Translate

Senin, 04 Juli 2011

ANTARA PROFESI DAN HARGA DIRI

Aku tersentak bangun saat
kudengar jam wekerku berdering
dengan nyaring. “Uhh.. Jam berapa
ini..!” gumamku pelan sambil
berusaha membuka mataku, aku
masih malas dan ingin kembali tidur, tapi tiba tiba aku teringat bahwa
hari ini aku harus buru-buru
berkemas dan berangkat, kalau
tidak, aku akan ketinggalan
pesawat. Hari ini aku akan pergi ke
luar kota, bank swasta tempatku bekerja menugaskanku untuk
mengikuti beberapa program
pendidikan di kantor cabang salah
satu kota di daerah Jawa Tengah.
Namaku Melinda tapi teman-teman
biasa memanggilku Linda. Aku dilahirkan dari keluarga yang serba
berkecukupan dan aku hanya
mempunyai satu saudara kandung
laki-laki, praktis semua permintaan
dan kebutuhanku selalu dipenuhi
oleh kedua orang tuaku. Aku benar benar sangat di manja oleh mereka.
Ayahku berasal dari negeri Belanda,
sedangkan ibuku berasal dari
Menado, aku bersyukur karena
seperti gadis peranakan pada
umumnya, aku pun tumbuh menjadi gadis yang berwajah cukup cantik.
Saat ini usiaku 24 tahun, wajahku
cantik dan kulitku putih mulus,
rambutku lurus dan panjang sampai
di bawah bahu, tubuhku pun
termasuk tinggi dan langsing dipadu dengan ukuran buah dada yang
termasuk besar untuk ukuran gadis
seusiaku, ditambah lagi, aku sangat
rajin merawat tubuhku sendiri
supaya penampilanku dapat terus
terjaga. “Wah.. Aku belum sempat potong rambut nih..” gumamku
sambil terus mematut diri di depan
cermin sambil mengenakan
pakaianku. Hari ini aku memakai
setelan rok coklat tua dan kemeja
putih berkerah, lalu aku padukan dengan blazer coklat muda. Aku
merasa tampil makin cantik dengan
pakaian kesayanganku ini, membuat
aku tambah percaya diri. Singkat
cerita, aku telah sampai di kota
tempatku akan bekerja. Aku langsung menuju kantor cabangku
karena aku harus segera melapor
dan menyelesaikan pekerjaan.
Sesampai di depan kantor
suasananya terlihat sangat sepi, di
lobby kantor hanya terlihat dua orang satpam yang sedang bertugas,
mereka mengatakan bahwa seluruh
karyawan sedang ada pelatihan di
gedung sebelah. Dan mereka juga
berkata bahwa aku sudah ditunggu
oleh Pak Bobby di ruangannya di lantai dua, Pak Bobby adalah
pimpinan kantor cabang di kota ini.
“Selamat siang..! Kamu Melinda
kan..?” sambut Pak Bobby ramah
sambil mempersilakan aku duduk.
“Iya Pak.. Tapi saya biasa di panggil Linda..” jawabku sopan. Pak Bobby
kemudian mengajukan beberapa
pertanyaan kepadaku, sambil
sesekali menanyakan keadaan para
pegawai di kantor pusat. Cukup
lama juga aku berbicara dengan Pak Bobby, hampir lima belas menit,
padahal sebenarnya, aku harus ke
gedung sebelah untuk mengikuti
diklat, tapi Pak Bobby terus saja
menahanku dengan mengajakku
berbicara. Sebenarnya aku sedikit risih dengan cara Pak Bobby
memandangku, mulutnya memang
mengajukan pertanyaan kepadaku,
tapi matanya terus memandangi
tubuhku, tatapannya seperti hendak
menelanjangiku. Dia memperhatikanku mulai dari ujung
kaki sampai ujung kepala, sesekali
pandangannya tertumpu di sekitar
paha dan buah dadaku. Aku agak
menyesal karena hari ini aku
mengenakan rok yang agak pendek, sehingga pahaku yang putih jadi
sulit untuk kusembunyikan. Dasar
mata keranjang, sungutku dalam
hati. Baru tak berapa lama kemudian
pembicaraan kami pun selesai dan
Pak Bobby beranjak ke arah pintu mempersilakanku untuk mengikuti
diklat di gedung sebelah. “Terima
kasih Pak.. Saya permisi dulu..”
jawabku sambil beranjak ke arah
pintu. Perasaanku langsung lega
karena dari tadi aku sudah sangat risih dengan pandangan mata Pak
Bobby yang seperti hendak
menelanku bulat bulat. Pak Bobby
membukakan pintu untukku, aku
pun berterima kasih sambil berjalan
melewati pintu tersebut. Tapi aku kaget bukan kepalang saat tiba tiba
rambutku dijambak dan ditarik oleh
Pak Bobby, sehingga aku kembali
tertarik masuk ke ruangan itu, lalu
Pak Bobby mendorongku dengan
keras sehingga aku jatuh terjerembab di atas sofa tempat tadi
aku duduk dan berbicara dengan Pak
Bobby. “Apa yang Bapak
lakukan..?? Mau apa Bapak..?”
jeritku setengah bergetar sambil
memegangi kepalaku yang sakit akibat rambutku dijambak seperti
itu. Pak Bobby tidak menjawab, dia
malah mendekatiku setelah
sebelumnya menutup pintu
ruangannya. Sedetik kemudian dia
telah menyergap, mendekap dan menggumuliku, nafasnya
mendengus menghembus di sekitar
wajahku saat Pak Bobby berusaha
menciumi bibirku “Jangan..
Jangann..! Lepasskan.. Ssaya..!”
jeritku sambil memalingkan wajahku menghindari terkaman
mulutnya. “Diam..!!” bentaknya
mengancam sambil mempererat
pelukannya pada tubuhku. Aku
terus meronta sambil memukulkan
kedua tanganku ke atas pundaknya, berusaha melepaskan diri dari
dekapannya, tapi Pak Bobby terus
menghimpitku dengan erat, nafasku
sampai tersengal sengal karena
terdesak oleh tubuhnya. Bahkan
sekarang Pak Bobby telah mengangkat tubuhku, dia
menggendongku sambil tetap
mendekap pinggangku, lalu dia
menjatuhkan dirinya dan tubuhku
di atas sofa dengan posisi aku ada di
bagian bawah, sehingga kini tubuhku tertindih oleh tubuhnya.
Aku terus menjerit dan meronta,
berusaha keluar dari dekapannya,
lalu pada satu kesempatan aku
berhasil menendang perutnya
dengan lututku hingga membuat tubuhnya terjajar ke belakang. Dia
terhenyak sambil memegangi
perutnya, kupergunakan
kesempatan itu untuk berlari ke
arah pintu. Aku hampir sampai di
pintu keluar saat tubuhku kembali tertarik ke belakang, rupanya Pak
Bobby berhasil menggapai blazerku
dan menariknya hingga terlepas dari
tubuhku, sesaat kemudian aku
sudah berada di dalam dekapannya
kembali. “Bajingann..! Lepaskan saya..!” jeritku sambil memakinya.
Tenagaku sudah mulai habis dan
suaraku pun sudah mulai parau, Pak
Bobby masih terus memelukku dari
belakang sambil mulutnya berusaha
menciumi leher dan tengkukku, sementara tangannya menelikung
kedua tanganku, membuat
tanganku terhimpit dan tidak dapat
bergerak. “Jangann..! Biadab..
Lepaskan sayaa..!” aku kembali
menjerit parau. Air mataku sudah meleleh membasahi pipiku, saat
tangan Pak Bobby membetot keras
kemeja putihku, membuat seluruh
kancingnya terlepas dan berjatuhan
di atas lantai. Sekarang tubuh bagian
atasku menjadi setengah terbuka, mata Pak Bobby semakin melotot
melihat buah dadaku yang masih
terlindung di balik bra hitamku,
setelah itu, dia menarik kemeja yang
masih menempel di bahuku, dan
terus menariknya sampai menuruni lenganku, sampai akhirnya Pak
Bobby menggerakkan tangannya,
melemparkan kemeja putihku yang
telah terlepas dari tubuhku.
“Lepasskann..!!” jeritku saat satu
tangannya mulai bergerak meremasi sebelah payudaraku. Tubuhku
mengelinjang hebat menahan ngilu
di buah dadaku, tapi dia tidak
berhenti, tangannya malah semakin
keras meremas buah dadaku.
Seluruh tubuhku bergetar keras saat Pak Bobby menyusupkan
tangannya ke balik bra hitamku dan
mulai kembali meremas payudaraku
dengan kasar, sambil sesekali
menjepit dan mempermainkan
puting buah dadaku dengan jarinya, sementara mulutnya terus menjilati
leherku dengan buas. Pak Bobby
sudah akan menarik lepas bra yang
kukenakan, saat pada saat yang
bersamaan pintu depan ruangannya
terbuka, dan muncul seorang laki laki dengan wajah yang tampak
kaget. “Ada apa nih Pak Bobby..?”
serunya, sambil memandangi
tubuhku. “Lepaskan saya.. Pak..!
Tolong saya..! Pak Bobby akan
memperkosa saya..!” jeritku memohon pertolongan dari orang
itu. Perasaanku sedikit lega saat laki-
laki itu muncul, aku berharap dia
akan menolongku. Tapi perkiraanku
ternyata salah.. “Wah Pak.. Ada
barang baru lagi nih. Cantik juga..!” seru laki-laki itu sambil berjalan
mendekati kami, aku langsung
lemas mendengar kata-katanya,
ternyata laki laki ini sama bejatnya
dengan Pak Bobby. “Ada pesta
kecil..! Cepat Han.!! Lu pegangi dia..! Cewek ini binal banget” jawab Pak
Bobby sambil tetap mendekap
tubuhku yang masih terus berusaha
meronta. Sedetik kemudian laki-laki
itu sudah berada di depanku,
tangannya langsung menggapai dan merengkuh pinggangku
merapatkan tubuhnya dengan
tubuhku, aku benar-benar tidak
dapat bergerak, terhimpit oleh laki-
laki itu dan Pak Bobby yang berada
di belakangku, lalu tangannya bergerak ke arah bra-ku, dan
dengan sekali sentak, dia berhasil
merenggut bra itu dari tubuhku.
“Tidak.. Tidak..! Jangan lakukan..!!”
jeritku panik. Tangisku meledak,
aku begitu ketakutan dan putus asa hingga seluruh bulu kudukku
merinding, dan aku semakin
gemetar ketakutan saat laki-laki
yang ternyata bernama Burhan itu
melangkah ke belakang, sedikit
menjauhiku, dia diam sambil memandangi buah dadaku yang
telah terbuka, pandangannya seperti
hendak melahap habis payudaraku.
“Sempurna..! Besar dan padat..”
gumamnya sambil terus
memandangi kedua buah dadaku yang menggantung bebas. Setelah
itu dia kembali beranjak
mendekatiku, mendongakkan
kepalaku dan melumat bibirku,
sementara tangannya langsung
mencengkeram buah dadaku dan meremasnya dengan kasar. Suara
tangisanku langsung terhenti saat
mulutnya menciumi bibirku,
kurasakan lidahnya menjulur di
dalam mulutku, berusaha menggapai
lidahku. Aku tercekat saat tangannya bergerak ke arah
selangkanganku, menyusup ke balik
rokku, aku langsung tersentak
kaget saat tangannya merengkuh
vaginaku. Kukumpulkan sisa-sisa
tenagaku lalu dengan sekuat tenaga kudorong tubuh Pak Burhan.
“Tidak.! Tidak..! Lepaskan saya..
Bajingan kalian..!” aku menjerit
sambil menendang-nendangkan
kakiku berusaha menjauhkan laki-
laki itu dari tubuhku. “Ouh.. Ssakit..!!” keluhku saat Pak Bobby
yang berada di belakangku kembali
mendekapku dengan lebih erat.
Kutengadahkan kepalaku, kutatap
wajah Pak Bobby, aku memohon
supaya dia melepaskanku. “Tolonngg.. Hentikann Pak..!! Saya..
Mohon.. Lepaskan saya..” ucapku
mengharap belas kasihannya.
Keadaanku saat itu sudah benar-
benar berantakan, tubuh bagian
atasku sudah benar-benar telanjang, membuat kedua payudaraku
terlihat menggantung dan tidak lagi
tertutup oleh apapun. Aku sangat
takut, mereka akan lebih bernafsu
lagi melihat keadaan tubuhku yang
sudah setengah telanjang ini, apalagi saat ini tubuhku sedang ditelikung
oleh Pak Bobby dari belakang hingga
posisi itu membuat dadaku jadi
terdorong ke depan dan otomatis
buah dadaku pun ikut membusung.
Beberapa saat kemudian Pak Bobby tiba tiba mengendorkan
dekapannya pada tubuhku dan
akhirnya dia melepaskanku. Aku
hampir tidak percaya bahwa Pak
Bobby mau melepaskanku, padahal
saat itu aku sudah sangat putus asa, aku sadar aku hampir tidak
mungkin lolos dari desakan kedua
laki-laki tersebut. Tidak mau
menyia-nyiakan kesempatan itu,
aku langsung berlari secepatnya ke
arah pintu, tapi lagi-lagi aku kalah cepat, Pak Burhan sudah
menghadang di depanku dan
langsung menghunjamkan
pukulannya ke arah perutku.
“Arghh..!! Sshh.. Ouhh..” aku
mengeluh kesakitan. Kupegangi perutku, seketika itu juga, aku
langsung jatuh terduduk, nafasku
tersengal-sengal menahan sakit yang
tak terkira. Belum hilang rasa
sakitku, mereka berdua langsung
menyerbu ke arahku. “Pegangi tangannya Han..!!” seru Pak Bobby
sambil mendorong tubuhku
sehingga aku jatuh terjengkang di
atas lantai. Seketika itu juga Pak
Burhan sudah berada di atas
kepalaku dan mencengkeram kedua tanganku, sementara Pak Bobby
berada di bawah tubuhku,
mendekap kedua kakiku yang
berusaha menendangnya. Dia sudah
seperti kemasukan setan, melepasi
sepatu hak tinggiku, merobek stockingku dan mencabik cabik rok
yang kukenakan dan akhirnya dia
merenggut dengan paksa celana
dalamku, melolosinya dari kedua
kakiku dan melemparkannya ke
lantai. “Lepasskann..! Lepasskan..! Tolongg.. Jangan perkosa sayaa..!”
jeritanku makin keras di sela-sela
keputusasaan. Aku sudah tidak
sanggup lagi menahan mereka yang
sepertinya semakin bernafsu untuk
memperkosaku, air mataku makin deras mengalir membasahi kedua
pipiku, kupejamkan mataku, bulu
kudukku langsung bergidik, aku
tidak sanggup membayangkan
kalau hari ini aku akan diperkosa
oleh mereka. “Jangann.. Ahh.. Tolongg..!” aku menjerit histeris saat
Pak Bobby melepaskan
pegangannya pada kedua kakiku.
Dia berdiri sambil melepaskan
pakaiannya sendiri dengan sangat
terburu-buru. Aku sadar, laki-laki ini sebentar lagi akan menggagahiku.
Seketika itu juga kurapatkan kedua
kakiku dan kutarik ke atas hingga
menutupi sebagian dadaku,
sementara kedua tanganku masih
tetap di dekap erat oleh Pak Burhan. Tiba tiba Pak Bobby berjongkok, dia
langsung menarik kedua kakiku,
merenggangkannya dan kemudian
memposisikan tubuhnya di antara
kedua pangkal pahaku. “Jangann..!!”
keluhku lemah dan putus asa, sambil bertahan untuk tetap merapatkan
kedua kakiku, tapi tenaga Pak
Bobby jauh lebih kuat di bandingkan
dengan tenagaku. Aku terhenyak
saat Pak Bobby mulai menindihku,
membuatku jadi sesak dan sulit untuk bernafas, buah dadaku
tertekan oleh dadanya, sementara
perutnya menempel di atas perutku.
“Arghh..!! Jangann..! Sakiitt..!!”
rintihku sambil berusaha menggeser
pinggulku ke kiri dan ke kanan, saat kurasakan kemaluannya bergesekan
dengan bibir kemaluanku. “Sakiitt..!”
aku kembali mengerang saat kepala
penisnya mulai masuk ke dalam
liang vaginaku. Bersamaan dengan
itu, tangan Pak Bobby bergerak, menjambak rambutku dan
menariknya sehingga kepalaku
terdongak, kemudian Pak Bobby
dengan kasar melumat bibirku
sambil terus menekankan tubuhnya
ke arah selangkanganku. Kurasakan kesakitan yang luar biasa di dalam
liang vaginaku saat batang penisnya
terus melesak masuk menghunjam
ke dalam lubang kemaluanku.
“Ahh..! Jangann..! Sakiitt..!” aku
kembali menjerit dengan keras saat batang penisnya menembus dan
merobek selaput daraku. Tubuhku
melenting ke atas menahan sakit
yang amat sangat. Kuangkat kakiku
dan kutendang-tendangkan, aku
berusaha menutup kedua kakiku, tapi tetap saja batang penis itu
terbenam di dalam vaginaku. Aku
sungguh tersiksa dengan kesakitan
yang mendera vaginaku.
Kuhempaskan wajahku ke kiri dan
ke kanan, membuat sebagian wajahku tertutup oleh rambutku
sendiri, mataku membeliak dan
seluruh tubuhku mengejang hebat.
Kukatupkan mulutku, gigiku
bergemeretak menahan sakit dan
ngilu, nafasku seperti tercekat di tenggorokan dan tanpa sadar
kucengkeram keras tangan Pak
Burhan yang sedang memegang
kedua tanganku. Aku masih terus
merintih dan menangis, aku terus
berusaha menendang-nendangkan kedua kakiku saat Pak Bobby
menarik batang penisnya sampai
tinggal kepala penisnya saja yang
berada di dalam liang vaginaku, lalu
menghunjamkannya kembali ke
dalam liang rahimku. Pak Bobby sudah benar-benar kesetanan, dia
tidak peduli melihatku yang begitu
kesakitan, dia terus bergerak
dengan keras di dalam tubuhku,
memompaku dengan kasar hingga
membuat tubuhku ikut terguncang turun naik mengikuti gerakan
tubuhnya. “Ahh.. Sshh..
Lepaskann..!” jeritanku melemah
saat kurasakan gerakannya makin
cepat dan kasar di dalam liang
kemaluanku, membuat tubuhku makin terguncang dengan keras,
buah dadaku pun ikut mengeletar.
Kemudian Pak Bobby mendaratkan
mulutnya di buah dadaku, menciumi
dan mengulum puting payudaraku,
sesekali dia menggigit puting buah dadaku dengan giginya, membuat
aku kembali terpekik dan melenguh
kesakitan. Kemudian mulutnya
bergerak menjilati belahan dadaku
dan kembali melumat bibirku, aku
hanya bisa diam dan pasrah saat lidahnya masuk dan menari-nari di
dalam mulutku, sepertinya dia
sangat puas karena telah berhasil
menggagahi dan merenggut
keperawananku. Perlahan-lahan dia
menghentikan gerakannya memompa tubuhku, melesakkan
kemaluannya di dalam liang
vaginaku dan menahannya di sana
sambil tetap memelukku dengan
erat. Setelah itu dia menurunkan
mulutnya ke sekitar leher dan pundakku, menjilatinya dan
kemudian menyedot leherku
dengan keras, membuat aku
melenguh kesakitan. Cukup lama
Pak Bobby menahan penisnya di
dalam liang kemaluanku, dan aku dapat merasakan kemaluannya
berdenyut dengan keras,
denyutannya menggetarkan seluruh
dinding liang vaginaku, lalu dia
kembali bergerak memompa diriku,
memperkosaku pelan pelan, lalu cepat dan kasar, begitu berulang
ulang. Sepertinya Pak Bobby sangat
menikmati pemerkosaannya
terhadap diriku. Aku meringis
sambil tetap memejamkan kedua
mataku, setiap gerakan dan hunjaman penisnya terasa sangat
menyiksa dan menyakiti seluruh
tubuhku, sampai akhirnya
kurasakan mulutnya makin keras
menyedot leherku dan mulai
menggigitnya, aku menjerit kesakitan, tapi tangannya malah
menjambak dan meremas
rambutku. Tubuhnya makin rapat
menyatu dengan tubuhku, dadanya
makin keras menghimpit buah
dadaku, membuatku makin sulit bernafas, lalu dia mengatupkan
kedua kakiku dan menahannya
dengan kakinya sambil terus
memompa tubuhku, kemaluannya
bergerak makin cepat di dalam
vaginaku, kemudian dia merengkuh tubuhku dengan kuat sampai benar-
benar menyatu dengan tubuhnya.
Aku sadar Pak Bobby akan
berejakulasi di dalam tubuhku,
mendadak aku jadi begitu panik dan
ketakutan, aku tidak mau hamil karena pemerkosaan ini, pikiranku
jadi begitu kalut saat kurasakan
batang kemaluannya makin
berdenyut-denyut tak terkendali di
dalam liang rahimku. “Jangann..!
Jangan.. Di dalam..! Lepasskan..!!” jeritku histeris saat Pak Bobby
menghentakkan penisnya beberapa
kali sebelum akhirnya dia
membenamkanya di dalam liang
kemaluanku. Seluruh tubuhnya
menegang dan dia mendengus keras, bersamaan dengan itu aku meraskan
cairan hangat menyemprot dan
membasahi liang rahimku, Pak
Bobby telah orgasme,
menyemburkan sperma demi
sperma ke dalam vaginaku, membuat dinding vaginaku yang
lecet makin terasa perih. Aku
meraung keras, tangisanku kembali
meledak, kutahan nafasku dan
kukejangkan seluruh otot-otot
perutku, berusaha mendorong cairan spermanya agar keluar dari liang
vaginaku, sampai akhirnya aku
menyerah. Bersamaan dengan itu
tubuh Pak Bobby jatuh terbaring
lemas di atas tubuhku setelah
seluruh cairan spermanya mengisi dan membanjiri liang rahimku.
Mataku menatap kosong dan hampa,
menerawang langit-langit ruangan
tersebut. Air mataku masih
mengalir, pikiranku kacau, aku tidak
tahu lagi apa yang harus kuperbuat setelah kejadian ini, kesucianku telah
terenggut, kedua bajingan ini telah
merenggut kegadisan dan masa
depanku, tapi yang lebih
menakutkanku, bagaimana jika
nanti aku hamil..! Aku kembali terisak meratapi penderitaanku. Tapi
rupanya penderitaanku belum
berakhir. Pak Bobby bergerak
bangun, melepaskan himpitannya
dari tubuhku, aku kembali merintih,
menahan perih saat batang kemaluannya tertarik keluar dari
liang kemaluanku. Kuangkat
kepalaku, kulihat ada bercak darah
bercampur dengan cairan putih di
sekitar pangkal pahaku. Aku
menangis, pandanganku nanar, kutatap Pak Bobby yang sedang
berjalan menjauhiku dengan
pandangan penuh dendam dan
amarah. Seluruh tubuhku terasa
sangat lemah, kucoba untuk bangun,
tapi Pak Burhan sudah berada di sampingku, dia menggerakan
tangannya, menggulingkan tubuhku
dan mulai menggumuli tubuhku
yang menelungkup, aku diam tak
bergerak saat Pak Burhan menciumi
seluruh punggungku, sesaat kemudian dia bergerak ke arah
belakang tubuhku, merengkuh
pinggangku dan menariknya ke
belakang. Aku terhenyak, tubuhku
terseret ke belakang, lalu Pak
Burhan mengangkat pinggulku ke atas, membuat posisiku jadi
setengah merangkak, kutopang
tubuhku dengan kedua tangan dan
lututku, kepalaku menunduk lemas,
rambut panjangku tergerai
menutupi seluruh wajahku, kepanikan kembali melandaku saat
kurasakan batang penisnya
menempel dan bergesekan dengan
bibir vaginaku. “Linda..! Kamu
memang benar-benar cantik dan
seksi..” gumam Pak Burhan sambil tangannya meremasi pantatku,
sementara batang penisnya terus
menggesek-gesek di bibir vaginaku.
“Ahh.! Sakiitt..! Sudahh.. Sudah..!
Hentikann..!! jeritku menahan sakit
saat kemaluannya mulai melesak masuk ke dalam liang vaginaku.
Kuangkat punggung dan kedua
lututku, menghindari hunjaman
batang penisnya, tapi Pak Burhan
terus menahan tubuhku,
memaksaku untuk tetap membungkuk. Seluruh otot di
punggungku menegang, tanganku
mengepal keras, aku benar-benar
tak kuasa menahan perih saat
penisnya terus melesak masuk,
menggesek dinding vaginaku yang masih luka dan lecet akibat
pemerkosaan pertama tadi, kugigit
bibirku sendiri saat Pak Burhan mulai
bergerak memompa tubuhku.
“Lepasskan..! Sudah..! Hentikaann..!!”
jeritku putus asa. Nafasku kembali tersengal sengal, tapi Pak Burhan
terus memompaku dengan kasar
sambil tangannya meremasi
pantatku, sesekali tangannya
merengkuh pinggulku, menahan
tubuhku yang berusaha merangkak menjauhi tubuhnya, seluruh
tubuhku kembali terguncang,
terombang ambing oleh gerakannya
yang sedang memompaku. Tiba tiba
kurasakan wajahku terangkat,
kubuka mataku dan kulihat Pak Bobby berjongkok di depanku,
meraih daguku dan
mengangkatnya, Pak Bobby
tersenyum menatapku dengan
wajah penuh kemenangan, menatap
buah dadaku yang menggantung dan menggeletar, meremasnya
dengan kasar, lalu Pak Bobby
mendekatkan wajahnya,
menyibakkan rambutku yang
tergerai, sesaat kemudian, mulutnya
kembali melumat bibirku, mataku terpejam, air mataku kembali
meleleh saat mulutnya dengan rakus
menciumi bibirku. “Ahh..!!” aku
terpekik pelan saat Pak Burhan
menyentakkan tubuhnya dan
menekanku dengan kuat. Batang penisnya terasa berdenyut keras di
dalam lubang kemaluanku, lalu
kurasakan cairan hangat kembali
menyembur di dalam liang rahimku,
aku menyerah, aku sudah tidak
punya kekuatan lagi untuk melawan, kubiarkan saja Pak
Burhan menyemburkan dan mengisi
liang kemaluanku dengan cairan
spermanya. “Periihh..!!” rintihku
pelan. Pak burhan masih sempat
menghunjamkan kemaluannya beberapa kali lagi ke dalam liang
vaginaku, menghabiskan sisa sisa
ejakulasinya di dalam liang rahimku
sebelum akhirnya dia menariknya
keluar melewati bibir vaginaku
yang semakin terasa perih. Sedetik kemudian satu kepalan tangan
mendarat di wajahku. Aku
terlempar ke samping, pandanganku
berkunang kunang, lalu gelap. Aku
jatuh pingsan. Saat siuman aku
temukan foto-foto telanjangku berserakan di samping tubuhku
dengan sebuah pesan.. “Pastikan..!
Hanya Kita Bertiga yang Tahu..!!” Hari
itu juga aku kembali pulang ke
Jakarta dengan membawa
penderitaan yang amat berat, sesuatu yang paling berharga telah
hilang dari diriku dirampas oleh
kebiadaban mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda