Translate

Kamis, 14 April 2011

PETUALANGAN LARA CROFT DI PEDALAMAN KALIMANTAN bagian 2


Vincent menekan tombol
dibagian belakang salib besar
itu dan tiba-tiba saja salib itu
bergerak memutar turun dan
kemudian bergerak lagi
membawa tubuh Lara diatasnya berada dalam
keadaan terbaring terlentang
sekarang. Belum sempat Lara
sadar dari kagetnya, tiba-tiba dia telah ditindih oleh Vincent yang lansung menggerayangi tubuh telanjangnya. Dirasakan kuluman Vincent
pada kedua puting susunya
yang berukuran ekstra besar
itu. Putingnya yang berwarna
coklat muda kini berdiri
mengeras dan hal itu semakin membuat Vincent semakin
bernafsu untuk mengulum
dan menyedot puting itu.
Vincent menggigit kecil ujung-
ujung puting Lara dan
semakin membuat Lara melayang tinggi oleh rasa geli
sekaligus nikmat. Vincent segera mengambil
posisi untuk menyarangkan
kontolnya ke gundukan bukit
kecil Lara. Bibir vagina yang
merekah indah itu diusap
dengan pelan menggunakan kontolnya. Tanpa sadar Lara
memejamkan mata dan
mendesah pelan kepada
Vincent. “Ayo cepat sodok memekku.. ” “Tenang Bitch!! Sebentar lagi kau akan merasakan
kenikmatan kontolku ini.. ” Selesai mengatakan hal itu,
Vincent segera melesakkan
kontolnya ke dalam vagina
Lara yang segera
menyongsong masuknya
kontol itu dengan goyangan erotis. Vincent merasakan kontolnya
seperti dijepit oleh dinding
lunak yang seakan dapat
menarik semua urat-urat
penisnya. Penetrasi maju dan
mundur yang dilakukan Vincent dengan cepat
membuat Lara merem melek
dan sesekali menjilati bibirnya
dengan ujung lidahnya. Keterbatasan tempat yang
hanya mengandalkan balok
salib besar itu membuat
keduanya tak leluasa
melakukan permainan panas
itu. Vincent hanya dapat menyetubuhi Lara dalam satu
posisi saja. Peluh membasahi
punggung Vincent yang
dihiasi tato naga yang tengah
marah. Tangan Vincent yang
tak berhenti meremas payudara Lara dan menarik
pelan ujung pentilnya
semakin menghasilkan
desahan keras dari Lara. Salib besar berbentuk huruf X
ini memang membuat kaki
Lara selalu terbuka lebar.
Vincent menghentikan
sosokannya dan sekarang
berdiri dengan kontolnya yang tegak menghadap tepat
di depan vagina Lara. Hanya
dengan satu dorongan frontal
Vincent kembali
membenamkan meriamnya
ke lubang surgawi Lara yang seakan tidak pernah puas dan
tak kenal lelah untuk
menerima segala kenikmatan
dunia. “Akh.. Akh.. Teruuss.. Teruuss jahanaam..” Desah lirih Lara menambah semangat Vincent
untuk terus mengebor ke
dalaman vagina lara.
“Lebih ceepet.. F**k Me Harder!!” Seiring dorongan Vincent pantat Lara pun ikut
bergoyang membentuk suatu
rangkaian irama yang
sinkron. Sementara itu, Dickhead yang
tersingkirkan oleh Vincent
DeGaule dari tadi juga tak
pernah sedetikpun
melepaskan pandangan
matanya ke arah dua manusia yang meskipun saling
membenci tetapi takluk dalam
kekuasaan nafsu birahi yang
menggelora. Dickhead
mengocok kontolnya sendiri
bergantian antara tangan kanan dan kirinya. Tak tahan hanya menjadi
penonton, Dickhead
memberanikan dirinya untuk
melangkah mendekati balok
tersebut. Masih dengan tangan
yang mengocok kontolnya, dia berdiri disamping kiri Lara
yang masih terayun dalam
cengkeraman api nafsu. Mata
Dickhead menatap nanar ke
dua bukit montok yang
terayun-ayun kesana kemari karena mengikuti goyangan
pinggul pemiliknya. Dengan
tangan kanannya ia mengusap
puting susu kiri Lara. Menyadari bahwa tidak
terjadi reaksi dari Vincent
yang asyik berperang urat
kemaluan dengan Lara,
Dickhead semakin
memperlebar daerah jajahannya dan kini bukan
hanya dengan tangan saja
tetapi kontolnya kini
diusapkan ke susu Lara. Mulut
Lara yang sedikit ternganga
sambil terus mendesah menimbulkan keinginan
Dickhead untuk disepong oleh
Lara. Perlahan dan dengan
sedikit perasaan khawatir
akan kemungkinan
kontolnya digigit oleh Lara, Dickhead melakukan gerakan
memoles seputar bibir Lara
dengan kontolnya yang masih
tegang menunggu perintah
tuannya. Lara yang semakin terbang
dalam kenikmatan tentu
tidak menyia-nyiakan momen
ini. Dengan ujung lidahnya dia
berusaha menggapai kepala
kontol Dickhead yang mengusap halus kesana
kemari. Menyadari bahwa
dirinya diberi angin oleh Lara,
akhirnya Dickhead
memberanikan diri untuk
memasukkan batangan daging itu ke dalam mulut
Lara yang langsung disambut
dengan kuluman dan sedotan
maut milik Lady Croft. Dickhead mengelinjang dan
napasnya semakin memburu
kencang. Jantungnya
berdegub makin kencang
ketika dirasakan sensasi
nikmat tak terkira sewaktu sedotan Lara yang memilin
dan menjilati serta menggigit
pelan batangannya itu.
Sepongan Lara semakin
bertambah cepat pula seiring
dorongan Vincent yang rupanya hampir mencapai
puncaknya. Dickhead tak tahan lagi,
kumpulan lahar panas yang
dari tadi terkumpul akhirnya
ditembakkan juga ke dalam
mulut Lara. Sekitar 6 kali
tembakan lahar panas ke dalam mulut Lara segera
dijilati dan ditelan oleh Lara.
Belum sempat tertelan semua,
tiba-tiba Vincent mengerang
dengan keras sambil terus
membetot meriamnya dari dalam benteng Lara. “Akh.. Eat this!!” Serunya ketika dirasakan semprotan
cairan panas yang menyerbu
keluar dari meriamnya ke
dalam vagina Lara. Lara bergumam tak jelas
ketika merasakan semprotan
panas yang melesak didalam
memeknya. Beberapa
tembakan lahar Vincent yang
dilakukan di dalam memeknya ditambah sperma
Dickhead yang belum sempat
tertelan semua semakin
membuat gumamannya tidak
jelas. Yang jelas dari lirikan
matanya dilihat Vincent dan Dickhead terduduk lemas
sambil bersandar di balok
besar setelah mengalami
orgasme. Vincent yang terlebih dahulu
berdiri diikuti oleh anak
buahnya dan mereka segera
memungut pakaian mereka
yang berserakan di lantai
ruangan. Belum selesai Vincent mengancingkan bajunya, tiba-
tiba mereka semua
dikejutkan oleh suara pintu
yang didobrak dari luar.
Bersamaan dengan itu, dari
arah pintu masuk berhamburan beberapa anak
buah Vincent dalam keadaan
berlumuran darah. Belum sempat menguasai
keterkejutannya, terdengar
berondong senapan mesin
yang langsung menyambar
para pengawal Vincent yang
seketika itu pula menemui ajalnya masing-masing.
Dickhead yang baru terpikir
untuk mengambil belati di
dekatnya tiba-tiba tersungkur
jatuh dengan sebatang anak
panah yang menancap di kepalanya. Tepat di belakangnya berdiri
sesosok tubuh tegap
bertelanjang dada dengan
sebilah busur panah bermotif
Dayak di tangan kirinya. “Demosh, cepat bebaskan Lara!!” Terdengar perintah dari sosok di pintu masuk. Dengan senapan mesin
terkokang ditangannya, Mary
Ann berjalan masuk
menyeruak ke dalam ruangan
bawah tanah itu yang kini
menyisakan dirinya, sosok lelaki yang dipanggil Demosh,
Lara yang masih terikat di
salib besar, Vincent DeGaule
serta mayat-mayat anak
buahnya. Demosh memungut
belati dekat mayat Dickhead dan langsung melepaskan
ikatan Lara. Sesaat setelah terlepas
sepenuhnya dari ikatannya,
Lara langsung memeluk
Demosh dan mendekapnya
dengan erat. Demosh sedikit
terkesiap karena dirasakan dada Lara yang telanjang
bersentuhan dengan dada
telanjangnya. Dirasakan
puting Lara yang masih
mengeras dan tumpukan
daging lunak yang membangkitkan selera.
Segera dibuang jauh-jauh
pikiran kotornya dan
kemudian langsung berseru
ke Mary Ann. “Mary Ann, tembak saja jahanam itu!!” serunya dengan tatapan penuh dendam ke
arah Vincent.
“Tidak segampang itu Demosh!” Balas Mary Ann sambil tetap menodongkan
senapannya.
“Dia tidak layak untuk mati sedemikian mudahnya. Akan
kusiksa dia sebelum
kutembak. ” “Jangan.. Mohon jangan bunuh aku.. Akan kuberikan
semua kekayaanku asal kalian
bersedia mengampuni nyawa
hinaku ini..” Ratap Vincent kepada kumpulan malaikat
maut yang siap mencabut
nyawanya. Lara berjalan menghampiri
Vincent yang kini terpekur
dengan sekujur tubuh
gemetaran dan berkeringat
dingin. “Enak saja kau berkata begitu. Kami tidak akan
membunuhmu, tapi akan
kami bawa ke mahkamah
internasional yang akan
segera mengganjarmu dengan
hukuman penjara seumur hidup atas segala
perbuatanmu.” Katanya kepada Vincent.
“Benar. Kau akan segera mempertanggungjawabkan
perbuatan kejimu selama ini ”, Timpal Mary Ann lagi. Lara menatap ke arah Mary
Ann. Seorang gadis putih
berambut pirang asal Texas
yang bersama Demosh
menyertainya dalam
menumpas komplotan DeGaule. Gadis cantik yang
mempunyai potongan tubuh
sangat proporsional dengan
dada dan pinggul yang
dipastikan akan membuat
semua pria menelan ludah ketika bertemu dengannya. Sementara itu, Demosh
mengumpulkan bekas tali
yang tadi dipakai untuk
mengikat Lara dan kini
diikatkan ke sekujur tubuh
Vincent DeGaule yang telah tak berkutik. “Tunggu dan nikmatilah kebebasanmu yang akan
segera berakhir” senyum sinisnya dilemparkan ke arah
Vincent. Setelah selesai mengikat
Vincent dibalok salib itu,
Demosh segera bergabung
dengan 2 temannya. “Bagaimana keadaanmu Lara?” Tanyanya kepada Lara yang masih telanjang bulat.
“Aku baik-baik saja. Mereka tidak menyakitiku malahan
memberiku sedikit hiburan
kecil tadi ” “Dasar Lara, dalam keadaan begini saja masih sempat
mikir begituan ” Timpal Mary Ann. Lara hanya tersenyum dan
kembali bertanya,
“Bagaimana kalian bisa selamat dari kecelakaan itu ?” “Ceritanya panjang Lara. Akan kuceritakan bila kita
keluar dari Gunung ini” Jawab Demosh.
“Benar. Sekarang lebih baik kita hubungi polisi hutan
untuk membereskan
komplotan cecunguk ini ” Tukas Mary Ann kembali
sambil bergegas ke arah pintu
disusul Lara dan Demosh. Ruangan Kantor DeGaule
06.18 WIB Lara menatap jam yang
tergantung di dinding dalam
ruangan yang sepertinya
merupakan kantor tempat
Vincent DeGaule
melaksanakan semua kegiatan terorismenya. Meja
yang berantakan serta
telepon satelit serta
seperangkat komputer yang terhubung dengan internet
tentu sangat membantu
operasional komplotan ini. “Kau yakin tidak memerlukan baju ataupun sesuatu untuk
menutupi tubuh telanjangmu
itu, Lara? Aku takut nanti kau
kedinginan.” Tanya Mary Ann. “Aku baik-baik saja Mary Ann. Justru aku menikmati
kondisi ini. Dengan tubuh
telanjang kau akan dapat
lebih meresapi alam ini.” “Meresapi alam? Kau ini aneh sekali, Lara” Timpal Mary Ann sambil tertawa. “Dimana Demosh?” Tanya Lara sambil celingukan mencari
Demosh.
“Dia dibawah sana membantu polisi dan petugas dari Dinas
Kehutanan untuk
membereskan komplotan ini. ” “Sudahkah kau menghubungi Markas Besar CTU untuk
menjemput kita disini ?” Tanya Lara.
“Yup. Helikopter mereka sedang dalam perjalanan
kemari” “Oh ya Lara, sebenarnya dimana kau simpan Mandau
Emas itu” Tanya Mary Ann penasaran. “Mandau itu tidak pernah ada Mary Ann. Itu hanya isapan
jempol belaka. Seandainya
Mandau Emas itu ada, kurasa
lebih baik kita
membiarkannya dalam
legenda masyarakat saja. Jauh lebih baik daripada harus
jatuh ke tangan pihak yang
salah mengingat kemampuan
magisnya yang luar biasa. ” “Aku setuju denganmu dalam hal ini.”, “Sebelum aku lupa, aku mau bilang terima kasih kepada
kau dan juga Demosh. Tanpa
kalian aku rasa memekku
masih dijeboli oleh kontol
Vincent dan Dickhead sampai
sekarang” “Bukannya kamu menikmatinya ?” Mary Ann tertawa ketika mengatakan
hal itu.
“Iya sih, cuma aku lebih membayangkan bercinta
dengan kau dan Demosh di
ranjang empuk di LA daripada
di tengah hutan seperti
sekarang” Lara ikut tertawa menimpali Mary Ann yang
sudah terlebih dahulu tergelak
dangan canda Lara. Sementara pagi yang semakin
menyingsing di hutan
Kalimantan, suara kicauan
burung-burung di pagi itu
terkoyak oleh raungan suara
baling-baling helikopter milik CTU (Counter Terorist Unit)
yang diperintahkan untuk
menjemput Lara dan teman-
teman. Selepas helikopter itu
berlalu dan suaranya tak
terdengar lagi, hutan kembali tenang dan segala
aktivitasnya kembali berjalan
seakan melupakan apa yang
telah terjadi beberapa jam
sebelumnya. Canda para
penghuni hutan dan riak air sungai yang mengalir
mengantar Lara Croft dalam
menuntaskan petualangannya
di Hutan Kalimantan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda