Translate

Sabtu, 19 Februari 2011

TERGODA PELAYAN MINIMARKET


Hujan baru mengguyur Kota Malang,
udara terasa dingin. Sore itu aku
ingin membuat kopi hangat sambil
membaca majalah MM kesukaanku.
Aku segera memasak air dan
menyiapkan teko di dapur, tapi
ketika aku buka toples gula dan
kopiku habis. Aku segera bergegas
ke mini market terdekat di
kompleks perumahanku. Sesampai di
sana, aku lihat ada pramuniaga
baru, seorang pria muda sekitar 23
tahun. Rambutnya dipotong cepak,
alisnya tebal, berkumis, berkulit
sawo matang bersih, warna kulit
kesukaanku, berbadan biasa ukuran
asia, parasnya maskulin, serasi
proporsi tubuhnya dan cukup
menarik hatiku.
Aku dekati dia dan mengatakan
bahwa aku perlu kopi Torabika, pria
muda itu menjawab dengan agak
parau dan memandangku penuh arti,
“Perlu berapa, Bang ?” Hampir tak
terdengar suaranya.
Hmmmm, kata hatiku. “Lima bungkus,”
kataku. Ketika aku membayar dan
dia menerima uang itu, mata kami
bertemu, pandangannya menembus
relung hatiku. Pada saat dia
mengembalikan uang kembalian,
tangannya tersentuh tanganku,
badanku serasa tersengat listrik,
seraya berkata, “Ada yang lain masih
diperlukan?”
“Hmmm, saya masih perlu tissue dan
hand body,” jawabku. Lalu aku
menuju ke ruang sebelah. Disana ada
beberapa rak yang berisi
bermacam-macam barang.
“ Di rak yang itu,” katanya, sembari
dia mengikuti aku. Ketika itu toko
sedang sepi pengunjung, karena
hujan baru saja reda, hanya dia dan
seorang pria lain yang sedang
istirahat di depan. Ternyata dia
ikut menyusulku dan menunjukkan
tempat barang yang kuperlukan. Di
rak perlatan mandi itu dia
memandangku penuh arti, sambil
tersenyum ia menunjukkan beberapa
jenis tissue. Aku balas pandangannya
dan akupun juga tersenyum, tanda
aku juga suka senyumnya.
Sambil memilih tissue basah dan
toilet tissue, lengan kami
bersentuhan, bergesekan dengan
bulu halus di lengannya. Aku tak
ingat lagi, tangan kamipun sudah
saling meremas. Badannya tergetar
begitupun aku. Kulihat pandangan
mata itu. Mata yang menusuk dan
begitu dalam penuh arti. Setelah itu,
kami kembali ke ruang depan,
karena kudengar ada pengunjung
datang. Saat membayar, kami saling
berkenalan dia mengatakan namanya
Desmond, dengan suara agak parau
dan sexy terdengarnya, membuat
badanku serasa kena aliran listrik 5
watt. Kami berjanji bertemu lagi
besok jam 5:00 sore. Kebetulan
besok dia shift pagi, jadi saat sore
dia sudah off kerja. Kukatakan
apakah dia mau menungguku di
Wartel yang tidak jauh dari toko ia
bekerja. Ia mengerdipkan matanya
yang hitam legam dan tajam itu
tanda setuju.
Pulang kerja, aku segera
mengendarai mobilku kesana. Jalanan
agak macet karena hujan, dia sudah
menungguku sekitar 30 menit.
Rupanya dia agak kesal karena
menungguku agak lama. Aku
mengerti akan hal itu, lalu kudekati
dia, kupegang tangannya, dengan
agak meremas, diapun mulai
tersenyum, matanya mengerdip
membuat wajahnya berubah ceria
dan tentunya tambah menarik hati.
“Menunggu lama?” kataku.
Kuajak dia memasuki mobilku. Di
dalam mobil, dia sudah tidak sabar,
begitu pintu tertutup, dia
menyergap bibirku. Kaget juga aku
diperlakukan seperti itu. Betapa aku
tidak menyangkanya, meski aku juga
sangat menyukainya. Dia mengecup
dan melumat bibirku penuh
perasaan. Dan kusambut lumatan-
lumatan dan hisapan-hisapannya
dengan hangat. Kuremas dada dan
putingnya, aku rasakan ada bulu
tipis di dadanya. Kubuka kancing
bajunya, dan kugigit lembut
putingnya yang berwarna merah
tua itu, sambil meremas dadanya.
Diapun juga meremas puting, dan
pantatku……. Sepuluh menit sudah kami
saling berciuman dan berpelukan…….
Setelah rasa rindu kami renda, aku
katakana bagaimana kalau nonton di
bisokop terdekat, tapi dia menolak
dan menyarankan agar aku sudi
mampir ke rumah kontrakannya tak
jauh dari wartel itu. Aku tersenyum
tanda setuju ……….
Tiba di rumah kontrakannya hujan
mereda, aku dipersilahkan duduk di
ruang depan yang berukuran 3 x 2
meter. Dia masuk ke kamarnya
yang letaknya di belakang ruang itu.
Keluar dari kamarnya, ia
membawakan seduhan jahe panas.
Dia hanya mengenakan kaus oblong
dan sarung. Body atas nya yang
natural tanpa tempaan gym tampak
sexy sekali. Aku membayangkan
bagaimana bentuk rudalnya. Dia
duduk di sampingku, dan
mempersilahkan aku mereguk jahe
panas itu. Ah, nikmat sekali….
membuat badanku hangat karena
udara cukup dingin akibat hujan di
senja itu. Sambil kami merokok, dia
menceritakan tentang dirinya
sampai dia bekerja di toko itu.
Pandangannya hangat dan mesra
menusuk kalbuku, kamipun duduk
lebih berdekatan. Udara dingin, tidak
terasa lagi, karena suhu badanku
sudah meningkat begitupun dia,
kusentuh paha atasnya, dan
kemudian tanganku bergeser
mendekati daerah vitalnya, ternyata
dia tidak memakai celana dalam.
Tanganku menempel di daerah dekat
vitalnya sambil menekan-nekannya
dengan lembut. Kurasakan, kontolnya
mulai menegang, membuat kain
sarungnya membentuk pyramid.
Wow, pemandangan indah tak kalah
dengan pyramid raja Fira’un di Mesir
sana. Tak sabar lagi, tanganku
menggerilya ke dalam sarungnya,
kemudian ku remas-remas dengan
lembut kepala kontolnya yang cukup
besar bak jamur itu. Dia melenguh,
dan melumat bibirku dengan hangat
dan semangat. Aku sambut dengan
lumatan dan hisapan pada bibirnya.
Lidahnya dijulurkan ke dalam mulut
kemudian ditarik lagi, keluar masuk
bak mengentot mulut, tapi dengan
lidah. Pandai sekali dia….. Ah,
merangsang sekali, aku seperti
tersengat aliran listrik.
Dia minta agar aku membuka baju
dan celana panjangku. Aku lakukan,
kemudian hanya memakai cd saja,
sementara itu dia telah membuka
sarung dan kaos oblongnya. Ah
bukan main, rudalnya yang dikelilingi
bulu jembut lebat sudah ngaceng
membentuk sudut 45 derajat
dengan perutnya yang datar yang
juga dihiasi bulu-bulu lembut.
Rudalnya indah berwarna coklat
dengan guratan-guratan pembuluh
darah yang menggurat secara
vertikal, kepala rudalnya tak kalah
bagusnya, berbentuk setengah
bulatan bagaikan atap convention
hall, tegak setengah miring dan
kokoh bak menara Pisa. Hmmm………
bukan main.
Dia mengerdipkan mata kirinya, dan
tersenyum penuh arti, sambil
menjulurkan lidahnya. Tandanya, ia
ingin berciuman dan rudalnya ingin
dilumat. Ditengah-tengah sibuknya
kami berlumatan bibir, kepalaku
perlahan dituntunnya ke arah
kontolnya, aku jilat celah urine-nya,
dan hisap-hisap rudalnya yang
berwarna sawo matang itu, dia
mengerang-erang dan menggelinjang
meliuk-liuk kenikmatan bagaikan
penari perut dari Timur Tengah.
Puas dihisap, dia mengajakku pindah
ke kamar tidurnya, aku tidur
terlentang, cd-ku dilucutinya, dan
dia ganti menghisap-hisap kontolku
yang cukup gede dan sudah ngaceng
berat membentuk sudut 90 derajad
dengan dinding perutku. Sambil
menghisap kontolku, pahaku
direnggangkan dan dia mulai
merojoki lobang kenikmatanku
dengan jarinya yang dilumuri jelly.
“Ah…ah,” erangku….bukan main nikmat
rasanya. Setelah itu kami bergelut
di atas tempat tidur ukuran satu
orang itu. Satu di atas satu di
bawah. Sempit tapi cukup untuk
tempat kami bergulat asmara. Kami
kembali berciuman dan kontol kami
saling beradu. Selama kami bergelut,
rudal kami saling bergesekan……..
Nafsu kami sudah memuncak. Aku
masih pada posisi terlentang,
kemudian dia berdiri, dan membuka
pahaku, dia menyelipkan bantal di
bawah pantatku, kemudian kontolnya
disarungi kondom dan dilumuri jelly,
dan ia mulai memasukkannya ke
dalam lobang kenikmatanku.
Perlahan-lahan tapi pasti, kemudian
blessss…….. setelah seluruh batang
rudalnya masuk di dalam lobang
kenikmatan itu, ia mengentotiku,
dan menindih badanku, kami
berpelukan, tubuh kami menjadi
satu. Kulitnya yang sawo agak gelap
kontras dengan kulitku yang sawo
terang terlihat pada cermin
sederhana ukuran 50 x 50 cm yang
terletak di kursi menghadap tempat
tidur. Kami saling melumati bibir,
sambil rudalnya terus menusuk
keluar masuk……. Akupun mengerang
dan merintih dientotin rudalnya
yang cukup gede itu dan dia
melenguh tiada habisnya. Semakin
aku merintih, semakin ganas dia
mengentotiku, bagai penuggang kuda
professional di arena lomba. Aku
mengocok kontolku dan dia terus
mengentoti celah sempitku. Aku
sudah tidak tahan, air mani
asmaraku muncrat, ah… dan lobangku
menyempit total…….. Sambil berciuman
dia berbisik, “Ah…..oh…. nikmat sekali,
Bang,” “Serasa senjataku semakin
teremas-remas dan segera akan
meletup,” katanya parau di antara
erangan-erangannya.
Badanku serasa tak bertenaga
karena sudah ejakulasi, tapi
pantatnya yang padat berisi itu
masih terus turun naik dan
rudalnya menembaki lobang anusku
itu tak henti-hentinya. Aku merintih
dan mengerang dalam kenikmatan
dan akhirnya rudalnya berdentum,
peluru-pelurunya menyerbu ruang
asmara diriku, hangat rasanya.
Sementara itu ia memelukku erat-
erat dan melumati bibirku dalam-
dalam. Badanku kami bersatu padu
saat itu dalam kobaran puncak
kenikmatan. Kami tetap dalam posisi
berpelukan dengan erat sampai
peluru-pelurunya keluar semua.
Setelah itu kami membersihkan diri
di kamar mandi.
Kemudian, sambil istirahat, kami
duduk di tempat tidur sambil
ngobrol kesana kemari dari soal-
soal umum sampai hal-hal yang
menjurus kearah itu….., dengan mata
berpandangan mesra penuh arti
tanda adegan perlu diulang lagi Dua
jam kami istirahat. Matanya mulai
membinarkan birahi. Suaranya mulai
parau. “Hmm….bagaimana kalau lagi?,”
katanya lirih dalam keparauan penuh
nafsu birahi mudanya.
Kuraba rudalnya yang berwana
coklat tua dan kepala kontolnya bak
jamur warna merah tua yang
tampak menawan itu sudah
menegang lagi. Kukecup bibirnya,
kemudian turn ke arah putingnya,
perutnya, kemudian aku jilati celah
urine kepala kontolnya, lalu ku-
hisap-hisap rudalnya yg kokoh itu.
Dia mengerang-erang dalam
kenikmatan sambil matanya
terpejam dan terbuka sendu bagai
sedang melayang terbang ke langit
ke tujuh.
“ Ah..ah…terus jangan berhenti, Bang,”
katanya parau setengah terdengar.
Sambil duduk, dia mengisyaratkan
agar aku duduk di atas
pangkuannya. Dia memelukku dari
belakang, hangat terasa badannya
yang menempel di punggungku dan
dia meremas-remas putingku, aku
palingkan mukaku dan kami saling
berkecupan melumati bibir kami.
Kemudian dia memasukkan rudal
pujaanku itu ke dalam diriku lagi
dari arah bawah. Aku diminta untuk
turun naik, sambil dia menggenggam
dan mengocok rudalku dengan penuh
perasaan. Permainan kedua agak
lama, sekitar 15 menit, dari posisi
duduk di atas pangkuannya,
kemudian sambil berdiri dia tetap
menembakiku. Lalu kami yang masih
pada posisi berhimpitan dan
rudalnya masih menancap, berpindah
ke tempat tidur, sambil rebah di
tempat tidur sempit itu, aku tetap
di depannya, dan aku mengangkat
sebelah kaki kananku untuk
memudahkan dia menusukkan
rudalnya. Sambil dia tetap
menembak-nembakkan rudalnya, aku
yang berada dipelukannya,
memiringkan kepalaku agar
memudahkan dia melumati bibirku.
kemudian menggigit lembut putingku.
Maju mundur tiada hentinya, bak
detak jarum jam…… Sunyi kala itu,
hanya terdengar desahan-desahan
nafsu bercampur nafas kami
berdua. Nikmat tak terkirakan.
Kemudian, klimakspun tiba, peluru
rudal ku keluar yang berakibat
menyempitkan goa yang sedang
ditembakinya. Dia semakin
mempercepat tembakan-
tembakannya, kemudian dalam
erangan, rudalnya berdentum dan
memuntahkan peluru2nya… Banjir
peluh pada badan kami dalam
kepuasan. Hening sejenak dalam
kenikmatan……
Suasana panas, jendela ventilasi
atas dibukanya, dan sinar bulan
purnamapun masuk ke kamar,
membuat suasana menjadi redup
temaram. Sejuk semilir angin
menerpa badan kami. Hmm…. rupanya
bulan dan angin ikut menyaksikan
dan merasakan permainan asmara
kami berdua. Setelah membersihkan
diri, akupun pamit pulang, dan kami
berjanji untuk bertemu lagi. Setiba
di rumah aku langsung tidur pulas,
karena lelah sekali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda