Translate

Sabtu, 23 April 2011

DERITA PRESENTER TV MELIPUT SKANDAL KORUPSI bagian 1


Suasana di kantor bupati benar-
benar tegang. Beberapa petugas
berseragam safari hilir mudik dan
berjaga di beberapa tempat. Wajah
mereka yang kaku cukup untuk
menggambarkan setegang apa
situasi di tempat itu. Beberapa
tamu yang lewat diarahkan kd
tempat lain, seolah mencegah
mereka untuk memasuki area
tertentu. Meski begitu sayup-sayup
masih terdengar suara teriakan-
teriakan panas dari sebuah ruangan
yang tertutup rapat, yang pintunya
dijaga oleh dua sekuriti berwajah
keras.
Di dalam ruangan, beberapa orang
berpakaian safari duduk berhadapan
pada sebuah meja besar. Salah satu
dari mereka, yang duduk ditempat
paling ujung yang biasanya ditempati
oleh pemimpin rapat, terlihat
terengah-engah dengan wajah
merah padam. Orang itu, pria paruh
baya agak gemuk dengan rambut
tipis beruban, menyeka wajahnya
yang berminyak dengan sapu tangan,
matanya yang melotot merah
menunjukkan kalau dia sedang
marah.
"Instruksi dari Bapak Bupati kan
sudah jelas!" pria itu membentak
sambil menggebrak meja. Orang
yang ada di sebelahnya berjengit
menjauh.
"Maaf Pak ajudan.." salah satu staf
yang duduknya paling dekat mencoba
menjawab. "Kita kecolongan, saya
sendiri heran dari mana mereka
bisa tahu."
Pria yang disebut ajudan itu
melotot ke arah staf tadi.
"Lalu buat apa kamu dibayar?" dia
membentak lagi. Staf itu langsung
mengkeret lagi.
"Saya tidak mau tahu! Instruksi Pak
Bupati sudah jelas. Reporter itu
harus dihentikan."
Rapat hari itu bubar tanpa ada
keputusan pasti. Si Ajudan terlihat
sibuk menerima panggilan lewat
ponselnya, dia berjalan mondar-
mandir di ruangan itu sambil
bergumam tidak jelas.
Semua itu berawal dari sebuah
berita koran lokal yang
menyebutkan bahwa Pak bupati
telah melakukan korupsi dengan
cara menggelapkan pendapatan asli
daerah. Jumlahnya tidak tanggung-
tanggung, mencapai triliunan rupiah.
Tidak mengherankan. Sebagai bupati
di Kalimantan yang kaya akan
sumber daya alam, tentu
pendapatan daerahnya bisa mencapai
puluhan triliun per tahun.
Celakanya, berita itu tercium oleh
tim dari MetroTV yang memang
sangat jeli dalam mendapatkan
berita-berita semacam itu. Kalau
berita itu tercium sampai ke pusat,
maka bisa dipastikan hampir seluruh
pejabat daerah tersebut bakal
masuk penjara. Hal itulah yang
sangat ditakuti oleh sang bupati.
Sebagai penguasa daerah yang kaya-
raya, bupati di sana ibarat raja,
perintahnya sangat dijunjung tinggi.
Mengusik bupati sama dengan cari
mati.
***
Prita Laura memandang ke arah
jendela untuk melepaskan
ketegangan matanya. Perjalanan kali
ini terasa sangat membosankan.
Sudah berjam-jam lamanya dia
duduk di mobil. Sopir penjemputnya
bilang perjalanannya memakan
waktu delapan jam, masih belum
ditambah perjalanan lewat Sungai
Kapuas yang juga tidak sebentar.
Sebagai reporter, Prita sering
melakukan perjalanan jauh, tapi
belum pernah Prita mengalami
perjalanan yang selama dan
semembosankan ini.
Di sebelahnya, Frida Lidwina tampak
sama bosannya dengan dia. Wajah
Frida yang putih terlihat seperti
tersaput kabut tebal. Earphone
putih yang menempel di telinganya
beberapa kali dimain-mainkan hanya
sekedar untuk menyibukkan
tangannya. Musik dari MP3 player
yang digenggamnya sudah tidak
sepenuhnya dia nikmati.
Frida menoleh ke arah Prita, pada
saat bersamaan Prita juga menoleh
ke arahnya. Keduanya saling
berpandangan sambil nyengir.
"Kenapa? Bosen?" tanya Prita
pendek.
"Iya nih. Gue bosen banget." Frida
menjawab sambil tersenyum. Giginya
yang putih rata tampak kontras
dengan bibirnya yang merah seksi.
"Tenang aja." Prita melihat ke jam
tangan Cartiernya. "Elo masih punya
waktu tiga jam lagi buat bosen."
"Konyol.." Frida tertawa lepas.
Stres perjalanannya sedikit
berkurang. Prita memang orangnya
lucu. Meski pendiam, tapi spontan
dan komentar-komentarnya kadang
tak terduga.
"Padahal setelah ini masih harus
lewat Sungai Kapuas kan?" tanya
Frida.
"Yup." jawab Prita pendek.
"Berapa lama?"
"Sekitar empat sampai lima jam
katanya.." Prita menjawab ringan.
Frida membelalakkan matanya yang
indah dengan tatapan kaget.
Perjalanan terus berlanjut tanpa
insiden berarti, kecuali jika
guncangan keras saat mobil
melindas batu, yang membuat Frida
terlempar dari kursinya bisa
dihitung sebagai insiden. Mereka
akhirnya sampai di desa terakhir
yang bisa dijangkau lewat darat.
Desa itu berada tepat di tepi
Sungai Kapuas yang lebar. Daerah
yang mereka tuju terletak sekitar
lima jam ke arah hilir menggunakan
perahu motor.
Prita berdiri dengan bertolak
pinggang, menatap ke arah sungai
lebar yang ada di hadapannya. Agak
ngeri juga Prita memandangnya,
mengingat dirinya tidak pandai
berenang. Bagaimana kalau
tenggelam, pikirnya.
"Bengong aja." tegur Mas Teguh,
salah satu dari dua juru kamera
yang mendampingi Prita dan Frida.
"Bantuin angkat nih!" Mas Teguh
menyodorkan tas besar berisi kaset
VCR. Prita memonyongkan bibirnya
mencibir lucu. Sementara Frida dan
satu juru kamera yang lain terlihat
berbicara dengan salah satu
penduduk lokal.
Pria yang diajak bicara oleh Frida
itu tidak terlalu tinggi, bahkan bisa
dibilang pendek. Tingginya kurang
dari sebahunya Frida. Meski begitu
tubuhnya yang legam terlihat kekar,
tato bermotif tribal menghiasi
lengan kirinya yang berotot.
Wajahnya keras, dihiasi kumis yang
tumbuh jarang-jarang. Rambutnya
agak panjang dan berantakan.
Segores bekas luka memanjang di
pipi kirinya membuat wajahnya
seperti terbelah jadi dua.
Prita, yang melihat Frida memberi
isyarat, segera mendatangi mereka.
"Ini pemandu kita." kata Frida
sambil menunjuk ke arah pria yang
tadi diajaknya bicara.
"Herman." pria itu menjabat tangan
Prita yang lembut, cengkeramannya
seperti ingin meremukkan jari
tangam Prita yang halus.
"Prita Laura." jawab Prita sambil
meringis, kemudian memegangi
tangannya sambil mengeluh
kesakitan.
"Oh, maaf." Herman berujar cepat,
meski begitu ucapannya terdengar
datar dan tidak tulus. Prita hanya
mengangguk dan nyengir kecil.
"Berapa dia minta?" Prita berbisik
pada Frida sambil menarik Frida
menjauh.
"Empat." jawab Frida pendek.
"Empat ratus?" Prita mengangkat
alis. "Enggak kemahalan?"
"Siapa bilang empat ratus?" Frida
menjawab dengan nada jengkel.
"Empat juta."
"Empat juta? Gila.!" Prita
meninggikan suaranya. "No way!
Nggak bisa!"
"Sayangnya cuma mereka yang ada."
kata Frida. Keduanya terdiam
selama beberapa lama.
"Aneh.." Prita berujar datar.
"Aneh apanya?"
"Begitu banyak orang di desa ini,
apa mungkin cuma dia pemandu di
sini?" terang Prita.
"Gue nggak tahu." Frida hanya
mengangkat bahu.
Mereka menyusuri Kapuas dengan
menggunakan perahu motor. Herman
membawa tiga orang temannya
sesama pemandu. Masing-masing
memperkenalkan diri sebagai Gayong,
Sam, dan Eddy. Gayong adalah
seorang peranakan suku asli
pedalaman. Badannya tegap dengan
wajah mirip orang cina, tapi
kulitnya hitam terbakar. Sam
berbadan gempal dan berwajah
seperti orang mengantuk, usianya
diatas 40 an, kantong matanya
menggelambir besar, pipinya gemuk
tapi kendor. Sementara Eddy, tidak
sesuai dengan namanya, wajahnya
lebih mirip orang bego yang melongo
terus menerus. Giginya ompong di
beberapa tempat. Hobinya mengisap
rokok kemenyan yang asapnya bisa
membuat pusing siapapun yang
menghirupnya.
Untungnya, perjalanan lewat sungai
tidaklah semembosankan yang
dibayangkan oleh Prita dan Frida.
Sepanjang perjalanan yang mereka
lihat adalah pepohonan hijau rindang
di sisi kiri dan kanan sungai.
Seringkali mereka melihat beberapa
satwa seperti burung atau
kawanan kera bergerak di sela-sela
pepohonan. Sementara itu di bagian
belakang kabin kapal terlihat Gayong,
Sam dan Eddy sedang belajar
mengoperasikan VCR portabel. Mas
Teguh mengajari mereka.
"Sebenarnya nggak sulit." kata Mas
Teguh. "Ini switch ON OFF, ini casing
tempat kaset ini zoom dan
adjustment switch.." Teguh
menunjuk beberapa bagian VCR.
Ketiga pemandu itu mengangguk
paham. Mereka kemudian mencoba
mengambil beberapa snapshot,
diantaranya menyorot Prita yang
sedang bengong di dekat jendela.
Suasana yang sejuk ditambah angin
yang bertiup leluasa membuat hawa
kantuk menyebar dengan cepat.
Herman dan ketiga temannya
berkumpul agak terpisah sambil
menikmati semacam minuman
tradisional yang mereka bawa.
"Apa itu Pak Herman?" tanya Prita
yang tertarik pada minuman
berwarna kuning keruh yang
dikemas dalam botol air mineral
besar.
"Oh. Ini tuak manis." Herman
mengangkat gelas plastik di
tangannya. "Dari campuran air nira
dan tape. Tapi nggak bikin mabuk
kalau sedikit." Herman buru-buru
menambahkan saat melihat ekspresi
Prita.
"Non Prita mau?" tanya Herman
yang tanpa menunggu jawaban dari
Prita langsung menuangkan tuak
manis itu ke dalam empat gelas
plastik yang tersedia di dekat
mereka. Lalu bersama-sama,
Herman dan Prita membawa empat
gelas tuak itu ke rombongan Prita.
"Apa ini Prit?" tanya Frida sambil
mengamati isi gelas dengan tatapan
bertanya-tanya.
"Minuman tradisional daerah sini
katanya." Prita menjawab. "Tuak."
"Bikin mabuk dong." sela Frida.
"Nggak, kalau minumnya cuma
segelas dua gelas." Herman
mendahului. "kami sering minum ini.
Saya jamin nggak bikin mabuk."
Prita mengangkat bahu melihat
ekspresi Frida dan teman-temannya.
Di belakang, Gayong, Eddy dan Sam
terdengar tertawa-tawa sambil
bicara dalam bahasa daerah dengan
pengucapan yang cepat.
Akhirnya setelah diyakinkan oleh
Herman kalau minuman tradisional
itu tidak memabukkan, Prita dan
teman-temannya mencicipi minuman
itu.
"Rasanya seperti air tape.." kata
Frida sambil mencecap lidahnya.
"Agak kecut ya.?" Prita
menambahkan. Beberapa detik
kemudian tubuhnya mulai bereaksi.
Minuman itu membuat perutnya
menghangat, seolah ada yang
menyalakan api di dalam perutnya.
Dalam sekejap hawa hangat itu
langsung menyebar ke seluruh
tubuhnya, membuat Prita seolah
merasa ringan sekali, seolah Prita
merasa tubuhnya melayang
beberapa senti di udara.
Selang beberapa menit, setelah
menghabiskan satu gelas, reaksi
tubuh Prita mulai berbeda. Tubuhnya
terasa lemas dan mengantuk.
Semula Prita mengira ini disebabkan
oleh faktor perjalanan yang terlalu
melelahkan, tapi tiba-tiba Prita
tersadar kalau rasa kantuknya ini
tidak ada hubungannya dengan
perjalanan yang melelahkan ini.
***
Prita tersentak bangun dengan
gelagapan saat seember air
menyiram sekujur tubuhnya dari
ujung rambut sampai pinggang. Prita
menggelengkan kepalanya,
mengibaskan air dari wajah dan
rambutnya. Sesaat Prita merasa
pengaruh minuman tradisional yang
membuatnya tertidur masih
menguasainya. Kepalanya masih
terasa pusing dan berputar-putar
selama beberapa detik. Baru,
beberapa detik berikutnya, secara
pelan-pelan Prita tersadar dengan
keadaan dirinya sekarang. Prita
mendapati dirinya terikat pada
sebuah kursi kayu yang besar dan
kokoh dengan posisi tangan di
belakang punggung kursi. Tapi itu
bukan bagian terburuknya. Bagian
terburuknya adalah, saat itu Prita
hanya tinggal mengenakan BH dan
celana dalam saja! Posisi pahanyapun
dibuat sedemikian rupa sehingga
daerah kemaluannya terbuka lebar,
membuat daerah kemaluannya
membayang dengan jelas. Air yang
menyiram tubuhnya membuat BH
Dan celana dalamnya yang tipis
menjadi semakin transparan
sehingga puting payudaranya dan
vaginanya membayang dengan
samar. Kalau ada yang membuat
Prita lebih kaget lagi adalah, saat
dia tahu kalau Herman dan ketiga
kawannya berdiri di hadapannya.
Keempat orang itu tengah asyik
menikmati keindahan tubuh putih
mulus Prita yang setengah
telanjang.
"Pak Herman..? Kenapa.." Prita
dengan penuh kekagetan bertanya.
Prita merasa sangat malu dan
sekaligus marah diperlakukan
seperti ini. Belum pernah sepanjang
hidupnya Prita mengalami penghinaan
sehina ini.
"Tenang saja di situ Prit." Herman
berkata dengan dengusan nafas liar.
"Kami sedang melihat pemandangan
indah."
"Jangan Pak.." Prita mulai menangis
ketakutan. "Jangan perkosa saya."
Prita mencoba meronta seolah
dengan begitu dia bisa membebaskan
diri dari tali yang membelit tangan
dan kakinya. Tapi ketika tahu
usahanya sia-sia, Prita menjadi
panik.
"Tolong.!" Dalam keadaan panik, Prita
berteriak. Anehnya Herman dan
kawan-kawannya malah tertawa.
"Percuma teriak." Herman berkata
santai. "Di tengah hutan siapa yang
mau menolong?"
Ucapan Herman itu seperti
merontokkan keberanian Prita. Prita
tersadar kalau dia bahkan tidak
tahu di mana dia saat ini.
"Tapi.. kenapa..?" Prita dengan sisa
keberaniannya bertanya dan
menatap Herman dengan tatapan
penuh kebencian, sekaligus
ketidakberdayaan.
"Kenapa?" Herman tertawa. "Tidak
kenapa kenapa.. kecuali hanya kalian
terlalu ikut campur urusan bupati
kami."
"Kalian..?" Prita terkejut bukan
main. Dia tidak menduga hal seperti
ini bakal terjadi. Menjadi jelas
sekarang kenapa tidak ada pemandu
lain yang bisa mengantarkan mereka
waktu di desa terakhir. Pasti itu
adalah akal mereka juga.
"Kalian.." Prita tergagap.
"Tentu saja." Herman menjawab.
"Kalian tidak menyangka? Sayang
sekali.. kukira kalian pintar."
Prita menggelengkan kepala seolah
tak percaya, sekaligus menyesali
tindakannya yang kurang cermat.
"Tentu saja mudah bagi kami untuk
membelokkan informasi buat kalian,
koneksi bupati kami lebih hebat dari
yang kalian tahu." kata Herman
sambil mendekati Prita.
"Tapi dari mana kalian mendapat
informasi tentang rencana kami?"
tanya Prita putus asa. Rasa takut
yang mencengkeramnya membuat
otaknya seperti buntu.
"Pintar juga kamu Prit.." Herman
tersenyum sinis. "Sayang informasi
itu termasuk rahasia." katanya
sambil membelai rambut gadis
cantik itu. Prita melengos menolak
sentuhan Herman.
"Dimana teman-teman saya?" Prita
tiba-tiba teringat pada Frida dan
yang lainnya.
"Tenang saja, mereka baik-baik saja
untuk sementara ini." Herman
menyeringai jahat. "Bahkan khusus
untuk Frida, kami ingin dia terus
baik-baik saja, karena kami punya
rencana tersendiri buatnya."
"Tidak..! Jangan.!" Prita merasa,
apapun rencana mereka pastilah
sesuatu yang buruk. "Jangan
lakukan apapun padanya. Bunuh saja
saya!" Prita memberontak sekuat
yang dia bisa, meskipun hal itu sia-
sia karena tali yang mengikatnya
terlalu kuat untuknya.
"Diam cerewet!" Herman menampar
pipi Prita, tidak keras, tapi cukup
untuk membuat bekas kemerahan di
pipi Prita yang putih. Tamparan itu
cukup efektif untuk menghentikan
teriakan Prita. Prita menunduk,
hanya suara isakan tangis yang
terdengar dari bibir mungilnya.
"Cantik.." Herman mengangkat wajah
Prita yang ketakutan. "Kamu tahu..
Pak Bupati memberi kami kebebasan
untuk melakukan apapun pada
kalian."
Di luar dugaan, Herman
menyentakkan wajah Prita sampai
menengadah. Lalu dengan ganas,
bibir Herman segera melumat bibir
Prita, membuat gadis itu
menyentak-nyentak jijik. Dia
meronta-ronta mencoba melepaskan
bibirnya dari lumatan bibir Herman.
Tapi kekuatannya tidak sebanding
dengan kekuatan pria kekar itu.
Akhirnya Prita hanya bisa pasrah
dan hanya bisa meneteskan air
mata. Selama beberapa menit bibir
Prita yang mungil itu terus
menerus diciumi dan dilumat-lumat
oleh Herman.
Prita langsung terbatuk-batuk saat
Herman akhirnya melepaskan
bibirnya. Prita meludah ke lantai,
segala kejijikannya tumpah pada
ludahnya. Dia merasa terhina dan
sakit hati dilecehkan seperti itu,
tapi Prita juga tak bisa berbuat
apa-apa dengan keadaannya seperti
itu.
"He he he.." Herman tertawa
melecehkan. "Ternyata bibir
reporter enak juga." katanya sambil
menyeka bibirnya sendiri. Dibelainya
rambut Prita dengan lembut, Prita
menarik kepalanya mundur, menolak
sentuhan pria itu.
"Tunggu di situ sebentar ya Sayang,
saya urus yang ini dulu."
Herman lalu memberi isyarat pada
ketiga temannya. Mereka bertiga
meninggalkan ruangan, sesaat
kemudian mereka kembali lagi, kali
ini mereka membawa seseorang
bersama mereka. Frida! Kedua
tangan Frida terikat ke belakang
dengan bibir tertutup lakban hitam.
Matanya memerah sembab seperti
habis menangis. Kaus ketat yang
dikenakannya terlihat berantakan
sepertinya kaus itu pernah dibuka
paksa sebelumnya.
"Frida!" Prita menjerit kaget dan
meronta sejadi-jadinya, sementara
Frida, yang sama kagetnya melihat
kondisi Prita, spontan memberontak.
Sam dan Eddy cepat-cepat menarik
lengan Frida lalu memaksa Frida
berlutut. Frida terus meronta
dengan air mata bercucuran, isak
tangisnya tertahan oleh lakban yang
menempel di bibirnya. Jengkel
karena Frida yang terus meronta,
Sam menampar wajahnya. Frida
mengeluh pendek dan langsung
terdiam. Frida hanya berlutut
sambil tersedu.
"Jangan sakiti dia! Lepasin dia!"
Prita memberontak dan berteriak
kalap. Tangisnya makin menjadi-jadi.
Herman menjadi jengkel, dia
menjambak rambut Prita dan
menyentakkannya kuat-kuat
membuat wajah Prita mendongak.
Prita meringis ketakutan, tapi dia
langsung diam.
"Kalau kamu nggak mau diam, saya
akan bunuh teman-teman kamu."
ancam Herman bengis, dia mencabut
mandau yang memang sejak tadi dia
bawa. Senjata khas Kalimantan itu
terlihat berkilau mengerikan. Darah
Prita seolah berhenti melihat sisi
tajam senjata itu. Seketika
wajahnya memucat ketika Herman
menempelkan sisi tajam mandau itu
ke lehernya. Rasa dingin besi tajam
yang membelai leher putihnya
membuat nyawa Prita seolah
terbang sebagian. Prita gemetar
ketakutan, dia menggigit bibirnya,
menahan keinginannya untuk
berteriak sekuat mungkin.
"Nah.. Begitu kan bagus.." Herman
tersenyum liar. "Sekarang kita lihat
yang ini ya.." Herman memberi kode
pada temannya. Sam terlihat
menenteng VCR portabel berlabel
'MetroTV' yang jelas-jelas diambil
dari teman-teman Prita. Sementara
itu Gayong dan Eddy melepaskan
ikatan dan sumbatan mulut Frida.
Frida langsung terbatuk sambil
menyeka bibirnya yang merah. Masih
dalam keadaan kalut, Gayong dan
Eddy memaksa Frida berdiri. Dengan
kaki gemetar Frida berdiri sambil
terus menangis.
"Sudah! Diam!" Gayong membentak.
"Hapus air mata kamu!"
Frida terdiam karena ketakutan. Dia
segera menghapus air mata di
wajahnya dengan punggung tangan.
"Sekarang baca ini!" perintah Gayong
tegas. Dia menyodorkan selembar
kertas pada Frida. "Baca di depan
kamera."
Frida langsung pucat pasi membaca
tulisan yang ada di kertas yang
dipegangnya.
"Nggak.. nggak mungkin.." Frida
kembali menangis tersedu. "Saya
nggak mau!" Frida menggeleng.
"Kalau kamu nggak mau.." Gayong
menunjuk ke arah Gayong yang
mandaunya masih menempel ketat
di leher Prita. "Kamu lihat temanmu
kan..?"
Gayong lalu membuat gerakan bengis
mengiris lehernya sendiri dengan
tangannya. Frida merasa
keberaniannya yang tinggal seujung
kuku langsung terbang saat itu
juga. Frida benar-benar panik. Dia
sungguh tidak berdaya menolak
perintah Gayong. Dengan sangat
terpaksa, Frida akhirnya menjawab.
"Jangan.. jangan sakiti teman
saya..Saya akan lakukan, tapi jangan
sakiti teman saya.." Frida berkata
gemetar sambil menghapus air
matanya.
Prita terperanjat mendengar itu.
"Jangan! Jangan Frid!" Prita
menjerit dan memberontak di
kursinya. Tapi Herman menekan
mandaunya lebih dalam ke leher
Prita memaksa Prita diam.
"Jangan ribut!" Herman membentak.
"Kamu tunggu giliran."
"Jangan! Jangan sakiti dia!" Frida
menggeleng ketakutan. "Tolong
jangan sakiti dia.. saya akan
lakukan."
"Nah.. Kalat begitu tunggu apa lagi?"
kata Gayong dengan tawa penuh
kemenangan. Dia memberi kode pada
Sam yang memegang kamera VCR.
Sam segera berdiri dan menyalakan
kamera VCR nya.
"Lihat ke sini dong Frida.." kata
Sam sembari mengarahkan
kameranya pada Frida. Frida
berusaha keras untuk tidak
menangis. Dia kemudian berdiri
menghadap ke kamera. Frida
memaksakan diri untuk tersenyum,
memaksakan diri seolah-olah ini
hanyalah reportase yang biasa dia
lakukan. Untuk sesaat Frida hanya
berdiri mematung di tempatnya.
Baru setelah Sam memberi kode
Frida mulai membaca tulisan di
tangannya.
"Nama saya Frida Lidwina.." Frida
memulai. "Saya menyatakan, apa
yang saya lakukan berikut ini adalah
keinginan saya sendiri tanpa
paksaan dari siapapun."
Frida berusaha membuat intonasi
suaranya sewajar mungkin meskipun
dirinya tidak rela melakukan hal
tersebut. Sementara di seberang,
Prita menangis terisak menyaksikan
hal itu dan mengetahui bencana
besar yang akan menimpa
temannya. Prita memalingkan
wajahnya dan memejamkan mata,
tidak tega menyaksikan Frida
mengalami penghinaan seperti itu,
tapi Herman memaksa Prita
menyaksikan adegan selanjutnya.
"Jangan sampai ketinggalan Prit..
Lihat baik-baik.." Herman menekan
mandaunya lebih dalam ke leher
Prita, membuat Prita terpaksa
melihat bagaimana sahabatnya
mengalami penghinaan.
"Nah.. sekarang.." Gayong yang
bicara. "Kami mau melihat kamu
telanjang. Jadi kamu sekarang harus
buka baju."
Frida dan Prita terkesiap
mendengar hal itu. Ketakutan
terbesar mereka selama ini
akhirnya terbukti. Frida menggeleng
sambil menggigit bibirnya, tapi
melihat keadaan Prita yang berada
dibawah ancaman mandau di
lehernya, tanpa daya, nyaris
telanjang, Frida merasa dirinya tak
punya pilihan lain. Akhirnya dengan
senyum yang teramat sangat
terpaksa, Frida berucap. "Baik
Tuan."
Kemudian, dengan keengganan luar
biasa, Frida mulai menarik kaus
ketat yang dipakainya ke atas,
melewati bahunya dan kemudian
lepas dari tubuhnya. Seketika
Herman dan kawan-kawannya
terpana sambil meneguk ludah
menyaksikan tubuh putih Frida
bagian atas yang hanya tertutup BH
putih tipis. Payudara Frida menonjol
ketat di balik mangkuk BH berenda
itu. Perutnya yang ramping terlihat
rata dan mulus sekali.
"Ayo.. terus.." perintah Sam yang
sibuk merekam detik demi detik
Frida melucuti pakaiannya sendiri.
Frida tidak tahan lagi, bendungan air
mata yang menahan tangisnya
akhirnya jebol. Dengan terisak, Frida
membuka kancing celana jinsnya,
kemudian melepaskan celana itu dari
kakinya. Paha putih mulus dan
jenjang seperti kaki belalang yang
berakhir pada pinggul bulat
terpampang begitu indah. Bagian
selangkangan Frida yang terbalut
celana dalam putih terlihat
membukit, membentuk segitiga yang
nyaris sempurna.
"Siapa yang menyuruh kamu
berhenti?" bentak Gayong yang
melihat Frida bergeming beberapa
saat sambil mendekap payudaranya
yang ketat. Frida menggeleng, air
matanya mengalir kian deras.
"Jangan Tuan.. jangan telanjangi
saya.." kata Frida di sela isakan
tangisnya.
"Kalau nggak mau biar aku saja
yang buka." kata Gayong, lalu dengan
gerakan gesit Gayong menyambar
bagian depan BH Frida, lalu dengan
sekali sentakan, BH itupun langsung
robek dan terlepas dari tubuh
Frida, membuat payudara Frida
meloncat keluar dengan gerakan
lembut. Frida menjerit pendek dan
spontan mendekap dadanya yang kini
telanjang. Tapi Gayong tidak
berhenti sampai di situ. Dia juga
merenggut celana dalam Frida dan
menariknya sampai robek. Kain
terakhir yang menutupi tubuh Frida
terlepas sudah.
Frida dengan gugup mencoba
menutupi daerah daerah rahasia
tubuhnya dengan kedua tangannya
meski itu tidak banyak berarti,
sementara Herman dan ketiga
temannya tertawa tawa sembari
menatap tubuh Frida yang telanjang.
"Oi.. Sam, suruh dia singkirkan
tangannya.. kalau tidak.." Herman
mengancam dengan menekan
mandaunya ke leher Prita. Prita
memejamkan matanya, karena
ketakutan dan tidak tega melihat
Frida ditelanjangi.
"Kamu dengar itu kan Frid?" Sam
memberi kode pada Frida untuk
menyingkirkan tangannya dari
payudara dan vaginanya. Frida
terisak pelan, lalu dengan gerakan
enggan, Frida melepaskan dekapan
tangannya.
"Ohh.." Herman dan ketiga kawannya
mendengus penuh nafsu sambil
memelototi tubuh mulus Frida.
Tubuh putih mulus reporter cantik
itu sudah sepenuhnya telanjang
bulat di hadapan mereka. Payudara
Frida yang berukuran sedang namun
ketat dan kenyal terlihat
membusung indah, putih mulus
dengan putingnya yang pink muda
mencuat membangkitkan nafsu.
Perut yang licin rata membentuk
pinggang ramping yang berakhir
pada pinggul yang besar dan
membulat membentuk daerah
selangkangan yang masih bagus.
Daerah kemaluan Frida yang masih
bagus itu dihiasi oleh rambut halus
dan rapi, jelas menunjukkan sebagai
tubuh yang terawat cermat.
Sam yang memegang kamera VCR
tidak melewatkan sedetikpun
kesempatan untuk menyorot
keindahan tubuh telanjang Frida,
baik secara close up maupun wide
shoot. Bagian yang paling sering
disorot tentu saja pada seputar
daerah payudara dan vagina Frida.
Sesekali Sam juga menyorot wajah
Frida yang terlihat begitu
memelaskan, tanpa daya dan pasrah.
"Bagaimana Frid?" Gayong
tersenyum liar. "Kamu senang kan
ditelanjangi?"
Frida menunduk, menolak menjawab
pertanyaan itu, tapi dia sadar kalau
posisinya tidak memberi kesempatan
untuk menolak. Akhirnya Frida
menjawab.
"I.. iya Tuan.. saya suka.."
Gayong dan teman-temannya
tertawa penuh kemenangan.
"Kalau begitu kamu nggak keberatan
kan kalau kami mencicipi kamu?"
Frida menggeleng.
Maka tanpa menunggu lebih lama,
Gayong dan Eddy yang sudah
terangsang melihat tubuh mulus
Frida yang telanjang bulat, langsung
mendekap tubuh putih mulus itu.
Keduanya segera menyerang
daerah-daerah sensitif di tubuh
Frida. Gayong dengan gemas
membenamkan bibirnya yang kasar
ke bibir Frida yang mungil. Bagaikan
mengulum permen karet, bibir
Gayong beraksi melumat-lumat bibir
presenter cantik itu dengan
kekuatan seperti pagutan ular,
membuat Frida megap-megap
kehabisan nafas. Frida memejamkan
matanya, menolak menatap Gayong,
tapi bibirnya tidak mampu menahan
serbuan bibir Gayong. Gayong terus
mendesak bibir Gayong terus
mendesak bibir mungil itu, bahkan
pelan-pelan Gayong mulai
mendorongkan lidahnya menerobos
ke dalam mulut presenter itu. Frida
yang pasrah merelakan lidah kotor
itu menelusuri bagian dalam
mulutnya dan membelit lidahnya.
Pada saat yang bersamaan, Eddy
dengan kebrutalan yang nyaris tak
berbeda tengah asyik menciumi dan
menelusuri bagian leher dan bahu
Frida yang bening dengan bibirnya
dari belakang. Kecupan demi kecupan
Eddy meninggalkan jejak kemerahan
di leher dan pundak mulus Frida.
Sementara tangan Eddy tidak
membiarkan payudara lembut
presenter cantik itu menganggur,
tangan kasar Eddy mencengkeram
payudara lembut Frida bagian kiri
dan meremas payudara itu dengan
kekuatan seperti seorang pegulat,
membuat Frida menggeliat kesakitan
merasakan payudaranya diremasi
dengan begitu brutal.
"Ohh.. mhh.. ogh.." Frida mendesah
tertahan ketika tangan kasar Eddy
membelai-belai dan meremas-remas
payudaranya. Desahan Frida
tertahan oleh kecupan-kecupan
brutal Gayong pada bibirnya. Mat
tak mau, perlakuan kasar Gayong
dan Eddy pada bagian sensitif
tubuhnya membuat sensasi seksual
dalam tubuh Frida perlahan-lahan
meningkat. Desakan seksual itu,
meskipun tak diinginkan oleh Frida,
makin menggelegak saat Gayong dan
Eddy mengarahkan serangannya
pada kedua belah payudara Frida
yang menggantung indah. Kecupan
dan remasan secara bergantian
mendarat di payudara putih kenyal
itu. Sesekali sambil meremasi
payudara mulus presenter cantik
itu, Gayong dan Eddy juga menjilati
dan menyentil-nyentil puting
payudara Frida dengan lidah mereka
yang kotor. Kadangkala keduanya
juga melumat payudara Frida dan
mengenyotnya kuat-kuat, membuat
kedua pria itu terlihat seperti bayi
besar yang sibuk menyusu pada
ibunya.
"Gimana Prit? Bagus kan
tontonannya?" tanya Herman pada
Prita. Herman terlihat sekali sangat
menikmati tontonan indah saat
tubuh telanjang bulat Frida yang
putih mulus itu dihimpit oleh dua
pria kasar. Prita, dibawah ancaman,
terpaksa menonton adegan
mengerikan itu dengan air mata
bercucuran. Tapi meski begitu diam-
diam adegan panas itu membawa
perubahan pada tubuh Prita. Tubuh
Prita mulai panas dingin
menyaksikan tubuh telanjang Frida
digumuli begitu rupa, detak
jantungnya mulai meningkat dan
nafasnya menjadi tidak teratur.
Disuguhi adegan sensual semacam
itu mau tak mau membuat gairah
seksual Prita bangkit.
"Gimana Prit..? Kamu suka kan
dengan siaran langsung ini?" Herman
mendengus tepat di telinga Prita.
Meskipun Prita tidak menjawab, tapi
Prita harus mengakui kalau dirinya
mulai terangsang menyaksikan
temannya ditelanjangi dan digeluti
seperti itu. Dan Herman yang
banyak pengalaman segera tahu
saat melihat perubahan pada diri
Prita.
"He.. he.. he.. pingin ya?" Herman
tertawa. "Kalau gitu boleh deh.."
Herman lalu meletakkan mandaunya
di lantai, lalu sambil tetap menonton
Frida digarap oleh kedua temannya,
Herman mulai menyerang leher dan
pundak Prita dengan kecupan-
kecupannya. Prita langsung bereaksi
ganjil menerima kecupan itu.
"Ohh.." Prita mendesah saat bibir
tebal Herman menyusuri leher dan
pundaknya. Prita menggeliat geli
saat Herman mulai menjilati daerah
leher dan pundaknya dengan lidah.
Antara jijik dan terangsang Prita
kembali mendesah.
"Enak kan Prit?" kata Herman yang
kian liar. Kali ini Herman tidak hanya
menyerang daerah leher dan pundak
Prita, tangannya yang kasarpun
mulai bergerak menyusup ke balik
BH tipis Prita. Prita langsung
mendesah saat tangan liar itu
meremasi payudaranya. Sentuhan
pada payudaranya membuat Prita
menyerah. Dia tidak tahan lagi
untuk mendesah nikmat.
"Ohh.. oohh.. aahh.. ahh.." desahan
penuh kenikmatan di tengah isakan
tangis meluncur dari bibir mungil
Prita tanpa bisa dicegah saat
Herman meremas-remas payudara
Prita. Apalagi saat jari-jari pria
kasar itu mulai menyentuh dan
memainkan puting payudaranya. Tiap
sentuhan jari Herman pada daerah
peka itu membuat Prita menggeliat
menahan rangsangan yang kian
menghebat. Gerakan tangan Herman
pada sekitar wilayah dada Prita
membuat BH yang dikenakan Prita
melorot dari tempatnya sehingga
payudara Prita yang putih kenyal
langsung mencuat telanjang dan
bergoyang seirama dengan gerakan
remasan tangan Herman.
Tidak puas hanya dengan meremasi
payudara Prita, Herman meneruskan
serangannya pada daerah kemaluan
Prita. Semula Herman hanya
mengelus-elus bagian paling rahasia
presenter cantik itu dari luar
celana dalam tipis yang dipakainya.
Tapi kemudian Herman mulai
menyusupkan tangannya ke balik
celana dalam wanita itu. Dielusnya
permukaan vagina presenter itu,
rambut-rambut halus terasa di
ujung jarinya, lalu pelan-pelan jari
Herman mulai membelah bibir vagina
Prita dan mulai mengaduk-aduk
bagian yang paling dijaga oleh
wanita tersebut.
Prita menggeliat menahan sensasi
seksualnya yang kian meledak.
Desakan seksual yang kian menggebu
itu membuat tubuh Prita seolah
membengkak bagai balon gas yang
ditekan ke segala arah.
"Ohkh... ohh.. ahh.." sekuat tenaga
Prita menahan desakan birahinya
yang kian menggila sampai wajahnya
merah padam. Di depan mereka,
keadaan Frida juga tidak kalah
menyedihkan. Tubuh putih mulus
Frida yang telanjang bulat dihimpit
oleh dua sosok kasar dan berkulit
legam. Fridapun mengalami
rangsangan seksual yang tidak kalah
gilanya, apalagi saat Gayong dan
Eddy memaksanya untuk berdiri
dengan kaki mengangkang lebar,
kemudian secara bergantian kedua
pria itu mengelus-elus daerah
kemaluannya. Bagian tubuh yang
paling rahasia itu diraba-raba dan
diremasi secara bergilir, membuat
Frida merinding, tubuhnya.menggeliat
merasakan sensasi nikmat yang kian
menjalari tubuhnya. Sesekali juga
jari tangan Gayong dan Eddy
menusuk-nusuk dan mengaduk-aduk
liang vagina Frida mencari titik-titik
paling sensitif pada daerah rahasia
itu.
"Ahh.. oohh.." Frida mengerang
tertahan saat Gayong berhasil
menyentuh klitorisnya yang sangat
peka rangsangan.
"He he he.. Enak kan Frid?" Gayong
tertawa mengejek sambil terus
mengaduk-aduk kemaluan Frida.
Pelan-pelan vagina presenter itu
mulai basah oleh cairan
kewanitaannya. Hal itu menandakan
kalau Frida sudah siap untuk
disetubuhi.
"Uhh.. basah juga akhirnya.. Cewek
dimana-mana sama saja.. Sok jual
mahal padahal kepingin." Gayong
tertawa mengejek. Frida diam saja
meskipun sebagai wanita terhormat
dia merasa terhina luar biasa oleh
ucapan itu. Kenikmatan yang
diperolehnya sedikit banyak
membuatnya tak melakukan
perlawanan meski direndahkan
sedemikian rupa. Frida merasakan
sensasi yang diperolehnya dari
kedua orang itu seolah membuat
kesadarannya beku. Kenikmatan itu
terasa sangat memabukkan, bahkan
suaminya sendiripun tak mampu
merangsangnya seperti yang
dilakukan oleh Gayong dan Eddy. Hal
itu membuat tubuhnya ingin
memperoleh kenikmatan lebih banyak
lagi meski pikiran sadarnya
mengatakan kalau hal itu adalah
salah.
Gayong dan Eddy, yang mengetahui
kalau Frida sudah terangsang berat,
menjadi makin ganas dalam
merangsang presenter cantik itu.
Kocokan demi kocokan melanda
vagina Frida sementara payudaranya
yang putih kenyalpun terus menerus
diremas, dicubiti dan dikenyot-
kenyot oleh kedua pria itu. Frida
akhirnya tak tahan lagi, sensasi
seksual di dalam tubuhnya terlalu
kuat untuk dia tahan, maka meski
sekuat tenaga Frida menahan
sampai wajahnya merah padam,
desakan seksual itu bagaikan
cabikan cakar singa merobek
pertahanan terakhirnya.
"OHHGH.. AAHHKH.. AHH..!!" Frida
melolong keras, melepaskan orgasme
yang sedari tadi ditahannya. Tubuh
telanjangnya yang putih melengkung
dan mengejang selama beberapa
detik, dan seketika itu pula cairan
vaginanya deras mengucur
membasahi daerah selangkangannya.
Sesaat tubuh putih mulus itu kaku
seperti papan sebelum kemudian
melemas dengan sendirinya dan
terpuruk ke lantai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda