar yang begitu
lebatnya. Tampak sekali belukar itu
basah kuyup oleh lendir memeknya
yang bukannya merembes tetapi
mengalir seperti anak sungai. Ya,
Risma ternyata tipe perempuan
becek, dimana perempuan seperti
inilah yang sangat kusukai. Tak
sabar, kukuakkan memeknya hingga
tampak percikan darah perawannya
di labia mayoranya dan aku sangat
terkejut melihat ada tonjolan
sebesar kacang merah mencuat
menantang. Merah sekali. ternyata
itil Risma benar-benar besar. Baru
kali ini aku melihat itil perempuan
sebesar ini, dan mencuat keluar,
tegang seperti penisku yang tegak
mengacung.
Tanpa membuang waktu segera
kujilat dan kukulum itil Risma.
Seiring dengan kulumanku, Risma
menggelinjang hebat, dan nafasnya
semakin memburu. Perlahan tapi
pasti lendir memeknya mulai
mengalir deras membasahi mulutku.
Sambil menahan nikmat, Risma
menjambak rambutku dan aku
merasakan cairan hangat
menyemprot wajahku, rasanya
agak-agak asin tapi nikmat sekali.
Ternyata karena tidak kuat
menahan nikmat Risma sampai
terkencing-kencing, walaupun dapat
kurasakan kalau dia masih belum
mencapai puncaknya. Tak kusia-
siakan, kuteguk semua cairan yang
keluar dari memeknya habis-habisan.
Rupanya akibat perlakuanku di
itilnya, Risma makin tak dapat
menguasai gejolak birahinya. Iapun
memohon agar aku meneruskan
kocokan penisku di memeknya,
karena ia merasakan lagi kalau
seperti mau pipis. Segera aku
berdiri, dan sebelah kaki Risma
kuangkat dan kusangga dengan
tanganku. Dengan posisi ini penisku
bisa menstimulasi itilnya lebih
maksimal. Risma memeluk tubuhku,
dan memejamkan mata seolah
menikmati permainan surga ini.
“Ris, kamu ngerasa diperkosa nggak?”,
tanyaku.
“ Emmhh.., sshh.., eeng.., ggaakk..,
oouuffhh.. ”, rintihnya.
“Kok..?”, aku bertanya lagi sambil
mempercepat kocokan penisku di
vaginanya.
Kurasakan tubuh Risma mulai
limbung dan aku yakin dia akan
segera mencapai puncaknya. Maka
tanganku pun segera meraba itilnya
yang ternyata terasa sekali makin
mencuat dan keras.
“ Ssshh.., mmhh.., een.., nnaakk.., ss..,
ssee.., kkaa.., llii.. ”
“Ooohh.., tadinya kupikir.., nggak.., se..,
enak ini.. ”
Kata-katanya mulai terputus,
nafasnya makin memburu dan
akhirnya segera kucabut penisku
dan aku kembali ke posisi doggy
style lagi.
“Paakk.., akk.., kkuu.., ppee.., nggeen..,
pi.., piiss.., aahh.. ”
Akhirnya Risma menghentak-
hentakkan paha dan pinggulnya
dengan sangat liar. Mulutnya
meracau pertanda ia mendapat
kenikmatan yang luar biasa. Ya,
Risma telah mencapai puncaknya.
Aku pun mulai tak tahan, melihat
geliat pinggul dan pantatnya yang
putih bak lilin itu hingga akhirnya..
“ Riiss.., Rriissmmaa.., aku kelluaarr..”,
aku mengerang dan kocokanku
makin kupercepat.
Risma tersentak akibat semprotan
spermaku yang langsung menembus
rahimnya, namun tidak bisa berbuat
banyak, karena aku memeluk dia
erat-erat hingga akhirnya kami
berdua jatuh karena lemas. Sejenak
kami berpelukan dan berciuman
lembut, rasanya aku tak ingin
melepaskan penisku dari vaginanya.
Ya, walaupun sudah muncrat,
penisku masih tegang di dalam
vaginanya.
“Pak.., kalo aku hamil gimana?”, Risma
bertanya cemas.
“ Jangan khawatir, ini alamat dan
nomor teleponku ”, aku
menenangkannya seraya memberikan
kartu nama dan nomor teleponku.
“ Aku akan bertanggung jawab atas
benih yang telah aku tanam. Tapi
berjanjilah padaku, kamu tidak akan
melakukannya dengan orang lain ”
“Ah.., paling teleponnya palsu..”, Risma
mencibir.
“ OK, kalo nggak percaya kamu boleh
coba sekarang ke HP-ku. Dan nanti
malam sekitar jam 19.00 ke telepon
rumahku. Malam ini kamu nggak
kembali ke Semarang kan ?”
Kamipun berdiri dan saling
membersihkan tubuh. Tapi karena
G-String Risma robek, akhirnya
dengan terpaksa ia keluar dengan
tanpa mengenakan celana dalam. Dan
aku sangat beruntung mendapat
kenang-kenangan celana dalam itu.
Dan tepat pada pukul 19.00, Risma
meneleponku. Kami berdua bercanda
dan Risma mengeluh kalau vaginanya
masih terasa perih bercampur
pegal. Maklum, diperawani di toilet
kereta api. Kami berjanji untuk
saling bertemu jika Risma berada di
Jakarta atau sebaliknya. Dan Risma
berjanji akan menginap di rumahku
minggu depan, karena dia bertugas
di Argo Muria pada shift malam dan
memintaku untuk menjemputnya di
stasiun Gambir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda