Translate

Minggu, 27 Februari 2011

GAIRAH BINAL WANITA BERJILBAB


Mufidah adalah seorang ibu rumah
tangga berwajah cantik yang
berkulit putih bersih baru berusia
31 tahun. Selama 6 tahun
perkawinannya dengan mas Syamsul,
wanita ini telah dikaruniai dua anak
yang masing-masing berusia 3 tahun
dan 5 tahun. Selain kesibukannya
sebagai ibu rumah tangga, wanita
yang selalu mengenakan jilbab ini
juga cukup aktif di partai, demikian
juga suaminya. Jilbab lebar serta
jubah panjang serta kaus kaki
sebagai cirinya ada padanya apabila
dia keluar rumah atau bertemu
laki-laki yang bukan mahromnya,
sehingga mengesankan kealiman
Mufidah.
Sore ini, ibu muda yang alim ini
kedatangan tamu seorang laki-laki
yang dikenalnya sebagai rekan
sekantor suaminya, sehingga
terpaksa dia harus mengenakan
jilbab lebarnya serta kaus kaki
menutupi kakinya untuk menemuinya,
karena kebetulan suaminya sedang
rapat di kantor dan baru akan
kembali selepas maghrib. Dengan
jilbab putih yang lebar serta jubah
panjang bemotif bunga kecil
berwarna biru serta kaus kaki
berwarna krem, Mufidah menemui
tamu suaminya itu bernama Hendri.
Seorang laki-laki yang kerap
bertamu ke rumahnya. Wajahnya
tidak tampan namun tubuhnya
terlihat tegap dan atletis. Usianya
lebih muda dari suaminya ataupun
dirinya hingga suaminya ataupun dia
sendiri memanggilnya dengan
sebutan dik Hendri.
Sebetulnya Mufidah kurang menyukai
laki-laki bernama Hendri itu, karena
matanya yang jalang kalau
melihatnya seakan hendak
menelannya bulat-bulat sehingga dia
lebih suka menghindar jika Hendri
datang bertamu. Namun kali ini,
Mufidah harus menemuinya karena
Hendri ini adalah rekan suaminya,
terpaksa Mufidah bersikap ramah
kepadanya. Memang tidak mungkin
untuk menyuruh Hendri kembali,
ketika suaminya tidak ada di rumah
seperti ini karena jauhnya rumah
tamu suaminya ini.
Akhirnya Mufidah mempersilahkan
Hendri menunggu di ruang tamu
sedangkan dia pergi ke dapur
membuatkan minum untuk tamunya
tersebut. Sore ini, suasana rumah
Mufidah memang sangat sepi. Selain
suaminya yang tidak ada di rumah,
kedua anaknya pun sedang ngaji dan
baru pulang menjelang maghrib
nanti. Di dapur, Mufidah tengah
menyiapkan minuman dan makanan
kecil buat tamu suaminya yang
tengah menunggu di ruang tamu.
Tangan ibu muda ini tengah
mengaduk gelas untuk minuman
tamu suaminya ketika tanpa
disadarinya, laki-laki tamu suaminya
yang semula menunggu di ruang
tamu tersebut menyelinap ke dapur
menyusul Mufidah. Mufidah terpekik
kaget, ketika dirasakannya tiba-tiba
seorang lelaki memeluknya dari
belakang. Wanita berjilbab lebar ini
sangat kaget ketika menyadari yang
memeluknya adalah Hendri tamu
suaminya yang tengah dibikinkan
minuman olehnya. Mufidah berupaya
meronta namun tiba-tiba sebilah
belati telah menempel di pipi wanita
yang halus ini. Kemudian lelaki itu
langsung mendekatkan mulutnya ke
telinga Mufidah.
“Maaf, Mbak Mufidah. Mbak Mufidah
begitu cantik dan menggairahkan,
aku harap Mbak jangan melawan
atau berteriak atau belati ini akan
merusak wajah ayu yang cantik ini”.
desis Hendri membuat Mufidah tak
berkutik.
Kilatan belati yang dibawa Hendri
membuat wajah wanita berjilbab ini
pucat pasi. Seumur hidupnya, baru
kali ini Mufidah melihat pisau belati
yang terlihat sangat tajam sehingga
membuat wanita ini lemas
ketakutan. Tubuh ibu muda berjilbab
yang alim ini mengejang ketika dia
merasakan kedua tangan Hendri itu
menyusup ke balik jilbab lebarnya
meremas-remas lembut kedua
payudaranya yang tertutup jubah
dan?.. Lantas salah satu tangan
Hendri lalu turun ke arah
selangkangannya, meremas-remas
kemaluannya dari luar jubah yang
dipakainya.
“Jangaan.. dik Hendrii..”desah Mufidah
dengan gemetaran.
Namun laki-laki ini tak perduli, kedua
tangannya kian bernafsu meremas-
remas buah dada serta
selangkangan wanita alim berusia 31
tahun ini. Mufidah menggeliat-geliat
menerima remasan laki-laki yang
bukan suaminya ini dalam posisi
membelakangi laki-laki itu.
“Jangaan.. dik Hendrii…. sebentar lagi
anak-anakku pulang..” desah Mufidah
masih dengan wajah ketakutan dan
gelisah.
Hendri terpengaruh dengan kata-
kata Mufidah, diliriknya jam dinding
yang terdapat pada dapur tersebut
dan memang selama sering bertamu
di rumah ini Hendri mengetahui tak
lama lagi kedua anak wanita yang
tengah diperkosanya itu pulang dari
ngaji. Laki-laki ini mengumpat pelan
sebelum kemudian, Hendri berlutut
di belakang Mufidah. Mufidah
menggigil dengan tubuh mengejang
ketika kemudian wanita kader ini
merasakan tangan lelaki tamu
suaminya itu merogoh lewat bagian
bawah jubahnya, lalu menarik turun
sekaligus rok dalam dan celana
dalamnya. Lantas tanpa diduganya,
Hendri menyingkap bagian bawah
jubah birunya ke atas sampai ke
pinggang.
Ibu muda berjilbab lebar ini terpekik
dengan wajah yang merah padam
ketika menyadari bagian bawah
tubuhnya kini telanjang. Sementara
Hendri justru merasa takjub
melihat istri rekan sekantornya ini
dalam keadaan telanjang bagian
bawah tubuhnya begitu
menggairahkan. Sungguh, laki-laki ini
tidak pernah menyangka kalau sore
ini akan melihat tubuh istri Mas
Syamsul yang selalu dilihatnya dalam
keadaan berpakaian rapat kini
ditelanjanginya.
Pertama kali Hendri melihat
Mufidah, laki-laki ini memang sudah
tergetar dengan kecantikan wajah
wanita berkulit putih keturunan
ningrat ini walaupun sebenarnya
Hendri juga sudah beristri, tapi
apabila dibandingkan dengan Mufidah
wajah istrinya nggak ada apa-
apanya. Namun wanita yang selalu
berpakaian rapat tertutup dengan
jilbab yang lebar membuatnya segan
juga karena Mufidah adalah istri
temannya. Tetapi seringkalinya
mereka bertemu membuat Hendri
semakin terpikat dengan kecantikan
istri mas Syamsul ini, bahkan
walaupun Mufidah memakai pakaian
jubah panjang dan jilbab yang lebar,
Hendri dapat membayangkan
kesintalan tubuh wanita ini melalui
tonjolan kemontokan buah dadanya
dan pantatnya yang bulat indah
bahenol. Muka Mufidah merah
padam ketika diliriknya, mata Hendri
masih melotot melihat tubuh
Mufidah yang setengah telanjang.
Celana dalam dan rok dalam yang
dipakai wanita berjilbab ini kini
teronggok di bawah kakinya setelah
ditarik turun oleh Hendri, sehingga
wanita alim ini tidak lagi memakai
celana dalam. Bentuk pinggul dan
pantat wanita alim yang sintal ini
sangat jelas terlihat oleh Hendri.
Belahan pantat Mufidah yang
telanjang terlihat sangat bulat,
padat serta putih mulus tak
bercacat membuat birahi laki-laki
yang telah menggelegak sedari tadi
kian menggelegak. Diantara belahan
pantat Mufida terlihat kemaluan
wanita istri rekannya yang sangat
menggiurkan.
“Mbak Mufidah.. Kakimu
direnggangkan dong. Aku ingin
melihat memekmu…” kata Hendri
masih sambil jongkok seraya
menahan birahinya karena melihat
bagian kehormatan istri rekannya
yang cantik ini.
Wanita itu menyerah total, ia
merenggangkan kakinya. Dari bawah,
lelaki itu menyaksikan pemandangan
indah menakjubkan. Di pangkal paha
wanita berjilbab ini tumbuh rambut
kemaluannya, meski tak lebat namun
terlihat rapi. Hendri kagum melihat
kemaluan Mufidah yang begitu
montok dan indah, beda sekali
dengan kemaluan istrinya.
“Jangaan.. diik.. hentikaaan… anak-
anakku sebentar lagi pulang” pinta
Mufidah dengan suara bergetar
menahan malu.
Namun Hendri seolah tak
mendengarnya justru tangan lelaki
itu menguakkan bongkahan pantat
istri Mufidah dan lidahnya mulai
menyentuh anusnya. Mufidah
menggeliat, tubuh ibu muda berjilbab
ini mengejang ketika ia merasakan
lidah lelaki itu menyusuri belahan
pantatnya lantas menyusuri celah di
pangkal pahanya.
“Oh dik jajajangan?”.
Dengan bernafsu Hendri menguakkan
bibir kemaluan Mufidah yang
berwarna merah jambu dan lembab.
Tubuh wanita ini mengejang lebih
hebat lagi saat lidah lelaki itu
menyeruak ke liang vaginanya.
Tubuhnya bergetar ketika lidah itu
menyapu klitorisnya. Semakin lama
wanita berjilbab berusia 31 tahun ini
tak kuasa menahan erangannya.
“Oh yeah? Aaaagggh!”, ketika bibir
lelaki itu mengatup dan menyedot-
nyedot klitorisnya.
Dan menit-menit selanjutnya
Mufidah semakin mengerang
berkelojotan oleh kenikmatan birahi
ketika Hendri seakan mengunyah-
ngunyah kemaluannya. Seumur
hidupnya, Mufidah belum pernah
diperlakukan seperti ini walaupun
oleh mas Syamsul suaminya.
“Hmmm…, memekmu enak?. Mbak
Mufidah….” kata Hendrii sambil berdiri
setelah puas menyantap kemaluan
istri rekannya ini, dan tangan
kirinya terus mengucek-ngucek
kelamin Mufidah sambil berbisik ke
telinga ibu muda itu?.
“Mbak saya entotin ya, saya mau
mbak merasakan hangatnya penisku”
“Aihhhh… eungghhhh…. jangan.. ampun”
Mufidah mengerang dengan mata
mendelik, ketika sesuatu yang
besar, panjang dan panas mulai
menusuk kemaluannya melalui
belakang.
Tubuh wanita berjilbab berdarah
ningrat itu mengejang antara rasa
marah bercampur nikmat Mufidah
meronta lemah disertai desahannya.
Dengan buas Hendri menghujamkan
batang penisnya.
“Mmmfff.. oh oh. enak juga ngentot
sama Mbak?.” tanpa melepas bajunya
ibu muda itu, Hendri menyetubuhi
isteri sahabatnya dari arah
belakang, Hendri sambil
menggerakkan pinggangnya maju
mundur dengan napas terengah-
engah menghentakan penis besarnya.
Mufidah dapat merasakan penis
Hendri yang kini tengah menusuk-
nusuk liang kemaluannya, jauh lebih
besar dan panjang dibanding penis
suaminya. Tangan kiri lelaki itu
membekap pangkal paha Mufidah,
lalu jari tengahnya mulai menekan
klitoris ibu muda berjilbab itu lantas
dipilinnya dengan lembut, membuat
wanita kader salah satu partai
yang alim ini menggigit bibirnya
disertai desahan nikmatnya. Mufidah
tak kuasa menahan sensasi yang
menekan dari dasar kesadarannya.
Wanita berjilbab lebar ini mulai
mendesah nikmat, apalagi tangan
kanan lelaki itu kini menyusup ke
balik jubahnya, lalu memilin-milin
puting susunya yang peka…
“Ayo Mbak Mufidah…. ahhhh… jangan
bohongi dirimu sendiri… nikmati… ahh….
nikmati saja….” Hendri terus memaju
mundurkan penisnya yang terjepit
vagina ibu muda yang alim ini.
Mufidah menggeleng-gelengkan
kepalanya, mencoba melawan
terpaan kenikmatan di tengah
tekanan rasa malu. Tapi ia tak
mampu. Mufidah mendesah nikmat
dan tanpa sadar ia meracau…
“Oh besar sekali punyamu dik hendri,
sakiiiit… Oooh ampuuun yeah ampuuun
dik”.
Hendri dengan gencar mengocok
penisnya didalam vagina yang mulai
basah sambil berbisik pada ibu muda
itu.
“Mana yang enak kontolku dengan
punya mas Syamsul mbak?”, Mufidah
mulai meracau kembali seraya
mengerang.
“Oooooh enak punyamu dik, besar dan
panjang aduh dik ngilu oh mmmf
Aaaagghh..” dan akhirnya wanita
cantik ini menjerit kecil saat ia
meraih puncak kenikmatan, sesuatu
yang baru pertama kali ditemuinya
walaupun 6 tahun dia telah
menjalani pernikahan dengan mas
Syamsul belum pernah Mufidah
mendapatkan orgasme sedahsyat ini.
Tubuh Mufidah langsung lunglai, tapi
lelaki di belakangnya selangkah lagi
akan sampai ke puncak. Hendri
masih terus mengaduk vaginanya
dengan kecepatan penuh. Lalu,
dengan geraman panjang Hendri
menusukkan penisnya sejauh
mungkin ke dalam kemaluan ibu
muda berjilbab ini. Kedua tangannya
mencengkeram payudara Mufidah
yang padat dan montok dengan
kuat diremasnya. Mufidah yang
masih dibuai gelombang kenikmatan,
kembali merasakan sensasi aneh
saat bagian dalam vaginanya
disembur cairan hangat mani dari
penis Hendri yang terasa banyak
membanjiri liangnya. Mufidah kembali
merintih mirip suara anak kucing,
saat dengan perlahan Hendri
menarik keluar penisnya yang lunglai.
Begitu gelombang kenikmatan
berlalu, kesadaran kembali memenuhi
ruang pikiran wanita ini. Mufidah
tersadar dan terisak dengan tangan
bertumpu pada meja dapur.
“Sudah, Mbak Mufidah nggak usah
nangis! Toh mbak Mufidah ikut
menikmati juga, jangan ceritakan
pada siapa-siapa kalau tidak mau
nama baik suamimu tercemar
dengan perselingkuhan kita!!” kata-
kata Hendri dengan nada tekanan
keras sambil membenahi celananya.
Mufidah diam saja, harga dirinya
sebagai seorang istri dan wanita
hancur. Wanita itu baru merapikan
pakaiannya yang awut-awutan
ketika, dilihatnya Hendri telah pergi
dari dapur dan beberapa saat
kemudian tanpa berpamitan,
terdengar suara mobil Hendri
berlalu meninggalkan halaman
rumahnya. Mufida terisak menyesali
nasib yang menimpanya,
Namun dia juga merasa malu betapa
dia ikut menikmati juga ketika tamu
suaminya itu menyetubuhinya sambil
berdiri dari arah belakang tubuhnya
dengan posisi menungging, Mufidah
belum pernah melakukan hubungan
intim bersama suaminya dengan
posisi demikian itu, namun segera
air mata yang menghiasi wajahnya
buru-buru dihapusnya saat didengar
suara kedua anaknya pulang.
Dan sejak peristiwa perkosaan itu,
ketika ia melakukan hubungan
kelamin dengan suaminya Mufidah
sudah tak bisa merasakan nikmat
lagi saat ia melayani suaminya.
Mufidah merasakan penis suaminya
tidak ada apa-apanya bila
dibandingkan dengan punya Hendri
yang besar panjang, dan bayangan
saat ia diperkosa oleh Hendri
membuat dirinya menuntut sesuatu
yang dapat memberikan gelombang
kenikmatan. Ia ingin suaminya bisa
seperkasa Hendri yang bisa
melambungkan sukmanya saat
mencapai puncak kenikmatan. Rasa
menyesal saat diperkosa dan gejolak
syahwat berkecamuk dalam
batinnya membuat ibu muda itu
merindukan kejantanan milik lelaki
seperti Hendri, namun semuanya ia
pendam sendiri seolah-olah tidak
ada kejadian apa-apa bila berada
didepan suaminya.
Dua minggu setelah peristiwa itu
Mufidah menerima telepon dari
Hendri saat suaminya keluar kota.
“Halo mbak! Mas Syamsul pergi ke
Semarang ya? Saya mau bertamu
ke rumah bolehkan?”
“Brengsek kamu dik Hendri!” jawab
Mufidah.
“Lho koq mbak marah. Mbak
menikmati juga kejantananku saat
itu.”
Lalu Mufidah memutuskan hubungan
telepon, dengan tubuh gemetar dan
perasaan tak menentu ia masuk ke
dalam kamar, ia khawatir Hendri
pasti akan datang bertamu siang ini
disaat anak-anaknya berada
disekolah dan suaminya tak ada
dirumah. Hatinya berkecamuk antara
menerima kunjungan Hendri atau
tidak, namun gejolak nafsunya
menuntut sesuatu yang tak pernah
didapatkan dari suaminya. Tiba-tiba
ketukkan pintu terdengar olehnya
dan dengan gugup ia keluar dari
kamar, langkahnya sedikit gemetar
saat menuju pintu rumah.
Ketika ia membuka pintu tampak
seringai Hendri dengan sorot mata
penuh nafsu saat menatap dirinya.
Tanpa basa basi lagi Hendri langsung
mengunci pintu rumahnya, dan
Hendri telah mempunyai rencana
agar isteri sahabatnya yang cantik
ini akan selalu ketagihan dengan
batang kejantanannya, dan Hendri
akan menunjukkan bagaimana
memberikan kepuasan dalam
permainan seks pada isteri
sahabatnya. Saat Hendri mendekati
tubuh wanita cantik ini kian
gemetar dan dengan buasnya Hendri
menciumi leher jenjang isteri
sahabatnya, tubuh ibu muda itu
mengejang ketika dengan sedikit
kasar Hendri meremas-remas
pantatnya dan kekasaran itu
membuat gejolak nafsu Mufidah
menggelegak hingga lupa akan
segala-galanya. Matanya terbelalak
saat dengan cepatnya Hendri sudah
dalam keadaan telanjang
dihadapannya, penisnya yang besar
panjang mulai membesar. Dan
dengan kasar Hendri melucuti
pakaian Mufidah hingga keduanya
sama-sama telanjang yang tinggal
hanya jilbabnya yang belum terlepas,
karena Hendri akan lebih bergairah
jika isteri sahabatnya saat digarap
masih memakai jilbab. Kemudian
Hendri mendudukkan ibu muda itu di
sofa, lalu disorongkan penisnya ke
wajah Mufidah dan digesekan ke
hidung perempuan itu.
“Ayo mbak cium dan jilati ini penis
yang pernah memberikan
kenikmatan ayo ayo!.”
Saat itu Mufidah serasa akan
muntah karena ia belum pernah
mencium penis Hendri sedang penis
suaminya belum pernah Mufidah
menjilatinya, dan ini penis orang lain.
Namun kali ini ia dengan terpaksa
melakukan itu.
“Pegang ya mbak, dan gesek-gesek
dipipi, nah begitu cium mbak terus-
terus cium.”
Aroma batang penis itu mulai
merangsang Mufidah dan tanpa
sadar ia mulai menjilati penis Hendri
dengan nafsu yang menggelegak dan
ia merasakan sensasi baru memacu
gairahnya, ia mulai merasakan penis
itu kian membesar dalam mulutnya
hingga mulutnya tak sanggup lagi
untuk mengulum batang penis lelaki
itu. Mufidah sudah bukan Mufidah
yang dulu lagi sejak ia mengenal
batang penis lelaki yang besar
panjang.
“Mmmmfff… mmmf”
“Oh oh yeah enak juga ngentot
mulut mbak, ternyata mbak suka
isep kontol ya?”, dan kata-kata
kotor Hendri ditelinganya serasa
indah terdengar dan nafsu Mufidah
kian membuncah keubun-ubun.
“Dik Hendri puaskanlah mbak..
bawalah mbak masuk ke kamar oh
dik cepatan.. setubuhi mbak seperti
tempo hari.
“Aaaagggh.. Ouuuh”
Lalu Hendri membopong tubuh molek
isteri sahabatnya naik ke ranjang,
dan dengan buas Hendri menindihnya,
dan ibu muda itu berkelojotan saat
mulut Hendri mengulum putting susu
yang masih segar dan jari-jari
Hendri merogoh liang vaginanya.
Mufidah kian mengejang?.
“?Ooooh mmmf ampun Dik Hendri
jangan… jangaaan mempermainkan
mbak oh yeah mmf… Ayo dik Hendri
berilah mbak nikmat kejantananmu
aampun…”
“He… heee sabar dong mbak, aku juga
suka dengan memek mbak yang
sempit ini, aku suka jilatin
memekmu, mana yang enak punyaku
dengan punya mas Syamsul mbak”
“?Enak punyamu dik.”
“Mana yang besar dan panjang
punyaku sama punya mas Syamsul”
“Oh dik tolong dik cepat. Bbbbbesar
pppppunya muuu.”
Lalu dengan gemasnya Hendri
menggigit kecil payudara indah milik
Mufidah seraya batang penis besar
itu menerobos masuk keliangnya
yang sempit, walau ia sudah
melahirkan anak dua namun serasa
sempit buat ukuran penis besar
Hendri. Mata ibu muda itu terbeliak
keatas saat penis besar itu kandas
didasar rahimnya dan kenikmatan
seperti itu belum pernah ia
dapatkan dari suaminya dan
sekarang ia dapat merasakan dari
penis orang lain selain suaminya,
tubuhnya menggeletar hebat ketika
dengan irama lambat dan terkadang
cepat ayunan batang penis Hendri
keluar masuk vaginanya. Kenikmatan
demi kenikmatan serasa sampai ke
ubun-ubunnya.
“Ooh oh yeh enak eeeeeenak kontol
besarmu dik Hendriiiiiiii oh ampun.”
Ia meracau tanpa sadar saking
kenikmatan itu mendera dirinya.
Mufidah bagaikan kuda betina liar
saat dipacu oleh lelaki sahabat
suaminya, ia melenguh seperti sapi
disembelih karena nikmatnya, ia
menangis dan menyesal karena
selama ini ia telah tertipu oleh
suaminya bahwa kenikmatan itu bisa
ia dapatkan asalkan mas Syamsul
tahu bagaimana caranya
memberikan kepuasan kepadanya,
dan ternyata suaminya adalah suami
yang tidak mempunyai pengetahuan
tentang urusan seks, itu yang
membuat ia menangis, serta
menyesal, terhina dan marah pada
diri sendiri. Maka bagaikan banteng
betina yang terluka ia pacu nafsu
berahinya yang terpendam selama
ini.
“Ayo dik nikmatilah tubuhku,
setubuhilah aku sesukamu.”
“Baik mbak yang cantik, kekasih
binalku sekarang waktunya
nikmatilah rasa kontol besar ini”
“Mmmmmf yeah, oh memek mbak
legit rasanya.”
Dan Tubuh Mufidah melengkung saat
ia mencapai puncak nirwana.
“Ooooh enak tolooooong ampuuuuuun,”
biji mata Mufidah mendelik ia
berkelonjotan saat semburan lahar
panas Hendri dengan derasnya
menyemprot dasar rahimnya, dan
batang penis besar itu berkedut-
kedut di dinding vaginanya.
Selama 6 tahun perkawinannya
dengan mas Syamsul baru ini ia
merasakan begitu nikmatnya
semburan air mani lelaki hingga
tubuhnya bergetar bagai kena aliran
listrik ribuan watt dan sukmanya
serasa terbang melambung ke
awang-awang.
Hingga kini hubungan mereka telah
berjalan 1 tahun tanpa diketahui
oleh suaminya, karena mereka
pintar memanfaatkan waktu serta
merahasiakannya, kadang bila ada
kesempatan mereka melakukan di
hotel dan yang lebih berani lagi saat
suaminya ada dirumah. Hendri pura-
pura berkunjung untuk bermain
catur dengan suaminya, saat itu
juga isterinya menyediakan minuman
kopi buat suaminya dengan dibubuhi
obat tidur yang sengaja dibawa
Hendri, sehingga sewaktu suaminya
bermain catur dengan Hendri,
Syamsul tidak tahan lama karena
mengantuk berat lalu masuk
kedalam kamar. Mufidah berpura-
pura ikut tidur juga disamping
suaminya agar suaminya tidak
curiga dan ia katakan bahwa Hendri
ingin menginap dirumahnya dan tidur
di sofa ruang tamu.
Pada saat suaminya telah tertidur
pulas bagaikan orang mati, Mufidah
disetubuhi oleh Hendri disamping
suaminya, Mufidah berpacu dalam
birahi hingga ia meringkik nikmat
dengan tubuh berkelojotan disamping
tubuh suami yang tertidur pulas,
bahkan perbuatan yang demikian itu
membuat sensasi aneh tersendiri
bagi mereka berdua. Persetubuhan
itu mereka lakukan hingga menjelang
subuh.
Ada sesuatu yang lebih membuat
Mufidah amat terangsang nafsunya
bila saat Hendri sekali-kali datang
berkunjung kerumahnya, dengan
berpura minta diajarkan computer
sama Hendri sementara suaminya
duduk diruang keluarga sambil
menikmati secangkir kopi, hanya
dengan jarak beberapa meter, disitu
ibu muda itu sedang belajar
computer bersama Hendri, Mufidah
merasa sangat terangsang hebat
saat dengan sengaja Hendri
menggesek-gesekan batang penisnya
yang menegang dari balik celana
training ke lengan Mufidah yang
sedang mengetik didepan monitor.
Gesekan itu membuat sensasi aneh
dalam dirinya ketika merasakan
batang penis Hendri serasa
mengeras dan tegang dipangkal
lengannya, dan terkadang pula ia
rasakan batang penis besar itu
berdenyut-denyut dipinggangnya
saat dengan sengaja Hendri pindah
membelakangi tubuhnya.
Suaminya tidak merasa curiga
sedikitpun karena Syamsul tahu
bahwa isterinya sedang diberi
pelajaran tentang mengakses
computer, ia tidak menyadari bahwa
isterinya sedang dirangsang oleh
Hendri habis-habisan. Tubuh Mufidah
mulai menggeletar penuh nafsu
dengan aksi yang dilakukan Hendri
padanya. Karena sudah tak tahan
lagi Mufidah pergi keruang dapur
membuat minuman dan Hendri pergi
menuju toilet namun sesungguhnya
Hendri ikut pula menyusul isteri
sahabatnya kearah dapur, dari balik
lemari makan yang besar itu
mereka melakukan persetubuhan
dengan berdiri dengan amat
tergesa-gesa saat sang suami
wanita itu sedang menikmati
secangkir kopi sambil membaca
koran. Syamsul tidak menyadari
bahwa isterinya sedang disetubuhi
habis-habisan oleh Hendri dengan
posisi berdiri.
“Ooooh Hendri mmmmfff… ampun dik
Hen”, dengan buas Hendri
mengayunkan pantat maju mundur
menusukkan penis besarnya kedalam
vagina ibu muda itu, sukma wanita
cantik itu serasa terbang ke langit
tinggi saat ia disetubuhi dengan
cara demikian itu oleh Hendri
sahabat suaminya, Mufidah belum
pernah merasakan disetubuhi dengan
cara berdiri dan tergesa-gesa, dan
ini yang membuat suatu kenikmatan
tersendiri buat Mufidah saat ia
digarap oleh Hendri sementara sang
suami berada tak jauh darinya.
“Oooooh Hendri mbak keluaaar oh
ampun dik, cepat dik Hendri nanti
ketahuan suamiku,” namun Hendri
tidak menghiraukannya, dengan
perkasanya Hendri memacu kuda
betinanya yang cantik ini sampai
berkelojotan dengan biji mata
mendelik keatas menikmati kocokan
batang penis besar itu dalam
vaginanya yang sempit.
“Oooooh yeah memek mbak sempit
legit, enaak rasanya, aku akan lebih
bergairah lagi bila aku dapat
ngentot mbak bila disaksikan mas
Syamsul.”
Hendri semakin terbuai sensasi saat
ia dengan buasnya menyetubuhi
isteri sahabatnya padahal Syamsul
tak begitu jauh jaraknya dari
tempat mereka bersetubuh. Dan
dengan menggeram nikmat Hendri
menyemprotkan air maninya ke
dalam vagina ibu muda itu, Mufidah
mengejang dan mengerang bagaikan
kucing betina yang mengeong lirih
saat semburan lahar panas Hendri
menerpa dasar rahimnya, tubuhnya
bergetar dengan hebat dengan
nafas serasa akan putus ketika
batang kejantanan Hendri yang
besar panjang berkedut-kedut
diliang memeknya.
“Ooooohhh mmmmffff…
enaaaaaaaaaaak, ampuuuuuun dik,
kontolmu enak dan besar.”
Dan persetubuhan itu berakhir
dengan sama-sama mencapai puncak
nirwana yang diraih dengan cara
tergesa-gesa penuh rasa sensasi.
Dan akhirnya mereka berdua kembali
keruang keluarga tanpa menimbulkan
kecurigaan mas Syamsul. Sebelum
keluar dari dapur Hendri sempat
berbisik ke telinga ibu muda itu.
“Lain waktu aku akan ngentotin
mbak lagi ya,” seraya tangan Hendri
meremas-remas susu mengkal
wanita cantik berdarah ningrat itu.
Ketika Syamsul ditugaskan oleh
atasannya untuk mengelola
perkebunan di Sumatera, Mufidah
terpaksa ikut dengan suaminya dan
anak-anak mereka dititipkan pada
neneknya di Jogyakarta karena
kedua anaknya harus tetap
bersekolah. Dan ditempat pindah
mereka yang baru itu adalah sebuah
pulau kecil dimana penduduknya
masih terbelakang pola pikirnya.
Ditempat tugas barunya Syamsul
mendapatkan sebuah rumah
perkebunan yang lengkap dengan
segala fasilitasnya. Mufidah merasa
sangat senang menempati rumah
itu, dengan suasana alam pedesaan,
disini Mufidah bisa menghindar dari
Hendri. Setelah tiga bulan berada di
pulau terpencil itu, kehidupan rumah
tangga Mufidah masih berjalan
seperti biasanya hingga suatu hari
Mas Syamsul menawarkan pada
Mufidah seorang tukang kebun
untuk merawat pekarangan rumah
dinas yang ditempatinya dan
sekalian sebagai penjaga rumah.
Pak Renggo adalah seorang lelaki
yang berusia 65 tahun namun
tubuhnya masih nampak kekar dan
berkulit hitam dengan rambutnya
yang telah memutih. Pak Renggo
adalah seorang lelaki pekerja keras
ia hanya memiliki sebidang tanah
yang selalu digarapnya sendiri dan
ditanami sayur mayur untuk
kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Isteri pak Renggo telah tujuh tahun
meninggal dunia kini ia hidup sendiri
tanpa mempunyai anak. Ketika ia
ditawari Syamsul untuk bekerja
dirumah dinas perkebunan, pak
Renggo dengan sangat senang hati
menerimanya, apalagi pak Renggo
diberi sebuah kamar dibelakang
rumah dinas itu. Wajah lelaki tua
itu nampak sangar mengerikan
dalam pandangan Mufidah ketika
pertama kali diperkenalkan oleh
suaminya, namun lama kelamaan
Mufidah sudah terbiasa berhadapan
dengan pak Renggo yang berwajah
jelek dan menyeramkan itu, apalagi
pak Renggo orangnya sangat rajin
membersihkan pekarangan rumah
dan terkadang sering membantu
Mufidah menanam bunga hingga
rasa ketakutan Mufidah pada pak
Renggo hilang dengan sendirinya
karena sering bertemu setiap
waktu.
Mufidah tak menyadari ketika
seringnya mata pak Renggo melirik
buah dadanya saat ia berjongkok
menggemburkan tanah tanaman
bunga, buah dada Mufidah sangat
menggiurkan bergelayut indah hingga
membuat pak Renggo bergairah dan
ingin meremas buah dada Mufidah
yang mengkal itu. Namun pak Renggo
tidak berani berbuat macam-macam
pada isteri pak Syamsul yang telah
berbaik hati memberinya pekerjaan
meskipun sebagai tukang kebun.
Mufidah yang telah lama tidak
merasakan hangatnya batang penis
lelaki jantan seperti punya Hendri
kini Mufidah sangat merindukan
kehangatan itu.
Suaminya mas Syamsul tak mampu
bercinta dan cepat berejakulasi
hingga membuat Mufidah frustrasi
dan kecewa selalu. Disuatu senja
Mufidah melihat pak Renggo
seketika Mufidah langsung
terkesima saat melihat pak Renggo
kencing dibalik pohon nangka sedang
memegang penisnya yang
tergantung panjang dan besar
seperti pisang tanduk. Mufidah
mengintip dari balik kaca hitam
jendela rumahnya, dengan tubuh
menggeletar Mufidah memandang
batang kejantanan pak Renggo yang
berwajah sangar itu namun alat
kelaminnya sungguh membuat
Mufidah jadi menggelegak nafsu
birahinya.
Mufidah tidak ingat lagi status
sosialnya yang berdarah ningrat dan
sebagai seorang isteri sah mas
Syamsul, saat itu yang terbayang
dalam pikirannya betapa nikmatnya
penis besar panjang itu bila
mengaduk-aduk dalam vaginanya.
Pengalaman Mufidah saat disetubuhi
oleh lelaki yang punya penis besar
telah membangkitkan libidonya yang
tertidur. Setelah selesai kencing,
pak Renggo mengeringkan sisa air
seninya dengan cara menggoyang-
goyangkan penisnya.
Meskipun penis itu dalam keadaan
lemas namun begitu panjang dan
besar sekali. Mufidah lalu
membayangkan bagaimana bila penis
itu dalam keadaan ereksi. Pak
Renggo memang dengan sengaja
melakukan itu karena bagaimana pun
juga pak Renggo telah mengetahui
bahwa ibu muda itu sedang
terbelalak matanya melihat penisnya
dari balik jendela berkaca hitam,
pak Renggo sudah tahu kebiasaan
Mufidah yang sering duduk
menghadap jendela setiap sore hari
sambil menghirup secangkir teh
manis hangat. Maka dengan
disengajanya lagi pak Renggo
mengelus-ngelus batang
kejantanannya yang berurat hingga
ereksi seperti tongkat hitam, hanya
itu yang bisa dilakukan oleh pak
Renggo untuk memancing gairah ibu
muda yang cantik isterinya pak
Syamsul, adapun untuk berbuat
selanjutnya pak Renggo tidak berani
macam-macam. Mata Mufidah
terbelalak lebar ketika melihat penis
pak Renggo kian menegang dan
besar dari balik jendela. Pak Renggo
terus mengocok-ngocok penisnya
disamping pohon nangka, dan
terlihat wajah pak Renggo meringis
nikmat sambil mengkhayalkan sedang
menyetubuhi Mufidah, semakin lama
semakin cepat kocokan pada
penisnya, dan pak Renggo mengerang
nikmat saat batang hitamnya
menyemburkan lahar panas dan air
mani pak Renggo seakan
menyemprot ke jendela tempat
dimana Mufidah terpaku
menyaksikan pak Renggo beronani,
karena jarak pohon nangka tempat
pak Renggo beronani hanya berjarak
dua meter dari jendela tempat
Mufidah menyaksikan aksi gilanya
pak Renggo.
Tubuh Mufidahpun ikut menggeletar
saat melihat semprotan air mani
pak Renggo begitu jauh
jangkauannya seakan-akan
menyembur ke wajahnya. Tuntas
sudah hasratnya pak Renggo
mempertontonkan onaninya, dan pak
Renggo berpura-pura tidak tahu
kalau ibu muda itu menyaksikan
betapa dahsyatnya semburan air
mani yang keluar dari penis
beruratnya, lalu pak Renggo berjalan
masuk ke dalam rumah dinas itu
menuju kamar mandi.
Ketika saatnya makan malam tiba
mas Syamsul mengajak pak Renggo
untuk makan bersama, hidangan
malam yang disediakan oleh Mufidah
disantap habis oleh pak Renggo,
dalam pikiran Mufidah bila
seseorang dengan lahap menyantap
makanannya hingga tuntas, lelaki
tersebut pasti sangat lahap juga
dalam bersetubuh. Malam itu Pak
Renggo seperti tidak pernah ada
kejadian apa-apa dihadapan ibu muda
itu, walaupun pak Renggo tahu
bahwa Mufidah selalu
memperhatikan gerak geriknya
disaat mereka bertiga makan
bersama.
Walaupun pak Renggo hanya
bercelana komprang hitam namun
Mufidah sangat tahu dibalik celana
lebarnya tersembunyi batang penis
panjang berurat yang tergantung
sebesar pisang tanduk. Malam itu
Mufidah gelisah saat berada
ditempat tidur, disampingnya sang
suami sudah tertidur pulas, Mufidah
kemudian beranjak bangun keruang
dapur untuk menghilangkan hausnya
dan setibanya Mufidah didapur ia
dikejutkan oleh suara pak Renggo
yang menyapa ramah.
“Belum tidur ya.. bu!,”
“Oh ya pak Renggo, saya haus nih
dan mau minum, saya susah tidur
malam ini pak Renggo, gak tau tuh
kenapa malam ini saya sulit sekali
tidur,”
“Oh mungkin ibu banyak pikiran
barang kali”, kata pak Renggo, “Atau
ibu masuk angin dan gak enak badan
jadi susah tidurnya. ”
Lalu Mufidah ikut duduk disebuah
bangku plastic yang tanpa sandaran,
yang kemudian Mufidah terus
menanggapi ucapannya pak Renggo
sambil bercerita ngalor ngidul.
“Ya pak mungkin saya masuk angin
nih” dan tanpa disuruh oleh Mufidah
pak Renggo telah berdiri dibelakang
Mufidah seraya berbisik ditelinga ibu
muda itu.
“Ibu saya pijati ya biar hilang masuk
anginnya” sambil tangan pak Renggo
mulai memijati dengan lembut
pundak Mufidah.
Mufidah lalu menganggukkan
kepalanya tanda setuju untuk
dipijati oleh pak Renggo. Tangan
kekar pak Renggo serasa hangat
dan geli dirasakan oleh Mufidah
ketika menyentuh kulit halusnya,
pijatan pak Renggo merambat naik
ke leher jenjangnya dan dengan
lembut pak Renggo memijat dengan
jari-jarinya yang kasar pada
tengkuk Mufidah, pijatan pak Renggo
serasa nikmat dirasakan oleh
Mufidah dan pada saat yang
bersamaan sesuatu yang mengeras
dan hangat menyentuh kulit
punggung Mufidah dari balik baju
tidurnya, pak Renggo tak hanya
memijat pundak dan lehernya
Mufidah akan tetapi juga pak
Renggo menggesek-gesekan batang
penisnya yang mulai menegang dari
balik celana komprangnya pada
punggung Mufidah.
Perempuan itu mulai dijalari sensasi
birahi dan tubuhnya menggeletar
seketika saat tangan kekar pak
Renggo turun menelusuri memijat
kedua lengannya, entah disengaja
atau tidak jari kasar pak Renggo
menyenggol kedua payudaranya yang
ranum itu, dan dengan batang
kejantanan pak Renggo yang kian
menegang yang semakin menekan
punggungnya serasa mengalirkan
arus hangat penuh rangsangan.
Mufidah semakin mendesah ketika
dengan tiba-tiba pak Renggo
menciumi leher jenjangnya sambil
berbisik ditelinga Mufidah.
“Ibu ingin merasakan hangatnya
kejantananku? Ayo bu, bilang aja
jangan malu-malu, saya tau ibu
sangat menginginkannya malam ini
dan saya tahu pak Syamsul tidak
pernah memuaskan hasrat ibu”,
“Agggh…”
Mufidah bagai terhipnotis dengan
ucapan lelaki tua itu, dan tubuh
mulus isteri pak Syamsul sudah
dalam keadaan telanjang ketika pak
Renggo membopongnya masuk
kedalam kamar yang sempit pak
Renggo, Mufidah sudah sangat
pasrah dalam cengkraman pak
Renggo sebab didera nafsu birahi
tinggi, meski pak Renggo telah
berusia lanjut namun cara ia
membuai kepekaan gairah
kewanitaannya bisa diacungkan
jempol hingga membuat Mufidah
terbuai memasuki pusaran badai
nafsu lelaki tua itu. Sekujur tubuh
Mufidah habis dijilati dengan lidah
kasar pak Renggo, dan buah dadanya
tak luput dari sasaran mulut pak
Renggo kemudian lelaki tua itu
menghisap rakus putting susunya
yang kian menegang, Mufidah
mengerang bagai anak kucing ketika
vaginanya dijilati oleh pak Renggo
dan klitorisnya diemut emut gemas
oleh lelaki tua itu, tubuh sintal
Mufidah yang berdarah ningrat kian
mengejang, tubuhnya melengkung
keatas didera nikmat saat pak
Renggo menggigit lembut klitorisnya.
“Aaaagggh Oooh ampuuuun pak
Renggo”, Mufidah berkelojotan ketika
jilatan serta gigitan gemas pak
Renggo pada vaginanya membuat
Mufidah orgasme seketika, malam
itu erangan nikmat Mufidah
memenuhi ruang kamar yang sempit
sesempit vaginanya yang diobok-
obok pak Renggo.
Ibu muda yang cantik beranak dua
itu tak menghiraukan lagi keadaan
sekitarnya, tak peduli bahwa
suaminya sedang berada dirumah,
kenikmatan itu telah membuat
Mufidah jadi meracau tak karuan.
“Ooooooh pak Renggo setubuhilah aku
sesukamu, cepat pak. Kapan saja
kalau bapak mau saya selalu
bersedia disetubuhi.”
Pak Renggo yang si tukang kebun
telah membuat nyonya majikannya
mengerang manja minta disetubuhi
dengan permainan awalnya, sudah
lama pak Renggo merindukan untuk
dapat menyetubuhi perempuan
cantik berdarah ningrat ini, namun
baru malam itu pak Renggo dapat
menyentuh kulit halus isteri pak
Syamsul. Ketika mencapai puncak
birahinya tiada lagi nampak watak
darah birunya, yang ada hanya
darah merah yang memacu
jantungnya untuk mencapai klimaks
nafsu birahi. Pak Renggo
merenggangkan kaki indah Mufidah
sambil dijilati telapak kakinya, tubuh
Mufidah kian bergetar ketika jilatan
lidah kasar pak Renggo pada telapak
kakinya bagaikan arus aliran listrik
yang menggelitik kepekaan simpul
syarafnya, memek Mufidah nampak
merah merekah dengan cairan
bening yang telah meleleh keluar
dari vagina saat otgasme, dan
pemandangan lembah kenikmatan
yang berumput subur itu membuat
gairah nafsu pak Renggo
menggelegak, penis beruratnya kian
menegang dan Mufidah memejamkan
matanya ketika batang hitam besar
itu mulai menyentuh bibir vaginanya,
Mufidah mengerang ketika pak
Renggo mulai memasuki penisnya
dengan perlahan.
“Oooooh pak besarnya, sakiiiiiit pak.
Pelan-pelan pak. Agggh… Ampuuun”
“Sakitnya cuma sebentar koq bu, ibu
saya entot ya? Ibu ikhlaskan kalau
ibu saya setubuhi? Ibu bisa
membedakan rasanya jika dientot
sama saya, ibu suka dengan kontol
besar ini?”, dan kata-kata kotor pak
Renggo kian membuat nafsu birahi
Mufidah memuncak, kata-kata itu
seakan menghipnotis jiwanya yang
akhirnya batang besar panjang pak
Renggo semakin masuk kedalam liang
vagina Mufidah yang sempit itu.
Blesssss…
Pak Renggo mendiamkan penisnya
sesaat agar Mufidah dapat
meresapi nikmatnya kedutan penis
besarnya dan beradaptasi. Tubuh
Mufidah menggeletar ketika
menerima hangatnya kejantanan pak
Renggo, liang vaginanya serasa
sesak seakan hendak pecah, dan
rasa kenikmatan mulai menderanya
ketika pak Renggo dengan perlahan
menarik penis itu hingga yang
tersisa kepala penis yang masih
menempel dibibir vagina, lalu dengan
menghentak deras disorongkan
masuk kembali kedalam memek
Mufidah dan itu dilakukan pak
Renggo berulang-ulang kali hingga
membuat biji mata Mufidah
terbeliak keatas, seperti anjing
yang sedang kawin Mufidah melolong
histeris.
“Oooooh ampunnnn pak, enaaaak,
setubuhi saya paaaak terus pak” ibu
muda yang berjilbab bila berada
diluar rumah kini mengerang nikmat
saat vaginanya ditusuk dengan penis
hitam besar.
Lelaki tua yang bernama Renggo itu
telah membuat sukma Mufidah
serasa terbang ke awang-awang
dan tubuh keduanya telah bersimbah
keringat birahi, dengan gagah
perkasa pak Renggo memacu kuda
betinanya yang cantik dalam
dekapan dan hentakan batang
kejantanannya.
“Bagaimana Bu?. Enak ya rasa kontol
besar panjang? He… heee… Ayo bu
goyangin pantatnya dong. Rupanya
ibu suka dientot sama penis besar
ya?”. Dan kata-kata kotor pak
Renggo membuat Mufidah semakin
terangsang, kata kotor yang penuh
sensasi itu dibisikan pak Renggo
pada telinganya berulang-ulang
sambil tetap mengayunkan
pantatnya naik turun, gerakan
hentakan penis pak Renggo mulai
tak teratur lagi karena ikut didera
nafsu birahi saat menyetubuhi
wanita bertubuh sintal itu.
Mufidah pun dapat membedakan
rasa kenikmatan yang didapat dari
pak Renggo dengan sewaktu
Mufidah disetubuhi oleh suaminya
belum pernah ia merasakan desakan
nafsu begitu sangat memuncaknya
sampai ke ubun-ubun, permainan
seks pak Renggo telah membuat
Mufidah orgasme berkali-kali.
“Ouuugh bu. Memek ibu sungguh legit.
Enak rasanya. Ssssaya mauuu keluar
juga bu. Di dalam apa diluar nih ?”
“Oooooh pak. Aaaampuuuun
enaaaaknya di dalam saja,
semburkan cepaaaat di dalam
pejuhnya paaaaak, Aaaaghhh
ampuuuun”.
“Ibu mau kalau saya hamili?”.
“Aaaaghhhh… Ya yaaa pak hamili saja
saya pak Renggo”. Akal pikiran
Mufidah telah buntu karena didera
oleh kenikmatan dari semburan
lahar panas lelaki itu, hingga tanpa
sadar Mufidah meracau tak karuan.
Air mani pak Renggo yang
menyembur sangat deras itu
menyentuh dasar rahimnya sehingga
membuat Mufidah berkelojotan
dengan tubuh melengkung naik
keatas mengangkat tubuh pak
Renggo yang menindihnya. Penis
berurat pak Renggo semakin dalam
menusuk vagina Mufidah sampai
mentok didasarnya. Pak Renggo
mengaum bagaikan harimau luka,
penisnya serasa disedot oleh
cengkraman denyut memek Mufidah
yang menggigit lembut.
“Ooooh memek ibu enaaaaak
teunaaaan”.
Dan tubuh keduanya melekat jadi
satu dengan deru nafas saling
memburu keduanya mencapai puncak
birahi. Mufidah tak menyangka
walau tinggal di pulau terpencil ini
ia bisa menikmati kembali
sempurnanya permainan seks meski
dengan lelaki tua namun sangat
perkasa diranjang. Dan penampilan
Mufidah sehari-hari tetap seperti
biasanya, dengan baju panjang dan
berjilbab namun Mufidah sudah
bukan Mufidah yang seperti dulu
lagi. Wanita berdarah ningrat yang
alim itu namun dibelakang suaminya
Mufidah adalah sosok perempuan
yang haus akan batang kejantanan
lelaki perkasa. Akibat Mufidah telah
diperkosa oleh sahabat suaminya
membuat Mufidah merindukan selalu
batang kejantanan lelaki perkasa
untuk dapat memuaskan dahaganya,
Mufidah kini mengalami kelainan
seks dan ia akan merasa puas bila
disetubuhi oleh lelaki yang berpenis
besar serta panjang. Dan untuk
memenuhi hasratnya Mufidah telah
mendapatkan dari tukang kebunnya,
dan peluang itu juga tidak disia-
siakan oleh pak Renggo untuk
mencicipi tubuh seksi perempuan
yang berdarah ningrat untuk
disetubuhi.
Bila mas Syamsul pergi kota untuk
beberapa hari, kesempatan untuk
menyetubuhi Mufidah semakin
leluasa dilakukan, dan terkadang
Mufidah merengek-rengek minta
disetubuhi oleh pak Renggo meski
sang suami masih berada dirumah,
Mufidah sering menyelinap masuk
kedalam kamarnya pak Renggo
dalam keadaan telanjang, dikamar
sempit itu makhluk yang berlainan
jenis itu memacu birahi liar dan
buah dada Mufidah yang montok
indah akan selalu menjadi sasaran
mulut pak Renggo untuk menyusu
pada ibu muda itu. Erangan nikmat
Mufidah serta goyangan erotisnya
ketika disetubuhi pak Renggo
menjadi obat perangsang birahi buat
lelaki tua itu untuk selalu
menghempaskan Mufidah kepusaran
badai kenikmatannya.
Jadilah Mufidah budak nafsunya pak
Renggo dan pak Renggo selalu
membuat tuntas nafsu birahi
Mufidah hingga Mufidah dibuat
mengerang… mengejang…
Ketika dengan liar Mufidah
bergoyang erotis diatas tubuh
kekar pak Renggo, sambil meremas-
remas payudara Mufidah, mata pak
Renggo merem melek menikmati
goyangan pinggul Mufidah dengan
vaginanya yang penuh disesaki oleh
penis beruratnya. Mufidah bagaikan
penari jalang saat menghentakan
pinggulnya naik turun dengan kedua
tangannya bertumpu di dada bidang
pak Renggo.
“Oooooh yeeeeah” tubuh ibu muda itu
meliuk-liuk bagai penari jalang,
“Aaaggggh… Ouuuuuph… paaaak… kontolnya
sampai mentoooook, enak paaaak”.
Tubuh Mufidah berkilau indah
bermandikan keringat birahi ketika
berada diatas tubuh kekar yang
dikangkanginya. Mufidah dengan
bersemangat memacu kuda
jantannya untuk mencapai puncak
kenikmatan yang hendak diraihnya,
ayunan vaginanya yang naik turun
semakin liar membenam pada penis
berurat pak Renggo dan memek
Mufidah semakin basah oleh lendir
pelicin yang mengalir dari liang
vagina. Dengan kepala mendongak
keatas dan biji mata membelalak
Mufidah terus dan terus memacu
diatas tubuh kekar lelaki tua
tukang kebunnya. Pak Renggo
memberikan kesempatan pada ibu
muda itu untuk meraih sendiri
kenikmatan nafsu birahi, tangan
kekar pak Renggo tidak tinggal
diam, dengan kasar diremasnya
pantat bahenol Mufidah hingga
Mufidah mengerang menahan sakit
bercampur nikmat, remasan kasar
disertai hentakan dari penis yang
menusuk keatas kian liar.
Ketika Mufidah akan mencapai pada
puncak birahinya, lalu disambarnya
bibir pak Renggo dan Mufidah
melumat gemas dengan bibir
sensualnya sambil terus
mengayunkan pantatnya naik turun.
Tubuh keduanya melekat jadi satu
bersimbah keringat birahi tinggi.
“Ooooouuh, ammmpun.. enaaak”, dan
tubuh Mufidah berkejat-kejat
diatas tubuh pak Renggo saat ia
mendapatkan orgasmenya yang
sempurna.
Mufidah memeluk erat tubuh kekar
lelaki tua itu hingga kedua
payudaranya melekat di dada
berotot pak Renggo. Dan kini
perempuan cantik berdarah ningrat
itu ditindih gantian lagi oleh pak
Renggo dan dengan buasnya pak
Renggo menyetubuhi ibu muda itu
sampai tubuhnya berkelojotan
mendapatkan orgasmenya kembali,
pak Renggo belum merasa puas
kalau belum bisa membuat Mufidah
mengerang histeris saat ia
setubuhi, lalu ditengkurapkan tubuh
Mufidah dengan posisi menungging
dan dengan keras dihujamkan penis
beruratnya ke dalam vagina yang
sempit itu, tubuh Mufidah bergetar
hebat saat Penis pak Renggo amblas
masuk ke dalam liang memeknya
yang telah becek, sambil meremas
payudara indah Mufidah pak Renggo
mengayunkan penisnya maju mundur
dengan ganas dan liar, dengan
geramnya kulit punggung Mufidah
yang halus itu digigit oleh pak
Renggo, rasa sakit bercampur
dengan nikmat membuat tubuh
Mufidah mengejang mengerang
histeris.
“Aaammmpuuuuuun pak.. Ooooh terus
pak.. entotin saya yang kuat
paaaaak”.
Batang penis besar itu seakan
merobek liang vagina Mufidah dan
kedutan penis yang keras itu
membuat dinding vaginanya secara
elastis ikut berdenyut meremas-
remas kontol pak Renggo.
“Ouuuuh.. Aggghh..”
Pak Renggo dibuat mengerang oleh
cengkraman vagina Mufidah yang
berdenyut-denyut, lelaki tua itu
masih tetap mempertahankan
ejakulasinya agar jangan meledakan
lahar hangat dipertengahan
permainan liarnya saat memacu
kuda betina yang sedang meringkik
nikmat menuju garis finish. Rambut
panjang Mufidah dibuat bagaikan tali
kekang dan hentakan penis pak
Renggo terkadang cepat terkadang
perlahan. Saat ayunan penis pak
Renggo dibuat perlahan dan lembut
Mufidah mengerang, mengejang dan
meracau.
“Ooooh… enak… enaaaak pak, terus
paaaak saya suka dientot sama
kontol besaaaaaar paaaaak”
Dan pantat Mufidah bergoyang
erotis mengikuti irama ayunan
hujaman penis pak Renggo, tubuhnya
menggeletar dan rasa sakit
rambutnya yang dijambak oleh pak
Renggo bercampur dengan rasa
nikmat. Wajah Mufidah menengadah
ke langit-langit kamar dengan kedua
matanya terpejam, menikmati
gesekan penis pak Renggo bagaikan
gelombang disamudera.
“Ayooo bu goyang terus!…. Ayo
sayangku yang binal goyang terus,
teruuuus,”
Dan buah pantat Mufidah dipukuli
oleh telapak tangan kasar pak
Renggo, rasa sakit bercampur
nikmat itu membuat gairah Mufidah
semakin menggebu bagai orang
kesurupan Mufidah menggoyangkan
pinggulnya mengikuti irama tusukan
penis pak Renggo. Tangan kekar pak
Renggo tak pernah diam dan dengan
gemas diremasnya kedua payudara
Mufidah dengan kasar serta ayunan
penisnya semakin liar dan cepat,
dengan nafas memburu pak Renggo
menghujamkan penis besarnya
keluar masuk. Mufidah mengerang
histeris bagai orang gila, tubuh
Mufidah ikut berguncang-guncang
akibat hentakan penis pak Renggo
yang menyetubuhinya dari arah
belakang.
“Aaaaaapuuuuuun pak… Oooooh…”.
Mufidah melolong panjang dengan
tubuh berkelojotan, sambil mendekap
dan meremas payudara Mufidah.
Lalu pak Renggo membisikan sesuatu
pada ibu muda itu.
“Ibu suka ya kalau saya entotin?.
Ayoo bilang bu.”
“Yaaaa paak… teruuuus… enaaak pak”.
“Nah… artinya ibu sudah jadi isteri
yang jalang yang suka kontol. Ayoo
jawab… manisku.” Karena didera oleh
rasa akan mencapai puncak
kenikmatan, Mufidah menjawab
sambil merengek.
“Oooooh pak… terus pak… setubuhi saya
sesukamu. Aaaaah Ouuuuhggg… saya
suka dientot sama bapak”.
Tiba-tiba dengan kuat dan kasar
pak Renggo menghujamkan penis
besarnya kembali hingga membuat
Mufidah menjerit histeris.
“Ouuuuggh… Ampuuuuuuun saya sampai
paaaak… enaaaaak pak… teruuuuus pak
entot yang kuat”.
Dan tubuh Mufidah menggelosor
ambruk ketempat tidur, sementara
penis besar pak Renggo masih
mengobok-obok didalam vaginanya
hingga menyentuh dasar rahimnya,
sukma Mufidah serasa terbang ke
awang-awang dengan biji mata
mendelik dan tubuh berkelojotan
Mufidah meresapi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda