Translate

Kamis, 23 Juni 2011

AKU DAN BIBIKU TERSAYANG

Kulihat bibi tidur tidak berselimut,
karena biarpun kamar bibi memakai
AC, tapi kelihatan AC-nya diatur
agar tidak terlalu dingin. Posisi tidur
bibi telentang dan bibi hanya
memakai baju daster merah muda yang tipis. Dasternya sudah
terangkat sampai di atas perut,
sehingga terlihat CD mini yang
dikenakannya berwarna putih tipis,
sehingga terlihat belahan kemaluan
bibi yang ditutupi oleh rambut hitam halus kecoklat-coklatan. Buah dada bibi yang tidak terlalu
besar tapi padat itu terlihat samar-
samar di balik dasternya yang tipis,
naik turun dengan teratur.Walaupun
dalam posisi telentang, tapi buah
dada bibi terlihat mencuat ke atas dengan putingnya yang coklat muda
kecil. Melihat pemandangan yang
menggairahkan itu aku benar-benar
terangsang hebat. Dengan cepat
kemaluanku langsung bereaksi
menjadi keras dan berdiri dengan
gagahnya, siap tempur. Perlahan-lahan kuberjongkok di
samping tempat tidur dan tanganku
secara hati-hati kuletakkan dengan
lembut pada belahan kemaluan bibi
yang mungil itu yang masih ditutupi
dengan CD. Perlahan-lahan tanganku mulai mengelus-elus kemaluan bibi
dan juga bagian paha atasnya yang
benar-benar licin putih mulus dan
sangat merangsang. Terlihat bibi agak bergeliat dan
mulutnya agak tersenyum,
mungkin bibi sedang mimpi, sedang
becinta dengan paman. Aku
melakukan kegiatanku dengan hati-
hati takut bibi terbangun. Perlahan- lahan kulihat bagian CD bibi yang
menutupi kemaluannya mulai
terlihat basah, rupanya bibi sudah
mulai terangsang juga. Dari
mulutnya terdengar suara mendesis
perlahan dan badannya menggeliat- geliat perlahan-lahan. Aku makin tersangsang melihat
pemandangan itu.Cepat-cepat
kubuka semua baju dan CD-ku,
sehingga sekarang aku bertelanjang
bulat. Penisku yang 19 cm itu telah
berdiri kencang menganguk-angguk mencari mangsa. Dan aku membelai-
belai buah dadanya, dia masih tetap
tertidur saja. Aku tahu bahwa
puting dan klitoris bibiku tempat
paling suka dicumbui, aku tahu hal
tersebut dari film-film bibiku. Lalu tanganku yang satu mulai
gerilya di daerah vaginanya.
Kemudian perlahan-lahan aku
menggunting CD mini bibi dengan
gunting yang terdapat di sisi tempat
tidur bibi.Sekarang kemaluan bibi terpampang dengan jelas tanpa ada
penutup lagi. Perlahan-lahan kedua
kaki bibi kutarik melebar, sehingga
kedua pahanya terpentang. Dengan
hati-hati aku naik ke atas tempat
tidur dan bercongkok di atas bibi. Kedua lututku melebar di samping
pinggul bibi dan kuatur sedemikian
rupa supaya tidak menyentuh
pinggul bibi. Tangan kananku
menekan pada kasur tempat tidur,
tepat di samping tangan bibi, sehingga sekarang aku berada dalam
posisi setengah merangkak di atas
bibi.Tangan kiriku memegang
batang penisku. Perlahan-lahan
kepala penisku kuletakkan pada
belahan bibir kemaluan bibi yang telah basah itu. Kepala penisku yang
besar itu kugosok-gosok dengan
hati-hati pada bibir kemaluan bibi.
Terdengar suara erangan perlahan
dari mulut bibi dan badannya agak
mengeliat, tapi matanya tetap tertutup. Akhirnya kutekan perlahan-lahan
kepala kemaluanku membelah bibir
kemaluan bibi.Sekarang kepala
kemaluanku terjepit di antara bibir
kemaluan bibi. Dari mulut bibi tetap
terdengar suara mendesis perlahan, akan tetapi badannya kelihatan
mulai gelisah. Aku tidak mau
mengambil resiko, sebelum bibi
sadar, aku sudah harus menaklukan
kemaluan bibi dengan
menempatkan posisi penisku di dalam lubang vagina bibi. Sebab itu
segera kupastikan letak penisku
agar tegak lurus pada kemaluan bibi.
Dengan bantuan tangan kiriku yang
terus membimbing penisku,
kutekan perlahan-lahan tapi pasti pinggulku ke bawah, sehingga
kepala penisku mulai menerobos ke
dalam lubang kemaluan
bibi.Kelihatan sejenak kedua paha
bibi bergerak melebar, seakan-akan
menampung desakan penisku ke dalam lubang kemaluanku. Badannya tiba-tiba bergetar
menggeliat dan kedua matanya
mendadak terbuka, terbelalak
bingung, memandangku yang
sedang bertumpu di atasnya.
Mulutnya terbuka seakan-akan siap untuk berteriak. Dengan cepat
tangan kiriku yang sedang
memegang penisku kulepaskan dan
buru-buru kudekap mulut bibi agar
jangan berteriak. Karena gerakanku
yang tiba-tiba itu, posisi berat badanku tidak dapat kujaga lagi,
akibatnya seluruh berat pantatku
langsung menekan ke bawah,
sehingga tidak dapat dicegah lagi
penisku menerobos masuk ke dalam
lubang kemaluan bibi dengan cepat. Badan bibi tersentak ke atas dan
kedua pahanya mencoba untuk
dirapatkan, sedangkan kedua
tangannya otomatis mendorong ke
atas, menolak dadaku. Dari
mulutnya keluar suara jeritan, tapi tertahan oleh bekapan tangan
kiriku. ”Aauuhhmm.. aauuhhmm.. hhmm..!” desahnya tidak jelas.Kemudian badannya mengeliat-
geliat dengan hebat, kelihatan bibi
sangat kaget dan mungkin juga
kesakitan akibat penisku yang besar
menerobos masuk ke dalam
kemaluannya dengan tiba-tiba. Meskipun bibi merontak-rontak,
akan tetapi bagian pinggulnya tidak
dapat bergeser karena tertekan oleh
pinggulku dengan rapat. Karena
gerakan-gerakan bibi dengan kedua
kaki bibi yang meronta-ronta itu, penisku yang telah terbenam di
dalam vagina bibi terasa dipelintir-
pelintir dan seakan-akan dipijit-pijit
oleh otot-otot dalam vagina bibi. Hal ini menimbulkan kenikmatan
yang sukar dilukiskan.Karena sudah
kepalang tanggung, maka tangan
kananku yang tadinya bertumpu
pada tempat tidur kulepaskan.
Sekarang seluruh badanku menekan dengan rapat ke atas badan bibi,
kepalaku kuletakkan di samping
kepala bibi sambil berbisik kekuping
bibi.”Bii.., bii.., ini aku Eric. Tenang bii.., sshheett.., shhett.. !” bisikku. Bibi masih mencoba melepaskan diri,
tapi tidak kuasa karena badannya
yang mungil itu teperangkap di
bawah tubuhku. Sambil tetap
mendekap mulut bibi, aku menjilat-
jilat kuping bibi dan pinggulku secara perlahan-lahan mulai
kugerakkan naik turun dengan
teratur.Perlahan-lahan badan bibi
yang tadinya tegang mulai
melemah.Kubisikan lagi ke kuping
bibi, “Bii.., tanganku akan kulepaskan dari mulut bibi, asal bibi
janji jangan berteriak
yaa..?”Perlahan-lahan tanganku kulepaskan dari mulut
bibi.Kemudian Bibi berkata, “Riic.., apa yang kau perbuat ini..? Kamu
telah memperkosa Bibi.. !”Aku diam saja, tidak menjawab apa-apa,
hanya gerakan pinggulku makin
kupercepat dan tanganku mulai
memijit-mijit buah dada bibi,
terutama pada bagian putingnya
yang sudah sangat mengeras. Rupanya meskipun wajah bibi masih
menunjukkan perasaan marah, akan
tetapi reaksi badannya tidak dapat
menyembunyikan perasaannya
yang sudah mulai terangsang itu.
Melihat keadaan bibi ini, tempo permainanku kutingkatkan
lagi.Akhirnya dari mulut bibi
terdengar suara, “Oohh.., oohh.., sshh.., sshh.., eemm.., eemm.., Riicc..,
Riicc..!”Dengan masih melanjutkan gerakan pinggulku, perlahan-lahan
kedua tanganku bertumpu pada
tempat tidur, sehingga aku sekarang
dalam posisi setengah bangun,
seperti orang yang sedang
melakukan push-up.Dalam posisi ini, penisku menghujam kemaluan bibi
dengan bebas, melakukan serangan-
serangan langsung ke dalam lubang
kemaluan bibi. Kepalaku tepat berada di atas kepala
bibi yang tergolek di atas kasur.
Kedua mataku menatap ke bawah
ke dalam mata bibi yang sedang
meram melek dengan sayu. Dari
mulutnya tetap terdengar suara mendesis-desis. Selang sejenak
setelah merasa pasti bahwa bibi
telah dapat kutaklukan, aku
berhenti dengan kegiatanku. Setelah
mencabut penisku dari dalam
kemaluan bibi, aku berbaring setengah tidur di samping bibi.
Sebelah tanganku mengelus-elus
buah dada bibi terutama pada bagian
putingnya. “Eehh.., Ric.., kenapa kau lakukan ini kepada bibimu..!” katanya.Sebelum menjawab aku menarik badan bibi
menghadapku dan memeluk badan
mungilnya dengan hati-hati, tapi
lengket ketat ke badan. Bibirku
mencari bibinya, dan dengan gemas
kulumat habis. Woowww..! Sekarang bibi menyambut ciumanku
dan lidahnya ikut aktif menyambut
lidahku yang menari-nari di
mulutnya. Selang sejenak kuhentikan
ciumanku itu.Sambil memandang
langsung ke dalam kedua matanya
dengan mesra, aku berkata, “Bii.. sebenarnya aku sangat sayang sekali
sama Bibi, Bibi sangat cantik lagi
ayu.. !”Sambil berkata itu kucium lagi bibirnya selintas dan melanjutkan
perkataanku, “Setiaap kali melihat Bibi bermesrahan dengan Paman,
aku kok merasa sangat cemburu,
seakan-akan Bibi adalah milikku, jadi
Bibi jangan marah yaa kepadaku, ini
kulakukan karena tidak bisa
menahan diri ingin memiliki Bibi seutuhnya. “Selesai berkata itu aku menciumnya dengan mesra dan
dengan tidak tergesa-gesa.Ciumanku
kali ini sangat panjang, seakan-akan
ingin menghirup napasnya dan
belahan jiwanya masuk ke dalam
diriku. Ini kulakukan dengan perasaan cinta kasih yang setulus-
tulusnya. Rupanya bibi dapat juga
merasakan perasaan sayangku
padanya, sehingga pelukan dan
ciumanku itu dibalasnya dengan
tidak kalah mesra juga.Beberapa lama kemudian aku menghentikan
ciumanku dan aku pun berbaring
telentang di samping bibi, sehingga
bibi dapat melihat keseluruhan
badanku yang telanjang itu. ”Iih.., gede banget barang kamu Ricc..! Itu
sebabnya tadi Bibi merasa sangat
penuh dalam badan Bibi.” katanya, mungkin punyaku lebih besar dari
punya paman. Lalu aku mulai memeluknya kembali
dan mulai menciumnya. Ciumanku
mulai dari mulutnya turun ke leher
dan terus kedua buah dadanya yang
tidak terlalu besar tapi padat itu.
Pada bagian ini mulutku melumat- lumat dan menghisap-hisap kedua
buah dadanya, terutama pada kedua
ujung putingnya berganti-ganti, kiri
dan kanan.Sementara aksiku sedang
berlangsung, badan bibi menggeliat-
geliat kenikmatan. Dari mulutnya terdengar suara mendesis-desis tidak
hentinya. Aksiku kuteruskan ke
bawah, turun ke perutnya yang
ramping, datar dan mulus. Maklum,
bibi belum pernah melahirkan.
Bermain-main sebentar disini kemudian turun makin ke bawah,
menuju sasaran utama yang terletak
pada lembah di antara kedua paha
yang putih mulus itu.Pada bagian
kemaluan bibi, mulutku dengan
cepat menempel ketat pada kedua bibir kemaluannya dan lidahku
bermain-main ke dalam lubang
vaginanya. Mencari-cari dan akhirnya menyapu
serta menjilat gundukan daging kecil
pada bagian atas lubang
kemaluannya. Segera terasa badan
bibi bergetar dengan hebat dan
kedua tangannya mencengkeram kepadaku, menekan ke bawah
disertai kedua pahanya yang
menegang dengan kuat.Keluhan
panjang keluar dari mulutnya,
“Oohh.., Riic.., oohh.. eunaakk.. Riic..!”Sambil masih terus dengan kegiatanku itu, perlahan-lahan
kutempatkan posisi badan sehingga
bagian pinggulku berada sejajar
dengan kepala bibi dan dengan
setengah berjongkok. Posisi batang kemaluanku persis
berada di depan kepala bibi.
Rupanya bibi maklum akan
keinginanku itu, karena terasa
batang kemaluanku dipegang oleh
tangan bibi dan ditarik ke bawah. Kini terasa kepala penis menerobos
masuk di antara daging empuk yang
hangat. Ketika ujung lidah bibi mulai
bermain-main di seputar kepala
penisku, suatu perasaan nikmat tiba-
tiba menjalar dari bawah terus naik ke seluru badanku, sehingga dengan
tidak terasa keluar erangan
kenikmatan dari mulutku.Dengan
posisi 69 ini kami terus bercumbu,
saling hisap-mengisap, jilat-menjilat
seakan-akan berlomba-lomba ingin memberikan kepuasan pada satu
sama lain. Beberapa saat kemudian aku
menghentikan kegiatanku dan
berbaring telentang di samping bibi.
Kemudian sambil telentang aku
menarik bibi ke atasku, sehingga
sekarang bibi tidur tertelungkup di atasku. Badan bibi dengan pelan
kudorong agak ke bawah dan
kedua paha bibi kupentangkan.
Kedua lututku dan pantatku agak
kunaikkan ke atas, sehingga dengan
terasa penisku yang panjang dan masih sangat tegang itu langsung
terjepit di antara kedua bibir
kemaluan bibi.Dengan suatu tekanan
oleh tanganku pada pantat bibi dan
sentakan ke atas pantatku, maka
penisku langsung menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan bibi.
Amblas semua batangku. “Aahh..!” terdengar keluhan panjang kenikmatan keluar dari mulut
bibi.Aku segera menggoyang
pinggulku dengan cepat karena
kelihatan bahwa bibi sudah mau
klimaks. Bibi tambah semangat juga
ikut mengimbangi dengan menggoyang pantatnya dan
menggeliat-geliat di atasku. Kulihat
wajahnya yang cantik, matanya
setengah terpejam dan rambutnya
yang panjang tergerai, sedang kedua
buah dadanya yang kecil padat itu bergoyang-goyang di atasku.Ketika
kulihat pada cermin besar di lemari,
kelihatan pinggul bibi yang sedang
berayun-ayun di atasku. Batang penisku yang besar sebentar
terlihat sebentar hilang ketika bibi
bergerak naik turun di atasku. Hal ini
membuatku jadi makin terangsang.
Tiba-tiba sesuatu mendesak dari
dalam penisku mencari jalan keluar, hal ini menimbulkan suatu perasaan
nikmat pada seluruh badanku. Kemudian air maniku tanpa dapat
ditahan menyemprot dengan keras
ke dalam lubang vagina bibi, yang
pada saat bersamaan pula terasa
berdenyut-denyut dengan
kencangnya disertai badannya yang berada di atasku bergetar dengan
hebat dan terlonjak-lonjak. Kedua
tangannya mendekap badanku
dengan keras. Pada saat bersamaan kami berdua
mengalami orgasme dengan dasyat.
Akhirnya bibi tertelungkup di atas
badanku dengan lemas sambil dari
mulut bibi terlihat senyuman
puas.”Riic.., terima kasih Ric. Kau telah memberikan Bibi kepuasan
sejati..!”Setelah beristirahat, kemudian kami bersama-sama ke
kamar mandi dan saling
membersihkan diri satu sama lain. Sementara mandi, kami berpelukan
dan berciuman disertai kedua tangan
kami yang saling mengelus-elus dan
memijit-mijit satu sama lain,
sehingga dengan cepat nafsu kami
terbangkit lagi. Dengan setengah membopong badan bibi yang mungil
itu dan kedua tangan bibi
menggelantung pada leherku, kedua
kaki bibi kuangkat ke atas
melingkar pada pinggangku dan
dengan menempatkan satu tangan pada pantat bibi dan menekan,
penisku yang sudah tegang lagi
menerobos ke dalam lubang
kemaluan bibi. “Aaughh.. oohh.. oohh..!” terdengar rintihan bibi sementara aku
menggerakan-gerakan pantatku
maju-mundur sambil menekan ke
atas.Dalam posisi ini, dimana berat
badan bibi sepenuhnya tertumpu
pada kemaluannya yang sedang terganjel oleh penisku, maka dengan
cepat bibi mencapai
klimaks. ”Aaduhh.. Riic.. Biibii.. maa.. maa.. uu.. keluuar.. Riic.. !” dengan keluhan panjang disertai badannya
yang mengejang, bibi mencapai orgasme, dan selang
sejenak terkulai lemas dalam
gendonganku.Dengan penisku masih
berada di dalam lubang kemaluan
bibi, aku terus membopongnya.
Aku membawa bibi ke tempat tidur. Dalam keadaan tubuh yang
masih basah kugenjot bibi yang
telah lemas dengan sangat bernafsu,
sampai aku orgasme sambil
menekan kuat-kuat pantatku.
Kupeluk badan bibi erat-erat sambil merasakan airmaniku menyemprot-
nyemprot, tumpah dengan deras ke
dalam lubang kemaluan bibi, mengisi
segenap relung-relung di dalamnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda