Translate

Rabu, 16 Februari 2011

GAIRAH WANITA LESBIAN


Aku adalah mahasiswi disebuah
universitas swasta di kota
Awal mula aku mengalami Making
Love dengan seorang wanita yang
mengubah orientasi seksualku
menjadi seorang biseksual, aku
mengalami percintaan sesama jenis
ketika usiaku 20 tahun dengan
seorang wanita berusia 45 tahun,
entah mengapa semuanya terjadi
begitu saja terjadi mungkin ada
dorongan libidoku yang ikut
menunjang semua itu dan semua ini
telah kuceritakan dalam “Rahasiaku.”
Wanita itu adalah Ibu Kos-ku, ia
bernama Tante Maria, suaminya
seorang pedagang yang sering
keluar kota. Dan akibat dari
pengalaman bercinta dengannya aku
mendapat pelayanan istimewa dari
Ibu Kos-ku, tetapi aku tak ingin
menjadi lesbian sejati, sehingga aku
sering menolak bila diajak bercinta
dengannya, walaupun Tante Maria
sering merayuku tetapi aku dapat
menolaknya dengan cara yang halus,
dengan alasan ada laporan yang
harus kukumpulkan besok, atau ada
test esok hari sehingga aku harus
konsentrasi belajar, semula aku ada
niat untuk pindah kos tetapi Tante
Maria memohon agar aku tidak
pindah kos dengan syarat aku tidak
diganggu lagi olehnya, dan ia pun
setuju. Sehingga walaupun aku
pernah bercinta dengannya seperti
seorang suami istri tetapi aku tak
ingin jatuh cinta kepadanya, kadang
aku kasihan kepadanya bila ia
sangat memerlukanku tetapi aku
harus seolah tidak
memperdulikannya. Kadang aku heran
juga dengan sikapnya ketika
suaminya pulang kerumah mereka
seakan tidak akur, sehingga mereka
berada pada kamar yang terpisah.
Hingga suatu hari ketika aku pulang
malam hari setelah menonton
bioskop dengan teman priaku, waktu
itu jam sudah menunjukkan pukul
setengah sebelas malam, karena aku
mempunyai kunci sendiri maka aku
membuka pintu depan, suasana
amat sepi lampu depan sudah
padam, kulihat lampu menyala dari
balik pintu kamar kos pramugari
itu,
Hmm.. ia sudah datang,” gumamku,
aku langsung menuju kamarku yang
letaknya bersebelahan dengan kamar
pramugari itu. aku bersihkan
wajahku dan berganti pakaian
dengan baju piyamaku, lalu aku
menuju ke pembaringan, tiba-tiba
terdengar rintihan-rintihan yang
aneh dari kamar sebelah. Aku jadi
penasaran karena suara itu sempat
membuatku takut, kucoba
memberanikan diri untuk mengintip
kamar sebelah karena kebetulan ada
celah udara antara kamarku dengan
kamar pramugari itu, walaupun
ditutup triplek aku mencoba untuk
melobanginya, kuambil meja agar aku
dapat menjangkau lubang udara
yang tertutup triplek itu.
Lalu pelan pelan kutusukan gunting
tajam agar triplek itu berlobang,
betapa terkejutnya aku ketika
kulihat pemandangan di kamar
sebelahku. Aku melihat Tante Maria
menindih seorang wanita yang
kelihatan lebih tinggi, berkulit putih,
dan berambut panjang, mereka
berdua dalam keadaan bugil, lampu
kamarnya tidak dipadamkan sehingga
aku dapat melihat jelas Tante
Maria sedang berciuman bibir
dengan wanita itu yang mungkin
pramugari itu. Ketika Tante Maria
menciumi lehernya, aku dapat
melihat wajah pramugari itu, dan ia
sangat cantik wajahnya bersih dan
mempunyai ciri khas seorang
keturunan ningrat. Ternyata
pramugari itu juga terkena rayuan
Tante Maria, ia memang sangat
mahir membuat wanita takluk
kepadanya, dengan sangat hati-hati
Tante Maria menjilati leher dan
turun terus ke bawah. Bibir
pramugari itu menganga dan
mengeluarkan desahan-desahan
birahi yang khas, wajahnya
memerah dan matanya tertutup
sayu menikmati kebuasan Tante
Maria menikmati tubuhnya itu.
Tangan Tante Maria mulai memilin
puting payudara pramugari itu,
sementara bibirnya menggigit kecil
puting payudara sebelahnya.
Jantungku berdetak sangat kencang
sekali menikmati adegan itu, belum
pernah aku melihat adegan
lesbianisme secara langsung,
walaupun aku pernah merasakannya.
Dan ini membuat libidiku naik tinggi
sekali, aku tak tahan berdiri lama,
kakiku gemetaran, lalu aku turun
dari meja tempat aku berpijak,
walau aku masih ingin menyaksikan
adegan mereka berdua.
Dadaku masih bergemuru. Entah
mengapa aku juga ingin mengalami
seperti yang mereka lakukan.
Kupegangi liang vaginaku, dan kuraba
klitorisku, seiring erangan-erangan
dari kamar sebelah aku
bermasturbasi sendiri. Tangan
kananku menjentik-jentikan
klitorisku dan tangan kiriku memilin-
milin payudaraku sendiri,
kubayangkan Tante Maria
mencumbuiku dan aku
membayangkan juga wajah cantik
pramugari itu menciumiku, dan tak
terasa cairan membasahi tanganku,
walaupun aku belum orgasme tapi
tiba-tiba semua gelap dan ketika
kubuka mataku, matahari pagi sudah
bersinar sangat terang.
Aku mandi membersihkan diriku,
karena tadi malam aku tidak
sempat membersihkan diriku. Aku
keluar kamar dan kulihat mereka
berdua sedang bercanda di sofa.
Ketika aku datang mereka berdua
diam seolah kaget dengan
kehadiranku. Tante Maria
memperkenalkan pramugari itu
kepadaku,
Rus, kenalkan ini pramugari kamar
sebelahmu. ”
Kusorongkan tangan kepadanya
untuk berjabat tangan dan ia
membalasnya,
Hai, cantik namaku Vera, namamu
aku sudah tahu dari Ibu Kos,
semoga kita dapat menjadi teman
yang baik.”
Kulihat sinar matanya sangat
agresif kepadaku, wajahnya memang
sangat cantik, membuatku
terpesona sekaligus iri kepadanya, ia
memang sempurna. Aku menjawab
dengan antusias juga,
Hai, Kak, kamu juga cantik sekali,
baru pulang tadi malam. ”
Dan ia mengangguk kepala saja, aku
tak tahu apa lagi yang diceritakan
Tante Maria kepadanya tentang
diriku, tapi aku tak peduli kami
beranjak ke meja makan. Di meja
makan sudah tersedia semua
masakan yang dihidangkan oleh
Tante Maria, kami bertiga makan
bersama. Kurasakan ia sering
melirikku walaupun aku juga sesekali
meliriknya, entah mengapa dadaku
bergetar ketika tatapanku beradu
dengan tatapannya.
Tiba-tiba Tante Maria memecahkan
kesunyian,
Hari ini Tante harus menjenguk
saudara Tante yang sakit, dan bila
ada telpon untuk Tante atau dari
suami Tante, tolong katakan Tante
ke rumah Tante Diana. ”
Kami berdua mengangguk tanda
mengerti, dan selang beberapa
menit kemudian Tante Maria pergi
menuju rumah saudaranya. Dan
tinggallah aku dan Vera sang
pramugari itu, untuk memulai
pembicaraan aku mengajukan
pertanyaan kepadanya,
Kak Vera, rupanya sudah kos lama
disini. ”
Dan Vera pun menjawab, “Yah, belum
terlalu lama, baru setahun, tapi aku
sering bepergian, asalku sendiri dari
kota “Y”, aku kos disini hanya untuk
beristirahat bila perusahaan
mengharuskan aku untuk menunggu
shift disini. ”
Aku mengamati gaya bicaranya yang
lemah lembut menunjukan ciri khas
daerahnya, tubuhnya tinggi
semampai. Dari percakapan kami,
kutahu ia baru berumur 26 tahun.
Tiba-tiba ia menanyakan hubunganku
dengan Tante Maria. Aku sempat
kaget tetapi kucoba menenangkan
diriku bahwa Tante Maria sangat
baik kepadaku. Tetapi rasa kagetku
tidak berhenti disitu saja, karena
Vera mengakui hubungannya dengan
Tante Maria sudah merupakan
hubungan percintaan.
Aku pura-pura kaget,
Bagaimana mungkin kakak bercinta
dengannya, apakah kakak seorang
lesbian, ” kataku.
Vera menjawab, “Entahlah, aku tak
pernah berhasil dengan beberapa
pria, aku sering dikhianati pria,
untung aku berusaha kuat, dan
ketika kos disini aku dapat
merasakan kenyamanan dengan
Tante Maria, walaupun Tante Maria
bukan yang pertama bagiku, karena
aku pertama kali bercinta dengan
wanita yaitu dengan seniorku. ”
Kini aku baru mengerti rahasianya,
tetapi mengapa ia mau
membocorkan rahasianya kepadaku
aku masih belum mengerti, sehingga
aku mencoba bertanya kepadanya,
Mengapa kakak membocorkan
rahasia kakak kepadaku.”
Dan Vera menjawab, “Karena aku
mempercayaimu, aku ingin kau lebih
dari seorang sahabat. ”
Aku sedikit kaget walaupun aku
tahu isyarat itu, aku tahu ia ingin
tidur denganku, tetapi dengan Vera
sangat berbeda karena aku juga
ingin tidur dengannya. Aku
tertunduk dan berpikir untuk
menjawabnya, tetapi tiba-tiba
tangan kanannya sudah menyentuh
daguku.
Ia tersenyum sangat manis sekali,
aku membalas senyumannya. Lalu
bibirnya mendekat ke bibirku dan
aku menunggu saat bibirnya
menyentuhku, begitu bibirnya
menyentuh bibirku aku rasakan
hangat dan basah, aku membalasnya.
Lidahnya menyapu bibirku yang
sedkit kering, sementara bibirku
juga merasakan hangatnya bibirnya.
Lidahnya memasuki rongga mulutku
dan kami seperti saling memakan
satu sama lain. Sementara aku
fokus kepada pagutan bibirku,
kurasakan tangannya membuka
paksa baju kaosku, bahkan ia
merobek baju kaosku. Walau
terkejut tapi kubiarkan ia
melakukan semuanya, dan aku
membalasnya kubuka baju
dasternya. Ciuman bibir kami
tertahan sebentar karena
dasternya yang kubuka harus dibuka
melewati wajahnya.
Kulihat Bra hitamnya menopang
payudaranya yang lumayan besar,
hampir seukuran denganku tetapi
payudaranya lebih besar. Ketika ia
mendongakkan kepalanya tanpa
menunggu, aku cium leher
jenjangnya yang sexy, sementara
tanggannya melepas bra-ku seraya
meremas-remas payudaraku. Aku
sangat bernafsu saat itu aku ingin
juga merasakan kedua puting
payudaranya. Kulucuti Bra hitamnya
dan tersembul putingnya merah
muda tampak menegang, dengan
cepat kukulum putingnya yang segar
itu. Kudengar ia melenguh kencang
seperti seekor sapi, tapi lenguhan
itu sangat indah kudengar.
Kunikmati lekuk-lekuk tubuhnya,
baru kurasakan saat ini seperti
seorang pria, dan aku mulai tak
dapat menahan diriku lalu
kurebahkan Vera di sofa itu. Kujilati
semua bagian tubuhnya, kulepas
celana dalamnya dan lidahku mulai
memainkan perannya seperti yang
diajarkan Tante Maria kepadaku.
Entah karena nafsuku yang
menggebu sehingga aku tidak jijik
untuk menjilati semua bagian
analnya. Sementara tubuh Vera
menegang dan Vera menjambak
rambutku, ia seperti menahan
kekuatan dasyat yang melingkupinya.
Ketika sedang asyik kurasakan
tubuh Vera, tiba-tiba pintu depan
berderit terbuka. Spontan kami
berdua mengalihkan pandangan ke
kamar tamu, dan Tante Maria
sudah berdiri di depan pintu. Aku
agak kaget tetapi matanya
terbelalak melihat kami berdua
berbugil. Dijatuhkannya barang
bawaannya dan tanpa basa-basi ia
membuka semua baju yang
dikenakannya, lalu menghampiri Vera
yang terbaring disofa. Diciuminya
bibirnya, lalu dijilatinya leher Vera
secara membabi buta, dan
tanggannya yang satu mencoba
meraihku. Aku tahu maksud Tante
Maria, kudekatkan wajahku
kepadanya, tiba-tiba wajahnya
beralih ke wajahku dan bibirnya
menciumi bibirku. aku membalasnya,
dan Vera mencoba berdiri kurasakan
payudaraku dikulum oleh lidah Vera.
Aku benar-benar merasakan sensasi
yang luar biasa kami bercinta
bertiga. Untung waktu itu hujan
mulai datang sehingga lingkungan
mulai berubah menjadi dingin, dan
keadaan mulai temaram. Vera kini
melampiaskan nafsunya menjarah
dan menikmati tubuhku, sementara
aku berciuman dengan Tante Maria.
Vera menghisap klitorisku, aku tak
tahu perasaan apa pada saat itu.
Setelah mulut Tante Maria
meluncur ke leherku aku berteriak
keras seakan tak peduli ada yang
mendengar suaraku. Aku sangat
tergetar secara jiwa dan raga oleh
kenikmatan sensasi saat itu.
Kini giliranku yang dibaringkan di
sofa, dan Vera masih meng-oral
klitorisku, sementara Tante Maria
memutar-mutarkan lidahnya di
payudaraku. Akupun menjilati
payudara Tante Maria yang sedikit
kusut di makan usia, kurasakan
lidah-lidah mereka mulai menuruni
tubuhku. Lidah Vera menjelejah
pahaku dan lidah Tante Maria mulai
menjelajah bagian sensitifku. Pahaku
dibuka lebar oleh Vera, sementara
Tante Maria mengulangi apa yang
telah dilakukan Vera tadi, dan kini
Vera berdiri dan kulihat ia
menikmati tubuh Tante Maria.
Dijilatinya punggung Tante Maria
yang menindihku dengan posisi 69,
dan Vera menelusuri tubuh Tante
Maria. Tetapi kemudian ia
menatapku dan dalam keadaan
setengah terbuai oleh kenikmatan
lidah Tante Maria. Vera menciumi
bibirku dan aku membalasnya juga,
hingga tak terasa kami berjatuhan
dilantai yang dingin. Aku sangat lelah
sekali dikeroyok oleh mereka
berdua, sehingga aku mulai pasif.
Tetapi mereka masih sangat
agresif sekali, seperti tidak
kehabisan akal Vera mengangkatku
dan mendudukan tubuhku di kedua
pahanya, aku hanya pasrah.
Sementara dari belakang Tante
Maria menciumi leherku yang
berkeringat, dan Vera dalam posisi
berhadapan denganku, ia
menikmatiku, menjilati leherku, dan
mengulum payudaraku. Sementara
tangan mereka berdua
menggerayangi seluruh tubuhku,
sedangkan tanganku kulingkarkan
kebelakang untuk menjangkau
rambut Tante Maria yang menciumi
tengkuk dan seluruh punggungku.
Entah berapa banyak rintihan dan
erangan yang keluar dari mulutku,
tetapi seakan mereka makin buas
melahap diriku. Akhirnya aku
menyerah kalah aku tak kuat lagi
menahan segalanya aku jatuh
tertidur, tetapi sebelum aku jatuh
tertidur kudengar lirih mereka
masih saling menghamburkan
gairahnya. Saat aku terbangun
adalah ketika kudengar dentang bel
jam berbunyi dua kali, ternyata
sudah jam dua malam hari. Masih
kurasakan dinginnya lantai dan
hangatnya kedua tubuh wanita yang
tertidur disampingku. Aku mencoba
untuk duduk, kulihat sekelilingku
sangat gelap karena tidak ada yang
menyalakan lampu, dan kucoba
berdiri untuk menyalakan semua
lampu. Kulihat baju berserakan
dimana-mana, dan tubuh telanjang
dua wanita masih terbuai lemas dan
tak berdaya. Kuambilkan selimut
untuk mereka berdua dan aku
sendiri melanjutkan tidurku di lantai
bersama mereka. Kulihat wajah
cantik Vera, dan wajah anggun
Tante Maria, dan aku peluk mereka
berdua hingga sinar matahari
datang menyelinap di kamar itu.
Pagi datang dan aku harus kembali
pergi kuliah, tetapi ketika mandi
seseorang mengetuk pintu kamar
mandi dan ketika kubuka ternyata
Vera dan Tante Maria. Mereka
masuk dan di dalam kamar mandi
kami melakukan lagi pesta seks ala
lesbi. Kini Vera yang dijadikan pusat
eksplotasi, seperti biasanya Tante
Maria menggarap dari belakang dan
aku menggarap Vera dari depan.
Semua dilakukan dalam posisi berdiri.
Tubuh Vera yang tinggi semampai
membuat aku tak lama-lama untuk
berciuman dengannya aku lebih
memfokuskan untuk melahap buah
dadanya yang besar itu. Sementara
tangan Tante Maria membelai-belai
daerah sensitif Vera. Dan tanganku
menikmati lekuk tubuh Vera yang
memang sangat aduhai. Percintaan
kami dikamar mandi dilanjutkan di
ranjang suami Tante Maria yang
memang berukuran besar, sehingga
kami bertiga bebas untuk berguling,
dan melakukan semua kepuasan
yang ingin kami rengkuh. Hingga
pada hari itu aku benar-benar
membolos masuk kuliah.
Hari-hari berlalu dan kami bertiga
melakukan secara berganti-ganti.
Ketika Vera belum bertugas aku
lebih banyak bercinta dengan Vera,
tetapi setelah seminggu Vera
kembali bertugas ada ketakutan
kehilangan akan dia. Mungkin aku
sudah jatuh cinta dengan Vera, dan
ia pun merasa begitu. Malam
sebelum Vera bertugas aku dan
Vera menyewa kamar hotel
berbintang dan kami melampiaskan
perasaan kami dan benar-benar
tanpa nafsu. Aku dan Vera telah
menjadi kekasih sesama jenis.
Malam itu seperti malam pertama
bagiku dan bagi Vera, tanpa ada
gangguan dari Tante Maria. Kami
bercinta seperti perkelahian macan
yang lapar akan kasih sayang, dan
setelah malam itu Vera bertugas di
perusahaan maskapai
penerbangannya ke bangkok.
Entah mengapa kepergiannya ke
bandara sempat membuatku
menitikan air mata, dan mungkin
aku telah menjadi lesbian. Karena
Vera membuat hatiku dipenuhi
kerinduan akan dirinya, dan aku
masih menunggu Vera di kos Tante
Maria. Walaupun aku selalu menolak
untuk bercinta dengan Tante Maria,
tetapi saat pembayaran kos, Tante
Maria tak ingin dibayar dengan uang
tetapi dengan kehangatan tubuhku
di ranjang. Sehingga setiap satu
bulan sekali aku melayaninya dengan
senang hati walaupun kini aku mulai
melirik wanita lainnya, dan untuk
pengalamanku selanjutnya
kuceritakan dalam kesempatan yang
lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda