Translate

Kamis, 17 Maret 2011

NIKMATNYA SELINGKUH DENGAN TETANGGA


Sudah bertahun-tahun kegiatan
ronda malam di lingkungan tempat
tinggalku berjalan dengan baik.
Setiap malam ada satu grup terdiri
dari tiga orang. Sebagai anak muda
yang sudah bekerja aku dapat
giliran ronda pada malam minggu.
Pada suatu malam minggu aku
giliran ronda. Tetapi sampai pukul
23.00 dua orang temanku tidak
muncul di pos perondaan. Aku tidak
peduli mau datang apa tidak, karena
aku maklum tugas ronda adalah
sukarela, sehingga tidak baik untuk
dipaksa-paksa. Biarlah aku ronda
sendiri tidak ada masalah.
Karena memang belum mengantuk,
aku jalan-jalan mengontrol kampung.
Biasanya kami mengelilingi rumah-
rumah penduduk. Pada waktu
sampai di samping rumah Pak Tadi,
aku melihat kaca nako yang belum
tertutup. Aku mendekati untuk
melihat apakah kaca nako itu
kelupaan ditutup atau ada orang
jahat yang membukanya. Dengan
hati-hati kudekati, tetapi ternyata
kain korden tertutup rapi. Kupikir
kemarin sore pasti lupa menutup
kaca nako, tetapi langsung menutup
kain kordennya saja. Mendadak aku
mendengar suara aneh, seperti
desahan seseorang. Kupasang telinga
baik-baik, ternyata suara itu
datang dari dalam kamar. Kudekati
pelan-pelan, dan darahku berdesir,
ketika ternyata itu suara orang
bersetubuh. Nampaknya ini kamar
tidur Pak Tadi dan istrinya. Aku
lebih mendekat lagi, suaranya
dengusan nafas yang memburu dan
gemerisik dan goyangan tempat
tidur lebih jelas terdengar. "Ssshh...
hhemm... uughh... ugghh, terdengar
suara dengusan dan suara orang
seperti menahan sesuatu. Jelas itu
suara Bu Tadi yang ditindih
suaminya. Terdengar pula bunyi
kecepak-kecepok, nampaknya penis
Pak Tadi sedang mengocok liang
vagina Bu Tadi. Aduuh, darahku naik
ke kepala, penisku sudah berdiri
keras seperti kayu. Aku betul-betul
iri membayangkan Pak Tadi
menggumuli istrinya. Alangkah
nikmatnya menyetubuhi Bu Tadi
yang cantik dan bahenol itu.
"Oohh, sshh buuu, aku mau keluar,
sshh.... ssshh.." terdengar suara Pak
Tadi tersengal-sengal. Suara
kecepak-kecepok makin cepat, dan
kemudian berhenti. Nampaknya Pak
Tadi sudah ejakulasi dan pasti
penisnya dibenamkan dalam-dalam ke
dalam vagina Bu Tadi. Selesailah
sudah persetubuhan itu, aku pelan-
pelan meninggalkan tempat itu
dengan kepala berdenyut-denyut dan
penis yang kemeng karena tegang
dari tadi.
Sejak malam itu, aku jadi sering
mengendap-endap mengintip kegiatan
suami-istri itu di tempat tidurnya.
Walaupun nako tidak terbuka lagi,
namun suaranya masih jelas
terdengar dari sela-sela kaca nako
yang tidak rapat benar. Aku jadi
seperti detektip partikelir yang
mengamati kegiatan mereka di sore
hari. Biasanya pukul 21.00 mereka
masih melihat siaran TV, dan
sesudah itu mereka mematikan
lampu dan masuk ke kamar
tidurnya. Aku mulai melihat situasi
apakah aman untuk mengintip
mereka. Apabila aman, aku akan
mendekati kamar mereka. Kadang-
kadang mereka hanya bercakap-
cakap sebentar, terdengar bunyi
gemerisik (barangkali memasang
selimut), lalu sepi. Pasti mereka
terus tidur. Tetapi apabila mereka
masuk kamar, bercakap-cakap,
terdengar ketawa-ketawa kecil
mereka, jeritan lirih Bu Tadi yang
kegelian (barangkali dia digelitik,
dicubit atau diremas buah dadanya
oleh Pak Tadi), dapat dipastikan
akan diteruskan dengan
persetubuhan. Dan aku pasti
mendengarkan sampai selesai.
Rasanya seperti kecanduan dengan
suara-suara Pak Tadi dan
khususnya suara Bu Tadi yang
keenakan disetubuhi suaminya.
Hari-hari selanjutnya berjalan
seperti biasa. Apabila aku bertemu
Bu Tadi juga biasa-biasa saja,
namun tidak dapat dipungkiri, aku
jadi jatuh cinta sama istri Pak Tadi
itu. Orangnya memang cantik, dan
badannya padat berisi sesuai dengan
seleraku. Khususnya pantat dan
buah dadanya yang besar dan bagus.
Aku menyadari bahwa hal itu tidak
akan mungkin, karena Bu tadi istri
orang. Kalau aku berani menggoda
Bu Tadi pasti jadi masalah besar di
kampungku. Bisa-bisa aku dipukuli
atau diusir dari kampungku. Tetapi
nasib orang tidak ada yang tahu.
Ternyata aku akhirnya dapat
menikmati keindahan tubuh Bu Tadi.
Pada suatu hari aku mendengar Pak
Tadi opname di rumah sakit,
katanya operasi usus buntu. Sebagai
tetangga dan masih bujangan aku
banyak waktu untuk menengoknya
di rumah sakit. Dan yang penting
aku mencoba membangun hubungan
yang lebih akrab dengan Bu Tadi.
Pada suatu sore, aku menengok di
rumah sakit bersamaan dengan
adiknya Pak Tadi. Sore itu, mereka
sepakat Bu Tadi akan digantikan
adiknya menunggu di rumah sakit,
karena Bu Tadi sudah beberapa hari
tidak pulang. Aku menawarkan diri
untuk pulang bersamaku. Mereka
setuju saja dan malah berterima
kasih. Terus terang kami sudah
menjalin hubungan lebih akrab
dengan keluarga itu.
Sehabis mahgrib aku bersama Bu
Tadi pulang. Dalam mobilku kami
mulai mengobrol, mengenai sakitnya
Pak Tadi. Katanya seminggu lagi
sudah boleh pulang. Aku mulai
mencoba untuk berbicara lebih
dekat lagi, atau katakanlah lebih
kurang ajar. Inikan kesempatan
bagus sekali untuk mendekatai Bu
Tadi.
"Bu, maaf yaa. ngomong-ngomong Bu
Tadi sudah berkeluarga sekitar 3
tahun kok belum diberi momongan
yaa", kataku hati-hati.
"Ya, itulah Dik Budi. Kami kan hanya
lakoni. Barangkali Tuhan belum
mengizinkan", jawab Bu Tadi.
"Tapi anu tho bu... anuu.. bikinnya
khan jalan terus." godaku.
"Ooh apa, ooh. kalau itu sih iiiya Dik
Budi" jawab Bu Tadi agak kikuk.
Sebenarnya kan aku tahu, mereka
setiap minggunya minmal 2 kali
bersetubuh dan terbayang kembali
desahan Bu Tadi yang keenakan.
Darahku semakin berdesir-desir. Aku
semakin nekad saja.
"Tapi, kok belum berhasil juga yaa
bu?" lanjutku.
"Ya, itulah, kami berusaha terus.
Tapi ngomong-ngomong kapan Dik
Budi kawin. Sudah kerja, sudah
punya mobil, cakep lagi. Cepetan
dong. Nanti keburu tua lhoo", kata
Bu Tadi.
"Eeh, benar nih Bu Tadi. Aku cakep
niih. Ah kebetulan, tolong carikan
aku Bu. Tolong carikan yang kayak
Ibu Tadi ini lhoo", kataku
menggodanya.
"Lho, kok hanya kayak saya. Yang
lain yang lebih cakep kan banyak.
Saya khan sudah tua, jelek lagi",
katanya sambil ketawa.
Aku harus dapat memanfaatkan
situasi. Harus, Bu tadi harus aku
dapatkan.
"Eeh, Bu Tadi. Kita kan nggak usah
buru-buru nih. Di rumah Bu Tadi
juga kosong. Kita cari makan dulu
yaa. Mauu yaa bu, mau yaa", ajakku
dengan penuh kekhawatiran jangan-
jangan dia menolak.
"Tapi nanti kemaleman lo Dik",
jawabnya.
"Aah, baru jam tujuh. Mau ya Buu",
aku sedikit memaksa.
"Yaa gimana yaa... ya deh terserah
Dik Budi. Tapi nggak malam-malam
lho." Bu Tadi setuju. Batinku
bersorak.
Kami berehenti di warung bakmi
yang terkenal. Sambil makan kami
terus mengobrol. Jeratku semakin
aku persempit.
"Eeh, aku benar-benar tolong
dicarikan istri yang kayak Bu Tadi
dong Bu. benar nih. Soalnya begini
bu, tapii eeh nanti Bu Tadi marah
sama saya. Nggak usaah aku
katakan saja deh", kubuat Bu Tadi
penasaran.
"Emangnya kenapa siih." Bu tadi
memandangku penuh tanda tanya.
"Tapi janji nggak marah lho." kataku
memancing. Dia mengangguk kecil.
"Anu bu... tapi janji tidak marah lho
yaa."
"Bu Tadi terus terang aku
terobsesi punya istri seperti Bu
tadi. Aku benar-benar bingung dan
seperti orang gila kalau memikirkan
Bu Tadi. Aku menyadari ini nggak
betul. Bu Tadi kan istri tetanggaku
yang harus aku hormati. Aduuh,
maaf, maaf sekali bu. aku sudah
kurang ajar sekali", kataku
menghiba. Bu Tadi melongo,
memandangiku. sendoknya tidak
terasa jatuh di piring. Bunyinya
mengagetkan dia, dia tersipu-sipu,
tidak berani memandangiku lagi.
Sampai selesai kami jadi berdiam-
diaman. Kami berangkat pulang.
Dalam mobil aku berpikir, ini sudah
terlanjur basah. Katanya laki-laki
harus nekad untuk menaklukkan
wanita. Nekad kupegang tangannya
dengan tangan kiriku, sementara
tangan kananku memegang setir. Di
luar dugaanku, Bu Tadi balas
meremas tanganku. Batinku
bersorak. Aku tersenyum penuh
kemenangan. Tidak ada kata-kata,
batin kami, perasaan kami telah
bertaut. Pikiranku melambung,
melayang-layang. Mendadak ada
sepeda motor menyalib mobilku. Aku
kaget.
"Awaas! hati-hati!" Bu Tadi menjerit
kaget.
"Aduh nyalib kok nekad amat siih",
gerutuku.
"Makanya kalau nyetir jangan
macam-macam", kata Bu tadi. Kami
tertawa. Kami tidak membisu lagi,
kami ngomong, ngomong apa saja.
Kebekuan cair sudah. Sampai di
rumah aku hanya sampai pintu
masuk, aku lalu pamit pulang.
Di rumah aku mencoba untuk tidur.
Tidak bisa. Nonton siaran TV, tidak
nyaman juga. Aku terus
membayangkan Bu Tadi yang
sekarang sendirian, hanya ditemani
pembantunya yang tua di kamar
belakang. Ada dorongan sangat kuat
untuk mendatangi rumah Bu Tadi.
Berani nggaak, berani nggak.
Mengapa nggak berani. Entah setan
mana yang mendorongku, tahu-tahu
aku sudah keluar rumah. Aku
mendatangi kamar Bu Tadi. Dengan
berdebar-debar, aku ketok pelan-
pelan kaca nakonya, "Buu Tadi, aku
Budi", kataku lirih. Terdengar
gemerisik tempat tidur, lalu sepi.
Mungkin Bu Tadi bangun dan takut.
Bisa juga mengira aku maling. "Aku
Budi", kataku lirih. Terdengar
gemerisik. Kain korden terbuka
sedikit. Nako terbuka sedikit.
"Lewat belakang!" kata Bu Tadi. Aku
menuju ke belakang ke pintu dapur.
Pintu terbuka, aku masuk, pintu
tertutup kembali. Aku nggak tahan
lagi, Bu Tadi aku peluk erat-erat,
kuciumi pipinya, hidungnya, bibirnya
dengan lembut dan mesra, penuh
kerinduan. Bu Tadi membalas
memelukku, wajahnya disusupkan ke
dadaku.
"Aku nggak bisa tidur", bisikku.
"Aku juga", katanya sambil
memelukku erat-erat.
Dia melepaskan pelukannya. Aku
dibimbingnya masuk ke kamar
tidurnya. Kami berpelukan lagi,
berciuman lagi dengan lebih
bernafsu. "Buu, aku kangen
bangeeet. Aku kangen", bisikku
sambil terus menciumi dan membelai
punggungnya. Nafsu kami semakin
menggelora. Aku ditariknya ke
tempat tidur. Bu Tadi
membaringkan dirinya. Tanganku
menyusup ke buah dadanya yang
besar dan empuk, aduuh nikmat
sekali, kuelus buah dadanya dengan
lembut, kuremas pelan-pelan. Bu
Tadi menyingkapkan dasternya ke
atas, dia tidak memakai BH. Aduh
buah dadanya kelihatan putih dan
menggung. Aku nggak tahan lagi,
kuciumi, kukulum pentilnya,
kubenamkan wajahku di kedua buah
dadanya, sampai aku nggak bisa
bernapas. Sementara tanganku
merogoh kemaluannya yang berbulu
tebal. Celana dalamnya kupelorotkan,
dan Bu Tadi meneruskan ke bawah
sampai terlepas dari kakinya.
Dengan sigap aku melepaskan sarung
dan celana dalamku. Penisku
langsung tegang tegak menantang.
Bu Tadi segera menggenggamnya
dan dikocok-kocok pelan dari ujung
penisku ke pangkal pahaku. Aduuh,
rasanya geli dan nikmat sekali. Aku
sudah nggak sabar lagi. Aku naiki
tubuh Bu Tadi, bertelekan pada
sikut dan dengkulku.
Kaki Bu Tadi dikangkangkannya
lebar-lebar, penisku dibimbingnya
masuk ke liang vaginanya yang
sudah basah. Digesek-gesekannya di
bibir kemaluannya, makin lama
semakin basah, kepala penisku
masuk, semakin dalam, semakin...
dan akhirnya blees, masuk semuanya
ke dalam kemaluan Bu Tadi. Aku
turun-naik pelan-pelan dengan
teratur. Aduuh, nikmat sekali.
Penisku dijepit kemaluan Bu Tadi
yang sempit dan licin. Makin cepat
kucoblos, keluar-masuk, turun-naik
dengan penuh nafsu. "Aduuh, Dik
Budi, Dik Budii... enaak sekali, yang
cepaat.. teruus", bisik Bu Tadi
sambil mendesis-desis. Kupercepat
lagi. Suaranya vagina Bu Tadi
kecepak-kecepok, menambah
semangatku. "Dik Budiii aku mau
muncaak... muncaak, teruus...
teruus", Aku juga sudah mau keluar.
Aku percepat, dan penisku merasa
akan keluar. Kubenamkan dalam-
dalam ke dalam vagina Bu Tadi
sampai amblaas. Pangkal penisku
berdenyut-denyut, spermaku
muncrat-muncrat di dalam vagina
Bu Tadi. Kami berangkulan kuat-
kuat, napas kami berhenti. Saking
nikmatnya dalam beberapa detik
nyawaku melayang entah kemana.
Selesailah sudah. Kerinduanku
tercurah sudah, aku merasa lemas
sekali tetapi puas sekali.
Kucabut penisku, dan berbaring di
sisinya. Kami berpelukan, mengatur
napas kami. Tiada kata-kata yang
terucapkan, ciuman dan belaian kami
yang berbicara.
"Dik Budi, aku curiga, salah satu
dari kami mandul. Kalau aku subur,
aku harap aku bisa hamil dari
spermamu. Nanti kalau jadi aku
kasih tahu. Yang tahu bapaknya
anakku kan hanya aku sendiri kan.
Dengan siapa aku membuat anak",
katanya sambil mencubitku. Malam
itu pertama kali aku menyetubuhi
Bu Tadi tetanggaku. Beberapa kali
kami berhubungan sampai aku kawin
dengan wanita lain. Bu Tadi
walaupun cemburu tapi dapat
memakluminya.
Keluarga Pak tadi sampai saat ini
hanya mempunyai satu anak
perempuan yang cantik. Apabila di
kedepankan, Bu Tadi sering menciumi
anak itu, sementara matanya
melirikku dan tersenyum-senyum
manis. Tetanggaku pada meledek Bu
Tadi, mungkin waktu hamil Bu Tadi
benci sekali sama aku. Karena
anaknya yang cantik itu mempunyai
mata, pipi, hidung, dan bibir yang
persis seperti mata, pipi, hidung,
dan bibirku.
Seperti telah anda ketahui
hubunganku dengan Bu Tadi istri
tetanggaku yang cantik itu tetap
berlanjut sampai kini, walaupun aku
telah berumah tangga. Namun dalam
perkawinanku yang sudah berjalan
dua tahun lebih, kami belum
dikaruniai anak. Istriku tidak hamil-
hamil juga walaupun penisku
kutojoskan ke vagina istriku siang
malam dengan penuh semangat.
Kebetulan istriku juga mempunyai
nafsu seks yang besar. Baru
disentuh saja nafsunya sudah naik.
Biasanya dia lalu melorotkan celana
dalamnya, menyingkap pakaian serta
mengangkangkan pahanya agar
vaginanya yang tebal bulunya itu
segera digarap. Di mana saja, di
kursi tamu, di dapur, di kamar
mandi, apalagi di tempat tidur, kalau
sudah nafsu, ya aku masukkan saja
penisku ke vaginanya. Istriku juga
dengan penuh gairah menerima
coblosanku. Aku sendiri terus
terang setiap saat melihat istriku
selalu nafsu saja deh. Memang
istriku benar-benar membuat
hidupku penuh semangat dan gairah.
Tetapi karena istriku tidak hamil-
hamil juga aku jadi agak kawatir.
Kalau mandul, jelas aku tidak.
Karena sudah terbukti Bu Tadi
hamil, dan anakku yang cantik itu
sekarang menjadi anak kesayangan
keluarga Pak Tadi. Apakah istriku
yang mandul? Kalau melihat fisik
serta haidnya yang teratur, aku
yakin istriku subur juga. Apakah aku
kena hukuman karena aku selingkuh
dengan Bu Tadi? aah, mosok. Nggak
mungkin itu. Apakah karena dosa?
Waah, mestinya ya memang dosa
besar. Tapi karena menyetubuhi Bu
Tadi itu enak dan nikmat, apalagi
dia juga senang, maka hubungan
gelap itu perlu diteruskan,
dipelihara, dan dilestarikan.
Untuk mengatur perselingkuhanku
dengan Bu Tadi, kami sepakat
dengan membuat kode khusus yang
hanya diketahui kami berdua. Apabila
Pak Tadi tidak ada di rumah dan
benar-benar aman, Bu Tadi
memadamkan lampu di sumur
belakang rumahnya. Biasanya lampu
5 watt itu menyala sepanjang
malam, namun kalau pada pukul
20.00 lampu itu padam, berarti
keadaan aman dan aku dapat
mengunjungi Bu Tadi. (Anda dapat
meniru caraku yang sederhana ini.
Gratis tanpa bayar pulsa telepon
yang makin mahal). Karena dari
samping rumahku dapat terlihat
belakang rumah Bu Tadi, dengan
mudah aku dapat menangkap tanda
tersebut. Tetapi pernah tanda itu
tidak ada sampai 1 atau 2 bulan,
bahkan 3 bulan. Aku kadang-kadang
jadi agak jengkel dan frustasi
(karena kangen) dan aku mengira
juga Bu Tadi sudah bosan denganku.
Tetapi ternyata memang
kesempatan itu benar-benar tidak
ada, sehingga tidak aman untuk
bertemu.
Pada suatu hari aku berpapasan
dengan Bu Tadi di jalan dan seperti
biasanya kami saling menyapa baik-
baik. Sebelum melanjutkan
perjalanannya, dia berkata, "Dik Budi,
besok malam minggu ada keperluan
nggak?"
"Kayaknya sih nggak ada acara
kemana-mana. Emangnya ada apa?"
jawabku dengan penuh harapan
karena sudah hampir satu bulan
kami tidak bermesraan.
"Nanti ke rumah yaa!" katanya
dengan tersenyum malu-malu.
"Emangnya Pak Tadi nggak ada?"
kataku. Dia tidak menjawab, cuma
tersenyum manis dan pergi
meneruskan perjalanannya. Walaupun
sudah biasa, darahku pun berdesir
juga membayangkan pertemuanku
malam minggu nanti.
Seperti biasa malam minggu adalah
giliran ronda malamku. Istriku sudah
tahu itu, sehingga tidak menaruh
curiga atau bertanya apa-apa kalau
pergi keluar malam itu. Aku sudah
bersiap untuk menemui Bu Tadi. Aku
hanya memakai sarung, (tidak
memakai celana dalam) dan kaos
lengan panjang biar agak hangat.
Dan memang kalau tidur aku tidak
pernah pakai celana dalam tetapi
hanya memakai sarung saja.
Rasanya lebih rileks dan tidak
sumpek, serta penisnya biar
mendapat udara yang cukup setelah
seharian dipepes dalam celana dalam
yang ketat.
Waktu menunjukkan pukul 22.00.
Lampu belakang rumah Bu Tadi
sudah padam dari tadi. Aku berjalan
memutar dulu untuk melihat situasi
apakah sudah benar-benar sepi dan
aman. Setelah yakin aman, aku
menuju ke samping rumah Bu Tadi.
Aku ketok kaca nako kamarnya.
Tanpa menunggu jawaban, aku
langsung menuju ke pintu belakang.
Tidak berapa lama terdengar kunci
dibuka. Pelan pintu terbuka dan aku
masuk ke dalam. Pintu ditutup
kembali. Aku berjalan beriringan
mengikuti Bu Tadi masuk ke kamar
tidurnya. Setelah pintu ditutup
kembali, kami langsung berpelukan
dan berciuman untuk menyalurkan
kerinduan kami. Kami sangat
menikmati kemesraan itu, karena
memang sudah hampir satu bulan
kami tidak mempunyai kesempatan
untuk melakukannya. Setelah itu, Bu
Tadi mendorongku, tangannya di
pinggangku, dan tanganku berada di
pundaknya. Kami berpandangan
mesra, Bu tadi tersenyum manis
dan memelukku kembali erat-erat.
Kepalanya disandarkan di dadaku.
"Paa, sudah lama kita nggak begini",
katanya lirih. Bu Tadi sekarang
kalau sedang bermesraan atau
bersetubuh memanggilku Papa.
Demikian juga aku selalu
membisikkan dan menyebutnya
Mama kepadanya. Nampaknya Bu
Tadi menghayati betul bahwa Nia,
anaknya yang cantik itu bikinan
kami berdua.
"Pak Tadi sedang kemana sih maa",
tanyaku.
"Sedang mengikuti piknik karyawan
ke Pangandaran. Aku sengaja nggak
ikut dan hanya Nia saja yang ikut.
Tenang saja, pulangnya baru besok
sore", katanya sambil terus
mendekapku.
"Maa, aku mau ngomong nih",
kataku sambil duduk bersanding di
tempat tidur. Bu Tadi diam saja
dan memandangku penuh tanda
tanya.
"Maa, sudah dua tahun lebih aku
berumah tangga, tetapi istriku
belum hamil-hamil juga. Kamu tahu,
mustinya secara fisik, kami tidak
ada masalah. Aku jelas bisa bikin
anak, buktinya sudah ada kan. Aku
nggak tahu kenapa kok belum jadi
juga. Padahal bikinnya tidak pernah
berhenti, siang malam", kataku agak
melucu. Bu Tadi memandangku.
"Pa, aku harus berbuat apa untuk
membantumu. Kalau aku hamil lagi,
aku yakin suamiku tidak akan
mengijinkan adiknya Nia kamu minta
menjadi anak angkatmu. Toh anak
kami kan baru dua orang nantinya,
dan pasti suamiku akan sayang
sekali. Untukku sih memang
seharusnya bapaknya sendiri yang
mengurusnya. Tidak seperti
sekarang, keenakan dia. Cuma bikin
doang, giliran sudah jadi bocah
orang lain dong yang ngurus",
katanya sambil merenggut manja.
Aku tersenyum kecut.
"Jangan-jangan ini hukuman buatku
ya maa, Aku dihukum tidak punya
anak sendiri. Biar tahu rasa",
kataku.
"Ya sabar dulu deh paa, mungkin
belum pas saja. Spermamu belum
pas ketemu sama telornya Rina
(nama istriku). Siapa tahu bulan
depan berhasil", katanya
menghiburku.
"Ya mudah-mudahan. Tolong didoain
yaa..."
"Enak saja. Didoain? Mustinya aku
kan nggak rela Papa menyetubuhi
Rina istrimu itu. Mustinya Papa kan
punyaku sendiri, aku monopoli. Nggak
boleh punya Papa masuk ke
perempuan lain kan. Kok malah
minta didoain. Gimana siih", katanya
manja dan sambil memelukku erat-
erat. Benar juga, mestinya kami ini
jadi suami-istri, dan Nia itu anak
kami.
"Maa, kalau kita ngomong-ngomong
seperti ini, jadinya nafsunya malah
jadi menurun lho. Jangan-jangan
nggak jadi main nih", kataku
menggoda.
"Iiih, dasar", katanya sambil
mencubit pahaku kuat-kuat.
"Makanya jangan ngomong saja.
Segera saja Mama ini diperlakukan
sebagaimana mestinya. Segera
digarap doong!" katanya manja.
Kami berpelukan dan berciuman lagi.
Tentu saja kami tidak puas hanya
berciuman dan berpelukan saja.
Kutidurkan dia di tempat tidur,
kutelentangkan. Bu Tadi mandah
saja. Pasrah saja mau diapain. Dia
memakai daster dengan kancing
yang berderet dari atas ke bawah.
Kubuka kancing dasternya satu per
satu mulai dari dada terus ke
bawah. Kusibakkan ke kanan dan ke
kiri bajunya yang sudah lepas
kancingnya itu. Menyembullah buah
dadanya yang putih menggunung (dia
sudah tidak pakai BH). Celana dalam
warna putih yang menutupi
vaginanya yang nyempluk itu aku
pelorotkan. Aku benar-benar
menikmati keindahan tubuh istri
gelapku ini. Saat satu kakinya
ditekuk untuk melepaskan celana
dalamnya, gerakan kakinya yang
indah, vaginanya yang agak terbuka,
aduh pemandangan itu sungguh
indah. Benar-benar membuatku
menelan ludah. Wajah yang ayu, buah
dada yang putih menggunung, perut
yang langsing, vagina yang nyempluk
dan agak terbuka, kaki yang indah
agak mengangkang, sungguh
mempesona. Aku tidak tahan lagi.
Aku lempar sarungku dan kaosku
entah jatuh dimana. Aku segera naik
di atas tubuh Bu Tadi. Kugumuli dia
dengan penuh nafsu. Aku tidak
peduli Bu Tadi megap-megap
keberatan aku tindih sepenuhnya.
Habis gemes banget, nafsu banget
sih.
"Uugh jangan nekad tho. Berat nih",
keluh Bu Tadi.
Aku bertelekan pada telapak
tanganku dan dengkulku. Penisku
yang sudah tegang banget aku
paskan ke vaginanya. Terampil
tangan Bu Tadi memegangnya dan
dituntunnya ke lubang vaginanya
yang sudah basah. Tidak ada
kesulitan lagi, masuklah semuanya
ke dalam vaginanya. Dengan penuh
semangat kukocok vagina Bu Tadi
dengan penisku. Bu Tadi semakin
naik, menggeliat dan merangkulku,
melenguh dan merintih. Semakin
lama semakin cepat, semakin naik,
naik, naik ke puncak.
"Teruuus, teruus paa.. sshh... ssh..."
bisik Bu Tadi
"Maa, aku juga sudah mau...
keluaarr",
"Yang dalam paa... yang dalamm.
Keluarin di dalaam paa... paa...
Adduuh paa nikmat banget paa",
jeritnya lirih yang merangkulku
kuat-kuat. Kutekan dalam-dalam
penisku ke vaginanyanya. Croot,
cruuut, crruut, keluarlah spermaku
di dalam rahim istri gelapku ini.
Napasku seperti terputus.
Kenikmatan luar biasa menjalar
kesuluruh tubuhku. Bu Tadi
menggigit pundakku. Dia juga sudah
mencapai puncak. Beberapa detik dia
aku tindih dan dia merangkul kuat-
kuat. Akhirnya rangkulannya
terlepas. Kuangkat tubuhku. Penisku
masih di dalam, aku gerakkan pelan-
pelan, aduh geli dan ngilu sekali
sampai tulang sumsum. Vaginanya
licin sekali penuh spermaku. Kucabut
penisku dan aku terguling di
samping Bu Tadi. Bu Tadi miring
menghadapku dan tangannya
diletakkan di atas perutku. Dia
berbisik, "Paa, Nia sudah cukup
besar untuk punya adik. Mudah-
mudahan kali ini langsung jadi ya
paa. Aku ingin dia seorang laki-laki.
Sebelum Papa tadi mengeluh Rina
belum hamil, aku memang sudah
berniat untuk membuatkan Nia
seorang adik. Sekalian untuk test
apakah Papa masih joos apa tidak.
Kalau aku hamil lagi berarti Papa
masih joosss. Kalau nanti pengin
menggendong anak, ya gendong saja
Nia sama adiknya yang baru saja
dibuat ini." Dia tersenyum manis.
Aku diam saja. menerawang jauh,
alangkah nikmatnya bisa
menggendong anak-anakku.
Malam itu aku bersetubuh lagi.
Sungguh penuh cinta kasih, penuh
kemesraan. Kami tuntaskan
kerinduan dan cinta kasih kami
malam itu. Dan aku menunggu
dengan harap-harap cemas, jadikah
anakku yang kedua di rahim istri
gelapku ini?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda