Translate

Senin, 02 Mei 2011

JANDA SEKSI IBU TEMANKU bagian 2


Kami berdua telentang di jok kami
masing-masing, dengan kemaluan
kami yang masih terbuka. Kami
saling berpandangan dan
tersenyum puas. Tangan kanan
Mbak Yati meremas tangan kiriku, saya tidak tahu apa artinya, apakah
ucapan terima kasih, pujian ataukah
janji untuk mengulangi lagi apa
yang telah kami lakukan. Setelah istirahat sejenak, Mbak Yati
mengambil tisue dan
membersihkan cairan kental yang
belepotan di perutku dan kemaluan
saya. Mbak Yati
memmbersihkannya dengan mesra dan terkadang bercanda dengan
mencoba meremas dan
membangunkan kembali rudal
saya.
“Mbak. Jangan digoda lagi lho, kalau ngamuk lagi gimana.. ?” kataku bercanda.
“Coba aja kalau berani, siapa takut.. !” jawabnya sambil menirukan iklan di TV.
Setelah membersihkan
kemaluanku, dia juga
membersihkan kemaluannya
dengan tisue, dan memakai kembali
CD-nya, merapihkan rok, blus dan BH-nya yang kusut. Sementara saya
juga merapihkan kembali celana
saya. Dia menyisir rambutnya, dan
merapikan kembali riasan
wajahnya, sambil melirik dan
tersenyum ke saya penuh bahagia.
“Mbak.., besok tetap lho ya jam sepuluh pagi.” saya mengingatkan. “Pasti donk, mana sih yang nggak pengin sarang burungnya
dimasukin burung.” canda dia. “Apalagi sarangnya sudah kosong lama ya Mbak.. ?” godaku. “Pasti enak kok kalau udah lama. ” jawab dia. Setelah kami semua rapih, Mbak
Yati aku antar pulang dengan tetap
berdekapan, dia tertidur di dadaku,
tangan kiri saya untuk mendekap
dia dan tangan kanan saya untuk
pegang stir. Sesampainya di rumah MBak Yati,
cuaca masih gerimis. Mbak Yati
menawarkan untuk mampir
sebentar di rumah.
“Vi, masuk dulu yuk..! Aku buatkan kopi hangat kesukaanmu. ” ajak Mbak Yati.
“Oke dech, aku parkir dulu mobilnya ya.. ?” Sampai di dalam rumah Mbak Yati,
ternyata Tarno tidak ada. Menurut
Bi Inah, pembantu Mbak Yati,
katanya Tarno hari ini tidak pulang,
karena diminta atasannya dinas ke
luar kota. “Vi, ternyata Tarno malam ini nggak pulang. Kamu tidur aja disini,
di kamar Tarno.” pinta Mbak Yati sambil senyum penuh arti.
Aku tahu kemana arah
pembicaraan Mbak Yati.
“Nggak mau kalau tidur di kamar Tarno, aku takut sendirian. ” godaku.
“Emangnya takut sama siapa.. ?” “Ya takut kalau Mbak Yati nanti nggak nyusul ke kamarku. ” “Ssstt..! Jangan keras-keras, nanti ada yang denger. ” Mbak Yati cemberut, takut kalau ada yang
dengar.
“Ya udah, aku tidur sendiri di kamar Tarno, kalau nanti malam
saya dimakan semut, jangan heran
lho Mbak..!” saya pura-pura merajuk.
“Nggak usah ribut, mandi sana dulu, nanti malam kalau semua orang
udah pada tidur, kamu boleh nyusul
aku ke kamar, nggak saya kunci
kamarku. ” bisik Mbak Yati pelan. “Siip dach..!” aku ceria dan langsung pergi mandi. Habis mandi, badan saya terasa
segar kembali. Saya langsung pergi
ke kamar, pura-pura tidur. Tetapi di
dalam kamar saya membayangkan
apa yang akan saya lakukan nanti
setelah berada di kamar Mbak Yati. Saya akan bercinta dengan orang
yang sudah bertahun-tahun saya
idamkan. Jam di kamar saya menunjukkan
pukul 12:30 malam. Kudengarkan
kondisi di luar kamar sudah
kelihatan sepi. Tidak terdengar
suara apapun. TV di ruang keluarga
juga sudah dimatikan Bi Inah kira- kira jam 11 tadi. Bi Inah adalah
orang yang terakhir nonton TV
setelah acara Srimulat yang
merupakan acara kegemaran Bi
Inah. Untuk mempelajari suasana,
saya keluar pura-pura pergi ke kamar mandi. setelah benar-benar
sepi, saya mengendap-endap masuk
ke kamar Mbak Yati. Lampu di kamar Mbak Yati remang-
remang. Mbak Yati tidur telentang
dengan mengenakan daster tipis
yang semakin memperindah lekuk
tubuh Mbak Yati. Tubuh Mbak Yati
yang mungil tapi padat berisi, terlihat tampak sempurna dibalut
daster tersebut. Dengan tidak sabar
saya dekap tubuh Mbak Yati yang
sedang telentang bagaikan landasan
yang sedang menunggu
pesawatnya mendarat. Mbak Yati saya dekap hanya
tersenyum sambil berbisik, “Sudah nggak sabar ya.. ?” “Ya Mbak, perasaan waktu kok berjalan pelaan sekali.. ” Saya cium belakang telinganya
yang mungil dan ranum, kemudian
ciuman saya bergeser ke pipinya
dan akhirnya ke bibirnya yang
mungil dan juga ranum. Kedua
tangan Mbak Yati mendekap erat di leher saya. Tangan saya yang kiri
saya letakkan di bawah kepala
Mbak Yati untuk merangkulnya.
Sedangkan tangan kanan saya
gunakan untuk membelai dan
melingkari sekitar susunya. Dan dengan perlahan dan lembut,
telapak tangan saya gunakan
untuk meremas-remas lingkaran
luar payudaranya, dan ternyata
Mbak Yati sudah tidak memakai BH
lagi. Erangan-erangan lembut Mbak Yati
mulai keluar dari bibirnya,
sedangkan kedua kakinya
bergerak-gerak menandakan
birahinya mulai timbul. Remasan-
remasan tanganku di seputar susunya mendapatkan reaksi
balasan yang cukup baik, karena
kekenyalan susu Mbak Yati
kelihatan semakin bertambah.
Tangan kanan saya geserkan ke
bawah, sebentar mengusap perutnya, beralih ke pusarnya, dan
akhirnya saya gunakan untuk
mengusap kewanitaannya.
Ternyata Mbak Yati juga sudah
tidak memakai CD, sehingga
kemaluannya yang bulat dan mononjol, serta kelembutan
rambut kemaluannya dapat saya
rasakan dari luar dasternya. Kedua kakinya semakin melebar,
memberikan kesempatan seluas-
luasnya tangan saya untuk
membelai-belai kewanitaannya.
Ciuman saya beberapa saat
mendarat di bibirnya, kemudian saya alihkan turun ke lehernya, ke
belakang telinganya, dan akhirnya
turun ke bawah, melewati celah di
bukit kembarnya. Saya ciumi
lingkaran luar bukit kembarnya,
sebelum akhirnya menyiumi puting susunya yang sudah mengacung.
Ketika lidah saya menyium sampai
ke putingnya, nafas Mbak Yati
kelihatan mengangsur,
menunjukkan kelegaan.
“Uuuccghh.. Allvii.. !” Tali daster yang menggantung di
pundaknya, saya pelorotkan
sehingga menyembullah kedua
bukit kembarnya yang kenyal,
dengan kedua putingnya yang
sudah mengacung dan tegang. Saya ciumi sekali lagi kedua bukit
kembarnya, dan saya jilati
putingnya dengan lidah. Sementara
kedua jari dari tangan kanan saya
secara bersamaan membelai-belai
kedua selangkangannya, yang terkadang diselingi dengan usapan
kemaluan luarnya dengan telapak
tangan kanan saya. Belaian ini
memberikan kehangatan di bibir
kewanitaannya, selain untuk
meningkatkan rasa penasaran liang senggamanya. Jari tengah saya gunakan untuk
mebelai-belai bibir luar
kemaluannya yang sudah sangat
basah. Saya usap klitorisnya dengan
lembut dan pelan dengan
menggunakan ujung jari, membuat Mbak Yati semakin menikmati
belaian lembut klitorisnya. Bibir
kewanitaannya semakin merekah
dan semakin basah. Lidahku masih menari-nari di kedua
putingnya yang semakin keras,
jilatan lidah saya memberikan
sensasi yang kuat bagi Mbak Yati.
Terbukti dia semakin erat meremas
rambut saya, deru nafasnya semakin memburu dan
lenguhannya semakin kencang.
“Uuuccgghh.. Aaallvii.. uugghh.. eennaaggkk.. ” Saya jilati kedua putingnya kanan
dan kiri bergantian, sambil
meremasi dengan lembut tetapi
sedikit menekan kedua susunya
dengan kedua tangan saya. Setelah saya puas menciumi
susunya, ciuman saya geser ke arah
perutnya, saya jilati pusarnya,
kembali Mbak Yati sedikit
menggelinjang, mungkin karena
kegelian. Ciuman terus saya geser ke bawah, ke arah pahanya, turun
ke bawah betisnya, terus naik lagi
ke atas pahanya, kemudian ciuman
saya arahkan ke rambut
kemaluannya yang lebat. Mendapat
ciuman di rambut kemaluannya, kembali Mbak Yati menggelinjang-
gelinjang. Saya buka bibir
kemaluannya yang merekah, saya
ciumi dan jilati seputar bibir
kewanitaannya, terus lidah saya
diusapkan ke klitorisnya, dan bergantian saya gigit, terkadang
saya hisap klitorisnya. Setiap sentuhan lidah saya menjilat
pada klitorisnya, tangan Mbak Yati
menjambak rambut saya.
Kepalanya menggeleng-geleng,
dengan dada yang dibusungkan,
kedua kakinya mendekap erat leher saya, dan kicaunya semakin
tidak karuan, “Uuuccgghh.. Aaallvvii.. uughh.. ggeellii.. uuff..
ggeellii.. seekkaallii.. ” Cairan yang keluar dari
kemaluannya semakin banyak, bau
khas liang senggamanya semakin
kuat menyengat. Rintihan,
lenguhan yang keluar dari mulut
Mbak Yati semakin kacau. Gerakan- gerakan tubuh, kaki dan gelengan-
gelengan kepala Mbak Yati semakin
kencang. Dadanya tiba-tiba
dibusungkan, kedua kakinya
tegang dan menjepit kepala saya.
Saya mengerti kalau saat ini detik- detik orgasme akan segera melanda
Mbak Yati. Untuk memberikan
tambahan sensasi kepada Mbak
Yati, maka kedua putingnya saya
usap-usap dengan kedua jari
tangan, dengan mulut tetap menyedot dan menghisap
klitorisnya, maka tiba-tiba,
“Aaauughh.. Aallvvii aakk.. kkuu.. kkeelluuarr.. Aaacchh.. !” Saya tetap menghisap klitorisnya.
Dan dengan nafas masih terengah-
engah, Mbak Yati bangun dan
duduk. “Ayo Alvi.., gantian kamu tidur aja telentang..!” kata Mbak Yati sambil menidurkan saya telentang.
Gantian Mbak Yati telungkup di
samping saya. Tangannya yang
lembut sudah mulai mengelus-elus
batang kemaluan saya yang sudah
sangat tegang. Mulutnya yang mungil mencium bibir, terus turun
ke puting. Saya merasa sedikit
kegelian ketika dicium puting saya.
Mulutnya terus turun mencium
pusar, dan akhirnya saya rasakan
ada rasa hangat, basah dan sedikit sedotan sudah menjalar di rudal
saya. Ternyata Mbak Yati mulai
mengocok dan mengulum
kejantanan saya. Mbak Yati
mengulumnya dengan penuh nafsu.
Matanya terpejam tetapi kepalanya turun naik untuk mengocok rudal
saya. Kepala kemaluan saya dijilatinya
dengan lidah. Tekstur lidah yang
lembut tapi sedikit kasar, membuat
seakan ujung jari kaki saya terasa
ada getaran listrik yang menjalar di
seluruh kepala. Jilatan lidah di kepala rudal memang sangat enak.
Aliran listrik terus menerus
menjalar di sekujur tubuh saya.
Kepala Mbak Yati yang naik turun
mengocok kejantanan saya yang
saya bantu pegangi dengan kedua tangan. Kocokannya semakin lama
semakin kuat, dan hisapan
mulutnya seakan meremas-remas
seluruh batang keperkasaan saya.
Seluruh pori-pori tubuh saya seakan
bergetar dan bergolak. Getaran- getaran yang menjalar dari ujung
kaki dan dari ujung rambut kepala,
seakan mengalir dan bersatu
menuju satu titik, yaitu ke arah
rudal keperkasaan saya. Getaran-getaran tersebut makin
hebat, akhirnya kemaluan saya
menjadi seolah tanggul yang
menahan air gejolak. Lama-lama
pertahanan kemaluanku seakan
jebol, dan tiba-tiba saya menjerit. “Mmmbbakk Yaattii.. aaggkkuu kkelluuaarr.. !” Mendengar saya mengerang mau
keluar, mulut Mbak Yati tidak mau
melepaskan batang kejantanan
saya, tetapi malah kulumannya
dipererat. Mulut Mbak Yati
menyedot-nyedot cairan yang keluar dari rudal saya dengan
lahapnya, seakan tidak boleh ada
yang tersisa. Batang kemaluan saya
dihisap-hisapnya seakan menghisap
es lilin. Sensasinya sungguh sangat
dahsyat. Ternyata Mbak Yati sangat ahli dalam permainan oral. Nafas saya sedikit tersengal, badan
sedikit lemas, karena seakan-akan
semua cairan yang ada di tubuh,
mulai dari ujung kaki sampai
dengan kepala, habis keluar
tersedot oleh Mbak Yati. Mbak Yati tersenyum puas sambil
menggoda, “Gimana rasanya.. ?” “Waduh.., Mbak luar biasa.. ” jawabku sambil masih terengah-
engah.
“Nggak kalahkan dengan yang muda..?” kata Mbak Yati dengan berbangga.
“Yaa jelas yang lebih pengalaman donk yang lebih nikmat. ” Kami istirahat sejenak sambil
minum. Tetapi ternyata Mbak Yati
memang luar biasa. Baru istirahat
beberapa menit, tangannya sudah
mulai bergerak-gerak di perut, di
paha dan di selangkangan saya, membuat rasa geli di sekujur tubuh.
Tangannya kembali meremas-
remasbatang kemaluan saya.
Karena masih darah muda, maka
hanya sedikit sentuhan, kemaluan
saya langsung berdiri dengan gagahnya mencari sasaran. Melihat
batang keperksaan saya dengan
cepatnya berdiri lagi, wajah Mbak
Yati kelihatan berseri-seri. Sambil
tangannya tetap mengocoknya,
kami saling berciuman. Bibir Mbak Yati yang mungil memang sangat
merangsang semua laki-laki yang
melihatnya. Ciuman yang lembut
dengan usapan-usapan tangan saya
ke arah putingnya, membuat birahi
Mbak Yati juga cepat naik. Putingnya seakan-akan menjadi
tombol birahi. Begitu puting Mbak
Yati disenggol, lenguhan nafasnya
langsung mengencang, kedua
kakinya bergerak-gerak, pertanda
birahinya menggebu-gebu. Saya usap liang senggamanya
dengan tangan, ternyata liang
kenikmatan Mbak Yati sudah
sangat basah.
“Gila bener cewek ini, cepet sekali birahinya.., ” pikir saya dalam hati. Mbak Yati menarik-narik punggung
saya, seakan-akan memberi kode
agar senjata rudal saya segera
dimasukkan ke sarangnya yang
sudah lama tidak dikunjungi
burung pusaka. “Ayo dong Vi..! Cepetan, Mbak sudah nggak tahan nich.. !” Alat vital saya sudah semakin
tegang, dan saya sudah tidak sabar
untuk merasakan kemaluan Mbak
Yati yang mungil. Saya sapukan
perlahan-lahan kepala kejantanan
saya di bibir kewanitaannya. Kelihatan sekali kalau Mbak Yati
menahan nafas, tandanya agak
sedikit tegang, seperti gadis yang
baru pertama kali main senggama.
Setelah menyapukan kepala rudal
saya beberapa kali di bibir kenikmatannya dan di klitorisnya.
Akhirnya saya masukkan burung
saya ke sarangnya dengan sangat
perlahan. Kedua tangan Mbak Yati meremas
pundak saya. Kepalanya sedikit
miring ke kiri, matanya terpejam
dan mulutnya sedikit terbuka
sangat seksi sekali, tandanya Mbak
Yati sangat menikmati proses pemasukan batang kejantanan saya
ke liang senggamanya. Lenguhan
lega terdengar ketika kepala
kemaluanku membentur di dasar
liang kenikmatannya. Saya
diamkan beberapa saat rudal saya terbenam di liang senggamanya
untuk memberikan kesempatan
kemaluan Mbak Yati merasakan
rudal kenikmatan dengan baik. Saya pompakan batang kejantanan
saya ke liang senggama Mbak Yati
dengan metode 10:1, yaitu sepuluh
kali tusukan hanya setengah dari
seluruh panjang batang kejantanan
saya, dan satu kali tusukan penuh seluruh batang kejantanan saya
sampai membentur ujung
rahimnya. Metoda ini membuat
Mbak Yati merancau tidak karuan.
Setiap kali tusukan saya penuh
sampai ujung, saya kocok- kocokkan kejantanan saya
beberapa lama, akhirnya saya
rasakan kaki Mbak Yati melingkar
kuat di pinggang saya.
Kedua tangannya mencengkram
punggung saya, dan dadanya diangkat membusung, seluruh
badannya tegang mengencang,
diikuti dengan lenguhan panjang,
“Aaacchh.. aauugghh.. Aallvvii.. aakku.. kkeelluuaa.. aa.. rr.. !” Batang kemaluan saya terasa
sangat basah dan dicengkram
sangat kuat. Merasakan remasan-
remasan pada rudal saya yang
sangat kuat, membuat pertahann
saya juga seakan makin jebol dan akhirnya, “Ccrroot.. croot.. crrot.. !” saya juga keluar. Setelah permainan itu, saya sering
melakukan hubungan seks berkali-
kali, bisa seminggu dua kali saya
melakukan hubungan seks dengan
Mbak Yati. Ternyata nafsu seks
Mbak Yati cukup besar, kalau satu minggu saya tidak bermain seks
dengan Mbak Yati, pasti Mbak Yati
akan main ke rumah, ataupun
setelah bekerja, dia akan menelpon
saya di kantor untuk meminta
jatah. Saya melakukan hubungan seks
dengan Mbak Yati bisa dimana saja,
asal tempatnya memungkinkan.
Baik di rumah saya, di rumah dia, di
hotel, di mobil, di garasi, di kamar
mandi sambil berendam di bath-tub, di dapur sambil berdiri, bahkan aku
pernah bermain seks di atas kap
mesin mobil saya. Ternyata
berhubungan seks itu kalau dengan
perasaan agak takut dan terkadang
tergesa-gesa, memberikan pengalaman tersendiri yang cukup
mengasyikkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda