Translate

Kamis, 14 April 2011

PETUALANGAN LARA CROFT DI PEDALAMAN KALIMANTAN bagian 1


Gunung Poteng, Ketapang,
Kalimantan Barat
21.45 WIB Lara menghela napas panjang. Raut wajahnya menunjukkan
kelelahan yang amat sangat. Setelah 2 jam berjuang untuk
mendaki bukit terjal dalam
malam yang mencekam dan di
tengah hujan gerimis yang
seakan tiada pernah
menunjukkan tanda-tanda untuk reda. Masih jelas dalam
ingatannya kecelakaan mobil yang baru saja dialami
beberapa jam yang lalu. Ban mobil yang tertembak
oleh peluru yang dilontarkan
salah satu anak buah Vincent.
Beruntung Lara dapat keluar dari Jeep tersebut sebelum jatuh terguling di jurang yang
terjal dan licin akibat guyuran
hujan. Lara memang berhasil
menyelamatkan diri namun
dia belum mengetahui nasib
dua temannya yaitu Mary Ann dan Demosh yang
menyertainya dalam
petualangan ini. Lara menyeka wajahnya
yang mulus dengan ujung
kaos ketatnya yang kini telah
basah dan terasa lengket di
badannya. Kaos yang robek di
beberapa bagian termasuk di bagian dada kirinya sehingga
menampakkan kulit dada
montoknya yang kotor
tersapu debu dan tanah
sewaktu mendaki tadi. Puting
susunya tercetak dengan jelas tidak dirisaukan lagi karena
yang ada dalam pikirannya
kini hanyalah bagaimana
menemukan jalan untuk
dapat keluar dari Gunung ini
tanpa tertangkap oleh musuh- musuhnya yang dapat
dipastikan masih berpatroli
untuk dapat menangkap Lara
dalam keadaan hidup maupun
mati. Direbahkan tubuhnya yang
padat berisi di hamparan
rumput sambil memijit urat
pahanya yang kini berdenyut
pelan akibat kelelahan.
Pikirannya melayang kembali di saat kejadian, masih
terngiang jelas di telinganya
teriakan Mary Ann dan
Demosh sebelum keduanya
terguling bersama mobil Jeep
yang mereka tumpangi ke tebing terjal di beberapa ratus
meter di bawah. Belum sempat beristirahat
sejenak, tiba-tiba Lara
dikejutkan oleh suara
tembakan dari sisi kiri tempat
dia berbaring dan dengan
gerak reflek yang cepat dia segera berguling ke arah
sebaliknya. Tetapi segera pula
dia sadar bahwa di pangkal
paha kirinya telah tertancap
sejenis jarum dengan bulu
warna warni di ujungnya. Perlahan dirasakan tubuhnya
semakin ringan dan melemah
dan matanya seakan tidak
mampu menahan rasa kantuk
yang amat sangat. Apa yang
dilihat dari sela-sela kelopak matanya sebelum terkatup
rapat adalah tubuh-tubuh
besar dengan teriakan-
teriakan yang tidak
dimengerti olehnya berlarian
menghampiri dirinya yang kini telah terkulai lemas
akibat tertembak jarum yang
mengandung obat bius. Ruangan Bawah Tanah,
Markas Komplotan Vincent
DeGaule
03.24 WIB Guyuran air yang dingin
menyadarkan Lara dari
pengaruh obat biusnya.
Segera Lara terbangun dan
pada saat yang sama pula dia
mendapati dirinya terikat di salib besar berbentuk huruf X
yang terbuat dari kayu.
Kedua tangannya terikat
dengan tali tambang yang
erat dan kasar sementara
kedua kakinya yang berada dalam posisi terbuka lebar
juga mengalami hal yang
sama dengan tangannya. “Bangun!! Dasar pelacur murahan!!” Terdengar teriakan membahana dari arah
depannya. Lara mendongakkan sedikit
kepalanya untuk mencari
tahu pemilik suara tersebut.
Matanya mendapati sesosok
tubuh tegap bertelanjang
dada dan hanya mengenakan celana cawat saja. Tangan
kirinya memegang sebuah
ember kosong sementara
tangan kanannya mengusap
kepalanya yang botak. Sambil
menyeringai dia kembali berteriak keras: “Hei pelacur!! Ayo bangun !!” Lara tidak menggubris si
Botak itu, dia lebih
berkonsentrasi pada
kepalanya yang masih terasa
berat dan seakan tidak
mampu untuk mendongak lebih lama lagi. Tiba-tiba dia merasakan
rambut panjangnya yang
terurai dijambak dengan
kasar oleh si Botak yang
rupanya kesal karena
dicuekin. “Kau jangan berlagak macam- macam disini!! Nasibmu
sepenuhnya berada di
tanganku sekarang!! Apa
yang bisa kau lakukan dalam
keadaan tersalib seperti
sekarang??!!” Lara tetap diam membisu.
Pikirnya, lebih baik
menyimpan tenaga daripada
harus melayani pertanyaan-
pertanyaan bodoh dari si
Botak. Tapi ternyata si Botak bukan tipe orang yang sabar.
Tiba-tiba saja tangan kirinya
melayang dan mendarat di
pipi kanan Lara. Plaak!! Tamparan keras itu
membuat Lara sedikit
berteriak kesakitan. “Kau suka itu?? Hah??!! Ayo jawab !!” Plaak!! Kembali pipi kiri Lara
menerima tamparan yang
sama, kali ini bahkan lebih
keras dari sebelumnya. “Apa maumu Botak jelek ??!!” Lara tak tahan untuk diam
kali ini.
“Aku mau kau menunjukkan Mandau Emas yang kau curi
dari kami” Jawab Botak dingin.
“Kalau kau mau tahu tempat mandau itu, lebih baik kau
bunuh saja aku, mandau itu
lebih berharga daripada harus
jatuh ke tangan penjahat-
penjahat terkutuk seperti
kalian!!” “Grr..!!” si Botak menggerutu geram sambil menjambak
rambut Lara lebih keras.
“Aku akan membuatmu menderita untuk membayar
akibat perbuatanmu ini !!” Setelah berkata demikian, dia
kemudian melepaskan
tangannya dari rambut Lara.
Sebelum Lara sempat bernapas
lega, si Botak merobek kaos
ketatnya dan dan satu tarikan saja kaos itu robek menjadi 2
bagian besar dan
menampakkan tubuh dan
sepasang dada montok Lara
yang tergantung dengan
bebasnya seakan lega terlepas dari himpitan kaos ketat
selama ini. “Apa maumu jahanam ??!!” jerit Lara ke si Botak. Tanpa berkata sepatah
katapun, kembali tangan si
Botak beraksi untuk melepas
celana mini jeans Lara dengan
bantuan sebilah belati combat. Tanpa kesulitan berarti, mini
jeans itu terlepas dengan
sekali betot saja. Seulas senyum puas
tergambar di wajah si Botak
menyaksikan pemandangan
indah di depan matanya.
Tubuh telanjang Lara yang
kini tergantung di salib itu membuat nafsu birahi si Botak
menggelora. Tanpa
menghiraukan sumpah
serapah Lara, segera dia
mendaratkan jilatan lidahnya
ke puting susu Lara bergantian dari kiri ke kanan.
Kedua tangannya sibuk
bergerak antara meremas
susu besar Lara ataupun
mengusap vagina Lara. Sesekali jari tengahnya
menyodok ke dalam lubang
kenikmatan Lara dan
membuat Lara mendelik,
melotot dan menyumpahi si
Botak dengan derasnya. Tapi tak dapat dipungkiri,
perlahan-lahan dua puting
susunya mengeras karena
terangsang oleh jilatan dan
remasan si Botak apalagi
disertai dengan permainan tangan dan jari si Botak di
clitorisnya. Entah sadar ataupun tidak,
justru Lara kini mendesah
pelan dan napasnya semakin
memburu cepat. Tidak lagi
terdengar sumpah serapah
dari mulutnya melainkan yang terdengar kini hanyalah
suara napas yang saling susul
menyusul antara Botak dan
Lara. Jilatan dan kuluman
Botak berpindah daerah.
Setelelah puas ‘mengepel’ susu Lara, kini dia mengalihkan
daerah operasinya ke arah
perut Lara yang atletis.
Perlahan tapi pasti lidahnya
bergerak ke arah vagina Lara
yang bersih tanpa ditumbuhi bulu apapun. Rongga dalam liang surga Lara
seakan bergolak dahsyat
ketika ujung lidah Botak
menjilati tiap milimeternya.
Sementara ujung lidahnya
beroperasi, tangan kiri Botak tidak alpa untuk meremas
sepasang susu yang
tergantung dengan anggun
serta tak lupa pula dia memilin
puting susu yang berdiri
tegak seakan menanti tak sabar menunggu untuk
dikulum. Saat Lara semakin
melayang tinggi oleh
kenikmatan saat itu, tiba-tiba
terdengar teriakan keras
membahana dalam ruangan bawah tanah tersebut. “Dickhead!! Apa yang kau lakukan !!” Si Botak menghentikan
agresinya dan memalingkan
muka ke arah pintu masuk.
Didapatinya sesosok tubuh
kurus tinggi dengan rambut
panjang yang terurai awut- awutan. Mata yang menatap
tajam ke arahnya membuat
Botak mundur dan menunduk
tanpa berani berkata sepatah
katapun. “Dasar bodoh!! Aku tak pernah memerintahkan kau
untuk melakukan ini terhadap
wanita jalang ini!! Kau harus
membayar mahal
perbuatanmu ini!!” Si Botak semakin ketakutan
dan hanya bisa berkata pelan,
“Ma.. Maaf Bos Vincent.. A.. Aku hanya berusaha
membuatnya
memberitahukan kita letak
mandau itu” “Diam kau!! Aku tak menyuruhmu membuka
mulut!!” Vincent berjalan mendekati
Lara yang terengah-engah
menahan nafsu birahinya
yang terinterupsi oleh
kehadiran bos komplotan ini.
Semakin dekat jarak antara mereka berdua membuat Lara
dapat melihat dengan jelas
sosok Vincent DeGaule,
penjahat dan buronan
internasional atas kejahatan
dan aksi-aksi terorisme yang dilakukan di berbagai belahan
dunia. Sosok tinggi dan kurus
dengan wajah yang sangat
mengerikan, matanya yang
melotot besar menyembul
dari wajah tirusnya. Bekas luka di pipi kanannya
sepertinya terlalu dalam
untuk dapat dihilangkan dan
sekarang menjadi salah satu
dari atribut untuk menambah
kengerian wajahnya. “Jadi inilah Lady Lara Croft yang terkenal itu ” Katanya sembari tersenyum sinis ke
arah Lara.
“Apa yang kini nona jagoan bisa lakukan selain tersalib
telanjang dengan keadaan
dikuasai nafsu seperti ini ?” Tanyanya lagi. Lara diam seribu bahasa dan
menatap penuh kebencian dan
dendam ke Vincent yang
nampaknya sangat
menikmati kemenangannya
ini. Tiba-tiba saja Vincent tertawa keras sambil
setengah berteriak ke si Botak
yang sejak tadi berdiri
mematung di sudut ruangan. “Dickhead!! Sini kau!! Aku punya tugas untukmu !!” Dickhead segera mendekat
sambil tetap menundukkan
kepala botaknya. “Buka celanamu!!” perintah Vincent yang langsung
dilakukannya tanpa bertanya
lagi.
“Dengar baik-baik, Nona Lara Croft adalah tamu kita dan
sebagai tuan rumah yang
baik, kita harus melayani
tamu kita yang terhormat ini
sebaik mungkin. Dan dalam
hal ini, sepertinya Nona Lara sedang dalam keadaan horny
berat oleh karena itu adalah
tugas kita untuk memuaskan
nafsunya ini. Kau mengerti
maksudku, Dickhead ??!!” “Aku mengerti Tuan Vincent ” Jawab Dickhead yang segera
menghampiri Lara. Lara dapat melihat “pistol” Dickhead yang entah sejak
kapan telah berada dalam
keadaan terkokang dan siap
tempur. Kontol hitam yang
berdiri tegak seakan telah siap
menyongsong tubuh Lara. Tanpa banyak basa-basi lagi,
Dickhead kembali beraksi
dengan tangan, mulut dan
lidahnya di tubuh telanjang
Lara yang kini kembali
merasakan kenikmatan yang tadi sempat tertunda sejenak.
Lara menggelinjang nikmat
ketika ujung lidah Dickhead
kembali menyapu daerah
memeknya yang berangsur-
angsur basah oleh cairan pelumas yang dihasilkan
memeknya yang semakin
membuka lebar
mempersilahkan kontol
Dickhead untuk masuk. Seakan mengerti dengan
kemauan Lara, Dickhead
berdiri sejajar dengan posisi
Lara dan sambil tetap
meremas susu Lara dengan
tangan kiri sementara tangan kanannya memegang
kontolnya dan menuntun Mr.
Dickhead Junior untuk masuk
ke lubang surga milik Lara.
Tanpa mengalami kesulitan
berarti dikarenakan vagina Lara yang telah basah. Kontol Dickhead bergerak
maju dan mundur merangsek
ke dalam rongga vagina Lara
yang membuat Lara
mendesah tak karuan.
Sementara Dickhead asyik menservis Lara, Vincent hanya
berdiri diam dan menyaksikan
adegan di depan matanya
sambil tersenyum tipis. Lama
kelamaan rupanya Vincent
tak kuat juga menahan nafsunya yang kini timbul
karena pemandangan indah
yang terpampang jelas. Dia
segera melepas baju dan
celananya dan dengan
setengah berlari kemudian menghampiri keduanya. “Awas kau, minggir !!” Teriaknya sambil mendorong
Dickhead menjauh dari Lara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda