Translate

Kamis, 24 Maret 2011

AKU PEMUAS NAFSU BIBIKU


Pertamakali aku mengenal seks
adalah saat aku duduk di kelas dua
smp. Waktu itu aku tinggal bersama
paman di kota Jbr, sedangkan
keluargaku tinggal di kota Bwi. Beda
dengan saat tinggal bersama
keluargaku, di rumah paman ini aku
relative bebas bergerak sesukaku,
apalagi pamanku yang anggota TNI
sering tidak berada dirumah
sementara istrinya, Bi Supi, tidak
berani melarangku.
Salah satu hobi beratku waktu itu
adalah melototin TV sampai larut
malam. Hingga suatu saat, ada
sebuah film menarik yang sedang
aku tonton, yang ternyata juga
sempat membuat Bi Supi betah
menontonnya hingga larut malam.
Saat itu aku hanya berdua dengan
Bi Supi. Maka ketika sesekali Bi Supi
berkomentar, aku langsung
menyahut sekenanya. Sampai suatu
saat ada adegan yang agak porno
dan panas, tiba-tiba Bi Supi
nyeletuk: “Heh, yang ini kamu gak
boleh lihat, masih kecil!” katanya
sambil matanya tetap melotot ke
layar TV.
Tanpa pikir panjang dan tanpa
sadar bahwa Bi Supi adalah istri
pamanku sendiri, waktu itu aku
menyahut dengan nada agak nakal.
“ Udah di sunat kok Bi, tinggal nyoba
pakeknya yang belum, ”. Kataku.
Mungkin karena merasa risih atau
sungkan, waktu itu Bi Supi hanya
diam dan tidak langsung menanggapi
celoteh nakalku. Entah kenapa,
waktu itu aku seperti sengaja
memancing agar Bi Supi mau
ngomong yang jorok-jorok. Maka
akupun terus berceloteh sesukaku.
Dan tiba-tiba Bi Supi membuka
mulutnya.
“Emang kamu ngerti yang gituan?”
“Ngerti dong. Wong nggak sulit kok!”
“Kalau ngerti ya udah!” katanya
sambil melirik ke arahku.
Setelah beberapa saat kami saling
terdiam, lalu aku coba membuka
pembicaraan lagi. Dan kali ini aku
sengaja lebih mengarah.
“Bi, katanya kalau pertama begituan
rasanya sakit yah ?”
“Nggak tahu!”
“Lho, waktu pertama dulu Bibi
merasa gimana ?”
“Lupa!”
“Kalau udah sering gituan, enak ya
Bi ?”
“Ahh kamu mau tahu aja!”
“Ya emang pingin tahu, Bi!” kataku
sambil menahan nafas yang terasa
mulai menyesakkan dada. Dan
sejurus kemudian, istri paman yang
masih terlihat cantik dengan tubuh
yang padat berisi itu tiba-tiba
menatapku tajam. Aku yang waktu
itu masih kuper, hanya bisa
membalasnya dengan senyum kecut,
karena takut kalau-kalau dia marah
dan melaporkan kelakuanku kepada
paman. Tetapi, entah setan mana
yang tiba-tiba datang dan sengaja
menebar godaan, hingga tiba-tiba
aku memberanikan diri mendekat
kearah sofa tempat duduk Bi Supi.
Seperti sengaja memberiku
kesempatan, waktu itu Bi Supi
hanya diam saja ketika tangannya
aku pegang-pegang. Dan aku yang
mulai tak terkendali, terasa
semakin berani melangkah lebih jauh.
“Jangan Bob! Aku ini Bibimu!,” rintihnya
ketika tanganku mulai menelusup
masuk kebalik baju dasternya yang
longgar.
“Bi, ayo Bi. Aku ingin sekali
merasakan !” rengekku.
Dan, Ouuw, tanpa banyak ba-bi-bu
lagi, tangan Bi Supi langsung meraih
selangkanganku, meremas
kemaluanku dengan lembut sambil
matanya sedikit terpejam. Lalu aku
balas dengan meremas buah
dadanya yang masih kenyal dan
menggemaskan. Dan setelah aku
berhasil melucuti daster Bi Supi,
ganti dia yang dengan cekatan
menarik resluiting celanaku, lalu
menariknya hingga aku telangjang.
Bi Supi langsung jongkok di
hadapanku. Lalu dengan lahapnya dia
melumat kemaluanku sampai seluruh
bagian diselangkanganku. Aku hanya
bisa merem-melek dibuatnya.
“ Ouuhhg, terus Bi, terusss Bi.!” Kataku
seperti melayang-layang terbuai
kenikmatan.
Setelah puas melumat alat vitalku,
Bi Supi lalu berdiri persis
dihadapanku sambil menyorongkan
vaginanya ke mukaku. Tanpa merasa
jijik, akupun menjilati lobang vagina
Bi Supi yang sudah mulai basah.
“ Oughh Bob, teruss Bob.. terussss,..
achhhh, !” celotehnya sambil terus
menekan-nekan vaginanya ke arah
mulutku …
“Teruss Bob, bibi hampirrrr, ooughh…!”
erangnya sambil mendekapkan
kepalaku kearah selangkangannya.
Dan tiba-tiba Bi Supi menorongku
hingga aku rebah di Sofa. Lalu dia
menindihku, sementara tangan
kirinya menuntun kemaluanku ke
lobang Vaginanya. “OOuuugghhh…
SSsttttss!!” rintihnya ketika
kemaluanku sudah terjepit di
selangkangannya. Bi Supi yang
nampak mulai hilang kesadarannya
itu, mulai menggoyangkan tubuhnya.
Matanya terpejam, sedangkan dari
bibirnya terus mendesis seperti
ular kobra yang hendak
mematukkan bisanya.
“ OOOuuuugghhhhhh…….Aku kellluuuaarrrr
BBoooobb,!!” Jeritnya tertahan,
sementara tanganya mendekapku
erat-erat. Lalu dia menggolosoh di
sampingku.
“Bi, aku belummm,!” bisikku
ketelinganya.
Lalu, Bibi menarikku keatas
tubuhnya yang sudah basah oleh
keringat. Sambil tetap memejamkan
matanya, Bi Supi meraih kemaluanku
dan menuntunnya masuk ke lobang
memeknya yang sudah basah kuyup.
“ Ayo Bob,.. “ katanya lirih… Dan,
“OOuugghhh,… SSsttssss, achhhhhh,..
Biiii,!!”.. Spermaku pun muncrat
dengan deras setelah lima belas
menit lamanya aku menggesek-
gesekkan kemaluanku dalam lobang
vaginanya ….
Sejak kejadian malam itu, aku
merasa seperti orang yang
ditakdirkan menjadi keponakan yang
paling kurang ajar terhadap
pamannya sendiri. Sebab, hampir
setiap saat ketika paman tidak ada
dirumah, akulah yang menggantikan
paman untuk memuaskan nafsu
birahi bibiku. Dan kapanpun bibi mau,
di kamar, di rang tamu, di dapur
ataupun di kamar mandi, aku selalu
dapat memuaskan nafsu bibiku….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda