Translate

Senin, 07 Maret 2011

NAFSU ANJING SILUMAN


Ratri adalah seorang ibu muda
berusia 23 tahun yang tinggal di
sebuah desa kecil di bagian selatan
Jawa Barat. Ia mengikuti suaminya
yang bertugas di sana. Ia sendiri
sebenarnya sejak kecil sampai kuliah
terbiasa hidup di kota besar.
Pekerjaan suaminya sebagai aktivis
sebuah LSM yang menangani
community development
mengharuskannya pergi ke pelosok-
pelosok. Karena itu, wajarlah jika
dalam seminggu Ratri harus
ditinggal pergi oleh suaminya minimal
selama tiga hari. Itu pun sudah
lumayan karena Ratri telah
memutuskan mengikuti suaminya
untuk tinggal di desa yang masih
berada di dalam wilayah kerja
suaminya. Dengan demikian,
perpisahan antara mereka berdua
dapat diminimimalkan.
Di desa itu, mereka menempati
sebuah rumah sederhana yang
disewa dari penduduk setempat.
Daerah yang mereka huni masih
cukup terbelakang dan belum
dimasuki oleh listrik. Suasana yang
sepi dan tetangga yang letaknya
cukup berjauhan sebenarnya cukup
membuat Ratri merasa tersiksa
namun apa hendak dikata. Sebagai
seorang istri, ia merasa wajib
mengikuti suaminya ke mana pun ia
pergi.
Saat-saat yang menyenangkan
tentu saja adalah ketika mereka
berdua saja di rumah mereka yang
terpencil itu dan melakukan
kegiatan suami istri. Maklumlah,
mereka baru saja menikah beberapa
bulan sebelumnya. Jadi boleh dikata
masih pengantin baru. Belum adanya
kehadiran anak-anak membuat
kegiatan seksual menjadi hiburan
utama mereka saat bersama-sama.
Sayangnya kegiatan itu tak dapat
mereka lakukan terlampau sering
disebabkan kesibukan tugas sang
suami.
Kebahagiaan rumah tangga mereka
tampaknya akan terus berlanjut,
sampai satu ketika datanglah ujian
menimpa diri Ratri. Tempat tinggal
mereka yang terpencil ternyata
sebenarnya merupakan tempat yang
cukup angker dan menyimpan
misteri-misteri gaib. Kejadian
berikut merupakan bukti hal
tersebut.
Malam itu, sekitar pukul delapan,
Ratri bersiap-siap untuk pergi tidur.
Di desa kecil, waktu seperti itu
sebenarnya sudah terbilang sangat
larut. Ia hanya sendirian saja di
rumah. Suaminya telah pergi pagi
tadi dan baru akan kembali esok
sorenya. Penerangan yang ada hanya
berasal dari dua buah lampu tempel
yang berbahan bakar minyak tanah.
Ratri mengenakan gaun tidurnya
yang berwarna putih. Senada dengan
warna kulitnya yang juga putih
bersih. Seperti biasa, ia mengunci
seluruh pintu termasuk pintu kamar
tidurnya. Setelah membersihkan
tubuh dan menyisir rambutnya, ia
menyiapkan tempat peraduannya.
Baru saja ia berada di pinggir
tempat tidur, tiba-tiba
dirasakannya seolah udara di dalam
kamar berubah menjadi dingin. Ratri
terdiam sejenak mengalami
perubahan yang mendadak itu. Tak
bisa dihindari, bulu tengkuknya
serasa seperti berdiri.
Sambil gemetar, matanya menyapu
seisi kamar. Penerangan yang ada
tak terlampau banyak. Karena itu ia
memicingkan matanya menatapi
pojok-pojok kamar yang gelap.
Sampai pada suatu pojok, entah
mengapa pandangan Ratri seperti
terhenti. Seolah ada sesuatu di
sana….
Ya, seperti ada sesuatu di sana…
Ratri tak yakin apa… tapi jantungnya
serasa berdebar-debar. Ia
menunggu, akankah terjadi sesuatu?
Dari dalam kegelapan, tiba-tiba
muncullah sesosok hewan besar
berkaki empat. Ratri terkejut dan
merinding. Dari manakah datangnya
makhluk itu? Saat itu ia berada di
dalam kamar tidur berukuran 4×4
meter yang tertutup rapat semua
pintu dan jendelanya. Ia sangat
yakin tak ada lubang yang terbuka
untuk masuk ke kamar itu, selain
lubang-lubang ventilasi yang
ukurannya sangat kecil.
Sosok makhluk itu semakin
mendekati ibu muda yang duduk
ketakutan di pinggir tempat tidur
itu. Makin lama, di bawah temaram
lampu tempel, makin jelaslah sosok
makhluk itu. Ternyata ia berwujud
seekor anjing raksasa berwarna
hitam legam. Ukuran tubuhnya lebih
besar daripada ukuran seorang laki-
laki dewasa normal. Sorot matanya
tajam berwarna kemerahan, seperti
sepasang mata setan…
Dari mulutnya yang dihiasi gigi-gigi
tajam, keluar geraman-geraman
halus diiringi air liur yang menetes
pelan.
Ketakutan yang sangat mencekam
meliputi diri ibu muda itu. Ternyata
ia tidak sendirian di dalam kamar
itu. Ada makhluk besar menakutkan
yang dapat muncul secara gaib.
Ratri yakin makhluk itu bukanlah
seekor anjing biasa. Mungkinkah ia
jin atau sebangsa makhluk gaib
lainnya yang menjaga rumah itu?
Sosok anjing hitam yang begitu
menakutkan itu kini tampak
mengancam persis di hadapannya.
Anehnya, kemudian seperti ada
sesuatu yang membisiki atau
mengilhami pikiran Ratri. Untuk
mengatasi ketakutannya, tangan ibu
muda itu perlahan menggapai tali
gaun tidurnya dan melepaskannya
dari pundaknya. Lalu diloloskannya
gaun tidurnya dari tubuhnya.
Semuanya itu seolah dibimbing oleh
suatu kekuatan gaib. Karena sambil
ketakutan, Ratri melakukan itu
secara perlahan-lahan. Sementara
itu matanya tetap mengawasi
anjing hitam raksasa yang ada di
hadapannya.
Kejadian aneh segera menyusul
tindakannya itu. Ternyata seiring
dicomotinya gaun tidur dari
tubuhnya, Ratri mulai merasakan
rasa takutnya perlahan sirna,
berganti dengan suatu perasaan
nyaman yang aneh dan tak
tergambarkan. Sampai ketika ibu
muda itu telah dalam kondisi bugil,
rasa takutnya pun hilang sama
sekali. Hanya saja, ia seolah terpaku
duduk di pinggir tempat tidur tanpa
bisa bangkit sama sekali.
Tubuhnya yang bugil serasa
merinding. Kini bukan karena
ketakutan ataupun kedinginan.
Melainkan seolah ada gairah yang
mengaliri sekujur tubuhnya. Dari
ujung kaki sampai ke ubun-ubun.
Seperti aliran listrik yang membawa
sensasi tersendiri.
Getaran itu semakin tinggi ketika
anjing siluman itu perlahan
mendekatinya. Tanpa terasa, sosok
hitam legam itu telah begitu dekat
dengannya. Ia kini berada di antara
kedua paha mulus ibu muda itu yang
seolah mengangkang begitu saja
membukakan jalan.
Kejadian selanjutnya sangat
mengejutkan dan tak pernah
dibayangkan sama sekali oleh ibu
muda yang cantik itu. Anjing itu
ternyata menjulurkan lidahnya yang
panjang dan mulai menjilati
selangkangan Ratri yang terbuka.
Ratri tersentak dan menjerit
karena kaget tapi seolah tak bisa
bergerak atau pun menolaknya.
Akhirnya dibiarkannya saja makhluk
itu melakukan kegiatannya selama
beberapa lama.
Efeknya tentu saja ibu muda itu
akhirnya merasakan kenikmatan
yang luar biasa. Gerakan-gerakan
lidah makhluk siluman itu begitu liar
mengaduk-aduk gua kenikmatan
yang ada di hadapannya. Tak lama,
selangkangan Ratri telah basah
kuyup. Ratri tak kuasa menahan
erangan-erangan yang otomatis
keluar dari mulutnya.
Pada puncaknya, Ratri merasakan
sekujur tubuhnya lemas seperti tak
bertulang. Nikmat yang luar biasa
menjalari sekujur tubuhnya. Sambil
mengerang panjang, badannya lalu
terhempas ke belakang ke tempat
tidur yang empuk. Pikiran dan
kesadarannya seolah melayang ke
awang-awang.
Selang beberapa saat, barulah Ratri
bisa mengendalikan kembali
kesadarannya. Perlahan, dengan
tangannya ia mampu mengangkat
badannya dari atas kasur.
Dilihatnya anjing setan itu masih
saja berdiri di dalam keremangan di
hadapannya. Lidahnya yang lebar dan
panjang tampak menjulur. Air liurnya
tampak menggantung dari mulutnya.
Tatapan matanya yang tajam
berwarna merah menyala saja yang
membuatnya jelas berbeda dari
seekor anjing biasa. Siluman itu
terus menatap tajam pada Ratri
yang baru saja bisa mengendalikan
diri sehabis mengalami orgasme.
Ibu muda itu jadi bingung akan apa
yang harus dilakukannya selanjutnya.
Tatapan mata siluman itu seakan
menyampaikan suatu makna
padanya. Ratri secara samar
sepertinya bisa menangkapnya, tapi
ia pun tak begitu yakin.
Karena anjing siluman itu diam saja,
Ratri lalu berinisiatif mengambil
posisi nungging dan bertumpu
dengan kedua punggung tangannya di
tempat tidur. Ia tak tahu pasti
mengapa ia melakukan hal itu.
Semuanya dilakukan secara naluriah
saja. Ibu muda itu lalu menunggu
dengan harap-harap cemas.
Sebentar kemudian, barulah ada
reaksi dari anjing siluman itu.
Legalah hatinya ketika anjing itu
tiba-tiba naik ke atas tempat tidur
lalu menaikkan kedua kaki depannya
ke pinggul Ratri dan
mencengkeramnya. Sementara kedua
pinggul mereka pun bersatu.
Ratri tak habis pikir bagaimana ia
bisa menyerahkan dirinya begitu
saja kepada makhluk itu. Akan
tetapi memang demikianlah
kejadiannya. Secara spontan,
terjadilah persetubuhan antara ibu
muda yang cantik dan makhluk
siluman berwujud anjing hitam itu.
Ratri merasakan sensasi yang
sangat berbeda dibandingkan bila
bersetubuh dengan suaminya sendiri
yang manusia. Bentuk dan perilaku
alat kelamin makhluk itu sendiri
sangat berbeda dari milik manusia.
Kejantanan makhluk itu terasa
semakin membesar dan membengkak
sewaktu telah berada di dalam
tubuhnya. Belum lagi suhunya yang
terasa begitu panas…
Ada satu lagi kejadian menarik yang
baru kali itu dialami Ratri. Setelah
anjing siluman itu mengalami
orgasme, rupanya ia tak dapat
begitu saja terpisah dari tubuh ibu
muda itu. Hal itu disebabkan alat
kelamin makhluk itu telah tumbuh
membesar di dalam tubuh Ratri
sehingga tak mudah untuk ditarik
begitu saja. Ratri sudah sering
melihat bagaimana kalau dua ekor
anjing kimpoi. Rupanya kini ia pun
dapat mengalaminya sendiri… Luar
biasa…
Setelah lima belas menit, ketika
kejantanan anjing siluman itu telah
cukup menciut, barulah tubuh
mereka berdua dapat terpisah.
Ratri merasakan kepuasan yang luar
biasa dari persetubuhan itu. Bukan
hanya sekali, melainkan serangkaian
orgasme telah didapatkannya selama
melakukan persetubuhan yang tabu
itu… Keletihan dan kenikmatan yang
menjadi satu akhirnya
mengantarkan ibu muda itu ke
dalam tidur yang lelap…
Ketika Ratri bangun keesokan
harinya, didapatinya bahwa anjing
siluman itu telah raib entah ke
mana. Sinar matahari tampak
menembus lubang ventilasi. Pintu
dan jendela pun masih rapi terkunci
dari dalam.
Apakah kejadian semalam hanya
mimpi? Rasanya tidak. Ratri
menemukan vaginanya basah oleh
cairan tubuhnya yang bercampur
dengan cairan mani makhluk itu.
Demikian pula seprai putih tempat
tidurnya basah kuyup dan acak-
acakan. Tidak, kejadian malam itu
benar-benar nyata…
Pagi itu Ratri segera membersihkan
tubuhnya dan mencuci seprainya
sambil tak habis-habisnya
memikirkan kejadian semalam. Ada
semacam perasaan takut yang
bercampur dengan perasaan rindu
dan penasaran.
Akhirnya, kejadian pada malam itu
terulang lagi pada malam-malam
berikutnya. Setiap kali suaminya
pergi bertugas, anjing siluman itu
pun muncul secara gaib ke kamar
tidur Ratri untuk menagih jatahnya…
Ratri pun senang saja melayani
kekasih barunya itu. Apalagi ia
sangat kesepian saat ditinggal pergi
sendirian oleh suaminya. Tak
terlintas dalam pikirannya rasa jijik
karena harus melayani makhluk gaib
yang berwujud seekor anjing. Yang
nyata terbayang adalah kenikmatan
luar biasa yang tidak didapatnya
dari suaminya sendiri.
Selang beberapa waktu, Ratri pun
mulai mengalami terlambat bulan.
Melalui pemeriksaan, akhirnya
dipastikan bahwa ibu muda itu
mengandung anaknya yang pertama.
Perutnya pun dari minggu ke minggu
semakin membuncit. Suaminya tentu
saja senang bukan main, walaupun
karena tuntutan tugasnya, tetap
saja ia harus sering meninggalkan
istrinya tercinta.
Anehnya, sejak saat itu, anjing
siluman itu seolah mulai jarang
mengunjungi Ratri. Bahkan akhirnya
jadi tak pernah sama sekali ketika
usia kandungannya telah menginjak
bulan ketujuh. Bagaimanapun, saat
itu kemampuan Ratri untuk
beraktivitas seksual pun mulai
terbatas. Kebutuhannya yang tak
terlampau banyak itu sudah bisa
dicukupi oleh suaminya sendiri
sehingga ketidakhadiran kekasih
gaibnya tak terlalu dirisaukannya.
Ratri pun semakin berhati-hati
dalam menjaga kandungannya. Apalagi
pemeriksaan dan kontrol secara
medis agak sulit didapatkan di
tempat seperti itu. Yang ada paling
hanya bidan atau dukun beranak.
Sayang sekali, kisah bahagia itu
kemudian harus berakhir ketika
pada bulan kesembilan kehamilannya,
Ratri mengalami suatu kejadian
misterius. Janin yang ada di dalam
kandungannya seolah raib tanpa
bekas. Pagi itu, ketika terbangun
dari tidurnya, ibu muda itu
merasakan sesuatu yang aneh pada
perutnya. Terkejutlah ia ketika
disadarinya bahwa perutnya yang
sedang hamil tua itu ternyata telah
kempes…
Ke manakah hilangnya kandungannya?
Peristiwa itu tentu saja
menggegerkan masyarakat di
sekitarnya. Ratri sampai jatuh sakit
selama beberapa hari karena
kejadian itu.
Akhirnya, dari hasil penerawangan
seorang paranormal di daerah itu,
diperkirakan bahwa janin yang ada
di dalam kandungan Ratri
sebenarnya adalah hasil dari
hubungannya dengan suatu makhluk
dari alam gaib. Ketika usia
kandungannya telah mencukupi, maka
bayi hasil hubungan itu pun diambil
secara gaib oleh ayah kandungnya
untuk dibawa ke alamnya.
Ratri dan suaminya tentu saja
terkejut dan sedih mendengarnya.
Untunglah suami Ratri sangat
pengertian dalam menghadapi
musibah yang menimpa keluarga
mereka dan tidak mengambil
tindakan yang negatif atau pun
sembrono. Dengan setia dihiburnya
istrinya yang tampak sangat
terpukul dengan kejadian itu.
Beberapa waktu kemudian, untuk
melupakan hal itu, Ratri dan
suaminya memilih untuk pindah dari
desa tempat mereka tinggal.
Kebetulan suaminya mendapatkan
pekerjaan yang lumayan di kota.
Di tempatnya yang baru mereka
pun memulai lagi kehidupannya dari
awal. Segala suka dan duka mereka
lewati bersama. Tak lama kemudian,
Ratri pun hamil kembali, kali ini
benar-benar oleh suaminya yang
sah. Karena sikap yang positiflah
akhirnya mereka dapat meraih
kembali kebahagiaan dalam kehidupan
berumah tangga. Empat tahun telah
berlalu sejak kejadian itu dan kini
keluarga mereka telah dikaruniai
dua orang putra-putri yang lucu-
lucu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda