Translate

Jumat, 11 Maret 2011

SENTUHAN EROTIS TANTE YULI


Yuli, 29 tahun, adalah seorang ibu
rumah tangga dengan 2 orang anak
3 dan 5 tahun. Suaminya, Herman,
36 tahun, adalah karyawan dari
salah satu perusahaan swasta
besar di Bandung. Perawakan Yuli
sebetulnya biasa saja seperti
kebanyakan. Yang membuatnya
menarik adalah bentuk tubuhnya
yang sangat terawat. Buah dadanya
tidak terlalu besar, tapi enak untuk
dipandang, sesuai dengan
pinggangnya yang ramping dan
pinggulnya yang bulat.
Kehidupan rumah tangga mereka
sangat harmonis. Dengan 2 anak
yang sedang lucu-lucunya, ditambah
dengan posisi Herman yang cukup
tinggi di perusahaannya, membuat
mereka menjadi keluarga yang
cukup di hormati di lingkungan
kompleks mereka tinggal. Yuli pada
dasarnya adalah istri yang sangat
setia kepada suaminya. Tidak pernah
ada niat berkhianat terhadap
Herman dalam hati Yuli karena dia
sangat mencintai suaminya. Tapi ada
satu peristiwa yang menjadi awal
berubahnya cara berpikir Yuli
tentang cinta..
Suatu siang, Yuli sedang mengasuh
anaknya di depan rumah.
Dikarenakan kedua anaknya waktu
itu berlari jauh dari rumah, maka
Yuli langsung mengejar mereka. Tapi
tanpa disengaja, kakinya menginjak
sesuatu sampai akhirnya Yuli
terjatuh. Lututnya memar, agak
mengeluarkan darah. Yuli langsung
berjongkok dan meringis menahan
sakit. Pada waktu itu, Darmawan,
anak tetangga depan rumah Yuli
kebetulan lewat mau pulang ke
rumahnya. Ketika melihat Yuli
sedang jongkok sambil meringis
memegang lututnya, Darmawan
langsung lari ke arah Yuli.
"Kenapa tante?" tanya Darmawan.
"Aduh, lutut saya luka karena jatuh,
Wan..." ujar Yuli sambil meringis.
"Bantu saya berdiri, Wan..." kata
Yuli.
"Iya tante," kata Darmawan sambil
memegang tangan Yuli dan
dibimbingnya bediri.
"Wan, tolong bawa anak-anak saya
kemari.. Anterin ke rumah saya,
ya..." kata Yuli.
"Iya tante," kata Darmawan sambil
segera menghampiri anak-anak Yuli.
Sementara Yuli segera pulang ke
rumahnya sambil tertatih-tatih.
Waktu Darmawan mengantarkan
anak-anak Yuli ke rumahnya, Yuli
sedang duduk di kursi depan sambil
memegangi lututnya.
"Ada obat merah tidak, tante?"
tanya Darmawan.
"Ada di dalam, Wan," kata Yuli.
"Kita ke dalam saja..." kata Yuli lagi
sambil bangkit dan tertatih-tatih
masuk ke dalam rumah.
Darmawan dan anak-anaknya
mengikuti dari belakang.
"Ma, Donny ngantuk," kata anaknya
kepada Yuli.
"Tunggu sebentar ya, Wan. Saya
mau antar mereka dulu ke kamar.
Sudah waktunya anak-anak tidur
siang," kata Yuli sambil bangkit dan
tertatih-tatih mengantar anak-
anaknya ke kamar tidur.
Setelah mengantar mereka tidur,
Yuli kembali ke tengah rumah.
"Mana obat merahnya, tante?"
tanya Darmawan.
"Di atas sana, Wan..." kata Yuli
sambil menunjuk kotak obat.
Darmawan segera bangkit dan
menuju kotak obat untuk mengambil
obat merah dan kapas. Tak lama
Darmawan segera kembali dan mulai
mengobati lutut Yuli.
"Maaf ya, tante.. Saya lancang,"
kata Darmawan.
"Tidak apa-apa kok, Wan. Tante
senang ada yang menolong," kata
Yuli sambil tersenyum.
Darmawan mulai memegang lutut
Yuli dan mulai memberikan obat
merah pada lukanya.
"Aduh, perih..." kata Yuli sambil agak
menggerakkan lututnya.
Secara bersamaan rok Yuli agak
tersingkap sehingga sebagian paha
mulusnya nampak di depan mata
Darmawan. Darmawan terkesiap
melihatnya. Tapi Darmawan pura-
pura tak melihatnya. Tapi tetap
saja paha mulus yuli menggoda
mata Darmawan untuk melirik
walau kadang-kadang. Hati
Darmawan agak berdebar.. Biasanya
dia hanya bisa melihat dari kejauhan
saja lekuk-lekuk tubuh Yuli. Atau
kadang-kadang hanya kebetulan saja
melihat Yuli memakai celana pendek.
Darmawan biasanya hanya bisa
membayangkan saja tubuh Yuli
sambil onani. Tapi kini, di depan
mata sendiri, paha mulus Yuli
sangat jelas terlihat. Yuli sepertinya
sadar kalau mata Darmawan
sesekali melirik ke arah pahanya.
Segera Yuli merapikan duduknya dan
juga menutup pahanya.
Darmawanpun sepertinya terkesima
dengan sikap Yuli tersebut.
Darmawan menjadi malu sendiri..
"Sudah saya berikan obat merah,
tante..." kata Darmawan.
"Iya, terima kasih," kata Yuli sambil
tersenyum.
"Sekarangsudah mulai tidak terasa
sakit lagi," ujar Yuli lagi sambil
tetap tersenyum.
Darmawan, 16 tahun, adalah anak
tetangga depan rumah Yuli. Masih
duduk di bangku SMP kelas 3.
Seperti kebanyakan anak laki-laki
tanggung lainnya, Darmawan adalah
sosok anak laki-laki yang sudah
mulai mengalami masa puber.
"Kenapa kamu nunduk terus, Wan?"
tanya Yuli.
"Tidak apa-apa, tante..." ujar
Darmawan sambil sekilas menatap
mata Yuli lalu menunduk lagi sambil
tersenyum malu.
"Ayo, ada apa?" tanya Yuli lagi
sambil tersenyum.
"Anu, tante.. Maaf, mungkin tadi
sempat marah karena tadi saya
sempat melihat secara tidak
sengaja..." kata Darmawan sambil
tetap menunduk.
"Lihat apa?" tanya Yuli pura-pura
tidak mengerti.
"Lihat.. Mm.. Lihat ini tante," kata
Darmawan sambil tangannya
mengusap-ngusap pahanya sendiri.
Yuli tersenyum mendengarnya.
"Tidak apa-apa kok, Wan," kata Yuli.
"Kan hanya melihat.. Bukan
memegang," kata Yuli lagi sambil
tetap tersenyum.
"Lagian, saya tidak keberatan kok
kamu melihat paha tante tadi,"
kata Yuli lagi sambil tetap
tersenyum.
"Kamu kan tadi sedang menolong
saya memberikan obat," kata Yuli.
"Benar tante tidak marah?" tanya
Darmawan sambil menatap Yuli.
Yuli menggelengkan kepalanya sambil
tetap tersenyum. Darmawanpun jadi
ikut tersenyum.
"Tante sangat cantik kalau
tersenyum," kata Darmawan mulai
berani.
"Ihh, kamu tuh masih kecil sudah
pintar merayu..." kata Yuli.
"Saya berkata jujur loh, tante,"
kata Darmawan lagi.
"Kamu sudah makan, Wan?" tanya
Yuli.
"Belum tante. Saya pulang dari
rumah teman tadi belum makan,"
kata Darmawan.
"Makan disini saja, ya.. Temani saya
makan siang," ajak Yuli.
"Baik tante, terima kasih," kata
Darmawan.
Mereka menikmati makan siang di
meja makan bulat kecil. Ketika
sedang menikmati makan, tanpa
sengaja kaki Darmawan menyentuk
kaki Yuli. Darmawan kaget, lalu
segera menarik kakinya.
"Maaf tante, saya tidak sengaja,"
kata Darmawan.
"Tidak apa-apa kok, Wan..." kata Yuli
sambil matanya nenatap Darmawan
dengan pandangan yang berbeda.
Ketika kaki Darmawan menyentuh
kakinya, seperti terasa ada sesuatu
yang berdesir dari kaki yang
tersentuh sampai ke hati. Yuli
merasakan sesuatu yang lain akan
kejadian tak sengaja itu.. Tiba-tiba
Yuli merasakan ada sesuatu
keinginan tertentu muncul yang
membuat perasaannya tidak
menentu. Sentuhan kaki Darmawan
terasa begitu hangat dan
membangkitkan suatu perasaan
aneh..
"Kamu sudah punya pacar, Wan?"
tanya Yuli sambil menatap
Darmawan.
"Belum tante," kata Darmawan
sambil tersenyum.
"Lagian saya tidak tahu caranya
mendapatkan perempuan," ujar
Darmawan lagi sambil tetap
tersenyum. Yulipun ikut tersenyum.
"Pernah tidak kamu punya keinginan
tertentu terhadap perempuan?"
tanya Yuli lagi.
"Keinginan apa tante?" tanya
Darmawan. Yuli tersenyum.
"Kita habiskan dulu makannya. Nanti
kita bicara..." kata Yuli.
Selesai makan, mereka duduk-duduk
di ruang tengah.
"Kamu ada sesuatu yang harus
diselesaikan di rumah tidak saat
ini?" tanya Yuli.
"Tidak ada, tante," kata Darmawan.
"Tadi tante mau tanya apa?" kata
Darmawan penasaran.
"Begini, apakah kamu suka kepada
wanita tertentu? Maksud saya
suka kepada tubuh wanita?" tanya
Yuli.
"Kita bicara jujur saja, ya.. Saya
tidak akan bicara pada siapa-siapa
kok," kata Yuli lagi.
"Kamu juga mau kan jaga rahasia
pembicaraan kita?" kata Yuli lagi.
"Iya, tante," kata Darmawan.
"Kalau begitu jawablah pertanyaan
tante tadi..." kata Yuli sambil
tersenyum.
"Ya, saya suka melihat perempuan
yang tubuhnya bagus. Saya juga
suka tante karena tante cantik dan
tubuhnya bagus," kata Darmawan
tanpa ragu.
"Maksudnya tubuh bagus apa,"
tanya Yuli lagi. Darmawan agak ragu
untuk menjawab.
"Ayolah..." kata Yuli sambil
memegang tangan Darmawan.
Tangan Darmawan bergetar.. Yuli
tersenyum.
"Mm.. Saya pernah.. Pernah lihat
majalah Playboy, juga.. Juga.. Juga
saya pernah lihat VCD porno.. Mm..
Mm.. Saya lihat banyak perempuan
tubuhnya bagus..." kata Darmawan
dengan nafas tersendat.
"Oh, ya? Di VCD itu kamu lihat apa
saja," kata Yuli pura-pura tidak
tahu, sambil terus menggenggam
tangan Darmawan yang terus
gemetar.
"Mm.. Lihat orang sedang
begituan..." kata Darmawan.
"Begituan apa?" tanya Yuli lagi.
"Ya, lihat orang sedang
bersetubuh..." kata Darmawan.
Yuli kembali tersenyum, tapi dengan
nafas yang agak memburu menahan
sesuatu di dadanya.
"Kamu suka tidak film begitu?"
tanya Yuli.
"Iya suka, tante?" kata Darmawan
sambil menunduk.
"Mau coba seperti di film, tidak?"
kata Yuli.
Darmawan diam sambil tetap
menunduk. Tangannya makin
gemetar. Yuli mendekatkan tubuhnya
ke tubuh Darmawan. Wajahnya di
dekatkan ke wajah Darmawan.
"Mau tidak?" tanya Yuli setengah
berbisik.
Darmawan tetap diam dan gemetar.
Wajahnya agak tertunduk. Yuli
membelai pipi anak tanggung
tersebut. Lalu diciumnya pipi
Darmawan. Darmawan tetap diam
dan makin gemetar. Yuli terus
menciumi wajah Darmawan, lalu
akhirnya dilumatnya bibir
Darmawan.. Lama-lama
Darmawanpun mulai terangsang
nafsunya. Dengan pasti dibalasnya
ciuman Yuli.
"Masukkan tangan kamu ke sini..."
kata Yuli dengan nafas memburu
sambil memegang tangan Darmawan
dan mengarahkannya ke dalam baju
Yuli.
"Masukkan tangan kamu ke dalam
BH saya, Wan.. Pegang buah dada
saya," kata Yuli sambil tangannya
meremas kontol Darmawan dari
luar celana.
Sementara tangan Darmawan sudah
masuk ke dalam BH Yuli dan mulai
meremas-remas buah dada Yuli.
"Mmhh.. Terus sayang..." kata Yuli.
"Tangan saya pegal, tante..." kata
Darmawan polos.
"Uhh.. Kita pindah ke kamar, yuk..."
ajak Yuli sambil menarik tangan
Darmawan. Sesampainya di dalam
kamar..
"Buka pakaian kamu, Wan..." ujar
Yulipun melepas seluruh pakaiannya
sendiri.
"Iya, tante..." kata Darmawan.
Yuli setelah melepas seluruh
pakaiannya, segera naik dan
telentang di tempat tidur.
Darmawan terkesima melihat tubuh
telanjang Yuli. Seumur-umur
Darmawan, baru kali ini dia melihat
tubuh telanjang wanita di depan
mata. Apalagi wanita tersebut
adalah wanita yang sering di
bayangkannya bila onani. Kontol
Darmawan langsung tegang dan
tegak..
"Naik sini, Wan..." kata Yuli.
"Iya, tante..." kata Darmawan.
"Sini naik ke atas tubuh saya..."
kata Yuli sambil mengangkangkan
pahanya.
Darmawan segera menaiki tubuh
telanjang Yuli. Yuli langsung melumat
bibir Darmawan dan Darmawanpun
langsung membalasnyanya dengan
hebat. Sementara satu tangan
Darmawan meremas buah dada Yuli
yang tidak terlalu besar. Sementara
kontol Darmawan sesekali mengenai
belahan memek Yuli.
"Ohh.. Mmhh.. Terus remas.. Terus..."
desah Yuli sambil memegang tangan
Darmawan yang sedang meremas
buah dadanya, dan tangan mereka
bersamaan meremas buah dadanya.
"Ohh.. Sshh..." kata Yuli.
Darmawanpun dengan bernafsu
terus meremas dan menciumi serta
menjilati buah dada Yuli.
"Wan, jilati memek ya, sayang..."
pinta Yuli.
"Tapi saya tidak tahu caranya,
tante," kata Darmawan polos.
"Sekarang dekatkan saja wajah
kamu ke memek, lalu kamu jilati
belahannya..." kata Yuli setengah
memaksa dengan menekan kepala
Darmawan ke arah memeknya.
Darmawan langsung menuruti
permintaan Yuli. Dijilatinya belahan
memek Yuli sampai tubuh Yuli
mengejang menahan nikmat.
"Ohh.. Mm.. Ohh.. Terus jilat,
sayang..." desah Yuli sambil meremas
kepala Darmawan.
"Wan, kamu jilati bagian atas sini..."
kata Yuli sambil jarinya mengelus
kelentitnya.
Lalu lidah Darmawan menjilati habis
kelentit Yuli.. Yuli kembali
menggelepar merasakan nikmat
yang teramat sangat.
"Teruss.. Sshh.. Ohh..." desah Yuli
sambil badannya semakin mengejang.
Pahanya rapat menjepit kepala
Darmawan. Sementara tangannya
semakin menekan kepala Darmawan
ke memeknya. Tak lama..
"Ohh..." desah Yuli panjang. Yuli
orgasme.
"Sudah, Wan.. Naik sini," kata Yuli.
Darmawan lalu menaiki tubuh Yuli.
Yuli lalu mengelap mulut Darmawan
yang basah oleh cairan memeknya.
Yuli tersenyum, lalu mengecup bibir
Darmawan.
"Mau tidak kontol kamu saya hisap,"
kata Yuli.
"Mau tante," kata Darmawan
bersemangat.
"Bangkitlah.. Sinikan kontol kamu,"
kata Yuli sambil tangannya meraih
kontol Darmawan yang tegang dan
tegak.
Darmawan lalu mengangkangi wajah
Yuli. Yuli segera mengulum kontol
Darmawan. Tidak hanya itu, kontol
Darmawan lalu dijilat, dihisap, lalu
dikocoknya silih berganti. Darmawan
tubuhnya mengejang menahan rasa
nikmat yang teramat sangat.
Tangannya berpegangan pada
pinggiran ranjang.
"Ohh.. Tantee.. Enaakk..." jerit kecil
Darmawan sambil memompa
kontolnya di mulut Yuli.
"Masukkin ke memek, sayang..." kata
Yuli setelah dia beberapa lama
menghisap kontol Darmawan.
Darmawan lalu mengangkangi Yuli.
Sementara tangan Yuli memegang
dan membimbing kontol Darmawan
ke lubang memeknya.
"Ayo tekan sedikit, sayang..." kata
Yuli.
Darmawan berusaha menekan
kontolnya ke lubang memek Yuli
sampai akhirnya.. Bless.. Bless..
Bless.. Kontol Darmawan berhasil
masuk dan mulai memompa memek
Yuli. Darmawan merasakan suatu
kenikmatan yang tiada tara pada
batang kontolnya.
"Bagaimana rasanya, Wan?" tanya
Yuli sambil tersenyum dan
menggoyang pantatnya.
"Ohh.. Sangat enakk, tanttee..." kata
Darmawan tersendat sambil
memompa kontolnya keluar masuk
memek Yuli.
Yuli tersenyum.. Setelah beberapa
lama memompa kontolnya, tiba-tiba
tubuh Darmawan mengejang.
Gerakannya makin cepat. Yuli karena
sudah mengerti langsung meremas
pantat Darmawan dan
menekankannya ke memeknya. Tak
lama.. Crott.. Croott.. Croott..
Croott..
"Ohh.. Hohh..." desah Darmawan.
Tubuhnya lemas dan lunglai di atas
tubuh Yuli.
"Udah keluar? Bagaimana rasanya?"
tanya tante Yuli sambil memeluk
Darmawan.
"Sangat enak, tante..." kata
Darmawan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda