Translate

Minggu, 27 Februari 2011

DORAEMON & NOBITA XXX


Pada suatu siang, Nobita pulang
sekolah dengan wajah kusut dan
perasaan kesal. Sesampai
dikamarnya, Nobita melemparkan tas
sekolah yang ia bawa tanpa melihat
arahnya. Tanpa sengaja tas itu
mengenai Doraemon yang lagi asyik
tiduran diatas lantai.
“Aduh.. Nobita ada apa sih pulang-
pulang kok marah-marah gitu?”,
tanya Doraemon sambil mengusap-
usap kepalanya.
“Oh, maaf-maaf Doraemon, aku
nggak sengaja!”, sahut Nobita dan
meninggalkan Doraemon.
Sekesal-kesalnya Nobita tapi untuk
urusan perut lapar, ia tak pernah
tidak memperhatikannya. Dengan
perut kenyang Nobita kembali
kekamarnya.
Bertemu muka dengan Nobita yang
sedang murung, Doraemon kembali
bertanya, “Ada apa kok murung
terus? Apa ulanganmu jelek lagi?
Apa dimarahi gurumu lagi?”.
“Kalau urusan ulangan jelek dan
dimarahi guru itu biasa, ini lain”,
jawab Nobita.
“Lalu ada apa?”, tanya Doraemon lagi.
“Ini soal uang. Teman-teman sepakat
urunan 1000 yen per anak untuk
tamasya ke pantai padahal
tabunganku udah habis. Gimana dong,
Doraemon?”, tanya Nobita.
“Ya nggak usah ikut!”, jawab
Doraemon santai.
“Uhh.. malu dong sama teman-teman!”,
kata Nobita dengan wajah melas.
“Eh, Doraemon punya nggak mesin
untuk menghasilkan uang?”, tanya
Nobita.
“Nggak ada mesin seperti itu, yang
ada mesin-mesin untuk membantu
orang memperoleh uang”, ujar
Doraemon.
“Apa itu?”, tanya Nobita penasaran.
“Contohnya ini, Mesin Penambah
Umur”, ucap Doraemon sambil
mengeluarkan sebuah mesin dari
dalam kantong ajaibnya.
“Bagaimana caranya dapat uang
dengan mesin itu?”, tanya Nobita tak
yakin.
“Dengan mesin ini umurmu bisa
bertambah dan dengan
bertambahnya umurmu kamu dapat
memperoleh pekerjaan orang
dewasa”, kata Doraemon.
“Bekerja? Malas ahh..”, ucap Nobita.
“Dasar kamu pemalas, mana bisa
dapat uang kalau tanpa bekerja?”,
tanya Doraemon dengan kesal.
Tapi Nobita tak menanggapi lagi
ucapan Doraemon karena sudah
tertidur tak tertarik dengan usulan
Doraemon.
Malam hari setelah Nobita
menyelesaikan tugas-tugas sekolah,
dilihatnya mesin penambah umur
yang diperlihatkan Doraemon siang
tadi tergeletak di pojok kamar. Ia
menjadi penasaran untuk mencoba
mesin itu. Ia kepingin tahu
wajahnya pada waktu dewasa nanti.
Tak tahu cara mengoperasikan alat
itu, dicarinya Doraemon. Doraemon
yang sedang asyik menonton acara
“Goyang Inul”, dari televisi ditarik
paksa oleh Nobita kekamarnya.
“Ada apa sih gangguin aja?”, tanya
Doraemon kesal.
“Ini gimana cara pakainya?”, tanya
Nobita dengan menunjukkan mesin
itu.
Setelah menerangkan caranya pada
Nobita, Doraemon kembali keruang
tengah menyelesaikan acara
kesayangannya.
Khawatir diketahui orang tuanya,
Nobita mengunci pintu kamar
sebelum mencoba alat itu. Setelah
memasang beberapa kabel ke
keningnya, ia memutar saklarnya
pada angka “15 tahun”. Lantas
dipencetnya kenop yang ada di alat
itu. Jleb.. sekarang Nobita sudah
berubah menjadi pemuda berusia
sekitar 25 tahunan. Segera ia lepas
semua kabel dari keningnya, lalu
mendekat pada cermin yang
terletak didekat jendela.
“Wah, alat Doraemon hebat! Aku jadi
pemuda ganteng..”, kagum Nobita
pada dirinya sendiri.
Tak puas hanya melihat wajahnya
saja, Nobita lalu melepas semua
pakaiannya hingga telanjang.
Terus mengagumi dirinya sendiri
Nobita tak sadar bahwa
tetangganya yang baru saja pindah
disamping rumahnya, melihatnya
telanjang dari jendela kamar Nobita
yang ada dilantai atas. Nyonya
Michiko, tetangga Nobita adalah
wanita berumur 29 tahun, istri
seorang karyawan swasta dan
telah 4 tahun menikah tapi belum
dikaruniai anak. Melihat ada seorang
pemuda dikamar Nobita, nyonya
Michiko sedikit heran karena ia
tahu bahwa Nobita anak tunggal.
Keheranan nyonya Michiko terganti
dengan rasa penasaran pada
pemuda yang saat ini dilihatnya lagi
telanjang.
Beberapa menit sudah berlalu tapi
Nobita masih tetap belum puas
memandangi dirinya sendiri dari
cermin dimukanya. Secara tak sadar
tangannya yang lagi mengusap
lembut tubuhnya sendiri melewati
daerah kemaluannya. Rangsangan
ringan yang tak disengaja pada
pemuda seusia Nobita saat ini
membuat burungnya yang
menggantung berubah mengeras dan
berdiri. Tentu saja hal ini membuat
Nobita agak kaget. Dipegangnya
burung itu sehingga ukurannya
makin lama makin besar dan
semakin keras. Tegak berdiri pada
ukuran maksimalnya, Nobita
merasakan keenakan ketika
mengusap burungnya. Usapan tangan
dan sedikit remasan pada burungnya
membuatnya lupa diri.
Muka Ny. Michiko menjadi merah
melihat dengan jelas kejadian itu
melalui jendela kamarnya. Merasa
malu karena mengintip pemuda
telanjang tapi segan menghindarinya
karena desakan nafsunya juga
sudah tinggi. Tak terasa tangannya
sudah masuk berada dibalik
kimononya, mengusap-usap
permukaan celana dalamnya hingga
agak basah. Tapi tak lama kemudian
ia terpaksa harus menyudahinya
karena kedatangan suaminya dari
pulang kerja.
Nobita yang masih heran dan
bingung dengan apa yang terjadi
dengan dirinya tadi bergegas
mengenakan kembali pakaiannya dan
merubah kembali tubuhnya ke
bentuk semula ketika mendengar
teriakan Doraemon mengajaknya
makan malam bersama. Setelah
membuka pintu kamar, ia segera
keruang makan untuk bergabung
dengan keluarganya dan Doraemon.
Dilihatnya Doraemon sudah melahap
makanannya sambil berkata pada
Nobita,
“Cepat Nobita.., sebelum kuhabiskan
semuanya! Nonton goyang Inul bikin
perutku ikut lapar”.
Nobita yang khawatir nggak
kebagian makanan, segera ikut
bergabung.
Malamnya ketika Doraemon dan
Nobita akan beranjak tidur, Nobita
menyempatkan diri menghirup udara
malam yang segar melalui jendela
kamarnya yang terbuka. Tiba-tiba
Nobita memanggil Doraemon yang
lagi siap-siap berangkat tidur.
“Sini Doraemon.. ayo cepat sini!”,
perintah Nobita.
“Ada apa sih?”, tanya Doraemon
menuju ke jendela.
Tanpa komentar lagi keduanya
langsung memelototi sebuah
pemandangan yang menghebohkan.
Keduanya melihat tuan dan nyonya
Michiko sedang asyik melakukan
adegan panas.
“Apa sih yang mereka lakukan?”,
tanya Nobita.
“Ssst.. ini lebih asyik dari goyang
Inul!”, kata Doraemon sambil menarik
Nobita menjauh dari jendela.
“Uhh.. Doraemon ada apa sih main
tarik aja!”, ujar Nobita.
“Jangan ramai nanti mereka tahu
kalau diintip. Pake ini aja, Mesin
Teleskop Penembus Dinding! Cepat
pasang yang ini ke jendela, kita
tonton dari layar ini”, kata
Doraemon sambil mengeluarkan
sebuah alat dari kantong ajaibnya
dan memberi arahan pada Nobita.
Ternyata yang dikatakan Doraemon
benar. Dari layar kecil yang
terhubung dengan kamera kecil
terarah kerumah tetangga Nobita,
mereka berdua dapat lebih jelas
melihat apa yang dilakukan oleh
tuan dan nyonya Michiko.
Terlihat Ny. Michiko dengan buasnya
menunggangi suaminya sambil
menggoyang-goyangkan pinggulnya.
Dengan bermandikan keringat tuan
dan Ny. Michiko terus menggerakkan
semua bagian tubuhnya hingga
keduanya lemas terlentang diatas
ranjang.
“Hehehe.. asyiik!”, ucap Doraemon.
“Apanya yang asyik?”, tanya Nobita
tak mengerti samasekali.
“Nobita kamu masih kecil jadi ya
belum mengerti soal begituan”, jawab
Nobita.
“Soal begituan apaan?”, kejar Nobita.
“Huh, kalau kuterangkan aku yang
capek, ini pake aja, aku mau tidur”,
jawab Doraemon sambil
menyerahkan sebuah alat mirip helm
yang baru dikeluarkan dari kantong
ajaibnya.
“Apa ini?”, tanya Nobita lagi.
“Itu adalah Mesin Kamasutra, udah
pakai aja dikepalamu nanti kamu
tahu sendiri, aku mau mimpi ngebor
Inul”, jawab Doraemon lalu tidur.
Setelah naik keatas ranjangnya,
Nobita mengenakan alat tersebut.
Sebuah bayangan seakan-akan
muncul didepan matanya. Bayangan-
bayangan itu menerangkan perihal
soal sex dan semua yang ditanyakan
dalam pikiran Nobita dapat terjawab
dengan jelas. Satu jam berselang
dan Nobita mulai merasa ngantuk
tapi ia masih enggan untuk
mengakhiri penjelajahan dalam dunia
sex yang baru saja dimasukinya.
Merasa cukup iapun kemudian
tertidur dengan masih memakai
Mesin Kamasutra dikepalanya.
Dalam tidurnya, Nobita bermimpi
bertemu dengan Shizuka, teman
sekelasnya. Dalam mimpi itu Nobita
dan Shizuka sama-sama telanjang
dan sedang mandi dipantai yang
sepi. Mereka berdua saling
mendekatkan tubuh dan berciuman
mesra sampai sebuah ombak yang
datang menjatuhkan mereka berdua.
Dengan saling berdekapan mereka
terseret ombak hingga kepinggir
pantai berpasir. Diatas pasir putih
itu Nobita menindih Shizuka sambil
terus bercumbu. Burung Nobita yang
telah berdiri mengeras menancap
pada liang kewanitaan Shizuka yang
masih gadis. Berdua mereka
membuat irama seiring desiran
angin pantai. Saling menatap
keduanya melepas hasrat yang telah
sampai puncaknya.
Sementara itu Doraemon juga
bermimpi melihat langsung Inul lagi
menari dan berjoget didepannya
diiringi alunan melodi dangdut. Dalam
mimpi itu, Doraemon juga lagi
bersiap-siap untuk memasukkan
burungnya kedalam liang kewanitaan
seorang wanita cantik yang telah
berbaring terlentang dilantai
tempatnya berdiri. Wanita itu
memiliki wajah persis seperti Ny.
Michiko tetangga Nobita.
“Ayo.. Doraemon cepat masukin!”,
pinta wanita itu.
Entah dengan alat apa batang
kemaluan Doraemon bisa menjadi
mirip mata bor yang besar. Lalu
dengan memencet sebuah tombol
ditangannya batang kemaluan
Doraemon bisa berputar layaknya
mesin bor, ngiing.. itulah bunyinya.
Pelan tapi pasti Doraemon
memasukkan batang kemaluannya
yang terus berputar kedalam liang
kewanitaan wanita cantik itu.
Ngiing.. keluar masuk batang
kemaluan Doraemon mengebor liang
kenikmatan wanita itu.
“Aaah.. terus Doraemon.. aahh.. sshh..
ohh.. bormu enak!”, teriak wanita itu
keenakan sambil bergelinjang
gelinjang liar.
Lalu Doraemon memencet tombol
lagi di jam tangannya sehingga
putaran batang kemaluan makin
cepat disertai gerak hentakan maju
mundur persis dengan mata bor
hammer drill.
“Oooh.. ahh.. a.. aku keluar Doremoon!”,
teriak wanita itu sambil menarik
pantat Doraemon agar batang
kemaluannya masuk hingga batas
terdalam.
Dengan segera Doraemonpun
memencet lagi tombolnya untuk
mengurangi kecepatan putar dan
mematikan gerak hentakan batang
kemaluannya. Dirasakannya gemuruh
tekanan cairan hangat yang keluar
dari liang kenikmatan wanita itu
pada sekujur batang kemaluannya.
Pencetan tombol berikutnya
membuat arah putaran batang
kemaluannya berbalik dan sedikit
demi sedikit keluar meninggalkan
liang kewanitaan wanita itu. Byoor..
menyemburlah cairan hangat yang
sangat banyak dari liang kewanitaan
itu hingga membasahi seluruh tubuh
Doraemon. Tak mau kalah,
Doraemonpun memencet lagi tombol
dijam tangannya. Dan ujung batang
kemaluan Doraemon terbuka
katupnya sehinga croot.. croot..
croot.. menyemburlah cairan pekat
yang tak kalah banyak membasahi
seluruh tubuh wanita yang
terbaring lemas itu.
Byuur, sebuah siraman dari Ibu
Nobita membangunkan Doraemon
dari tidurnya dan membuatnya lari
tunggang langgang dengan arah tak
menentu. Byuur lagi, sekarang giliran
Nobita.
“Brr.. hi.. dingin!”, ucap Nobita.
“Ayo bangun cepat Nobita, kamu bisa
kesiangan ke sekolah!”, teriak Ibu
Nobita.
Nobita pun segera berlari ke kamar
mandi dan segera bersekolah,
sementara Doraemon duduk-duduk
santai mengeringkan bulu-bulunya di
teras rumah.
Sepulang sekolah Nobita langsung
masuk rumah dan berteriak-teriak
mencari orang yang ada dirumah.
Tapi tak satupun jawaban yang ia
dapatkan. Sampai dihalaman belakang
ia masih celingukan kekiri dan
kekanan. Lantas didengarnya sebuah
teriakan dari rumah Ny. Michiko.
“Hai.. Nobita, kamu mencari siapa?”,
teriak Ny. Michiko bertanya padanya
sambil sibuk menjemur seprei.
“Oh, Ny. Michiko, saya mencari Ibu
dan Doraemon”, jawab Nobita sambil
berjalan mendekat kearah rumah
Ny. Michiko.
“Mereka tadi keluar untuk belanja,
soalnya di pasaraya ada obral
besar”, jawab Ny. Michiko.
“Terima kasih!”, ucap Nobita sopan
menyembunyikan kekecewaannya
karena sudah lapar.
“Nobita, kamu sudah makan?”, tanya
Ny. Michiko yang dijawab dengan
gelengan kepala oleh Nobita.
“Ayo makan siang ditempatku”, ajak
Ny. Michiko.
Dengan malu-malu, akhirnya Nobita
menerima ajakan makan siang itu.
Pada saat makan siang Ny. Michiko
bertanya pada Nobita perihal
pemuda yang terlihat dikamar
Nobita. Meskipun terkejut tapi
Nobita berusaha keras
menyembunyikan hal yang
sesungguhnya dengan berbohong
bahwa pemuda itu adalah saudara
jauhnya yang lagi mencari pekerjaan
sambilan karena sedang
membutuhkan uang. Dengan wajah
berbinar Ny. Michiko meminta Nobita
untuk menyampaikan pada
saudaranya bahwa ia membutuhkan
orang untuk membersihkan rumah.
Merasa ada kesempatan emas,
Nobita segera pulang selepas
melahap makan siangnya.
Segera setelah Nobita merubah
wujudnya menjadi pemuda berumur
25 tahunan ia kembali kerumah Ny.
Michiko, tapi kali ini lewat pintu
depan. Nobita dewasa
memperkenalkan diri sebagai Eifuku
dan disambut dengan ramah oleh Ny.
Michiko yang hanya memakai kaos
panjang tipis sebatas paha tanpa
bawahan. Ny. Michiko juga memohon
maaf atas pakaiannya yang kurang
sopan karena sedang mengepel
lantai rumah. Eifuku alias Nobita
segera menawarkan bantuan yang
segera diterima oleh Ny. Michiko.
Karena akan melakukan pekerjaan
yang cenderung basah maka Eifuku
memohon ijin untuk melepas
pakaiannya. Tanpa berpikir panjang
lagi, Ny. Michiko langsung
menyetujuinya bahkan diam-diam hal
itulah yang diharapkannya. Hanya
dengan celana dalam Eifuku segera
memulai pekerjaan mengepel lantai
itu. Ny. Michiko yang memperhatikan
benjolan besar dari depan celana
dalam Eifuku sempat tertegun dan
salah tingkah dengan wajah merah
dipipinya.
Satu jam berlalu dan Eifuku alias
Nobita telah menyelesaikan
pekerjaannya. Tapi Ny. Michiko
mencoba mengulur waktu dan
menunjukkan sebuah kolong
berukuran 1×1 meter mirip ruangan
kecil tapi panjang untuk dipel juga.
Eifuku pun menuruti saja perintah
itu meskipun dia yakin bahwa kolong
itu tak ada gunanya dibersihkan.
Dengan susah payah Eifuku berusaha
menyelesaikan secepatnya. Namun
baru separohnya dipel, Ny. Michiko
ikut pula masuk kedalam kolong
sempit itu dengan dalih ingin melihat
hasil pekerjaan Eifuku.
Kolong sempit itu membuat tubuh
Eifuku dan Ny. Michiko saling
bersentuhan. Dengan berdesakan Ny.
Michiko memaksakan diri sampai
pada ujung kolong dengan tengkurap
sementara Eifuku memberinya jalan
dengan bertumpu hanya pada
tubuhnya bagian kanan. Tak kuat
menahan tumpuannya, tubuh Eifuku
terjatuh tak sengaja menindih Ny.
Michiko dengan posisi tengkurap
juga. Tak pelak benjolan bagian
depan celana dalamnya menyentuh
serta bergeseran pada pantat dan
selakangan belakang Ny. Michiko.
Burung Eifuku sontak mengeras
berdiri yang dirasakan pula oleh Ny.
Michiko. Mendesah pelan ia pun
mencoba menggoyangkan pinggulnya
dan merapatkan kakinya menjepit
benjolan batang kemaluan Eifuku.
Sedikit terkejut oleh jepitan itu,
Eifuku malah mendorongkan
tubuhnya sehingga batang
kemaluannya yang panjang dan
besar mengeras itu tak hanya
menerobos celana dalamnya tapi
juga menerobos jepitan kaki Ny.
Michiko hingga mencapai bagian
depan daerah kemaluan Ny. Michiko.
Desahan pelan Ny. Michiko semakin
menjadi-jadi seakan membuat ajakan
pada Eifuku alias Nobita. Merasa
ada kesempatan untuk
mempraktekan ilmu dari mesin
kamasutra yang dipelajarinya
semalam, Eifuku membuat gerakan.
Kaos tipis Ny. Michiko ia tarik
keatas hingga lepas, cumbuannya ia
lemparkan pada tengkuk hingga
sekujur tubuh Ny. Michiko. Lalu
dilepaskannya celana dalam Ny.
Michiko yang masih tengkurap dan
melanjutkan cumbuannya pada
daerah kemaluan Ny. Michiko sambil
melepaskan celana dalamnya sendiri.
Ny. Michiko mengerang keras sambil
bergelinjang merasakan kenikmatan
lidah Eifuku menerobos liang
kewanitaannya.
Beberapa saat kemudian giliran
batang kemaluan Eifuku alias Nobita
menerobos liang kewanitaan Ny.
Michiko. Desahan dan erangan silih
berganti keluar dari mulut Ny.
Michiko seiring dengan gerak maju
mundur pinggul Eifuku, remasan
tangan Eifuku pada payudaranya dan
jilatan lidah Eifuku pada tengkuknya.
Keluarnya cairan hangat
kewanitaannya dari dalam liang
kenikmatannya menyudahi
desahannya dengan napas tersengal-
sengal. Eifuku melepas batang
kemaluannya yang telah basah kuyub
dari liang kewanitaan Ny. Michiko.
Lantas ia membalikkan badan Ny.
Michiko yang masih lemas itu.
Wajah cantik Ny. Michiko
dicumbuinya dan bibir mungil Ny.
Michiko menjadi korban lumatan
mulut Eifuku. Ny. Michiko hanya
membiarkan perbuatan Eifuku itu
dengan mata terpejam sembari
mengumpulkan tenaga baru. Sedikit
demi sedikit kedua kaki Ny. Michiko
melebar memberi jalan batang
kemaluan Eifuku yang ada
diantaranya. Sambil memberi hisapan
yang dalam pada pangkal leher kiri
Ny. Michiko, Eifuku alias Nobita
mendorong masuk batang
kemaluannya hingga tempat yang
terdalam. Terbelalak mata Ny.
Michiko sambil menjerit keenakan.
Dilanjut dengan desahan lirih dan
erangan sepotong-sepotong
membuat Eifuku lebih beringas dan
mempercepat gerak maju mundur
pinggulnya. Sambil mengapitkan
kedua kakinya pada bagian belakang
kaki Eifuku, Ny. Michiko menekan-
nekan selakangan Eifuku dengan
jarinya. Tak lama kemudian batang
kemaluan Eifuku berdenyut hebat
diiringi dengan semburan cairan
pada ujungnya. Timbullah efek
berantai dari semburan yang
mengenai dinding liang kenikmatan
Ny. Michiko. Sambil mendekap erat
tubuh Eifuku yang menindihnya,
dilepaskan pula cairan kewanitaanya
dari liang kenikmatannya.
Eifuku alias Nobita balik kerumah
dengan tubuh capek tapi puas
karena memperoleh pengalaman
baru dan uang sebesar 1000 yen.
Namun belum sempat beristirahat
panjang ia mendengar ibunya dan
Doraemon datang sehingga ia harus
segera merubah wujudnya kembali
sebelum ibunya tahu. Kembali
menjadi Nobita kecil lagi, ia sudah
tak sabar menceritakan
pengalamannya pada Doraemon.
Mendengar cerita Nobita dari awal
hingga akhir membuat Doraemon
tercengang.
“Nobita kamu benar-benar pandai”,
puji Doraemon.
“Sekarang uangnya mana?”, tanya
Doraemon.
“Eh.. ini hasil jerih payahku, kamu
jangan minta bagian”, ucap Nobita
sombong sambil merogoh sakunya.
Tapi setelah ia keluarkan isinya
hanyalah kertas putih kosong.
“Huahaha.. kamu benar-benar bodoh
Nobita.. seharusnya kamu keluarkan
dulu uangnya dari sakumu sebelum
kembali ke usiamu semula”, ejek
Doraemon sambil tertawa keras.
“Jadi.. jadi..”, ucap Nobita bingung dan
gugup.
“Ya uangnya ikut berusia muda alias
belum dibuat dan hanya berupa
bahannya yaitu kertas. Kalaupun
kamu balik lagi prosesnya akan
malah kumal atau jadi debu. Karena
kertas kalau sudah tua kan kumal.
Hehehe..”, kata Doraemon
menerangkan sambil terus tertawa.
Sementara Nobita hanya dapat
menangis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda