Translate

Rabu, 02 Maret 2011

GAIRAH NYAI FIFI,ISTRI KYAI YANG KESEPIAN


Didi mengenal seks pada usia 18
tahun ketika masih sekolah. Waktu
itu karena Didi yang bandel
dikampungnya maka ia dikirim ke
sekolah yang ada Pondok
Pesantrennya di Jawa barat, Didi
lalu dititipkan pada keluarga teman
baik ayahnya, seorang Kiayi Fuad
begitu Didi memanggilnya ia adalah
seorang yang cukup berpengaruh,
pak Kiayi mengelola pesantren itu
sendiri yang lumayan besar. Anak-
anak mereka, Halmi dan Julia yang
seusia Didi kini ada di Mesir sejak
mereka masih berumur 12 tahun.
Sedangkan yang sulung, Irfan kuliah
di Pakistan. Istri Kiayi Fuad sendiri
adalah seorang pengajar di sekolah
dasar negeri di sebuah kecamatan.
Didi memanggilnya Nyai Fifi, wanita
itu berwajah manis dan berumur 40
tahun dengan perawakan yang
bongsor dan seksi khas ibu-ibu istri
pejabat. Sejak tinggal di rumah Kiayi
Fuad Didi seringkali ditugasi
mengantar Nyai Fifi, meskipun hanya
untuk pergi ke balai desa atau
pergi kota Kabupaten.
Meski keluarga Kiayi Fuad cukup
kaya raya dan terpandang namun
tampaknya hubungan antara dia dan
istrinya tak begitu harmonis. Didi
sering mendengar pertengkaran-
pertengkaran diantara mereka di
dalam kamar tidur Kiayi Fuad,
seringkali saat Didi menonton
televisi terdengar teriakan mereka
dari ruang tengah. Sedikitpun Didi
tak mau peduli atas hal itu, toh ini
bukan urusannya, lagi pula Didi kan
bukan anggota keluarga mereka.
Biasanya mereka bertengkar malam
hari saat penghuni rumah yang lain
telah terlelap tidur, dan belakangan
bahkan terdengar kabar kalau Kiayi
Fuad ada mempunyai wanita lain
sebagai isteri simpanan.
“Ah untuk apa aku memikirkannya”
bisik hati Didi.
“Biar saja Kiayi Fuad berpoligami
yang penting aku dapat beronani
sambil membayangkan tubuh bahenol
Nyai Fifi, dan sekali kali ingin juga
aku menyetubuhi isterinya pak Kiayi
Fuad yang cantik itu”. “Busyeeeet
pikiran kotorku mulai kambuh lagi,
Aah masa bodoh emang aku pikirin
he heeeeee.”
Suatu hari di bulan Oktober, Bi
Tinah, seorang pembantu dan Mang
Darta penjaga pesantren juga
pulang kampung mengambil jatah
liburan mereka bersamaan saat
Lebaran. Sementara Kiayi Fuad pergi
berlibur ke Mesir sambil menjenguk
kedua anaknya di sana. Nyai Fifi
masih sibuk menangani tugas-tugas
sekolahan yang mana para muridnya
hendak menghadapi ujian, Nyai Fifi
lebih sering terlambat pulang, hingga
di rumah itu tinggal Didi sendiri.
Perasaan Didi begitu merdeka, tak
ada yang mengawasi atau
melarangnya untuk berbuat apa
saja di rumah besar disamping
pesantren. Mereka meminta Didi
menunda jadwal pulang kampung
yang sudah jauh hari direncanakan,
dan Didi mengiyakan saja, toh
mereka semua baik dan ramah
padanya.
Malam itu Didi duduk di depan
televisi, namun tak satupun acara
TV itu menarik perhatiannya. Didi
termenung sejenak memikirkan apa
yang akan diperbuatnya, sudah tiga
hari tiga malam sejak
keberangkatan Kiayi Fuad ke Mesir,
Nyai Fifi tak tampak pulang ke
rumah hingga sore hari. Maklumlah
ia harus bolak balik ke kabupaten
mengurus soal ujian sekolah
dikantor Dinas Pendidikan, jadi tak
heran kalau mungkin saja hari ini ia
ada di kota kabupaten, saat sedang
melamun Didi melirik ke arah lemari
besar di samping pesawat TV layar
lebar itu. Matanya tertuju pada rak
piringan VCD yang ada di sana. Dan
dalam hati Didi penuh dengan tanda
tanya. Dalam hati Didi berbisik
“Segera kubuka sajalah mana tahu
ada film bagus untuk ditonton,”
sambil memilih film-film bagus yang
ada disitu yang paling membuat aku
menelan ludah adalah sebuah film
dengan cover depannya ada gambar
wanita telanjang.
Tak kulihat lama lagi pasti dari
judulnya aku sudah tahu langsung
kupasang dan..,
“Wow!” batinku kaget begitu melihat
adegannya yang membangkitkan
nafsu.
Seorang lelaki berwajah Arab sedang
menggauli dua perempuan sekaligus
dengan beragam gaya.
Sesaat kemudian aku sudah larut
dalam film itu. Penisku sudah sejak
tadi mengeras seperti kayu, malah
saking kerasnya terasa sakit, aku
sejenak melepas celana panjang dan
celana dalam yang kukenakan dan
menggantinya dengan celana pendek
yang longgar tanpa CD. Aku duduk di
sofa panjang depan TV dan kembali
menikmati adegan demi adegan yang
semakin membuatku gila. Malah
tanganku sendiri meremas-remas
batang kemaluanku yang semakin
tegang dan keras. Tampak penis
besarku yang panjang sampai
menyembul ke atas melewati
pinggang celana pendek yang
kupakai. Cairan kentalpun sudah
terasa akan mengalir dari sana.
Tapi belum lagi lima belas menit,
karena terlalu asyik aku akan
sampai tak menyangka Nyai Fifi
isteri Kiayi Fuad sudah berada di
luar ruang depan sambil menekan
bel. Ah, aku lupa menutup pintu
gerbang depan hingga Nyai Fifi bisa
sampai di situ tanpa
sepengetahuanku, untung pintu
depan terkunci. Aku masih punya
kesempatan mematikan power off
VCD Player itu, dan tentunya sedikit
mengatur nafas yang masih tegang
ini agar sedikit lega. Aku tidak
menyangka Nyai Fifi yang seorang
guru dan isteri seorang Kiayi punya
koleksi VCD porno atau VCD itu hasil
rampasan dari tangan para santri-
santri yang bengal yang kedapatan
menyelundupkan VCD porno tsb ke
dalam pondok pesantren. Karena
rata-rata para santri yang ada
dipondok pesantren itu adalah para
korban Narkoba. Seketika timbul
penyakit bengal ku, karena
kenakalanku sewaktu dikampung aku
ketahuan mengintip isteri tetangga
yang sedang mandi sebab kenakalan
itu aku dititipkan oleh ayahku pada
keluarga Kiayi Fuad di Tasikmalaya
di kota kecil di daerah Jawa Barat,
sementara asalku dari pulau
Sumatera. Dan aku sering memangil
isteri pak Kiayi itu dengan sebutan
tante Fifi dan terkadang juga
kupanggil perempuan cantik itu
dengan panggilan Nyai Fifi karena dia
adalah isteri seorang Kiayi
terpandang dan sangat kaya karena
memiliki berhektar-hektar sawah
dan kebun buah-buahan.
“Kamu belum tidur, Di??”, sapanya
begitu kubuka pintu depan.
“Belum, Nyai”, hidungku mencium bau
khas parfum Tante Fifi yang elegan.
“Udah makan?”.
“Hmm.., belum sih, tante sudah
makan?”, aku mencoba balik
bertanya.
“Belum juga tuh, tapi tante barusan
dari rumah teman, trus di jalan
baru mikirin makan, so tante pesan
dua kotak nasi goreng, kamu mau?”.
“Mau dong tante, tapi mana
paketnya, belum datang kan?”.
“Tuh kan, kamu pasti lagi asyik di
kamar makanya nggak dengerin
kalau pengantar makanannya datang
sedikit lebih awal dari tante”.
“Ooo”, jawabku bego.
Nyai Fifi berlalu masuk kamar,
kuperhatikan ia dari belakang. Uhh,
bodinya betul-betul bikin deg-degan,
atau mungkin karena aku baru saja
nonton BF yah.
“Ayo, kita makan..”, ajaknya kemudian,
tiba-tiba ia muncul dari kamarnya
sudah berganti pakaian dengan
sebuah daster bermotif bunga-
bunga yang longgar tanpa lengan
dan berdada rendah.
Mungkin Nyai Fifi merasa kegerahan
setelah memakai baju panjang dan
rambutnya selalu tertutup jilbab
seharian. Penampilan khas
perempuan cantik itu sebagai
isterinya pak Kiayi, bila ia berada
diluar rumah mesti memakai pakaian
yang menutupi seluruh tubuhnya.
Walaupun sekujur tubuhnya
tertutup baju panjang dan jilbab
masih nampak seksi dan anggun,
malam itu benar-benar membuatku
jadi terpana dan bergairah ingin
memeluk tubuhnya.
“Ya ampun Nyai Fifi”, batinku
berteriak tak percaya, baru kali ini
aku memperhatikan wanita itu
dalam keadaan tidak memakai jilbab
dan baju panjangnya.
Kulitnya putih bersih, dengan betis
yang woow, berbulu menantang
pastilah perempuan cantik ini punya
nafsu seksual yang liar, itu kata
temanku yang pengalaman seksnya
tinggi. Buah dadanya tampak
menyembul dari balik gaun tidur itu,
apalagi saat ia melangkah di
sampingku, samar-samar dari sudut
mataku terlihat indah payudaranya
yang putih lembut.
“Uh.., apa ini gara-gara film itu?”,
batinku lagi.
Khayalanku mulai kurang ajar, atau
selama ini aku melihat Nyai Fifi
selalu memakai jubah panjang dan
berjilbab jadi aku tidak tahu bentuk
tubuhnya yang sebenarnya, seketika
aku memasukkan bayangan Nyai Fifi
ke dalam adegan film tadi.
“Hmm..”, tak sadar mulutku
mengeluarkan suara itu.
“Ada apa, Di?”, isteri pak Kiayi itu
memandangku dengan alis berkerut.
“Nngg.., nggak apa-apa Nyai..”, Aku jadi
sedikit gugup. Oh wajahnya, kenapa
baru sekarang aku melihatnya
begitu cantik.
“Eh.., kamu ngelamun yah, ngelamunin
siapa sih? Pacar?”, tanyanya.
“Nggak ah tante”, dadaku berdesir
sesaat pandangan mataku tertuju
pada belahan dadanya.
Wow serasa hendak jebol celana
yang kupakai oleh desakan penisku
yang memberontak tegang.
“Oh My god, gimana rasanya kalau
tanganku sampai mendarat di
permukaan buah dadanya, mengelus,
merasakan kelembutan payudara itu,
oohh ” lamunan itu terus merayap
melambung tinggi.
“Heh, ayo.., makanmu lho, Di”.
“Ba.., bbaik Nyai”, jelas sekali aku
tampak gugup.
“Nggak biasanya kamu kayak gini, Di.
Mau cerita nggak sama tante Fifi”.
“Oh my god, dia mau aku ceritakan
apa yang aku lamunkan? Susumu itu
Nyai, susumu yang tergantung indah
aku remas-remas ya” bisik hatiku,
aku mulai berfikir bagaimana bisa
menyetubuhi isteri Kiayi Fuad yang
montok dan cantik ini.
Pelan-pelan sambil terus melamun
sesekali berbicara padanya, akhirnya
makananku habis juga. Aku kembali
ke kamar dan langsung
menghempaskan badanku ke tempat
tidur. Masih belum lepas juga
bayangan tubuh Nyai Fifi.
“Gila! Gila! Kenapa perempuan paruh
baya itu membuatku gila”, pikirku
tak habis-habisnya.
Umurnya terpaut sangat jauh
denganku, aku baru 18 tahun.., dua
puluh lima tahun dibawahnya. Ah,
mengapa harus kupikirkan, persetan
ah yang penting bagaimana caranya
aku dapat menikmati tubuh
montoknya.
Aku melangkah ke kamarku dan
berbaring ditempat tidur, mencoba
melupakannya, tapi mendadak pintu
kamarku diketuk dari luar.
“Di.., Didi.., ini Tante Fi”, terdengar
suara tante Fifi yang seksi itu
memanggil.
“Ah..”, aku beranjak bangun dari
ranjang dan membukakan pintu,
“Ada apa, tante?”.
“Kamu bisa buatin tante kopi?”.
“Ooo.., bisa tante”.
“Tahu selera tante toh?”
“Iya tante, biasanya juga saya lihat
Bi Tinah”, jawabku singkat dan
langsung menuju ke dapur.
“Tante tunggu di ruang tengah ya,
Di”.
“Baik, tante”.
“Didi..?”
“Ya.., tante”.
“Kamu kalau habis pasang film
seperti ini lain kali masukin lagi ke
tempatnya yah”.
“Mmm.., ma.., ma.., maaf tante..” aku
tergagap, apalagi melihat Tante Fifi
isteri pak kiayi itu yang berbicara
tanpa melihat ke arahku.
Benar-benar aku merasa seperti
maling yang tertangkap basah.
“Di..?”, Tante Fifi memanggil dan kali
ini ia memandangi, aku menundukkan
muka, tak kubayangkan lagi
kemolekan tubuh istri Kiayi Fuad itu.
Aku benar-benar takut bercampur
dengan nafsu.
“Tante nggak bermaksud marah lho,
Di..”,
Byarr hatiku lega lagi.?
“Sekarang kalau kamu mau nonton,
ya sudah sama-sama aja di sini, toh
sudah waktunya kamu belajar
tentang ini, biar nggak kuper”,
ajaknya.
“Woow..”, kepalaku secepat kilat
kembali membayangkan tubuhnya.
Aku duduk di sofa sebelah
tempatnya. Mataku lebih sering
melirik tubuh Tante Fifi daripada
film itu.
“Kamu kan sudah 18 tahun, Di. Ya
nggak ada salahnya kalau nonton
beginian. Lagipula tante kan nggak
biasa lho nonton yang beginian
sendiri..”.
Tak kusangka ucapan isteri Kiayi
Fuad begitu terang-terangan,
padahal Nyai Fifi adalah seorang
pendidik alias guru apakah karena
dunia ini sudah semakin tua, atau
isteri Kiayi itu yang nampaknya alim
namun sesungguhnya memiliki nafsu
syahwat besar yang tak
tersalurkan.
Apa kalimat itu berarti undangan?
Atau kupingku yang salah dengar?
Oh my god Tante Fifi mengangkat
sebelah tangannya dan
menyandarkan lengannya di sofa itu.
Dari celah gaun di bawah ketiaknya
terlihat jelas bukit payudaranya
yang masih seger dan bentuknya
indah. Ukurannya benar-benar
membuatku menelan ludah. Wooow.
Posisi duduknya berubah, kakinya
disilangkan hingga daster itu sedikit
tersingkap. Yeah, betis indah dengan
bulu-bulu halus, Hmm? Wanita 40-an
itu benar-benar menantang, wajah
dan tubuhnya mirip sekali dengan
Marisa Haque, hanya Tante Fifi
kelihatan sedikit lebih muda, bibirnya
lebih sensual dan hidungnya lebih
mancung. Aku tak mengerti kenapa
perempuan paruh baya ini begitu
tampak mempesona di mataku. Tapi
mungkinkah..? Tidak, dia adalah istri
seorang Kiayi yang terpandang,
orang yang belakangan ini sangat
memperhatikanku. Aku di sini untuk
belajar.., atas biaya mereka.., ah
persetan!
Tante Fifi mendadak memindahkan
acara TVRI ke sebuah TV swasta.
“Lho.. kok?”.
“Ah tante bosan ngeliatin acara di
TV itu terus, ..”.
“Tapi kan..”.
?Sudah kalau mau kamu mau nonton
yang lain nonton aja sendiri di
kamar..” wajahnya masih biasa saja.
“Eh, ngomong-ngomong, kamu sudah
hampir setahun di sini yah?”.
“Iya tante..”.
“Sudah punya pacar?”, ia beranjak
meminum kopi yang kubuatkan
untuknya.
“Belum”, mataku melirik ke arah
belahan daster itu, tampaknya ada
celah yang cukup untuk melihat
payudara besarnya.
Tak sadar penisku mulai berdiri.
“Kamu nggak nyari gitu?”, ia mulai
melirik sesekali ke arahku sambil
tersenyum.
“Alamaak, senyumnya.., oh singkapan
daster bagian bawah itu, uh Tante
Fifi.., pahamu”, teriak batinku saat
tangannya tanpa sengaja
menyingkap belahan gaun di bagian
bawah itu. Sengaja atau tidak sih?
“Eeh Di.kamu ngeliatin apaan sih?”.
Blarr.., mungkin ia tahu kalau aku
sedang berkonsentrasi memandang
satu persatu bagian tubuhnya.
“Nnggak kok tante nggak ngeliat
apa-apa”.
“Lho mata kamu kayaknya mandangin
tante terus. Apa ada yang salah
sama tante, Di?”,
Yya ampun dia tahu kalau aku
sedang asyik memandanginya.
“Eh.., mm.., anu tante.., aa.., aanu..,
tante.., tante”, kerongkonganku
seperti tercekat.
“Anu apa.., ah kamu ini ada-ada saja,
kenapa..?”, matanya semakin terarah
pada selangkanganku, sial aku lupa
pakai celana dalam.
Pantas Tante Fifi tahu kalau
penisku tegang.
“Ta.., ta.., tante cantik sekali..”, aku
tak dapat lagi mengontrol kata-
kataku.
Dan astaga, bukannya marah, Tante
Fifi malah mendekati aku.
“Apa.., tante nggak salah dengar?”,
katanya setengah berbisik.
“Bener kok tante..”.
“Tante yang seumur ini kamu bilang
cantik, ah bisa aja. Atau kamu mau
sesuatu dari tante?” ia memegang
pundakku, terasa begitu hangat dan
duh gusti buah dada yang sejak tadi
kuperhatihan itu kini hanya
beberapa sentimeter saja dari
wajahku.
Apa aku akan dapat menyentuhnya,
come on man! Dia istri pemilik
pondok pesantren ini batinku
berkata?Aah persetan.
Tangannya masih berada di
pundakku sebelah kiri, aku masih
tak bergeming. Tertunduk malu
tanpa bisa mengendalikan pikiranku
yang berkecamuk. Harum semerbak
parfumnya semakin menggoda
nafsuku untuk segera berbuat
sesuatu. Kuberanikan mataku melirik
lebih jelas ke arah belahan kain
daster berbunga itu. Wow..,
sepintas kulihat bukit di
selangkangannya yang ahh, kembali
aku menelan ludah.
“Kamu belum jawab pertanyaan
tante lho, Di. Atau kamu mau tante
jawab sendiri pertanyaan ini?”.
“Nggak kok Nyai, ss.., ss.., saya jujur
kalau tante memang cantik, eh..,
mm.., dan menarik”.
“Terus apa lagi ayo bilang..”
“Aaaku mau pegang susu Nyai.”
kuberanikan diriku sambil menatap
kedua bola matanya yang indah itu.
“Kamu belum pernah kenal cewek
yah”.
“Belum, tante”.
“Kalau tante kasih pelajaran gimana?”.
Ini dia yang aku tunggu, ah
persetan walau dia ini isteri Kiayi
Fuad sahabat ayahku aku tak
perduli. Anggap saja ini pelajaranku
dari Tante Fifi. Dan juga.., oh aku
ingin segera merasakan tubuh
wanita cantik ini.
“Maksud tante.., apa?”, lanjutku
bertanya, pandangan kami bertemu
sejenak namun aku segera
mengalihkan.
“Kamu kan belum pernah pacaran nih,
gimana kalau kamu tante ajarin
caranya menikmati wanita..”.
“Ta.., tapi tante”, aku masih ragu.
“Kamu takut sama pak Kiayi
suamiku? Tenang.., yang ada di
rumah ini cuman kita, lho”.
“Wow hebat”, teriakku dalam hati.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Batinku
terus berteriak tapi badanku
seperti tak dapat kugerakkan.
Beberapa saat kami berdua terdiam.
“Coba sini tangan kamu”, aku
memberikan tanganku padanya, my
goodness tangan lembut itu
menyentuh telapak tanganku yang
kasarnya minta ampun.
“Rupanya kamu memang belum
pernah nyentuh perempuan, Di.
Tante tahu kamu baru beranjak
remaja dan tante ngerti tentang
itu”, ia berkata begitu sambil
mengelus punggung tanganku, aku
merinding dibuatnya.
Sementara di bawah penisku yang
sejak tadi sudah tegang itu mulai
mengeluarkan cairan hingga
menampakkan titik basah tepat di
permukaan celana pendek itu.
“Tante ngerti kamu terangsang
melihat tetek ini, dan tante
perhatiin belakangan ini kamu sering
diam-diam memandangi tubuh tante,
benar kan?”, ia seperti menyergapku
dalam sebuah perangkap, tangannya
terus mengelus punggung telapak
tanganku.
Aku benar-benar merasa seperti
maling yang tertangkap basah, tak
sepatah kata lagi yang bisa
kuucapkan.
“Kamu kepingin pegang dada tante
kan?”.
Daarr! Dadaku seperti pecah..,
mukaku mulai memerah. Aku sampai
lupa di bawah sana adik kecilku
mulai melembek turun. Dengan
segala sisa tenaga aku beranikan
diri membalas pandangannya,
memaksa diriku mengikuti senyum
Nyai Fifi isteri pak Kiayi itu, Dan..,
astaga.., perempuan cantik ini
menuntun telapak tanganku ke arah
payudaranya yang menggelembung
besar itu. Oooh lembutnya.
“Ta.., ta.., tante.., oohh”, suara itu
keluar begitu saja dari bibirku, dan
Tante Fifi hanya melihat tingkahku
sambil tersenyum.
Adikku bangun lagi dan langsung
seperti ingin meloncat keluar dari
celana dalamku. Istri pak Kiayi itu
melotot ke arah selangkanganku.
“Waawww.., besar sekali punya kamu
Di”, serunya lalu secepat kilat
tangannya menggenggam kemaluanku
kemudian mengelus-elusnya.
Secara reflek tanganku yang
tadinya malu-malu dan terlebih dulu
berada di permukaan buah dadanya
bergerak meremas dengan sangat
kuat sampai menimbulkan desah dari
mulutnya.
“Aaagghhh… enaaaak, isep Di… Ooooooooh…
aahh.., mm remas sayang oohh…
teruuuuuuuus Di.”
Masih tak percaya akan semua itu,
aku membalikkan badan ke arahnya
dan mulai menggerakkan tangan
kiriku. Aku semakin berani,
kupandangi wajah istri pak Kiayi itu
dengan seksama.
“Teruskan, Di.., buka baju tante”,
perempuan itu mengangguk pelan.
Matanya berbinar saat melihat
kemaluanku tersembul dari celah
celana pendek itu. Kancing
dasternya kulepas satu persatu,
bagian dadanya terbuka lebar. Masih
dengan tangan gemetar aku meraih
kedua buah dadanya yang putih itu.
Perlahan-lahan aku mulai
meremasnya dengan lembut, kedua
telapak tanganku kususupkan
melewati dasternya.
“Mmm.., tante..”, aku menggumam
merasakan kelembutan buah dada
besar Tante Fifi yang selama
sebulan terakhir ini hanya jadi
impianku saja.
Jari jemariku terasa begitu nyaman,
membelai lembut daging kenyal itu,
aku memilin puting susunya yang
begitu lembutnya.
Aku pun semakin berani, dasternya
kutarik ke atas dan woowww..,
kedua buah dada itu membuat
mataku benar-benar jelalatan.
“Mm.., kamu sudah mulai pintar, Di.
Tante mau kamu..”, belum lagi
kalimat Tante Fifi habis aku sudah
mengarahkan mulutku ke puncak
bukit kembarnya dan
“Crupp..”, sedotanku langsung
terdengar begitu bibirku mendarat
di permukaan puting susunya.
“Aahh.., Didi, oohh.., sedoot teruus
aahh”, tangannya semakin
mengeraskan genggamannya pada
batang penisku, celana pendekku
sejak tadi dipelorotnya ke bawah.
Sesekali kulirik ke atas sambil terus
menikmati puting buah dadanya satu
persatu, Tante Fifi tampak tenang
sambil tersenyum melihat tingkahku
yang seperti monyet kecil menetek
pada induknya. Jelas isteri pak Kiayi
itu sudah berpengalaman sekali.
Batang penisku tak lagi hanya
diremasnya, ia mulai mengocok-
ngocoknya. Sebelah lagi tangannya
menekan-nekan kepalaku ke arah
dadanya.
“Buka pakaian dulu, Di” ia menarik
baju kaos yang kukenakan, aku
melepas gigitanku pada puting buah
dadanya, lalu celanaku di
lepaskannya.
Ia sejenak berdiri dan melepas gaun
dasternya, kini aku dapat melihat
tubuh Nyai Fifi yang bahenol itu
dengan jelas. Buah dada besar itu
bergelantungan sangat menantang.
Dan bukit di antara kedua pangkal
pahanya masih tertutup celana
dalam putih, bulu-bulu halus tampak
merambat keluar dari arah
selangkangan itu. Dengan agresif
tanganku menjamah CD-nya,
langsung kutarik sampai lepas.
“Eeeiit.., ponakan tante sudah mulai
nakal yah”, katanya genit semakin
membangkitkan nafsuku.
“Saya nggak tahan ngeliat tubuh
tante”, dengusanku masih terdengar
semakin keras.
“Kita lakukan di kamar yuk..”, ajaknya
sambil menarik tanganku yang
tadinya sudah mendarat di
permukaan selangkangannya.
“Shitt!” makiku dalam hati, baru saja
aku mau merasakan lembutnya
bukit di selangkangannya yang mulai
basah itu.
Isteri pak Kiayi itu langsung
merebahkan badan di tempat tidur.
Tapi mataku sejenak tertuju pada
foto pak Kiayi yang pakai sorban
dengan baju kokonya.
“Ta.., tapi tante”
“Tapi apa, ah kamu, Di” Tante Fifi
melotot.
“Tante kan istri pak Kiayi”.
“Yang bilang tante istri kamu siapa?”,
aku sedikit kendor mendengarnya.
“Saya takut tante, malu sama pak
Kiayi”.
“Emangnya di sini ada kamera yang
bisa dilihat dari Mesir sana? Didi,
Didi.., Kamu nggak usah sebut nama
pak Kiayi itu lagi deh!” intonasi
suaranya meninggi, mungkin Nyai
yang cantik ini sudah sangat benci
kepada suaminya yang mempunyai
isteri lagi, perempuan cantik ini
memang dimadu oleh pak Kiayi
sampai rasa benci terhadap
suaminya ia lampiaskan dengan jalan
menggiring gairah nafsuku untuk
menyetubuhinya.
“Trus gimana dong tante?”, aku
tambah tak mengerti.
“Sudahlah Di, kamu lakukan saja,
kamu sudah lama kan menginginkan
memegang payudara tante?” aku tak
bisa menjawab, sementara mataku
kembali memandang selangkangan
Tante Fifi yang kini terbuka lebar.
Hmm, persetan dari mana dia tahu
aku sudah menantikan ini, itu
urusan belakang.
Aku langsung menindihnya, dadaku
menempel pada kedua buah
payudara itu, kelembutan buah dada
yang dulunya hanya ada dalam
khayalanku saat beronani sekarang
menempel ketat di dadaku. Bibir
kamipun kini bertemu, Nyai Fifi
menyedot lidahku dengan lembut.
Uhh, nikmatnya, tanganku menyusup
di antara dada kami, meraba-raba
dan meremas kedua belahan
susunya yang besar itu.
“Aggggh, Di kamu anak yang pintar
teruuuus Di.”
“Mmm.., oohh.., Nyai.., aahh”, kegelian
bercampur nikmat saat Tante Fifi
memadukan kecupannya di leherku
sambil menggesekkan
selangkangannya yang basah itu
pada penisku.
“Kamu mau sedot susu tante lagi?”,
tangannya meremas sendiri buah
dada itu, aku tak menjawabnya,
bibirku merayap ke arah dadanya,
bertumpu pada tangan yang
kutekuk sambil berusaha meraih
susunya dengan bibirku.
Lidahku mulai bekerja dengan liar
menjelajahi bukit kenyal itu senti
demi senti.
“Hmm.., pintar kamu Di, oohh..”
desahan isteri pak Kiayi mulai
terdengar, meski serak-serak
tertahan nikmatnya jilatanku pada
putingnya yang lancip.
“Sekarang kamu ke bawah lagi
sayang..”.
Aku yang sudah terbawa nafsu
berat itu menurut saja, lidahku
merambat cepat ke arah pahanya,
Tante Fifi membukanya lebar dan
semerbak aroma selangkangannya
semakin mengundang birahiku, aku
jadi semakin gila. Kusibak bulu-bulu
halus dan lebat yang menutupi
daerah vaginanya. Uhh, liang vagina
itu tampak sudah becek dan
sepertinya berdenyut, aku ingat apa
yang harus kulakukan, tak percuma
aku sering diam-diam nonton VCD
porno sewaktu di Sumatera. Lidahku
menjulur lalu menjilati vagina isteri
pak Kiayi itu.
“Aggggggh ampuuuuuun, Ooouuhh..,
kamu cepat sekali belajar, Di. Hmm,
enaknya jilatan lidah kamu.., oohh ini
sayang”, ia menunjuk sebuah daging
yang mirip biji kacang di bagian
atas kemaluannya, aku menyedotnya
keras, lidah dan bibirku mengaduk-
aduk isi liang vaginanya.
“Ooohh, yaahh.., enaak, Di, pintar
kamu Di.., oohh”, Tante Fifi mulai
menjerit kecil merasakan sedotanku
pada biji kacangnya yang belakangan
kutahu bernama clitoris.
Ada sekitar tujuh menit lebih aku
bermain di daerah itu sampai
kurasakan tiba-tiba ia menjepit
kepalaku dengan keras di antara
pangkal pahanya, aku hampir-hampir
tak dapat bernafas.
“Aahh.., tante nggak kuaat aahh, Didii”,
teriaknya panjang seiring tubuhnya
yang menegang, tangannya meremas
sendiri kedua buah dadanya yang
sejak tadi bergoyang-goyang, dari
liang vaginanya mengucur cairan
kental yang langsung bercampur air
liur dalam mulutku.
“Uff.., Di, kamu pintar bener. Sering
ngentot yah?” ia memandangku
dengan genit.
“Makasih Di, selama ini tante nggak
pernah mengalaminya.., makasih
sayang. Sekarang beri tante
kesempatan istirahat sebentar saja”,
ia lalu mengecupku dan beranjak ke
arah kamar mandi.
Aku tak tahu harus melakukan apa,
senjataku masih tegang dan keras,
hanya sempat mendapat sentuhan
tangan Tante Fifi. Batinku makin
tak sabar ingin cepat menumpahkan
air maniku ke dalam vaginanya.
Masih jelas bayangan tubuh
telanjang isteri pak Kiayi itu
beberapa menit yang lalu.., ahh aku
meloncat bangun dan menuju ke
kamar mandi. Kulihat perempuan
paruh baya yang cantik itu sedang
mengguyur tubuhnya dengan air.
“Tante… mau saya entot sekarang?”
“Hmm, kamu sudah nggak sabar ya?”
ia mengambil handuk dan
mendekatiku.
Tangannya langsung meraih batang
penisku yang masih tegang.
“Woowww.., tante baru sadar kalau
kamu punya segede ini, Di.., oohhmm”,
ia berjongkok di hadapanku.
Aku menyandarkan tubuh di dinding
kamar mandi itu dan secepat kilat
Nyai Fifi memasukkan penisku ke
mulutnya.
“Ohh.., nikmat Tante Fifi oohh..,
oohh.., ahh”, geli bercampur nikmat
membuatku seperti melayang.
Baru kali ini punyaku masuk ke
dalam mulut perempuan, ternyata..,
ahh.., lezatnya setengah mati.
Penisku tampak semakin tegang,
mulut mungil Tante Fifi hampir tak
dapat lagi menampungnya.
Sementara tanganku ikut bergerak
meremas-remas payudaranya.
“Uuuhh.. punya kamu ini lho, Di..,
tante jadi nafsu lagi nih, yuk kita
lanjutin lagi”, tangannya menarikku
kembali ke tempat tidur, Tante Fifi
seperti melihat sesuatu yang begitu
menakjubkan.
Perempuan setengah baya itu
langsung merebahkan diri dan
membuka kedua pahanya ke arah
berlawanan, mataku lagi-lagi
melotot ke arah belahan vaginanya.
Mm.., kusempatkan menjilatinya
semenit lalu dengan tergesa-gesa
aku tindih tubuhnya.
“Heh.., sabar dong, Di. Kalau kamu
gelagapan gini bisa cepat keluar
nantinya”.
“Keluar apa, Tante?”.
“Nanti kamu tahu sendiri, deh”
tangannya meraih penisku di antara
pahanya, kakinya ditekuk hingga
badanku terjepit diantaranya.
Pelan sekali ibu jari dan telunjuknya
menempelkan kepala penisku di bibir
kemaluannya.
“Sekarang kamu tekan pelan-pelan
sayang.., Ahhooww, yang pelan
sayang oh punya kamu segede kuda
tahu!”, liriknya genit saat merasakan
penisku yang baru setengah masuk
itu.
“Begini tante?”, dengan hati-hati
kugerakkan lagi, pelan sekali,
rasanya seperti memasuki lubang
yang sangat sempit.
“Tarik dulu sedikit, Di.., yah tekan
lagi. Pelan-pelan.., yaahh masuk
sayang oohh besarnya punya kamu..,
oohh… Oooh enaaak Di, Aaaagggh
panjangnya punya kamu sampai
mentok ke dasar Di.
“Tante suka?”.
“Nyai aku entot ya… Gimana Nyai
rasanya?”.
“Suka sayang oohh, sekarang kamu
goyangin.., mm.., yak gitu terus
tarik, aahh.., pelan sayang vagina
tante rasanya.., oouuhh mau robek,
mmhh.., yaahh tekan lagi sayang..,
oohh.., hhmm.., enaakk.., oohh”.
“Kalau sakit bilang saya yah tante?”,
kusempatkan mengatur gerakan,
tampaknya Tante Fifi sudah bisa
menikmatinya, matanya terpejam
seraya menggigit bibirnya disertai
desahan manjanya.
“Oooh Di setubuhi tante, Agggggh
enaaaak Di punyamu besaaaar.
Hmm.., oohh..”, Tante Fifi kini
mengikuti gerakanku.
Pinggulnya seperti berdansa ke kiri
kanan. Liang vaginanya bertambah
licin saja. Penisku kian lama kian
lancar, kupercepat goyanganku
hingga terdengar bunyi
selangkangannya yang becek
bertemu pangkal pahaku.
Plak.., plak.., plak.., plak.., aduh
nikmatnya perempuan setengah
baya ini.
Mataku merem melek memandangi
wajah keibuan Tante Fifi yang
masih saja mengeluarkan senyuman.
Nafsuku semakin jalang, gerakanku
yang tadinya santai kini tak lagi
berirama. Buah dadanya tampak
bergoyang ke sana ke mari,
mengundang bibirku beraksi.
“Ooohh sayang kamu buas sekali.
hmm.., tante suka yang begini,
oohh.., genjot terus mm”.
“Uuhh tante nikmat tante.., mm
tante cantik sekali oohh… Oooh
enaknya ngentotin isteri pak Kiayi.”
Aku mulai meracau nikmat.
“Kamu senang susu tante yah?”
Ooohh sedoot teruus susu tantee
aahh.., panjang sekali peler kamu
oohh, Didii.., aahh”. Jeritannya
semakin keras dan panjang,
denyutan vaginanya semakin terasa
menjepit batang penisku yang
semakin terasa keras dan tegang.
“Di..?”, dengusannya turun naik.
“Yah uuhh ada apa tante..?”.
“Kamu bener-bener hebat sayang..,
oowww.., uuhh.., tan.., tante.., mau
keluar hampiirr.., aahh..”, gerakan
pinggulnya yang liar itu semakin tak
karuan, tak terasa sudah lima belas
menit kami berkutat.
“Ooohh memang enaak Nyai, oohh..,
Tante Fifi. Tante Fifi, oohh.., tante,
oohh.., nikmat sekali tante
memekmu, oohh..” aku bahkan tak
mengerti apa maksud kata ‘keluar’
itu.
Aku hanya peduli pada diriku,
kenikmatan yang baru pertama kali
kurasakan seumur hidup. Tak
kuhiraukan tubuh isteri pak Kiayi
yang menegang keras berkejat-
kejat, kuku-kuku tangannya
mencengkeram punggungku, pahanya
menjepit keras pinggangku yang
sedang asyik turun naik itu,
“Aaahh.., Di.., dii.., tante ke..luaarr
laagii.., aahh”, vagina Tante Fifi
terasa berdenyut keras sekali,
seperti memijit batangan penisku
dan uuhh ia menggigit pundakku
sampai kemerahan.
Kepala penisku seperti tersiram
cairan hangat di dalam liang
rahimnya.
“Agggh Oooh ampuuuun enak Di penis
besarmu”.
Sesaat kemudian ia lemas lagi. Tak
kusangka isteri seorang Kiayi,
wanita yang kuanggap alim dan
terpelajar saat kusetubuhi bisa
menjadi liar bagai penari erotis,
tubuhnya meliuk liuk saat mencapai
orgasme.
“Tante capek’
“Maaf tante kalau saya keterlaluan..”.
“Mmm.., nggak begitu Di, yang ini
namanya tante orgasme, bukan
kamu yang salah kok, justru kamu
hebat sekali.., ah, ntar kamu tahu
sendiri deh.., kamu tunggu semenit
aja yah, uuhh hebat”.
Aku tak tahu harus bilang apa,
penisku masih menancap di liang
kemaluannya.
“Kamu peluk tante dong, mm”.
“Ahh tante, saya boleh lanjutin nggak
sih?”.
“Boleh, asal kamu jangan goyang dulu,
tunggu sampai tante bangkit lagi,
sebentaar aja. Mainin susu tante
saja ya”.
“Baik tante..”.
“Kau tak sabar ingin cepat-cepat
merasakan nikmatnya ‘keluar’ seperti
Tante ya.”
Ia masih diam saja sambil
memandangiku yang sibuk sendiri
dengan puting susu itu. Beberapa
saat kemudian kurasakan liang
vaginanya kembali bereaksi,
pinggulnya ia gerakkan.
“Di..?”.
“Ya tante?”.
“Sekarang tante mau puasin kamu,
kasih tante yang di atas ya,
sayang.., mmhh, pintar”.
Posisi kami berbalik. Kini isteri pak
Kiayi menunggangi tubuhku. Perlahan
tangannya kembali menuntun batang
penisku yang masih tegang itu
memasuki liang kenikmatannya, dan
uuhh terasa lebih masuk.
Tante Fifi mulai bergoyang perlahan,
payudaranya tampak lebih besar dan
semakin menantang dalam posisi ini.
Tante Fifi berjongkok di atas
pinggangku menaik-turunkan
pantatnya, terlihat jelas bagaimana
penisku keluar masuk liang
vaginanya yang terlihat penuh
sesak, sampai bibir kemaluan itu
terlihat sangat kencang.
“Ooohh enaak tante.., ooh Tante Fifi..,
ooh Nyai.., oo.., hmm, enaak sekali..,
oohh..memek enak” Kedua buah
payudara itu seperti berayun keras
mengikuti irama turun naiknya
tubuh isteri pak Kiayi itu.
“Remees susu tante sayang, oohh..,
yaahh.., pintar kamu.., oohh.., tante
nggak percaya kamu bisa seperti
ini, oohh.., pintar kamu Didi oohh..,
ganjal kepalamu dengan bantal ini
sayang”, Tante Fifi meraih bantal
yang ada di samping kirinya dan
memberikannya padaku.
“Maksud tante supaya aku bisa..,
crup.., crup..”, mulutku menerkam
puting payudaranya.
“Yaahh sedot susu tante lagi
sayang.., mm.., yak begitu teruus
yang kiri sayang oohh”.
Tante Fifi menundukkan badan agar
kedua buah dadanya terjangkau
mulutku. Decak becek pertemuan
pangkal paha kami semakin
terdengar seperti tetesan air, liang
vaginanya semakin licin saja. Entah
sudah berapa puluh cc cairan
kelamin isteri pak Kiayi yang
meluber membasahi dinding
vaginanya. Tiba-tiba aku teringat
adegan filn porno yang dulu pernah
kulihat,
“Yap.., doggie style!” batinku berteriak
kegirangan, mendadak aku menahan
goyangan Tante Fifi yang tengah
asyik.
“Huuhh.., oohh ada apa sayang?”,
nafasnya tersenggal.
“Saya mau pakai gaya yang ada di
film, tante”.
“Gaya yang mana, yah..,?”.
“Yang dari belakang tante harus
nungging”.
“Hmm.., tante ngerti.., boleh”, katanya
singkat lalu melepaskan gigitan
vaginanya pada penisku.
“Yang ini maksud kamu?”, isteri pak
Kiayi itu menungging tepat di
depanku yang masih terduduk.
“Iya Nyai ini namanya anjing kawin..”
Hmm lezatnya, pantat Tante Fifi
yang besar itu kuremas-remas dan
belahan bibir vaginanya yang
memerah membuat nafsuku
memuncak, aku langsung mengambil
posisi dan tanpa permisi lagi
menyusupkan penisku dari belakang.
Kupegangi pinggangnya, sebelah lagi
tanganku meraih buah dada
besarnya.
“Ooohh.., ngg.., Agggh yang ini hebaat
Di.., oohh, genjot yang keras sayang,
oohh.., tambah keras lagi..,”
“Uuuhh… Enak ya Nyai?. Aku suka
ngentot sama Nyai ayo tante jalang
goyangin dong pantatnya.”
“Oooooh Di setubuhi aku sesuka
hatimu, tante suka Di.”
Kata-kata kotor Didi membuat
isteri pak Kiayi itu kian terangsang
hebat ia goyangkan pantatnya
mengikuti irama tusukan penis yang
menerobos liang vaginanya.
Kepalanya menggeleng keras ke sana
ke mari, aku rasa Tante Fifi sedang
berusaha menikmati gaya ini dengan
semaksimal mungkin. Teriakannyapun
makin ngawur.
“Ooohh.., jangan lama-lama lagi
sayang tante mau keluar lagi ooh..”
aku menghentikan gerakan dan
mencabut penisku.
“Baik tante sekarang.., mm, coba
tante berbaring menghadap ke
samping, kita selesaikan dengan
gaya ini”.
“Kamu sudah mulai pintar sayang
mmhh”, Tante Fifi mengecup bibirku.
Perintahku pun diturutinya, ia
seperti tahu apa yang aku inginkan.
Ia menghempaskan badannya kembali
dan berbaring menghadap ke
samping, sebelah kakinya terangkat
dan mengangkang, aku segera
menempatkan pinggangku di
antaranya. Buah penisku bersiap lagi.
“Aaahh tante.., uuhh.., nikmat sekali,
oohh.., Nyai sekarang, oohh.., saya
nggak tahan Nyai.., enaak.., oohh”.
“Tante juga Didi.., Didi.., Didi sayaangg,
oohh.., keluaar samaan sayaang ooh”
kami berdua berteriak panjang,
badanku terasa bergetar, ada
sebentuk energi yang maha dahsyat
berjalan cepat melalui tubuhku
mengarah ke bawah perut dan,
“Craat.., cratt.., craatt.., cratt”,
entah berapa kali penisku
menyemburkan cairan kental ke
dalam rahim isteri pak Kiayi yang
tampak juga mengalami hal yang
sama, selangkangan kami saling
menggenjot keras.
Tangan Tante Fifi meremas sprei
dan menariknya keras, bibirnya ia
gigit sendiri. Matanya terpejam
seperti merasakan sesuatu yang
sangat hebat, tubuhnya berkejat
kejat isteri pak Kiayi itu mengerang
seperti anak kucing.
Beberapa menit setelah itu kami
berdua terkapar lemas, Tante Fifi
memelukku erat, sesekali ia
mencium mesra. Tanganku
tampaknya masih senang membelai
lembut buah dada Tante Fifi.
Kupintir-pintir putingnya yang kini
mulai lembek. Mataku memandangi
wajah manis perempuan paruh baya
itu, meski umurnya sudah berkepala
empat namun aku masih sangat
bernafsu melihatnya. Wajahnya
masih menampakkan kecantikan dan
keanggunannya. Meski mulai tampak
kerutan kecil di leher wanita itu
tapi.., aah, persetan dengan itu
semua, Tante Fifi adalah wanita
pertama yang memperkenalkan aku
pada kenikmatan seksual. Bahkan
dibanding Devi, Rani, Shinta dan
teman sekelasku yang lain,
perempuan paruh baya ini jauh lebih
menarik.
“Tante nggak nyangka kamu bisa
sekuat ini, Di..”.
“Hmm..”.
“Betul ini baru yang pertama kali
kamu lakukan?”.
“Iya tante..”.
“Nggak pernah sama pacar kamu?”.
“Nggak punya tante..”.
“Yang bener aja ah”.
“Iya bener, nggak bohong kok,
tante.., tante nggak kapok kan
ngajarin saya yang beginian?”.
“Ya ampuun..” Ia mencubit genit,
“Masa sih tante mau ngelepasin
kamu yang hebat gini, tahu nggak
Di, suami tante nggak ada apa-
apanya dibanding kamu..”.
“Maksud tante?”.
“Pak Fuad itu kalau main paling lama
tiga menit.., lha kamu? Tante sudah
keluar beberapa kali kamu belum
juga, apa nggak hebat namanya”.
“Ngaak tahu deh tante, mungkin
karena baru pertama ini sih..”.
“Tapi menurut tante kamu emang
punya bakat alam, lho? Buktinya
baru pertama begini saja kamu
sudah sekuat itu, apalagi kalau
sudah pengalaman nanti.., pasti
tante kamu bikin KO.., lebih dari
yang tadi”.
“Terima kasih tante..”.
“Untuk?”.
“Untuk yang tadi… Karena saya bisa
ngentotin Nyai, saya sudah lama
mengkhayali Nyai sambil beronani
dan malam ini saya puas sekali bisa
menyetubuhi isteri pak Kiayi yang
cantik ini he heee.”
“Tante yang terima kasih sama
kamu.., kamu yang pertama
membuat tante merasa seperti ini”.
“Saya nggak ngerti..”.
“Di.., dua puluh tahun lebih sudah usia
perkawinan tante dengan Pak Fuad.
tak pernah sedetikpun tante
menikmati hubungan badan yang
sehebat ini. Suami tante adalah tipe
lelaki egois yang menyenangkan
dirinya saja. Tante benar-benar
telah dilecehkannya. Belakangan
tante berusaha memberontak,
rupanya dia sudah mulai bosan
dengan tubuh tante dan seperti
rekannya yang lain sesama Kiayi, ia
menyimpan beberapa wanita sebagai
isteri kedua untuk melampiaskan
nafsu seksnya. Tante tahu semua
itu dan tante nggak perlu cerita
lebih panjang lebar karena pasti
kamu sudah sering mendengar
pertengkaran tante”, Suaranya
mendadak serius, tanganku memeluk
tubuhnya yang masih telanjang.
Ada sebersit rasa simpati
mendengar ceritanya yang polos itu,
betapa bodohnya lelaki bernama
Kiayi Fuad itu punya perempuan
secantik dan senikmat ini di biarkan
merana.
Tante Fifi terpejam begitu
tanganku menyentuh permukaan
buah dadanya, merayap perlahan
menyusuri kelembutan bukit indah
itu menuju puncak dan,
Mmm a.. aku memintir putingnya
yang coklat kemerahan itu.
“Agggh?” telapak tanganku mulai lagi,
meremasnya satu persatu,
“Hmm”, dengan sebelah tangannya ia
meraih penisku yang mulai tegang,
jari telunjuk Tante Fifi mengurut
tepat di leher bawah kepala
penisku, semakin tegang saja, shitt..,
aku nggak bisa bersuara. Aku tak
tahan dan beranjak turun dari
tempat tidur itu dan langsung
berjongkok tepat di depan pahanya
di pinggiran tempat tidur, menguak
sepasang paha montok dan putih itu
ke arah berlawanan.
“Mmmhh.., aahh.., oh nggak,.., uuhh”
lidahku langsung mendarat di
permukaan segitiga terlarang itu.
“Ssshh yaa.., enakk..?,
Lidahku kian mengganas, kelentit
sebesar biji kacang itu sengaja
kusentuh.
“Mmm fuuhh.., Tante akan layani
kamu sampai kita berdua nggak
kuat lagi. Kamu boleh lakukan apa
saja. Puaskan diri kamu sayang
aahh”, aku tak mempedulikan kata-
katanya, lidahku sibuk di daerah
selangkangannya.
Malam itu benar-benar surga bagi
kami, permainan demi permainan
dengan segala macam gaya kami
lakukan. Di karpet, sampai sekitar
pukul tiga dini hari. Kami sama-
sama bernafsu, aku tak ingat lagi
berapa kali kami melakukannya.
Seingatku disetiap akhir permainan,
kami selalu berteriak panjang.
Benar-benar malam yang penuh
kenikmatan.
Aku terbangun sekitar jam 11 siang,
badanku masih terasa sedikit pegal.
Tante Fifi sudah tidak ada di
sampingku.
“Tante..?” panggilku setengah
berteriak, tak ada jawaban dari
istri pak Kiayi yang semalam suntuk
kutiduri itu.
Aku beranjak dari tempat tidur dan
memasang celana pendek, sprei dan
bantal-bantal di atas tempat tidur
itu berantakan, di banyak tempat
ada bercak-bercak bekas cairan
kelamin kami berdua. Aku keluar
kamar dan menemukan secarik
kertas berisi tulisan tangan Tante
Fifi, ternyata ia harus ke tempat
ke sekolah tempat ia mengajar
karena ada yang harus dikerjakan.
“Hmm.., padahal kalau main baru
bangun tidur pastilah nikmat sekali”,
pikiranku ngeres lagi.
Aku kembali ke kamar Tante Fifi
yang berantakan oleh kami semalam,
lalu dengan cekatan aku melepas
semua sprei dan selimut penuh
bercak itu. Kumasukkan ke mesin
cuci. Tiga puluh menit kemudian
kamar dan ruang kerja pak Kiayi
kubuat rapi kembali. Siap untuk
kami pakai main lagi.
“Shit….! Aku lupa sekolah.., ampuun
gimana nih”,
Sejenak aku berpikir dan segera
kutelepon Tante Fifi.
“Selamat pagi?”, suara operator.
“Ya Pagi.., Bu Fifi ada?”.
“Dari siap, pak?”.
“Bilang dari Sonny, anaknya..”.
“Oh Mas sonny”.
“Huh dasar sok akrab”, umpatku
dalam hati.
“Saya, Tante. Didi bukan ..”.
“Eh kamu sayang.., gimana? mau lagi?
Sabar ya, tungguin tante..”.
“Bukan begitu tante.., tapi saya jadi
telat bangun.., nggak bisa masuk
sekolah”.
“Oooh gampang.., ntar tante yang
telepon Pak Yogi, kepala sekolah
kamu itu.., tante bilang kamu sakit
yah?”.
“Nggak ah tante, ntar jadi sakit
beneran..”.
“Tapi emang benar kan kamu sakit..,
sakit.., sakit anu! Nah lo!”.
“Aaah, tante.., tapi bener nih tante
tolong sekolah saya di telepon yah?”.
“Iya.., iya.., eh Di.., kamu kepingin lagi
nggak..”.
“Tante genit”.
“Nggak mau? Awas lho Tante cari
orang lain..”.
“Ah Tante, ya mau dong.., semalam
nikmat yah, tante..”
“Kamu hebat!”.
“Tante juga.., nanti pulang jam
berapa?”.
“Tunggu aja.., sudah makan kamu?”.
“Belum, tante sudah?”.
“Sudah.., mm, kalau gitu kamu tunggu
aja di rumah, tante pesan catering
untuk kamu.., biar nanti kamu kuat
lagi”.
“Tante bisa aja.., makasih tante..”.
“Sama-sama, sayang.., sampai nanti
ya, daahh”.
“Daah, tante”.
Tak sampai sepuluh menit seorang
delivery service datang membawa
makanan.
“Ini dari, Bu Fifi, Mas talong
ditandatangan. Payment-nya sudah
sama Bu Fifi”.
“Makasih, mang..”.
“Sama-sama, permisi..”.
Aku langsung membawanya ke dalam
dan menyantapnya di depan
pesawat TV, sambil melanjutkan
nonton film porno, untuk menambah
pengalaman. Makanan kiriman Tante
Fifi memang semua berprotein
tinggi. Aku tahu benar maksudnya.
Belum lagi minuman energi yang juga
dipesannya untukku. Rupanya istri
pak Kiayi itu benar-benar menikmati
permainan seks kami semalam, eh
aku juga lho.., kan baru pertama.
Sambil terus makan dan
menyaksikan film itu aku
membayangkan tubuh dan wajah
Tante Fifi bermain bersamaku.
Penisku terasa pegal-pegal
dibuatnya. Huh.., aku mematikan TV
dan menuju kamarku.
“Lebih baik tidur dan menyiapkan
tenaga..”, aku bergumam sendiri
dalam kamar.
Sambil membaca buku pelajaran
favorit, aku mencoba melupakan
pikiran-pikiran tadi. Lama-kelamaan
akupun tertidur. Jam menunjukkan
pukul 12.45.
Sore harinya aku terbangun oleh
kecupan bibir Tante Fifi yang
ternyata sudah ada di sampingku.
“Huuaah.., jam berapa sekarang
tante?”.
“Hmm.., jam lima, tante dari tadi
juga sudah tidur di sini, sayang
kamu tidur terlalu lelap. Tante
sempat tidur kurang lebih dua jam
sejak tante pulang tadi, gimana,
kamu sudah pulih..”.
“Sudah dong tante, empat jam lebih
tidur masa sih nggak seger..”, kami
saling berciuman mesra,
“Crup.., crup”, lidah kami bermain di
mulutnya.
“Eh.., tante mau jajan dulu ah..,
sambil minum teh, yuuk di taman.
Tadi tante pesan di Dunkin.., ada
donat kesukaan kamu”, ia bangun dan
ngeloyor keluar kamar.
“Uh.., Tante Fifi..”, gumamku pelan
melihat bahenolnya tubuh kini
terbungkus terusan sutra
transparan tanpa lengan.
Bayangan CD dan BH-nya tampak
jelas. Aku masih senang bermalas-
malasan di tempat tidur itu,
pikiranku rasanya tak pernah bisa
lepas dari bayangan tubuhnya.
Beberapa saat saja penisku sudah
tampak tegang dan berdiri, dasar
pemula! Sejak sering tegang melihat
tubuh Tante Fifi sebulan belakangan
ini, aku memang jarang memakai
celana dalam ketika di rumah agar
penisku bisa lebih leluasa kalau
berdiri seperti ini.
“Hmm, tante Fifi.., aahh Nyai yang
cantik” desahku sambil menggenggam
sendiri penisku, aneh.., aku
membayangkan orang yang sudah
jelas bisa kutiduri saat itu juga,
tak tahulah.., rasanya aku gila!
Tanganku mengocok-ngocok sendiri
hingga kini penis besar dan panjang
itu benar-benar tegak dan tampak
perkasa sekali. Aku terus
membayangkan bagaimana semalam
kepala penis ini menembus dan
melesak keluar masuk vagina Tante
Fifi. Kutengok ke sana ke mari.
“Tante..”, panggilku.
“Di dapur, sayang”, sahutnya setengah
berteriak, aku bergegas ke situ,
kulihat ia sedang menghangatkan
donat di microwave.
Dan.., uuhh, tubuh yang semalam
kunikmati itu, dari arah belakang..,
bayangan BH dan celana dalam putih
di balik gaun sutranya yang tipis
membuatku berkali-kali menelan
ludah.
“Uuuhh tante.., sayang”, tak sanggup
lagi rasanya aku menahan birahiku,
kupeluk ia dari belakang, sendok
yang ada di tangannya terjatuh,
penisku yang sudah tegang
kutempelkan erat di belahan
pantatnya.
“Aduuhh.., Didi nakal kamu ah..” ia
melirikku dengan pandangan
menggoda.
Aku semakin berani, tangan kananku
meraih buah dada Tante Fifi dari
celah gaun di bawah ketiaknya. Lalu
tangan kiriku merayap dari arah
bawah, paha yang halus putih mulus
itu terus ke arah gundukan
kemaluannya yang masih berlapis
celana dalam. Telunjuk dan jari
tengahku langsung menekan,
mengusap-usap dan mencubit kecil
bibir kemaluannya.
“Ehhmm.., nngg.., aahh.., nakaal, Didi”.
“Tante.., tante, saya nggak tahan
ngeliat tante.., saya bayangin tubuh
tante terus dari tadi pagi”
Tangan kiriku menarik ujung celana
dalam itu turun, ia mengangkat
kakinya satu persatu dan
terlepaslah celana dalamnya yang
putih. Kutarik cup BH-nya ke atas
hingga tangan kananku kini bebas
mengelus dan meremas buah
dadanya. Dengan gerak cepat
kulorotkan pula celana dalam yang
kupakai lalu bergegas tangan kiriku
menyingkap gaun sutranya ke atas.
Kudorong tubuh isteri pak Kiayi itu
sampai ia menunduk dan terlihatlah
dengan jelas celah vaginanya yang
masih tampak tertutup rapat. Aku
berjongkok tepat di belakangnya.
“Idiihh, Didi. Tante mau diapain nih..”,
katanya genit.
Lidahku menjulur ke arah vaginanya.
Aroma daerah kemaluan itu
merebak ke hidungku, semakin
membuatku tak sabar dan..,
“Huuhh.., srup.., srup.., srup”, sekali
terkam bibir vagina sebelah bawah
itu sudah tersedot habis dalam
mulutku.
“Aaahh.., Didi.., enaakk..”, jerit
perempuan setengah baya itu,
tangannya berpegang di pinggiran
meja dapur.
“Aaawww.., gelii”, kugigit pantatnya.
Uuh, bongkahan pantat inilah yang
paling mengundang birahiku saat
melihatnya untuk pertama kali.
Mulus dan putih, besar
menggelembung dan montok.
Lima menit kemudian aku berdiri
lagi setelah puas membasahi bibir
vaginanya dengan lidahku. Kedua
tanganku menahan gerakan
pinggulnya dari belakang, gaun itu
masih tersingkap ke atas, tertahan
jari-jari tanganku yang
mencengkeram pinggulnya. Dan hmm,
kuhunjamkan penis besar dan
tegang itu tepat dari arah
belakang,
“Sreep.., Bleess”, langsung menggenjot
keluar masuk vagina Tante Fifi.
“Aaahh.., Didi.., enaak.., huuhh tante
senang yang ini oohh..”
“Enak kan tante.., hmm.., oohh.., agak
tegak tante biar susunya.., yaakk
ooh enaakk”.
“Yaahh.., tusuk yang keras.., hmm..,
tante nggak pernah gini
sebelumnya.., oohh enaakk pintarnya
kamu sayaang.., oohh enaak.., terus..,
terus yah tarik dorong keeraass..,
aahh.., kamu yang pertama giniin
tante, Di.., oohh.., sshh..”, hanya
sekitar tiga menit ia bertahan dan,
“Hoohh.., tante.., mauu.., keluar..,
sekarang.., ooh hh.., sekarang Di,
aahh..”
Vaginanya menjepit keras, badannya
tegang dengan kepala yang
bergoyang keras ke kiri dan ke
kanan.
Aku tak mempedulikannya, memang
sejenak kuberi ia waktu menarik
nafas panjang. Aku membiarkan
penisku yang masih tegang itu
menancap di dalam. Ia masih
menungging kelelahan.
“Balik Nyai..”, pintaku sambil
melepaskan gigitan di kemaluannya.
“Apalagi, sayang.., ya ampun tante
nggak kuat.., aahh”.
Aku meraih sebuah kursi. Ia
mengira aku akan menyuruhnya
duduk,
“Eiih bukan tante, sekarang tante
nyender di dinding, kaki kiri tante
naik di kursi ini..”.
“Ampuun, Didi.., tante mau diapain
sayang..”, ia menurut saja.
Woow! Kudapatkan posisi itu,
selangkangan itu siap dimasuki dari
depan sambil berdiri, posisi ini yang
membuatku bernafsu.
“Sekarang Nyai sayang.., yaahh..”, aku
menusukkan penisku dari arah
depannya, penisku masuk dengan
lancar.
Tanganku meremas kedua susunya
sedangkan mulut kami saling
mengecup.
“Mmmhh.., hhmm..”, ia berusaha
menahan kenikmatan itu namun
mulutnya tertutup erat oleh
bibirku.
Hmm, di samping kanan kami ada
cermin seukuran tubuh. Tampak
pantatku menghantam keras ke
arah selangkangannya. Penisku
terlihat jelas keluar masuk
vaginanya. Payudaranya yang
tergencet dada dan tanganku
semakin membuatku bernafsu.
“Cek.., cek.., cek”, gemercik suara
kemaluan kami yang bermain di
bawah sana.
Kulepaskan kecupanku setelah
tampak tanda-tanda ia
menikmatinya.
“Uuuhh hebaat.., kamu sayang.., aduuh
mati tante.., aahh enaak mati aku
Di, oohh.., ayo keluarin sayang.., aahh
entotin tante yang kuat Aggggh..,
sudah mau sampai lagi niih aahh..”
wajahnya tampak tegang lagi,
pipinya seperti biasa, merah, sebagai
tanda ia segera akan orgasme lagi.
“Ayooo nikmati Nyai kontol besarku.
Goyangin dong Nyai pantatnya, duh
enaknya ngentot sama Nyai.
Kupaksakan diriku meraih klimaks
itu bersamaan dengannya. Aku
agaknya berhasil, perlahan tapi pasti
kami kemudian saling mendekap erat
sambil saling berteriak keras.
“Aaahh.., tante keluaar..”.
“Saya juga Nyai huuhh.., nikmat..,
nikmat.., oohh.., Nyai Fifi.., aahh”, dan
penisku,
“Crat.., crat.., crat.., seer”,
menyemprotkan cairannya sekitar
lima enam kali di dalam liang vagina
isteri pak Kiayi yang juga tampak
menikmati orgasmenya untuk kedua
kali.
“Huuhh.., capeekk.., sayang” ia
melepaskan pelukannya dan penisku
yang masih menancap itu.
Hmm, kulihat ada cairan yang
mengalir di pahanya bagian dalam,
ada yang menetes di lantai.
“Mau di lap Nyai?”, aku menawarkan
tissue.
“Nggak sayang.., tante senang, kok.
Tante bahagia.., yang mengalir itu
sperma kamu dan cairan kelamin
tante sendiri. Tante ingin menikmati
terus rasa penismu..”, ia berkata
begitu sambil memberiku sebuah
ciuman.
“Hmm.., Tante Fifi..”, Kuperbaiki letak
BH dan rambutnya yang acak-
acakan, kemudian ia kembali
menyiapkan jajanan yang sempat
terhenti oleh ulah nakalku.
Aku kembali ke kamar dan keluar
lagi setelah mengenakan baju kaos.
Tante Fifi telah menunggu di taman
belakang rumahnya yang sangat
luas, kira-kira sekitar 25 acre. Kami
duduk santai berdua sambil
bercanda menikmati suasana di
pinggiran sebuah danau buatan.
Sesekali kami berciuman mesra
seperti pengantin baru yang lagi
haus kemesraan. Jadilah dua minggu
kepergian pak Kiayi Fuad itu surga
dunia bagiku dan Nyai Fifi. Kami
melakukannya setiap hari, rata-rata
empat sampai lima kali sehari!
Menjelang sore, isteri pak Kiayi
yang cantik itu mengajakku mandi
bersama. Bisa ditebak, kami
melakukannya lagi di kamar mandi.
Saling menyabuni dan.., hmm,
bayangin sendiri deh. Itulah
pengalaman pribadiku saat pertama
mengenal seks bersama guru seks-
ku yang sangat cantik. Tante Fifi
alias Nyai Fifi yang anggun bila
berbusana baju panjang dan
berjilbab itu, kini menjadi kepuasan
yang sempurna bagiku adalah dapat
menyetubuhinya selama aku tinggal
dirumahnya tanpa diketahui oleh pak
Kiayi Fuad suaminya.

1 komentar:

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda