Translate

Jumat, 04 Februari 2011

AKU PEMUAS WANITA KESEPIAN


Aku seorang mahasiswa tingkat
akhir sebuah PTS di Depok Jurusan
Ilmu Komputer. Aku mempunyai
pengalaman yang tidak dapat
kulupakan sampai sekarang. Aku
mempunyai teman wanita yang dulu
adalah temanku semasa SMU. Tidak
terasa aku tidak pernah bertemu
dengannya sudah 4 tahun. Hingga
akhirnya dalam suatu acara reuni
aku bertemu dengannya. Temanku
sebut saja Vina, adalah seorang
wanita karier yang lumayan mapan.
Berbeda dengan keadaanku yang
belum mapan, sebenarnya aku
merupakan anak dari keluarga yang
berada. Tetapi aku pernah
mengecewakan orangtuaku dalam
hal prestasi semasa SMU dulu,
sehingga aku diusir secara halus
oleh orangtuaku. Aku tidak pernah
lagi ditegur dan diberikan biaya
hidup maupun kuliah. Tetapi dengan
kegigihanku, aku berhasi
melanjuntukan kuliah dengan biaya
sendiri. Dan sampai saat ini aku
mendapatkan penghasilan dari hasil
kerja sambilan.
Sampai suatu ketika, aku mulai
merintis usaha dan aku cuti kuliah
2 semester, pada mulanya usahaku
lancar hingga suatu ketika aku
ditipu oleh teman baik kakakku.
Akhirnya aku bangkrut dengan dililit
hutang yang lumayan besar. Hingga
akhirnya aku memutuskan kuliah
kembali sambil mencari pinjaman
untuk membayar hutang-hutangku.
Aku juga menceritakan kesulitan
hidupku kepada Vina, ia bejanji akan
membantu kesulitanku jika ada
kesempatan. Aku sangat terharu
mendengar ketulusan hatinya yang
mau membantuku. Hingga pada
suatu kesempatan, ia meminta
bantuanku dan jika bantuanku
berhasil maka Vina pun akan
memberikan bantuan untuk
membayar hutang-hutangku. Maka
aku pun mencoba untuk
melaksanakan apapun yang ia
inginkan.
Vina memberitahukan kepadaku
bahwa ia dipercaya oleh
perusahaannya untuk memenangkan
tender. Kesulitan Vina, orang yang
ingin di-loby-nya adalah seorang
wanita paruh baya kira-kira umur
30-an, tetapi ia sangat dingin dan
tegas. Setelah Vina mempelajari
kelemahan wanita tersebut,
akhirnya ia menemukan penyebab
keangkuhan wanita tersebut.
Ternyata ia belum berumah tangga,
padahal ketika aku melihat foto
wanita yang dimaksud, aku
memberikan penilan bahwa wanita
tersebut sangat cantik.
Bila dibandingkan dengan artis lokal,
wajahnya mirip dengan Sofia Lacuba.
Entah kenapa wanita secantik dia
belum mempunyai suami. Kemudian
aku bertanya kepada Vina, bantuan
apa yang dapat kuberikan untuknya.
Vina memintaku untuk merayu
wanita tersebut agar luluh hatinya,
sehingga ia mau memenangkan
tender untuk perusahaan Vina. Aku
berperan seolah-olah aku adalah
partner Vina dalam mengurus
tender tersebut. Aku pun
menyanggupinya, walaupun aku belum
tahu bagaimana caranya untuk
meluluhkan hati wanita tersebut.
Pada suatu kesempatan, aku
dikenalkan kepada wanita tersebut
oleh Vina. Ia bernama Ibu Lisa.
Tetapi entah kenapa, sejak pertama
berkenalan hingga kami sedang
makan siang, ia selalu menatapku
dengan pandangan yang dalam.
Sebagai laki-laki aku jadi gugup,
apalagi dipandangi terus menerus
oleh wanita secantik Ibu Lisa.
Setelah pertemuan tersebut aku
sering berusaha mendekati Ibu Lisa
untuk me-loby, hingga akhirnya kami
bertemu untuk lunch. Aku
mendapatkan cara, agar lebih
familiar aku memanggilnya dengan
sebutan Mbak Lisa. Aku
menganggapnya sebagai kakakku,
ternyata ia menyukai panggilan
tersebut. Setelah beberapa kali aku
sering bertemu denganya, akhirnya
ia memintaku untuk bertemu malam
Sabtu pada jam dinner di suatu
restoran elite di Jakarta. Pada
kesempatan ini ia yang
mentraktirku.
Pada malam yang telah ditentukan,
aku pergi sendiri menemuinya di
restoran yang telah ditentukan. Aku
mencari meja yang telah dipesan
atas nama Lisa. Ketika aku
menemukan meja tersebut dengan
dibantu oleh pelayan restoran, aku
sempat terdiam sejenak karena aku
tidak menyangka bahwa Mbak Lisa
yang biasanya kulihat dengan
pakaian dan gaya yang selalu
formal, pada malam itu ia terlihat
menakjubkan. Ia mengenakan gaun
hitam terusan ketat tanpa lengan
dengan belahan dada yang sangat
rendah, sehingga terlihat
payudaranya yang sangat montok
dan kencang. Aku jadi gugup melihat
pemandangan yang sangat indah
tersebut, sampai akhirnya
kegugupanku buyar setelah ia
menegurku dan mempersilakanku
untuk duduk. Ia tersenyum ramah
dan sedikit menggoda.
Dengan penerangan beberapa lilin
dan sorotan lampu yang tepat
mengenai seluruh tubuh Mbak Lisa,
aku dapat melihat jelas lekukan
tubuh di balik gaun malam yang
ternyata tipis yang dikenakan oleh
Mbak Lisa. Setelah aku dapat
menguasai diri, aku mulai membuka
percakapan dengan memuji keadaan
Mbak Lisa yang sangat cantik dan
menggoda. Sambil menyantap
hidangan kami membicarakan hal-hal
ringan. Tetapi ketika aku
membicarakan mengenai pekerjaan,
ia menyuruhku untuk melupakan
sejenak mengenai pekerjaan. Mbak
Lisa memberikan alasan bahwa pada
malam ini ia ingin santai. Setelah
selesai dinner, Mbak Lisa
mengajakku pergi ke beberapa cafe
di Jakarta.
Aku memperhatikan pada malam itu
Mbak Lisa terlihat sangat enerjik
dan seringkali berbuat manja
kepadaku. Hingga pada pukul 12.30
malam, Mbak Lisa memintaku untuk
mengantarnya pulang. Aku
mengendarai kendaraan BMW
terbaru milik Mbak Lisa menuju ke
apartemennya di kawasan Selatan
Jakarta. Setelah sampai di
apartemennya dan berbincang
sejenak, aku hendak pamitan untuk
pulang. Tetapi Mbak Lisa menahanku
dengan alasan ia ingin mandi dulu.
Kira-kira setengah jam kemudian ia
selesai mandi dan telah mengenakan
pakaian tidur dari sutra yang
sangat tipis sekali. Ia
menghampiriku dan memintaku
untuk bermalam di apartemennya
dengan alasan ia tidak dapat tidur
dan ingin membicarakan mengenai
pekerjaan. Aku menyetujui ajakannya
karena aku berpikir ini demi
kelancaran rencanaku. Kemudian ia
menyuruhku mandi dengan air
hangat dan memberikan kaos dan
training untuk pakaian tidurku.
Setelah aku mandi, kira-kira pukul 2
malam kami mulai membicarakan
mengenai pekerjaan. Tetapi aku
tidak konsentrasi karena pikiranku
terganggu pandangan indah di
depanku. Hingga pada suatu
kesempatan, ketika ia sedikit
menunduk untuk merapihkan
berkas-berkas kerja, aku melihat
sepasang payudaranya yang putih
mulus serta montok tergantung
tanpa ada yang menyangganya. Hal
itu berlangsung cukup lama, dan
terasa olehku kemaluanku berdiri
tegak karena pemandangan indah
tersebut.
Tanpa kuduga, ternyata Mbak Lisa
memperhatikan perbuatanku dan ia
menegurku, “Sony kamu kenapa, kok
melongo..?”
Sontak saja aku terkejut dan
dengan spontan aku jawab dengan
tidak sadar, “Mbak Lisa body-nya
sexy sekali..”
Mendengar jawabanku Mbak Lisa
bukannya marah, malahan ia
mendekatiku dan menarik tanganku
untuk diletakkan di atas
payudaranya. Karena aku sudah
bernafsu, kemudian kuremas-remas
payudaranya dengan kedua
tangannku, dan aku dekatkan bibir
untuk melumat bibir Mbak Lisa yang
merekah merah menantang. Dengan
sigap ia menarik kepalaku. Kami
berciuman dan saling meremas
dengan penuh gairah.
Kemudian Mbak Lisa menarikku
menuju tempat tidurnya, dan
membuka seluruh celanaku. Ia
sangat antusias sekali melihat
rudalku yang sudah siap terbang.
“ Sony, punyamu besar sekali, sudah
lama aku nggak pernah lihat
kemaluan laki-laki. ”
Aku bertanya balik, “Memangnya
Mbak Lisa nggak punya pacar..?”
Ia menjawab, “Aku sudah lima tahun
tidak punya pacar, dan pacarku
tidak mempunyai rudal panjang dan
besar seperti milikmu. Sony boleh
nggak aku mengulum rudalmu.. ?”
“Oh.., terserah Mbak aja deh..,”
jawabku dengan penuh gairah.
Mbak Lisa mulai menjilat dan
mengulum rudalku dengan posisi ia
duduk di tepi ranjang, sedangkan
aku berdiri di hadapannya. Setelah
puas, kemudian ia membuka seluruh
pakainnya, dan aku pun berbuat
sama. Kini kami sama-sama
telanjang bulat.
Kini giliranku yang menjilat dan
menciumi payudaranya yang montok.
Ia mengerang pelan menahan geli
dan nikmat. Tidak ada satu sentipun
tubuh Mbak Lisa yang kulewati.
Ketika aku mulai memasukan jari-
jari tanganku, ia mulai kelojotan.
Apalagi waktu aku menciumi
vaginanya dan menjilati bagian
klitorisnya, ia mulai mengerang
keenakan, sampai-sampai bulu-bulu
halus di tubuhnya merinding.
Setelah cukup lama kami foreplay,
ia memintaku untuk segera
memasukkan rudalku ke dalam
vaginanya.
“ Sony.., cepetan masukin barangmu..!
Aku sudah nggak tahan nih.. sshh.. ”
kembali ia memohon kepadaku.
Aku pun mengambil ancang-ancang
untuk menembakkan ‘rudal scud’ ke
dalam ‘bunker’ milik Mbak Lisa. Mba
Lisa membuka kedua pahanya lebar-
lebar, sehingga aku dapat melihat
pemandangan yang membuat
jantungku serasa mau copot. Tidak
menunggu lama, aku mulai
mengarahkan rudalku ke dalam
vagina Mbak Lisa. Begitu masuk
dengan susah payah, Mbak Lisa
menarik pantatku agar seluruh
rudalku amblas ke dalam ‘bunker’-
nya.
Aku menaik-turunkan pantatku
dengan irama tidak terlalu cepat,
sedangkan Mbak Lisa menggoyang
pinggulnya sehingga kami merasakan
kenikmatan yang tiada taranya.
Sambil memainkan rudalku, aku juga
mengulum dan menjilat-jilat
payudara serta puting susu Mbak
Lisa. Sesekali bibir kami saling
berpagutan, dan diselingi ciumanku
ke arah lehernya yang putih.
Setelah kira-kira 20 menit kami
saling melancarkan serangan yang
bertubi-tubi, akhirnya aku
menembakkan spermaku dengan
muncratan yang kencang. Mbak Lisa
yang merasakan tembakan air mani
yang panas di dalam vagina,
menjerit puas. Kemudian aku pun
merasakan lubang vagina Mbak Lisa
mengeluarkan cairan lengket yang
membasahi rudalku. Aku perhatikan
Mbak Lisa sampai mendongakkan
kepalanya dan melengkungkan
punggungnya ke belakang sambil
menekan erat-erat pantatku,
karena ia menikmati permainan seks
yang sudah lama tidak ia rasakan.
Kami melakukan seks tersebut
berulang-ulang sampai tubuh kami
lemas, dan kami tertidur saling
berpelukan.
Sejak saat itu kami resmi menjadi
pacaran dan sering melakukan seks
kapanpun kami inginkan. Sedangkan
tendernya Vina akhirnya
dimenangkan oleh Mbak Lisa. Dan
aku sekarang ketagihan ngeseks
dengan wanita-wanita cantik yang
kesepian yang usianya di atasku.
Aku melakukan itu karena aku butuh
bantuan wanita-wanita tersebut.
Tetapi aku tetap me

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda