Translate

Rabu, 21 September 2011

NAFSU TERLARANG NENEK DAN TANTEKU


Sejak tinggal dirumah nenek,
aku bener-bener dimanja soal
sex, juga soal duit. Sampai suatu
ketika rumah nenek
kedatangan tamu dari Manado,
namanya Tante Wine. Menurut nenek Tante Wine ini tinggalnya
di desa jadi agak kolot gitu. Tapi
pas pertama dikenalkan, aku
tidak melihat wajah desa dari
Tante Wine. Raut muka yang
cantik (nggak berbeda jauh dengan nenek Elsa) dengan
postur yang semampai lagipula
putih bersih membuat orang
tidak mengira kalau Tante Wine
adalah wanita desa. Satu-
satunya yang bisa meyakinkan kalau Tante Wine orang desa
adalah logat bahasanya yang
bener-bener medok. Akupun langsung akrab dengan
Tante Wine karena orangnya
lucu dan suka humor. Bahkan
aku sering ngeledek karena
dialeknya yang ngampung itu.
Wajahnya keliatan agak Indo dengan tinggi kutaksir 162 cm.
Pinggangnya langsing, lebih
langsing dari nenek Elsa, dan
yang bikin pikiran kacau adalah
buah dadanya yang lumayan
gede. Aku nggak tau persis ukurannya tapi cukup besar
untuk menyembul dari balik
daster. Pikiran kotorku mulai bermain
dan mengira-ngira. Apakah
Tante Wine haus sex seperti
kakaknya? Kalau kakaknya
mau kenapa adiknya nggak
dicoba? Akan merupakan sebuah pengalaman sex yang
seru kalo aku bisa menidurinya.
Pikiran-pikiran seperti itu
berkecamuk dibenak kotorku.
Apalagi dengan bisanya aku
tidur dengan nenekku, (dan banyak wanita STW) rasanya
semua wanita yang umurnya
diatas 35 kuanggap akan lebih
mudah ditiduri, hanya dengan
sedikit pujian dan rayuan. Dirumah, nenek Elsa sudah
beberapa kali wanti-wanti
padaku jangan sampe aku
perlakukan Tante Wine sama
sepertinya, rupanya Elsa
cemburu karena ngeliat kemingkinan itu ada. Sampai
suatu ketika nenek sedang pergi
dengan kakek ke Surabaya
selama dua hari. Sehari sebelum
berangkat aku sempat
melampiaskan nafsuku bersama Elsa di sebuah motel deket
rumah, biar aman. Disana sekali
lagi nenek Elsa wanti-wanti.
Aku mengiyakan, aku
bersusaha meyakinkan. Setelah nenek dan kakek
berangkat aku mulai menyusun
rencana. Dirumah tinggal aku,
Tante Wine dan seorang
pembantu. Hari pertama niatku
belom berhasil. Bebeapa kali aku menggoda Tante Wine dengan
cerita-cerita menjuurus porno
tapi Tante nggak bergeming.
Saking nggak tahan nafsu ingin
menyetubuhi Tante Wine,
malamnya aku coba mengintip saat dia mandi. Dibelakang
kamar mandi aku meletakkan
kursi dan berencana mengintip
dari lubang ventilasi. Hari mulai malam ketika Tante
Wine masuk kamar mandi, aku
memutar kebelakang dan mulai
melihat aktifitas seorang wanita
cantik didalam kamar mandi.
Perlahan kulihat Tante Wine menanggalkan daster merah
jambunya dan
menggantungkan di gantungan.
Ups! Ternyata Tante Wine tidak
memakai apa-apa lagi dibalik
daster tadi. Putih mulus yang kuidam0idamkan kini
terhampar jelas dibalik lubang
fentilasi. Pertama Tante Wine
membasuk wajahnya. Sejenak
dia bengong dan tiba-tiba
tangannya mengelus-elus lehernya, lama. Perlahan tangan
itu mulai merambah buah
dadanya yang besar. Aku
berdebar, lututku gemetaran
melihat adegan sensual didalam
kamar mandi. Jemari Tante Wine menjeljah setiap jengkal
tubuhnya yang indah dan
berhenti diselangkangannya.
Badan Tante Wine bergetar dan
dengan mata mengatup dia
sedikit mengerang ohh! Dan tubuhnya kelihatan melemas.
Dia orgasme. Begitu cepatkah?
Karena Mr. Happy-ku juga sudah
menggeliat-geliat, aku
menuntaskan nafsuku
dibelakang kamar mandi dengan mata masih memandang
ke dalam. Nggak sadar aku juga
mengerang dan spermaku
terbang jauh melayang. Dalam beberapa detik aku
memejamkan mata menahan
sensasi kenikmatan. Ketika
kubuka mata, wajah cantik
Tante Wine sedang mendongak
menatapku. Wah ketahuan nih. Belum sempat aku bereaksi
ingin kabur, dari dalam kamar
mandi Tante Wine memanggilku
lirih.
“Andy, nggak baik mengintip,”
kata tante Wine. “Ma ma maafin,” jawabku
gagap.
“Nggak apa-apa, dari pada disitu
mendingan..,” kata Tante Wine
lagi sambil tangannya melambai
dan menunjuk arah ke dalam kamar mandi.
Aku paham maksudnya, dia
memintaku masuk kedalam.
Tanpa hitungan ketiga aku
langsung loncat dan berlari
memutar kedalam rumah dan sekejab aku sudah stand by di
depan pintu kamar mandi.
Smataku sedikit melongok
sekeliling takut ketahuan
pembantu. Hampir bersamaan
pintu kamar mandi terbuka dan aku bergegas masuk. Kulihat
Tante Wine melilitkan handuk
ditubuhnya. Tapi karena
handuknya agak kecil maka
paha mulusnya jelas terlihat,
putih dan sangat menggairahkan. “Kamu pake ngitip aku segala,”
ujar Tante Wine.
“Aku kan nggak enak kalo mau
ngomong langsung, bisa-bisa
aku di tampar, hahaha,” balasku.
Tante Wine memandangku tajam dan dia kemudian
menerkam mulutku. Dengan
busanya dia mencumbuku. Bibir,
leher, tengkuk dan dadaku
nggak lepas dari sapuan lidah
dan bibirnya. Melihat aksi ini nggak ada rasa kalo Tante Wine
tuh orang desa. Ternyata
keahlian nge-sex itu tak
memandang desa atau kota ya. Sekali sentak kutarik
handuknya dan wow!
Pemandangan indah yang tadi
masih jauh dari jangkauan kini
bener-bener dekat, bahkat
menempel ditubuhku. Dalam posisi masih berdiri kemudian
Tante Wine membungkuk dan
melahap Mr. happy yang sudah
tegak kembali. Lama aku
dihisapnya, nikat sekali rasanya.
Tante Wine lebih rakus dari nenek Elsa. Atau mungkin
disinilah letak ‘kampungan’nya,
liar dan buas. Bebrapa detik
kemudian setelah puas
mengisapku, tante Wine
mengambil duduk dibibir bak mandi dan menarik wajahku.
Kutau maksudnya. Segera
kusibakkan rambut indah
diselangkangannya dan bibir
merah labia mayora
menantangku untuk dijilat. Jilatanku kemudian membuat
Tante Wine menggelepar.
Erangan demi erangan keluar
dari mulut Tante Wine. “Andi kamu hebat, pantesan si
Elsa puas selalu,” cerocos Tante
Wine.
“Emangnya Tante Wine tau?”
jawabku disela aktifitas
menjilat. “Ya nenekmu itu cerita. Dan
sebelum ke Surabaya dia wanti-
wanti jangan menggodaku, dia
cemburu tuh,” balas Tante Wine.
Ups, rupanya rahasiaku sudah
terbongkar. Kuangkat wajahku, lidahku menjalar
menyapu setiap jengkal kulit
putih mulus Tante Wine.
“Sedari awal aku sudah tau
kamu mengintip, tapi kubiarkan
saja, bahkan kusengaja aja tadi pura-pura orgasme untuk
memancingmu, padahal sih aku
belum keluar tadi, heheh kamu
tertipu ya, tapi Ndy, sekarang
masukin yuk, aku bener-bener
nggak tahan mau keluar,” kata Tante Wine lagi.
Aku sedikit malu juga ketahuan
mengintip tadi. Masih dalam posisi jongkok di
bibir bak mandi, kuarahkan Mr.
happy ke vaginanya. Tante
Wine mengerang dan merem
melek setiap kuenjot dengan
batang kemaluanku yang sudah besar dan memerah. Lama kami
bertarung dalam posisi ini,
sesekali dia menarik tubuhku
biar lebih dalam. Setelah puas
dengan sensasi ini kami coba
ganti posisi. Kali ini dalam posisi dua-duanya berdiri, kaki
kanannya diangkat dan
diletakkan diatas toilet. Agak
sedikit menyamping kuarahkan
Mr. Happy ke vaginanya.
Dengan posisi ini kerasa banget gigitan vaginanya ketiga
kuenjot keluar masuk. Kami
berpelukan dan berciuman
sementara Mr. Happy masih
tetep aktif keluar masuk. Puas dengan gaya itu kami coba
mengganti posisi. Kali ini doggie
style. Sambil membungkuk,
tante Wine menopangkan
tangan di bak mandi dan dari
belakangnya kumasukkan kemaluanku. Uhh terasa
nikmatnya karena batang Mr.
Happy seakan dijepit dengan
daging yang kenyal. Kutepuk
tepuk pantatnya yang mulus
dan berisi. Tante Wine mendesis- desis seperti kepedesan. Lama
kami mengeksplorasi gaya ini. Dalam beberapa menit
kemudian Tante Wine
memintaku untuk tiduran di
lantai kamar mandi. Walaupun
agak enggan, kulakuin juga
maunya, tapi aku tidak bener- bener tiduran karena
punggungku kusenderkan
didinding sementara kakiku
selonjoran. Dan dalam posisi
begitu aku disergapnya dengan
kaki mengangkangi tubuhku. Dan perlahan tangan kanannya
memegang Mr. Happy, sedikit
dikocoknya dan diarahkan ke
vagina yang sudah
membengkak. Sedetik
kemudian dia sudah naik turun diatas tubuhku. Rupanya Tante
Wine sangat menikmati posisi
ini. Buktinya matanya terpejam
dan desisannya menguat. Lama kubiarkan dia menikmati
gaya ini. Sesekali kucium
bibirnya dan kumainkan pentil
buah dadanya. Dia mengerang
nikmat. Dan sejenak tiba-tiba
raut mukanya berubah rona. Dia meringis, mengerang dan
berteriak.
“Ndy, aku mau nyampe nih, oh,
oh, oh, ah, ah nikmatnya,”
erangnya.
Tangannya meraih tubuhku dan aku dipeluknya erat. Tubuhnya
menggeliat-geliat panas sekali.
“Ohh,” ditingkah erangan itu,
kemudian tubuhnya melemah
dipangkuanku. Dalam hatiku curang juga nih
Tante, masak aku dibiarkan
tidak tuntas. Masih dalam posisi
lemas, tubuhnya
kutelentangkan di lantai kamar
mandi tanpa mencabut mr happy dari vaginanya. Dan
perlahan mulai kuenjot lagi. Dia
mengerang lagi mendapatkan
sensasi susulan. Uh tante Wine
memang dahsyat, baru sebentar
lunglai sekarang sudah galak lagi. Pinggulnya sudah bisa
mengikuti alur irama
goyanganku. Lama kami
menikmati alunan irama seperti
itu, kini giliranku mau sampai.
“Tante aku mau keluarin ya”, kataku menahan gejolak,
bergetar suaraku.
“Sama-sama ya Ndy, aku mau
lagi nih, ayo, yok keluarin, yok,
ahh”.
Dibalik erangannya, akupun melolong seperti megap-megap.
Sejurus kemudian kami sudah
berpelukan lemas dilantai kamar
mandi. Persetan dengan lantai
ini, bersih atau nggak,
emangnya gue pikirin. Kayaknya aku tertidur sejenak
dan ketika sadar aku segera
mengangkat tubuh Tante Wine
dan kamipun mandi bersama. Selesai mandi, kami bingung
gimana harus keluar dari kamar
mandi. Takut Bi Ijah tau.
Kubiarkan Tante Wine yang
keluar duluan, setelah aman aku
menyusul kemudian. Namun bukannya kami kekamar
masing-masing, Tante Wine
langsung menysul ke kamarku
setelah mengenakan daster.
Aku yang masih telanjang di
kamarku langsung disergapnya lagi. Dan kami melanjutkan
babak babak berikutnya. Malam
itu kami habiskan dengan penuh
nafsu membara. Kuhitung ada
sekitar 7 kali kami keluar
bersama. Aku sendiri heran kenapa aku bisa orgasme
sebanyak itu. Walaupun di
ronde-ronde terakhir spermaku
sudah tidak keluar lagi, tapi rasa
puas karena multi orgasme
tetap jadi sensasi. Selama 2 hari nenek Elsa di
Surabaya, aku habiskan segala
kemampuan sexualku dengan
Tante Wine. Sejak kejadian itu
masih ada sebulan tante Wine
tinggal dirumah nenek Elsa. Selama itu pula aku kucing-
kucingan bermain cinta. Aku
harus melayani nenek Elsa dan
juga bermain cinta dengan Tante
Wine. Semua pengalaman itu
nyata kualami. Aku nggak merasa capek harus melayani
dua wanita STW yang dua-
duanya punya nafsu tinggi
karena aku juga menikmatinya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda