Translate

Selasa, 31 Mei 2011

SINETRON BIDADARI XXX bagian 2


“Huh.., bete banget deh” sungut Lala sambil mematikan TV. Sekarang Lala sedang sendirian di
rumah. Sudah seminggu ini, Papa
Lala tugas keluar kota dan
rencananya baru pulang minggu
depan. Mama Lala sedang pergei arisan di rumah temannya.
Bombom juga pergi menginap di
rumah temannya. Pembantu
mereka pulang kampung
menjenguk keluarganya yang sakit. Ibu peri juga jarang
menjenguk Lala. Bosan menonton
TV, Lala lalu pergi ke kamarnya di
lantai dua. “Coba Bombom nggak pergi, kita bisa main kayak kemarin dulu ” pikir Lala. Memang sejak pengalaman oral
seksnya dengan Bombom (baca
Bidadari X – 1), Lala sering mengulangi perbuatannya dengan
Bombom. Tentu saja diam-diam
kalo Mama dan Papa Lala lagi nggak
ada dirumah. Bahkan Ibu peri pun
tidak Lala beri tahu tentang
aktivitasnya yang satu ini. Lala berdiri di depan cermin besar
yang ada di kamarnya. Kemudian dia melepas pakaian, BH, dan celana dalamnya. Sekarang Lala telanjang
bulat sambil memandang dirinya
sendiri di cermin. Lala memandangi
wajahnya yang cantik manis,
kulitnya yang putih mulus,
dadanya yang baru tumbuh dengan puting mencuat gara-gara bombom
sering gemas kalo mengulum
puting itu, dan vaginanya yang
terawat dengan bulu-bulu halus
yang masih jarang. “Uuhh.., enak.”, desah Lala sambil tangannya yang kiri mengelus
lembut dadanya sendiri. Sesekali dipilinnya putingnya
sambil membayangkan kalo Kak
Rendi yang sedang melumat
putingnya itu. Tangan kanannya
juga tidak Lala biarkan
menganggur tetapi sibuk mengusap lembut vaginanya terutama bagian
agak menonjol yang bernama
klitoris seperti yang sudah
dipelajari Lala dalam pelajaran
anatomi tubuh manusia di sekolah.
Lala merasa nikmat sekali bila klitorisnya diusap-usap, apalagi
kalo dihisap mulutnya bombom.
Mata Lala terpejam, kelihatannya
dia asyik menikmati perbuatannya
itu sampai Lala tidak menyadari
kalo ada seseorang membuka pintu kamarnya. “LALA! Apa yang kamu lakukan ?!” Lala kaget sekali. Dia segera
menghentikan kegiatannya lalu
menoleh ke pintu kamarnya.
Ternyata disana sudah berdiri Mama
Lala dengan wajah yang
kelihatannya sangat marah. “Mmaa.. Ma”, kata Lala sambil ketakutan. “Ehm ternyata kalo lagi sendirian, kamu sering melakukan perbuatan
kurang ajar seperti ini ya ?!”, cibir Mama Lala. “Mm.. maafin Lala, Ma”, jawab Lala ketakutan sambil berusaha
menutupi dada dan kemaluannya. Mama Lala mendekat sambil
memandang Lala yang masih
telanjang. “Ehm.. anak kurang ajar ini rupanya sudah tumbuh jadi gadis
yang cantik sekali. Sekarang aku
punya kesempatan mencoba oleh-
oleh dari temenku dari Belanda
sambil mempraktekan apa yang
kulihat dari VCD kemarin. ”, pikir Mama Lala dalam hati. “Kamu akan Mama hukum. Sekarang tunggu disini dan jangan
pakai bajumu. Kalo kamu tidak
mau menurut sama Mama, akan
Mama beritahukan perbuatan kamu
ini ke Papa.”, kata Mama Lala sambil keluar kamar. “Iya, Ma. ”, jawab Lala pelan. Lala takut sekali kalo Mama
mengadukan dia ke Papa. Lala
berpikir hukuman apa yang akan
dijatuhkan Mama. Apa dia akan
dipukul? Tapi Lala berpikir lebih
baik dipukul daripada diadukan ke Papa. Tak lama kemudian Mama Lala
kembali dengan hanya memakai
kimono sambil membawa sebuah
kotak. Mama menyuruh Lala berdiri
mendekat. Kemudian Mama
melepas kimononya. Lala kaget, ternyata Mamanya tidak memakai
apa-apa di balik kimononya. Diam-
diam Lala kagum terhadap
Mamanya yang jelas merawat
tubuhnya dengan baik. Lala
mengamati wajah Mamanya yang masih cantik, tubuhnya yang masih
langsing dan bagus, dadanya juga
indah, besar tapi tidak turun dan
masih padat, dan vagina Mamanya
ternyata bulunya dicukur habis. “Sekarang kamu harus menurut sama Mama dan jangan ceritakan ini
ke siapa pun. Kalo tidak Mama akan
melaporkan kamu ke Papa ”, perintah Mama. “Iya, Ma. ”, jawab Lala ketakutan. Tiba-tiba Mama Lala mencium bibir
Lala dengan penuh nafsu. Mama Lala
penasaran ingin tahu rasanya
bercinta sesama perempuan setelah
dia melihat VCD porno milik
temennya yang ada adegan lesbinya. Sekarang dia bisa
mencobanya dengan anak tirinya
ini. Lala terkejut tetapi dia tidak berani
melawan perbuatan Mamanya.
Diam-diam Lala bersyukur bahwa
hukumannya ternyata tidak
dipukul seperti biasanya. Lala heran
dengan perbuatan Mamanya tapi lama-lama Lala juga menikmatinya.
Lidah Mamanya bergerak liar dimulutnya, Lala pun meniru
perbuatan Mamanya. Mulanya
memang Lala agak kaku dan risih,
tapi kemudian dia menikmatinya.
Apalagi tangan Mamanya juga
mulai meremas-remas pantat Lala sambil sesekali mampir mengusap-
usap memek Lala, dan tangan
satunya liar beroperasi di dada Lala
sambil memilin putingnya. Nafsu
Lala mulai naik seperti kalo dia lagi
oral dengan bombom. Lala merasa kakinya mulai lemas oleh
kenikmatan. “Ma, Lala capek berdiri.”, keluh Lala. “OK. Sekarang kita ke ranjang aja. ”, jawab Mama sambil mendahului
tidur di ranjang Lala. “Kamu juga naik kesini dan cium susu Mama sambil diremas-remas.” Lala menurut. Lala menciumi
payudara Mamanya yang besar itu
sambil tangannya meremas
payudara yang satunya. “Eehhm.. yeah. Terusin La, isep putingnya. ookh.. anak pintar. ”, desah Mama Lala keenakan. Lala senang mendengar Mamanya
senang. Mama nggak pernah
memuji Lala sebelumnya. Lagipula
Lala suka melakukan perintah
Mamanya yang satu ini. Lala gemas
dengan payudara Mamanya, dia suka sekali kalo Mamanya
mendesah keenakan ketika
putingnya Lala isap keras-keras. “Aakh.. bagus sayang. Memek Mama coba kamu usap pake tangan
kamu. aakh.. yeah begitu. Jari
kamu masukin ke lubang memek
Mama, pakai tiga jari biar lebih
enak. ookh kocok-kocok keluar
masuk. aakh.. ” Lala mengocok memek Mamanya,
mula-mula pelan lalu bertambah cepat. Lala merasakan jarinya basah oleh cairan, memek Mamanya jadi
agak becek oleh cairan kenikmatan
yang membanjir. “Eehm.. sekarang jilatin memek Mama.”, perintah Mama Lala. Lala mencoba apa yang sering
dilakukan Bombom pada
memeknya kalo lagi oral. Lala
menciumi memek Mamanya,
lidahnya bergerak liar sambil
sesekali menusuk lubang memek itu. Tak lupa, Lala juga mengulum
klitoris Mamanya dengan kuat
karena Lala merasa paling enak kalo
Bombom mengulum klitorisnya.
Tubuh Mamanya kontan tersentak,
dan pantatnya agak terangkat sebentar. “Ookh.. eehm.. belajar dari mana kamu sayang ?”, tanya Mama Lala. Lala tak berani menjawab kalo
Bombom yang mengajari. Lala
meneruskan mengerjai memek
Mamanya sambil sekarang jarinya
ikut mengocok memek Mamanya
dengan cepat. “Aakkhh.. Mama nyampe sayang. aakkhh.. ”, jerit Mama sambil menjepitkan pahanya dan
tangannya menjambak rambut
Lala. Mama Lala beristirahat sejenak
sambil menikmati sisa-sisa
orgasmenya yang pertama.
Kemudian Mama Lala menyuruh
Lala tidur telentang. Sekarang
gantian Mama Lala yang beroperasi. “Kamu cantik sekali La. Mama akan bikin kamu merasa keenakan. ”, puji Mama. Lala senang sekali. Mama mencium
bibir Lala sambil tangannya meraba-
raba tubuh Lala. Ciuman Mama
turun ke leher. Lala menikmatinya,
nafsunya mulai naik. Kemudian
mulut Mama beroperasi di dada Lala yang baru tumbuh dan masih
terlihat datar. Puting Lala dikulum
kuat-kuat oleh Mama sambil
tangannya mulai aktif di memek
Lala. “Eehmm.. Enak Ma esstt.. ”, desah Lala. Puting Lala bertambah keras dan
besar karena rangsangan dari
Mama. Kemudian kaki Lala dibuka
karena Mama Lala akan mengerjai
memek anaknya itu. Mama Lala
mulai menjilat memek anaknya. “Sstt aakh.. terus Ma. ”, erang Lala bertambah keras. Lidah Mamanya terasa mengorek-
ngorek liang memeknya dengan
liar. Lala mendesah merasakan
nikmat birahi yang melanda
dirinya. Apalagi ketika Mamanya
menyedot klitorisnya, badan Lala sampai melengkung ke atas
menahan nikmat. Mama Lala pun
menemukan keasyikan tersendiri
menjilati memek anak tirinya itu.
Dia terus menjilati memek anaknya.
Semakin Lala mendesah dengan keras dan merasa nikmat, Mama
Lala pun semakin bersemangat
mempermainkan memek mungil
yang masih perawan itu. Mama Lala
pun menahan diri untuk tidak
menggunakan jarinya, belum waktunya pikir Mama Lala. “Aakkhh.. aah Ma, Lala.. eh.. Lala..aakh..”. Lala merasakan ada sesuatu dalam
dirinya yang mau jebol keluar dan
dia tidak dapat menahannya lagi.
Kakinya dirapatkan menjepit
kepala Mamanya. Lala pun
mengalami orgasmenya yang pertama. Cairan kenikmatan Lala
yang membanjir keluar ditelan
habis oleh Mamanya. Setelah itu
badan Lala lemas dan dia terkulai di
ranjangnya. “Hukuman untukmu belum selesai Lala.”, kata Mamanya. Lala melihat Mamanya berdiri dan
menghampiri kotak yang ada di
meja. Kelihatannya Mamanya
mengambil sesuatu dari dalam
kotak lalu memasangnya seperti
sabuk melingkari pinggang dan pantatnya. Lala tidak bisa melihat
benda itu dengan jelas karena
Mamanya memunggunginya. Dan
ketika Mamanya berbalik, Lala
kaget sekali. Benda itu ternyata
berbentuk seperti burungnya bombom tetapi dari karet dan dua
kali lebih besar dari punya
Bombom. Penis karet dipasang
Mamanya hingga seakan-akan
Mamanya adalah laki-laki. “Ma, kok Mama pake barang kayak gitu sih?”, tanya Lala heran. “He.. he.. kamu pasti suka sama barang ini. Sekarang kamu kulum
kontol ini pake mulut kamu. ”, perintah Mama. Lala menurut, lagipula Lala memang
suka mengulum burungnya
Bombom. Dan punya Mama
kelihatannya lebih besar dan
menarik sekali. Lala mempraktekan
pengalamannya dengan burung Bombom pada mainan Mamanya.
Tapi penis mainan Mama ternyata
lebih besar, mulut Lala hampir tidak
muat menampung besarnya benda
itu. Walaupun dipaksa, penis
mainan itu cuma bisa masuk separuhnya. Mama Lala memegangi
kepala Lala sambil memaju
mundurkan pinggulnya seperti
memperkosa mulut Lala. Mama Lala
menikmati perbuatannya itu sambil
tertawa senang. Kemudian Mama Lala mengajak Lala memainkan
posisi 69 dengan Mama Lala
dibawah agar dapat menjilati
memek anaknya lagi. “Eehm.. eehhmm.. sst.. aakh Mama.. enak Ma ehhm.. eehm.”, desah Lala saat dia mengambil nafas, lalu dia
meneruskan kulumannya.

SINETRON BIDADARI XXX bagian 1


Pagi itu seperti biasanya Lala
bangun dari tidurnya. Sinar mentari dari jendela kamarnya telah
menyilaukan matanya dan
membuatnya bangun. “Wah, kesiangan nih !” ujar Lala menggerutu. Segera saja gadis kecil itu beregegas
menuju kamar mandi. Setelah
menanggalkan semua pakaiannya
ia pun mulai menyirami seluruh
tubuhnya. Lalu menyabuni satu
persatu anggota tubuhnya mulai dari bagian atas hingga bawah.
Ketika ia menyentuh bagian
vitalnya, ia terkejut karena
merasakan ada sisa cairan yang sudah mengering. Tapi ia tetap
meneruskan mandinya. Ia buru-
buru sekali pagi itu. Sesampainya di sekolah semuanya
berjalan seperti biasa. Pelajaran
yang membosankan, guru yang menyebalkan, dan semua yang
membuatnya jenuh. Hal itu tetap
dijalani Lala dengan hati yang
lapang. Namun sewaktu istirahat,
ada sesuatu yang mengganggu
pikiran Lala, yaitu ketika anak laki- laki di kelasnya berkumpul di
pojok belakang kelas dan
tersenyum senyum sendiri sembari
membolak balik sebuah buku yang
terkesan disembunyikan. Karena
penasaran, Lala mendekati mereka dan menanyakan perihal tersebut. “Eh, kalian lagi baca apaan sih?”, tanya Lala penasaran. “Oh kamu La?!, mau tau aja bacaan cowok. Sana pergi !”Jawab Bombom mewakili kerumunan
anak cowok itu.
Lala semakin penasaran. Namun ia
tak kuasa untuk memaksakan
keingintahuannya itu. Dengan berat
hati, ia beranjak pergi meninggalkan kelas. Ketika pulang sekolah, Lala
langsung menuju kamarnya. Entah
mengapa rasa penasarannya belum
hilang juga. Sewaktu ia sedang
merebahkan dirinya di kasur
mendadak Ibu peri datang. “Ada apa sayang? Kok kamu gelisah gitu?”, tanya Ibu peri. “Bu peri, Lala masih penasaran sama kejadian tadi siang. Lala pengen tau
apa sih yang mereka baca sampe
Lala nggak boleh lihat”, ujar Lala lirih.
“Sayang, mereka itu membaca buku yang tidak baik. Buku bacaan
buat orang dewasa. Untunglah
kamu tidak ikut membacanya ”, jawab Ibu peri sembari tersenyum.
“Emangnya buku apaan sih ?”, tanya Lala lagi.
“Ntar kalau kamu udah gede, kamu akan mengerti sendiri ”, balas Ibu peri.
Lala mengangguk, lalu Ibu peri
menghilang dari pandangan Lala.
Tak lama kemudian terdengar suara
Bi Inem memanggil Lala untuk
segera turun makan. Keesokan harinya di sekolah, Lala
menerima pelajaran Biologi di kelas.
Hari itu mereka belajar mengenai
sistem reproduksi manusia.
Sewaktu Ibu guru menjelaskan
mengenai alat-alat reproduksi manusia, sekelompok anak lelaki
tampak tersenyum cengengesan.
Hal itu membuat Lala menjadi risih.
Mendadak Ibu guru memnggil
namanya. “Lala, coba kamu maju ke depan. Gambarkan alat reproduksi laki-
laki!”, ujar Ibu guru. “Saya Bu ?”Jawab Lala gelagapan. “Iya, kamu !”, Bu guru mempertegas suaranya. Sontak saja suasana kelas menjadi
riuh. Anak lelaki semuanya
menertawakan Lala. Hal itu
membuat Lala semakin grogi dan
gemetaran untuk maju ke depan. “Kenapa kalian tertawa ?”, suara Bu guru memecah keramaian. Anak-anak terdiam. Mereka
menundukkan muka masing-
masing. Sementara Bombom cs
masih terlihat menahan senyum
sembari saling melihat satu sama
lain. Bu guru menjadi kesal dibuatnya. “Coba kamu Bom, maju ke depan. Gambarkan alat reproduksi wanita
beserta fungsinya !”, ujar Bu guru lantang.
“I.. iya Bu ”, jawab Bombom dengan kesal. Lala dan Bombom lalu maju ke
depan kelas. Keduanya tampak
bingung karena tak tau harus
menggambar apa. Terutama Lala,
jangankan menggambar, melihat
saja ia belum pernah. Sementara Bombom, walaupun ia pernah
melihat gambar porno, tetapi ia
bingung bagaimana cara
menggambarkannya di depan
tanpa terkesan vulgar. Di saat
keduanya terdiam, bel sekolah mendadak berbunyi
menyelamatkan mereka. “Baik Anak-anak, kita lanjutkan besok pagi. Buat Bombom dan Lala,
ini jadi PR buat kalian. Besok kalian
gambar di depan kelas lengkap
dengan fungsinya ”, ujar Bu guru “Iya Bu.. ”Jawab mereka hampir berbarengan. Pulang sekolah Lala melempar
tasnya ke ranjang. Ia capek dan
kesal sekali hari itu. Tak lama
kemudian ia ketiduran hingga
malam. Begitu ia tersentak, ia
terkejut bukan kepalang dan lansung melompat dari tempat
tidurnya. Ia teringat PR yang
dikatakan Bu guru. Segera saja ia
membuka tasnya mencari buku
biologinya. Tetapi alangkah
terkejutnya dia ketika mengetahui buku tersebut tidak berada dalam
tasnya. “Mungkin ketinggalan di kelas?”Pikirnya. Saat dia terbengong sendiri, ia tiba-
tiba teringat bahwa Bombom juga
mendapat tugas yang sama. Segera
saja ia menuju kamar Bombom.
Tetapi yang ia dapati sungguh di
luar dugaannya. Begitu pintu kamar terbuka, tampak Bombom sedang
membaca sesuatu sembari
memegang alat vitalnya. Penis
Bombom yang sedang ereksi itu
berdiri tegak mengacung.
Panjangnya sekitar 14 cm, cukup gede untuk anak sebaya dia. Lala
terkejut bukan main. Tapi ia tidak
segera menutup pintu kamar itu
melainkan malah masuk dan
mendekati Bombom. “Kamu, La?”ujar Bombom gelagapan.
“Tutup dong pintunya. Nanti dilihat orang”ujarnya lagi. Lala bergegas menutup pintu lalu
kembali mendekati Bombom. “Astaga Bombom, kamu lagi ngapain?”ujar Lala keheranan. Walaupun keduanya saudara
seayah, namun sejak kecil mereka
nggak pernah begitu dekat untuk
hal-hal pribadi seperti mandi
bersama atau lain-lainnya. “Gua lagi onani, enak nih! Kamu mau pegang nggak?”Tanya Bombom sambil menunjuk
penisnya.
Lala tak menjawab. Perasaan malu
dan risih masih menggelayuti
pikirannya. Namun, dalam hatinya
juga terbersit rasa keingintahuan yang mendalam. “Ayolah. Nggak apa-apa kok. Coba aja!”, ujar Bombom lagi. Lala mendekat, perlahan ia sentuh
Penis Bombom dengan tangannya
yang mungil dan halus. Bombom
terkesiap saat merasakan sesuatu
yang halus dan lembut menyentuh
penisnya. Lala terkejut, lalu segera melepas pegangannya. “Aduh, Bom maaf, sakit ya ?”Tanya Lala
“Nggak kok. Justru enak banget! Sini, kemariin lagi tanganmu lalu
kocok-kocok kayak gini !”Jawab Bombom sembari memperagakan
bagaimana cara melakukan
masturbasi. Tangan Lala mendekat kembali. Lalu
dengan lembut Penis Bombom ia
guncang. “Augh.. Enak banget La! Terusin La! Augh..”Bombom memejamkan mata menahan kenikamatan yang
sedang menderanya. Lala semakin berani. Sesekali ia
mengamati keseluruhan penis
bombom mulai dari pangkal
pelirnya hingga ujung kontol
Bombom. “Seksi banget.., punya cowok ”, pikirnya Setelah beberapa menit kontol
Bombom diguncang-guncang oleh
Lala, Bombom menggelinjang hebat
dan menyemprotkan cairan putih
kental ke mana-mana, termasuk ke
muka Lala. “Aduh La, enak banget! Maaf ya La, kena muka kamu ”, ujar Bombom dengan suara berat.
“Nggak apa-apa. Tapi memang ini agak amis”ujar Lala “Itu namanya sperma atau air mani. Cuma cowok yang bisa ngeluarin.
Kalo kamu cuma bisa ngeluarin air
mani. Mau dikeluarin nggak?
Rasanya enak banget lho ”ujar Bombom menwarkan diri.
“Emang nggak apa-apa gitu? Ntar aku nggak perawan lagi ”Jawab Lala ragu-ragu.
“Ngak apa-apa. Ayo buka rok kamu”Balas Bombom lagi Lala menamggalkan rok SLTP-nya
hingga hanya mengenakan seragam
sekolah dengan bawahan celana
dalam putih saja. Di tengah celana
dalam tersebut terdapat gambar
kupu-kupu dan di tepinya berenda. Paha Lala yang putih bersih betul-
betul meggairahkan. Bombom
tertegun melihat pemandangan di
depannya. “Gila La!, kamu seksi banget !”Teriak Bombom.
“Ih bombom, Lala kan jadi malu. Segini aja ya. Celana dalamnya
nggak usah dibuka ”Jawab Lala tersipu malu.
“Ya udah sini, biar aku elus-elus memek kamu ”ujar bombom Lala seperti terhipnotis dan
mendekat ke arah Bombom. Entah
apa yang terdapat di benaknya.
Mungkin Ia telah teransang dan
merasa bergairah sewaktu
memegang penis Bombom tadi. Bombom memulai aksinya. Dengan
lembut ia sentuh celana dalam Lala.
Lalu ia merab-raba mencari
dimana”Bibir kecil manis”Itu berada. Dan ketika ia menyentuh
memek Lala yang tertutup celana
dalam itu, raut muka Lala berubah.
Ia mendesis dan bergumam sendiri.
Bombm semakin berani, ia
memesukkan jarinya ke sela-sela celana dalam Lala dan mengelus-elus
memek Lala. Lala semakin salah
tingkah, rasa nikmat
menggetarkan seluruh tubuhnya,
matanya mulai terpejam. Hal itu dimanfaatkan Bombom
untuk menrik celana alam Lala
turun. Sekarang memek Lala yang
mungil terpampang jelas. Bulu-bulu
halus telah tumbuh diatasnya,
walaupun masih tipis. Sementara ke bawah lagi seonggok daging
menggumpal indah, berbelah bagai
lipatan surga. “Gila!, seksi banget nih lobang sorga!”ujar Bombom dalam hati Lala menyadari bahwa celana
dalamnya telah ditanggalkan oleh
bombom, namun rasa malunya
telah dikalahkan oleh nafsu birahi
yang kian memuncak. Bombom
merebahkan Lala ke tempat tidur. Gadis kecil itu mengangkangkan
kakinya hingga memeknya
kelihatan semua. Bombom menjulurkan lidahnya lalu
mulai menjilati bibir vagina Lala.
Lala menggelinjaing menahan
nikmat. “Gila! Enak banget Bom, terus Bom.. Augh..”ujar Lala menggeliat. Bombom terus menjilat-jilat
memek Lala hingga seluruh bagian
memek mungil tersebut basah oleh
air liurnya. Sebenarnya ia pengen
sekali memasukkan jarinya ke
dalam memek saudarinya itu. Namun ia takut saudarinya itu
kehilangan keperawanannya.
hingga akhirnya ia urungkan
niatnya dan tetap terus menjilati
memek Lala. Beberapa saat kemudian, Lala
mengelinjang hebat dan
mengeluarkan cairan dari lobang
memeknya. Rupanya Lala telah
mencapai orgasmenya yang
pertama. Bombom memandangi wajah Lala yang keletihan dengan
puas. Lala lalu terjaga dari “Tidurnya ”, lalu menoleh ke arah Bombom. “Bener-bener enak Bom!” Pantas kamu ketagihan ”ujar Lala “Gua bilang juga apa.”Jawab Bombom Lala lalu mengenakan pakaiannya
kembali. Mendadak ia teringat PR
yang diberikan Ibu guru. “Bom, Kamu udah buat PR? Gua pinjam buku biologi kamu dong ” ujar Lala.
“Belom, kebetulan buku gua juga dipinjam sama Jessica. Udah, kamu
gambar aja ini” ujar Bombom sambil menunjukkan penisnya.
“Lho kok mengecil ?” Tanya Lala keheranan.
“Iya dong, kan capek. Kalo kamu pengen gedein lagi, elus lagi dong” ujar Bombom cengengesan.
“Ah, kamu bisa aja ”Jawab Lala. Malam itu keduanya mengerjakan
PR mereka sambil mengenal organ
seks masing-masing. Lala jadi
mengerti seluk beluk penis
Bombom, dan bombom memahami
memek cewek melalui”Pendekatan ”Secara langsung dengan memek Lala.

WULAN GURITNO DAN BALADA KUE PANCONG


Setelah merapikan barang – barang yg dipakainya syuting, Wulan
bersiap-siap pergi memanasi
kendaraan. Di sela itu, ia menerima
telepon dari buah hatinya. “Bunda.. Bunda lagi di mana?”. “Masih di lokasi syuting sayang, udah selesai dan udah bubar kok.
Tapi Bunda mau ke rumah Bi Mimin
dulu ya.. pembantu kita. Habis
dapat khabar, katanya sakit keras.
Nggak lama kok sayang.. ”. “Iya Bunda, gapapa. Tapi beliin aku cemilan dong apa aja, laper niih..” urai si kecil manja.
“Ya udah, nanti Bunda beliin deh. Tunggu Bunda ya sayang, muach !” cium Wulan di telepon penuh kasih
sayang, si kecil Shaloom balas
‘muach’ ke Bunda-nya itu. Singkat cerita, usai perjalanan
pulang menengok pembantunya,
masih di daerah perkampungan
yang cukup sepi, Wulan melihat di
sisi jalan ada seorang penjual kue
pancong. Dengan sigap ia menepikan mobilnya, kemudian
melangkah ke tukang kue pancong
tersebut. Wulan berteriak. “Bang.. satu ya !”. “Baik Non” si Abang menyahut. Sambil menyiapkan dagangan,
mata si Abang sesekali melirik ke
betis putih artis beranak satu yang
masih ‘hot’ itu. (Mbunting padi oi..), si Abang
membatin. Wulan bukan tidak tahu curi-curi
pandang cabul si Abang, sebagai
wanita yang berpengalaman dalam
hal sex. Tapi ia coba acuhkan saja,
toh sudah biasa tubuh seksinya
menjadi bahan pelototan pria, baik itu melalui media Tv, ataupun media
tabloid. Semakin ke atas mata si
Abang, semakin ‘ke atas ’ pula si ‘Ujang’. Lebih dari sekali si Abang membetulkan letak si ‘Ujang’ yang menjulang riang karena liang. Meski
risih, Wulan ada sedikit rasa horny
yang sulit untuk di jelaskan.
Sebagai wanita, tentu senang dalam
hati ditatap terus menerus oleh pria,
meski mulutnya berkata ‘tidak! / cabul lu! / ngeres lu!’. Di sela penantian jajanan matang, Wulan
sempat melihat ada seorang lelaki
lari dari balik mobil. Ia tidak curiga
dan berpikir macam-macam kala
itu. Matang dagangan, si Abang pun
menyajikannya di sehelai kertas sebagai bungkusan. Wulan kembali
ke mobil berniat untuk mengambil
uang. Namun setengah mati ia
mencari tas berisi dompetnya tak
juga ketemu, dasar sial. Wulan
berpikir, jangan-jangan orang yang lari tadi maling, pikirnya.
Cerobohnya memang pintu tadi
tidak dikunci, karena berpikir
tidak-kan lama. Wulan waktu beli kue pancong “Non, ini udah jadi…”, si Abang menagih.
“Sebentar Bang, aduuh.. kemana sih?” keluh Wulan terus mencari lantaran tak sudi dia mendapat
malu tidak mampu membayar.
Selang beberapa menit, Wulan
menyerah juga. Ia yakin 100 %
bahwa barang – barang pentingnya pasti dicuri lelaki yang lari tadi.
“Aduh Bang, kayaknya aku kemalingan deh..” kata Wulan dengan wajah diantara marah dan
malu. “Lha, terus..”, wajah si Abang terlihat kesal. Wulan yang merasa tidak enak
berusaha mencari ribuan di sekitar
perseneling. Sialnya, semua recehan
itu habis tak bersisa sepeser pun.
Harus bagaimanakah dia?.
Handphone juga hilang beserta dompet.
“Abang ikut saya yuk, ke kantor polisi?”. Wulan membujuk agar si Abang tenang.
“Yah, masa bayar jajanan segini aja ‘ndak mampu artis kayak Non. Non ini artis kan..?. Abang pernah lihat
di Tv”. “Bukan gitu Bang, saya kan udah bilang tadi kalo saya kemalingan.
Masak saya makanan murah gini aja
nggak mampu bayar !” kata Wulan ketus, gengsi.
“Ya kalo gitu bayar dong! moso ’ duit seribu dua ribu aja ‘ndak punya toh Noon, Non. ” balas si Abang.
“Nggak ada Bang, udah.. Abang ikut aja saya dulu, nanti saya ganti
3 kali lipat!” Wulan menyahut penuh emosi.
“Gerobak saya gimana ?”. “Sini..!”, Wulan membuka pintu belakang mobil Kijangnya, lalu
melipat bangku disitu agar gerobak
si Abang bisa muat masuk. Setelah mengatur posisi barang,
baru mereka berdua masuk ke
dalam mobil. Cekekeket!,
Cekekeket!, berulang kali distater
tapi mesin tak juga mau hidup.
Keberuntungan tengah berpihak di sisi Abang, sementara kesialan
menggelayuti Wulan.
“Kenapa lagi sih ini mobil, ck. Ah !”. Wulan menggebrak setir,
keluhannya memuncak. Ia merasa
sial sekali dari tadi. “Bang, tolong dorong dong!”. “Wuaduh, waduh … si Non iniii, nyusahin aja deh ”. “Tolong Bang, habis sepi.. nggak ada orang lagi. Tolong yaaa ”. Wulan memohon dengan wajah penuh iba,
seperti mau menangis mengingat
barang – barangnya yang hilang penuh dengan rahasia seorang
selebritis. Si Abang terpaksa memenuhi
permintaan dengan bersungut -
sungut. Dia berusaha mendorong,
tapi sayang terlalu berat, sehingga
mobil hanya bergeser beberapa
senti saja. “Waduh Non, ‘ndak kuat Abang. Kalau begini.. Abang ‘ndak dibayar juga ‘ndak apa-apa deh..”. “Lho, terus.. saya bagaimana Bang?. Kantor polisi jauh ?”. “Ya jauh Non, tahu 50 tahu 100 Kilo ” sahut si Abang asal, meski tak tahu
persis seberapa jauh. Memang dirasa Wulan, rumah
pembantunya itu terpencil, jadi dia
percaya saja. Ia tengok kanan dan
tengok kiri, tak ada orang ataupun
kendaraan melintas. Ada motor
satu-satunya boncengan, itu pun berjalan kencang dan tak mau di
stop. Di samping itu, Wulan juga
takut meninggalkan kendaraan di
area asing. “Kalo Abang aja yang jalan gimana?. Nanti saya kasih uang
deh..”, si Abang berpikir mesum, (ada celah nih.. e-hehehe). “Aduh si Non.. udah ‘ndak bayar, bikin keringetan suruh dorong..
sekarang disuruh jalan jauh lagi ”, Wulan semakin tak enak dengar
keluhan si Abang. “Gimana dong Bang?, cepet!. Nanti tuh maling makin jauh, barang – barang saya banyak yang nggak
balik. Penting semua itu Baang.. ” Wulan memohon dengan sangat. “Ya udah, ini pertolongan terakhir dari saya. Tapi …”, tiba-tiba ekspresi wajah si Abang cengengesan,
penuh kemesuman. “Tapi apa Bang..”. Wulan geregetan bersamaan dengan rasa cemas. “Abang dikasih sesuatu gitu dari si Non e-he-he” ketakutan Wulan menjadi kenyataan.
“Ap-apaan?”, Wulan berharap dugaannya salah. Wajah si Abang
mendekat, “Sini Non.. ta’ bisi‘i”. Merasa butuh, Wulan mendekatkan
sedikit kupingnya ke mulut
kumisan si Abang. Dia berbisik,
‘Abang mau lihat sama jilat punya Non’. PLAK!!, “Abang jangan kurang ajar ya.. ” hardik Wulan setelah melayangkan tamparan. “Si Non ini.. ya wis, biar ta ’ teriaki ke orang-orang nanti kalo si Non ini
bayar jajanan aja ‘ndak mampu. Saya tinggal Non disini sendiri..
‘ndak papa ‘ndak usah dibayar ”, si Abang merasa terhina dan hendak
mengambil kembali gerobaknya.
Wulan melihat langit semakin gelap,
ia betul-betul butuh pertolongan. “Nanti dulu Bang, aduh.. maaf ya tadi saya spontan. Habis Abang juga
sih yang nggak sopan.. ” kata Wulan menahan kepergian si Abang, ‘Ujang’ si Abang bagai pocong bangkit dari kubur merasakan
lembut dan halus telapak tangan
Wulan di lengan. “Ya saya memang orang kampung Non, mana tahu sopan santun”. Wulan berusaha mengangkat
senyum agar si Abang
mengurungkan niat pergi dan bisa
di ajak kerjasama, “Bang.. tentang tadi, saya …” Wulan ragu, kata- katanya terpatah-patah. Si Abang
tetap diam, sok memasang wajah
galak, padahal konak.
“Saya.. tapi.. Saya cuma, cuma … bisa kasih lihat aja.. ya ?” tawar Wulan. “Buat apa Non, ‘ndak usah.. mana tadi saya tambah terima tamparan
lagi”, si Abang jual mahal. Wulan menghela nafas panjang, sepertinya
tak ada lain pilihan. “Saya kasih.. pegang aja ya Bang ” tawar Wulan lagi. Si Abang
mengangguk seakan, ‘ya sudahlah’, padahal dalam hati sorak sorai
bergembira. Wulan masuk ke bangku tengah
diikuti si Abang, lantas berhadap-
hadapan. Wulan di ujung, si Abang
di ujung. Tentu ini bukan yang kali
pertama bagi Wulan, ia berusaha
menebar senyumnya yang khas di sela menghela nafas, berharap ini
cepat-lah berlalu. Perlahan Wulan
menarik ke atas bagian bawah long
dressnya. Mata si Abang yang tadi
menatap betis, bergerak ke atas
seirama long dress yang tertarik. Glek!, si Abang sulit menelan ludah
waktu melihat paha Wulan tersaji
indah. “Te..terus Non, terus. Slurp” suruh si Abang sambil menyeka liurnya
yang berceceran. Ketika tangan Wulan sampai di
dalaman, si Abang angkat bicara,
“Nanti dulu Non.. Abang mau ngerasain pegang”, jari si Abang langsung main elus dan gerayang
saja, Wulan pun menggelinjang geli
karenanya. “Udah Bang, Mmhh.. saya kasih..lihat, terus.. udahh ”. Wulan ingin mengakali si Abang. “Ntar dulu Non.. Abang lagi bahagia ini. Putih mulus pahanya sih, e-
heheh”. Si Abang ketagihan ber- grepeh ria, emoh berhenti. Bahkan
lidahnya juga ingin menikmati
mulus paha Wulan, jilatan demi
jilatan mendarat di paha artis
Blasteran tersebut. “Non, hehehe.. Abang mau, Abang aja yang ngelepas kancut Non ya..?
e-hehe”. “Jangan Bang, nanti sobek!”. “Lho.. kalo ‘ndak mau ya udah aja ”, si Abang sok jual mahal lagi.
“Iya iya, ya sudah.. tapi janji, pelan- pelan ya ”. Tangan si Abang menelusup masuk,
penis pun makin mengangguk.
Wulan mengangkat pinggulnya
dan, Sruuut!!, celana dalam
tersangkut di sela-sela lutut, kaki
otomatis tertekuk. Wulan refleks menutupi organ kewanitaannya
dengan tangan. “Lho, pie.. ko’ di tutupi?. Kata Non, Abang boleh lihat memeknya ?” protes si Abang beserta Kang
‘Ujang’. Wulan memalingkan wajahnya.
Perlahan menggeser tangannya
memberi pemandangan indah
darinya untuk si Abang. Mata si
Abang ingin loncat keluar dari
tempatnya melihat vagina yang dihiasi bulu-bulu tipis hitam milik
Wulan. Mulutnya terbuka lebar
seakan ingin menyantap memek
artis di depannya itu. Wajah sange
si Abang mendekat “Cukup dulu Bang!”. Wulan tiba-tiba mengenakan kembali celana
dalamnya dengan bergegas, si
Abang gigit jari. “Apa-apaan nih?!. Janji Non Abang gimana!”, si Abang mengeluh bukan main. “Saya tahu Bang.. ini akan berlanjut ke persetubuhan. Saya yakin, pasti
nafsu Abang udah di ubun-ubun.
Karena itu, saya mau minta
penawaran ulang ”. “Emangnya pasar pake tawar- tawaran Non !”. “Dengar dulu! Saya … bersedia digauli Abang, dan Abang boleh
lakukan sepuasnya, tapi.. tolong
saya dulu kejar itu maling, paling
nggak cari kantor polisi, pos hansip
atau dimana aja yang ada
telponnya. Saya kasih nomer anak saya biar keluarga saya bisa
jemput. Besok, suami saya pergi ke
luar kota pagi-pagi, jadi Abang
silahkan datang ke rumah dan
Abang boleh melakukan apa saja
terhadap tubuh saya, sepuasnya.. saya nggak akan ngelawan ” imbuh Wulan panjang lebar. “Moso’ sih, Non mau Abang gituin..?”. “Makanya, Abang harus mati- matian kejar itu maling sampai
dapet.. kalau barang-barang saya
udah di tangan Abang, Abang
silahkan pegang buat jaminan. Saya
kasih alamat saya buat besoknya
kita barter tas dan HP saya.. sama ‘ini’…”, Wulan mengangkang seperti wanita melahirkan seraya
menggeser celana dalam, pameri
sesuatu yang indah di dalamnya. Mata si Abang kembali melotot
lapar, “Mungkin Abang bisa aja merkosa saya.. tapi saya yakin,
Abang nggak akan puas merasakan
‘ini’. Kalau Abang berhasil, saya akan serahin ‘ini’ setulus hati. Abang mau acak-acak sesukanya
silahkan, berulang kali.. nggak
masalah. Abang mau posisi apa saya
layani, mau saya begini.. di
pangkuan Abang … atau… nungging? Saya akan turuti,
gimana Bang…?”. Abang tukang kue pancong itu konak bukan main
mendengar penawaran Wulan,
ibarat planet..si ‘Ujang’ salah orbit, nakal melenceng keluar galaksi
yang telah digariskan Pemilik Alam
Semesta. “Kalau saya ‘ndak mau gimana Non?”. “Ya mending batal aja.. Abang tunggu disini.. biar deh saya jalan.
Daripada ini diterusin.. itu maling
pasti udah keburu jauh. Barang-
barang saya hilang dan sia-sia lapor
polisi atau hansip!. Kalo Abang
nekat mau merkosa saya dulu silahkan.. saya akan ngelawan
sedaya upaya ”. Tukang kue pancong itu sempat
diam beberapa saat, otak
mesumnya berpikir ini ada
benarnya juga, pasti lebih enak
kalau si cewek pasrah, tanpa ada
rontaan. “Baik Non, kalau begitu.. Non tunggu disini, pasti saya dapat
itu maling”, si Abang langsung keluar mobil dan lari ke arah yang
sama dengan maling berkecepatan
tinggi, bahkan boleh di adu oleh
sprinter-sprinter olah raga Nasional. (Memek.. memek.. memek.. sabar..
kalau.. mau.. memek!), batin si
Abang seraya berlari kencang. Saking nafsunya si Abang, tidak
sadar kalau dia telah lari beberapa
kilo. Diperhatikan olehnya di sisi
jalan ada seseorang yang
tampaknya lelaki tergeletak
bersimbah darah. Si Abang mendekatinya, memang jalanan
lenggang sepi tak ada orang bahkan
tak se-ekor pun binatang. Dia tidak
tahu seperti apa wajah orang yang
mengambil barang, namun dia lihat
ada tas tangan warna merah jambu di tangan orang itu. Masa kan
potongan jambret muka copet pipi
codet bawa tas wanita seukuran
dompet. Si Abang tidak tahu kalau
motor kencang yang melintas tadi
tak mau di stop adalah yang tidak sengaja menabrak si maling. Dasar
beruntung dia, kalau sudah rezeki
memang tak kemana.. demikian
pepatah berkata. Tanpa
mempedulikan maling yang
terkapar itu, si Abang langsung mengambil saja barang – barang wanita yang ada di tangannya,
bertaruh bahwa itu milik Wulan
dan langsung balik. Sekembalinya
dia, dan setelah Wulan mengatakan
bahwa itu benar barangnya,
perjanjian syah. Sebelumnya Wulan sempat meminjam Hp untuk
mengabari keluarga agar segera
menjemput. Wulan minta, si Abang
menjaga barang miliknya baik-
baik, dan jangan diangkat kalau ada
telpon masuk atau sms apapun. Wulan di mobil waktu mau digrepe-grepe *** # Hadiah Bagi Pahlawan “Mah, Papah jalan dulu ya.. ”, sang suami mengecup pipi kiri dan kanan
Wulan istrinya, Wulan tersenyum
dan menyium punggung tangan
suaminya. “Hati-hati ya Pah di jalan!” sang suami balas tersenyum seraya mengelus rambut si kecil
Shaloom buah hati mereka.
Shaloom tertawa lucu layaknya
bocah, lihat Ayah dan Bundanya
seperti saling merindu lantaran
akan berpisah beberapa hari ke depan. “Mah, Hp kamu kok nggak kelihatan sih.. biasanya
bertebaran?”. “Ooh, ada di tas.. tasnya ketinggalan di tempat syuting.
Nanti ada yang nganterin kok
orang dari per-film-an. Kemarin
waktu aku minta jemput juga
pinjem HP salah satu kru buat
nelepon kamu. Nah, Bidadari-ku jangan nakal ya di sekolah ”, Wulan mencubit pipi Shaloom untuk alih
perhatian, dan Shaloom pun
cekikikan. Tanpa curiga, suami
Wulan menggendong Shaloom
yang melambaikan tangan ke arah
Wulan, “Dah, Bundaaa..”. “Dag, sayaang …”. Seperginya mereka, Wulan masuk
ke dalam, pembantu rumah
tangganya menghampiri, “Bu, ada telpon.. katanya mau bicara sama
Ibu. Aku tanya namanya tapi dia
‘ndak mau jawab !”. Wulan tahu kalau itu dari si Abang tukang kue
pancong. “Mana.. sini..?!”. “Udah ditutup Bu barusan.. katanya 5 menit lagi telpon”. “Oo, ya sudah.. kamu pergi belanja dulu deh!. Khan Bi Mimin belum
masuk”. “Iya Bu. Jadi saya habis belanja pergi ke rumah Bi Mimin bawa buah
yang Ibu pesan ini ya ?”. “Iya, titip salam.. lekas masuk kalau sudah sembuh. Rumah
berantakan !”. “Baik Bu. Saya sepertinya akan pulang siang, Ibu ‘ndak apa-apa sendiri?”. “Nggak apa-apa..”, pembantu rumah Wulan itu lekas pergi
melihat majikannya membuka
pintu seakan mengusir. Pembantu itu tidak tahu kalau
Wulan memang ingin keadaan
rumah sepi lantaran ia tengah
terikat janji, barter tas..Hp dan
kosmetik miliknya yang di tangan
tukang kue pancong dengan vegi. Ia sengaja mengatur ini semua.
Telepon rumah kembali berdering
sekali lagi, “Ya..?”. ‘Halo, bisa bicara dengan Nona Wulan?’. “Abang?, udah kesini aja..! Saya tunggu”. ‘Baik Non’. Telpon ditutup. -# #- Ting Nong!, Ceklek.. “Eh si Non, e-hehehe. Slurph!”, si Abang meliur, ngiler melihat Wulan
berpakaian hitam mengundang
birahi, lebih seksi dibanding tempo
hari. “Masuk Bang…”, setelah si Abang masuk, Wulan menarik tangan si
Abang agar mengikutinya. Dia ho-
oh saja, apalagi si ‘Ujang’. Sambil berjalan, Wulan melirik tas
buluk yang ditenteng si Abang,
lantas iseng bertanya di-iringi
senyuman, “Barang saya dibawa khan Bang?”. “Bawa Non, ini.. ada di tas.. ”. “Nanti kalo Abang udah puass..Abang balikin yaa ” kata Wulan berdesis dengan wajah
menggoda sambil meremas
payudaranya dan menggigit bibir
bawah, si Abang semakin nepsong
jadinya. Tiba di kamar, Wulan
mengunci pintu dan meraih tas yang masih saja dijinjing si Abang
lantaran si Abang tengah menahan
konak berat atas gerak-gerik
Wulan yang begitu
membangkitkan hasrat
kelelakiannya. Wulan menatap si Abang, kemudian berjalan mundur
ke ranjang seraya menekuk jari
telunjuk sebagai isyarat, ‘Kesini…!’. Sambil berjalan mendekati Wulan, si
Abang berulang kali menelan ludah
atas moment terseksi yang baru
pernah di-alaminya. Tambahan
Wulan sengaja memperlihatkan
bahwa ia tidak mengenakan Bra, dan melepas C string hitam
miliknya, yang kemudian diputar-
putar di jari telunjuk. Sampai di
ranjang, Wulan duduk melempar
CD-nya itu ke si Abang, lalu
merebah diri sambil menatap tajam si Abang yang tengah menikmati
aroma wangi vagina di celana
dalamnya. Wulan menggigit jari
kelingkingnya sambil berdesis dan
menekuk sebelah kakinya ke
ranjang hingga terlihat batang pahanya yang putih mulus, “Bang… aku.. milikmu, Sshh ” penjual kue pancong itu langsung menelanjangi
diri, tak tahan pada godaan Wulan.
Segera saja dia tindih celebrity
cantik dihadapannya itu untuk
diciumi bertubi-tubi. “Umm, cup.. cup, Slurrp!”, si Abang bukan hanya mencium, tapi juga
menjilati pipi dan mengemut
hidung hingga membuat sekujur
wajah Wulan berlepotan air liur. Sesuai perjanjian Wulan tidak
melawan. Malah lapar birahi si
Abang menaikkan libidonya.Puas
menikmati kecantikan wajah Indo
Wulan, lidah si Abang turun meng-
invasi sekitar dada. Telapak tangannya yang kasar menggesek
halus lengan Wulan. Wulan mulai,
‘aah.. emh.. ahh.. ssh’, ketika mulut si Abang mulai menjajah
payudaranya. Wulan mengerang
keras lantaran begitu gemasnya si
Abang meremas. “Ah Bang.. eMm.Ahhh …Aahh…”. Dengan ganas payudara Wulan
dikenyot tukang kue pancong itu.
Lidahnya sangat liar dalam menjilati
puting payudara yang telah
meruncing lantaran Wulan juga sudah terangsang.
Karena kulitnya putih salju, wajah
Wulan yang merah tengah
menahan nikmat terlihat jelas.
Tidak hanya itu, jari si Abang
menggerayang penuh nafsu area bawah Wulan. “Baangh.. pelan-pelan.. sakit!. Kulit Abang kan kasar …”. Wulan mengeluh. “Maaf Non.. habis si Non udah cantik, seksi lagi. Jadi aja Abang
kelewat nafsu ”. Si Abang pindah ke depan Wulan, dan merentang kedua
belah kaki Wulan lebar-lebar. Wulan pasrah di ranjang “Ah Bang.. Aahhh …” jari tengah si Abang menekan klitoris Wulan dan
bergetar cepat, kelingkingnya
mengusap-usap bibir kemaluan.
Wulan mulet-mulet ke-enakan. Sambil juga terus meremas
payudara, si Abang menambah lagi
serangan lewat lidah yang
disapukannya ke paha, Wulan pun
makin menggelinjang nikmat.
“Auhhhhh!!!”, tiba-tiba si Abang menyelupkan jari tengahnya ke
liang vagina, buat Wulan menekuk
punggung, kepala beralaskan kasur.
Si Abang tertawa norak, senang
jarinya terjepit lubang memek
Wulan yang terasa kencang meski telah melahirkan. Dikocoknya oleh
si Abang dengan gencar sampai-
sampai Wulan mencengkram erat
pergelangan tangan si Abang,
mengiba berhenti atas siksaan
birahi. “Ahhh…! Engghhh!!!”. Tubuh Wulan melejang-lejang, jus cinta
orgasmenya mengecrut deras. Jari.. telapak dan pergelangan
tangan si Abang seperti tercelup di
kubangan air, basah oleh muncratan
lendir vagina yang berlebih. Si
Abang menelan seluruh cairan cinta
Wulan yang ada, dari tangannya, jarinya hingga kemaluan Wulan,
buat Wulan menikmati sisa-sisa
orgasme. Begitu rakus si Abang,
sampai cucupan-cucupan itu
terdengar. Wulan hanya
memandang pasrah saja pada laki- laki asing yang pesta pora mencicipi
memeknya itu. “Enak Non peju memeknya.. gurih!! Jadi seger Abang ” celoteh penjual kue pancong tersebut. Si Abang yakin sudah waktunya
bersetubuh. Dia mengocok penisnya
agar lebih mantap menusuk,
sementara menunggu Wulan yang
nafasnya masih ngap-ngapan. Mata
Wulan terbuka lebar lihat si Abang bersiap-siap menyetubuhinya,
kontol kampung yang tengah
dikocoknya-lah penyebabnya.
Besar, penuh urat yang menonjol,
hitam.. mengerikan. “Mana Non, buka memeknya kayak waktu itu di mobil !”. Wulan teringat perbuatannya. Membuka
paha, menawarkan kemaluannya
yang berharga sebagai barang
barteran.Dengan gerak pelan
namun pasti, Wulan merentang
bibir kemaluannya yang telah merah merekah dan basah. Si
Abang segera mendekatkan ‘Ujang’ ke liang Wulan yang terbuka
menantang. ZLEBBB!!!, tanpa tedeng
aling-aling, si Abang langsung
mendorong hingga penisnya
amblas, Wulan spontan mengerang
keras. “Bang.Hggghh… Hhggghh…!!”. Wulan merasa penuh di memeknya,
kontol kampung si Abang yang
menyangga di dalamlah
penyebabnya lagi. Si Abang sendiri tengah berjuang,
mati-matian dia menahan enak
jepitan vagina Wulan di penisnya.
Meski telah melahirkan, Wulan
selalu rajin minum jamu dan
ramuan lain agar liang cintanya tetap kesat. Ia sangat apik menjaga
area kesayangan suaminya itu. Dan
kali ini tukang kue pancong
beruntung itu mencicipinya. Dia
bergerak maju mundur pelan
seperti kesulitan lantaran vagina Wulan mencengkram penisnya.
Lidah pria itu terjulur karena begitu
nikmatnya. Untunglah dia sudah
minum jamu pria perkasa, kalau
tidak, ‘Ujang’ sudah muntah darah (putih kental) menikmati memek
artis Wulan. Wajah Wulan kian
memerah, vaginanya seperti
diacak-acak waktu si Abang sudah
berhasil memainkan penis maju
mundur dengan bernafsu. “Bangh. Hhgggh… hHgggh!” Wulan merasakan kemaluannya bagai
kikil yang ditusuk lidi, tertancap
mantap dan terkuasai. Tanpa sadar jarinya mencakar bahu
si Abang. Karena sakit.. si Abang
menyodok Wulan semakin edan
untuk menggapai kenikmatan.
Bodoh Wulan.. karena itu
vaginanya makin gahar disodok, sehingga keduanya malah jadi
semakin menikmati entotan
mereka bagai pasangan tengah
berbulan madu. “Mem, mem, memekk.. memek, Nonh.. eeE.HNGGKH!!”, CROOOT!!. CROT!!, si Abang tak mampu lagi
menahan antrian sperma putaran
pertama, belum selesai dia bilang
enak keburu keluar karena
nikmatnya. Badannya kelojotan
persis orang ayan, penisnya menancap dalam sekali di liang
vagina, buat Wulan melayang dan
“Aahhhhhh!!!!”, orgasme… ia meraihnya. Jus cintanya dan sperma si Abang
buat daerah selangkangan mereka
basah dan lengket. Gilanya, penis si
Abang tetap keras. Bukan karena
jamu yang diminumnya, tapi
karena gairahnya atas Wulan. Pikirnya, kapan lagi.com bisa
ngentot artis Indo macam Wulan.
Mimpi pun tak berani dia. Masih
memburu udara, Wulan dipaksa si
Abang menggelayutkan tangan ke
belakang lehernya. Sementara dia menahan beban tubuh Wulan
dengan memapah paha, tentu penis
masih menancap di vagina.
Rupanya dia ingin menggunakan
gaya monyet memanjat pohon
kelapa (kata dr. Boyke). Mata Wulan mendelik sisakan putih, baru
pernah dia digarap dengan
gagahnya oleh seorang lelaki. Baik
suami maupun para pejabat yang
kerap mem-bookingnya semasa
aktif artis, belum pernah. Suami- nya hanya konvensional, paling
doggy style.. itupun 3 menit keluar,
sesudah itu tertidur pulas. Jika
bukan karena Shaloom buah hati
mereka, tentu Wulan akan mencari
suami yang lebih perkasa macam si Abang (tapi kaya harta juga
tentunya). “Ahh!!! Ahhh!!! Ahhh!!! Ahhh!!! Ahhh!!!”. Wulan mendesah lirih berulang kali tiap liang veginya
dipaksa menelan penis si Abang
yang mengacung konak di dalam. Tubuh Wulan yang berkulit putih
salju itu terlempar naik turun,
tengah dikuasai Abang-abang
penjual kue pancong yang hitam
legam. Wulan bisa melihat adegan
dirinya itu bersama si Abang yang memantul dari kaca rias.
Rambutnya awut-awutan akibat
terpental naik turun, tambah kusut
lantaran kepalanya bergeleng
kesana kemari. Lidah si Abang
terjulur acap kali kontolnya menyodok bagian terdalam memek
MILF (Mother I Love to Fuck)
Wulan. Wulan mengulum lidah si
Abang lalu bertukar ludah.
“eMm.aAh … Baang!!”, masih dalam pelukan, Wulan menggoyang
pinggulnya sehingga vaginanya
seperti mencengkram dan
mengocok penis si Abang.
Kenikmatan surgawi itu, buat si
Abang ketagihan gila akan enaknya. “Hnggk!!! Hnggk!!! Hnggk!!! Hnggk !!” si Abang mirip orang bengek
menikmati Wulan Guritno punya
memek. Jarinya menangkup dan meremas
bongkah pantat putih Wulan sambil
melesakkan penis dalam-dalam,
CROOT!!. Pria pedagang asongan itu
kembali mengeluarkan maninya
untuk yang kedua kali di rahim Wulan, dan vagina Wulan pun juga
mengucurkan cairan klimaks
seksnya. Wulan dan sang suami
sudah setuju menjalani program KB,
jadi ia tidak khawatir akan
kemungkinan hamil. Usai klimaks, si Abang merebahkan tubuh Wulan
yang dipenuhi peluh ke ranjang
tempat peraduan yang semestinya
hanya milik Wulan dan sang suami.
Kenyataan yang terjadi berbeda.
Dengan nafas masih menderu, Wulan memandangi si Abang. Ia
tak percaya ada lelaki setangguh
diri si Abang. Tukang kue pancong
itu seperti ‘ngeh’ arti tatapan Wulan. Jarinya kembali bergerak
menggerayang tubuh Wulan yang
terbungkus kulit putih. Mata Ibu
kandung Shaloom itu terbelalak,
melihat penis si Abang bangkit
sanjaya. “Bang, Yahhhhh…”, Wulan hanya pasrah ketika tubuhnya dibalik si
Abang dan diatur nungging. Si
Abang menagih salah satu posisi
yang ditawarkan Wulan tempo
hari. Dia tidak menyia-nyiakannya.
Blessh!, “Ooohh… peret bener.. si Non ini.. memekk.nya..h Hgghh !”. Dengan posisi ini, si Abang lebih
garang, serasa mengontrol Wulan
sepenuhnya. Tepukan demi
tepukan antara perutnya dengan
bokong Wulan terdengar keras
saking nafsunya dia. Bokong putih semok seksi Wulan memerah, selain
karena tepukan.. bokong itu jadi
korban remasan kencang si Abang.
Si Abang menarik kedua lengan
Wulan kebelakang, “Non Wulaan… memeknya enaak … memeknya enaaaak, HENGGH!!” Tubuh Wulan tertekuk kebelakang, tukang kue
pancong itu sangat menikmati balas
jasa pertolongannya. Ketiga kalinya
vagina Wulan dihujani air mani
lelaki tak jelas asal itu. Tapi ia
menikmatinya, dengan ini..sang suami hanya sebagai pemberi
nafkah lahiriah saja. Nafkah bathin
didapat dari si Abang, karena selesai
si Abang puas pejunya habis dan
badannya lemas, serta Iyem..
pembantu rumah pulang… Wulan menahan kepulangan si Abang. Kok?. Untuk apa …?. *** # Tiga Hari Kemudian “Bang Jujuun… tangkap yah, hihihi”, Shaloom, anak perempuan Wulan itu hendak bercanda lempar
bola dengan supir baru mereka di
kolam berenang Villa. Ya, Jujun, si tukang kue pancong.
Wulan mengangkat status dirinya.
Pedagang asongan yang naik kelas.
Tentu pendapatan sebagai supir
berbeda, apalagi ditambah ‘bonus’ dari Wulan. Suami Wulan tidak
keberatan saat Wulan, istrinya,
men-calon-kan Jujun untuk jadi
supir antar jemput Shaloom ke
sekolah. Alasan Wulan, Jujun adalah
kacung kru per-film-an yang telah menyelamatkan HP dan tas penting
miliknya kemarin. Jujun merasa
hidupnya pas-pasan, pas ada
syuting ada uang, kalau sinetron
diberhentikan.. uang pun tak
datang. Oleh karena itu, suami Wulan meng-izinkan Jujun untuk
menjadi supir. Pikirnya, Wulan jadi
bisa lebih sering di rumah (ora
ngeluyur, kalau bahasa Jerman
bilang). Jadi IRT yang 3 D (di kasur,
syar syur.. di dapur, bikin semur.. di sumur, byar byur) kalau pas dia ada
di rumah. Tidak jadi supir bagi
Shaloom buah hati mereka. Kucing-
kucingan antara Wulan, sang suami
dan si Abang berjalan lancar. Hingga
suatu ketika, masalah terjadi di antara mereka … # Anak Haram Sejauh ini, Wulan meng-konsumsi
alat konrasepsi berupa Pil atas
anjuran Ginekolog mereka,
rencananya nanti memasang spiral.
Kalau kondom, Suami tak sudi,
begitu juga Jujun alias si Abang. Para Bapak bilang, pakai kondom
itu persis orang ngobrol dipisah
kaca, begitu kira-kira. Spiral juga,
beberapa para Bapak merasa ada
yang tidak nyaman. Maka,
diputuskan-lah oleh Wulan dan sang Suami, menggunakan media pil. Di
suatu waktu, setelah sang suami
berangkat kerja, Wulan habis-
habisan digarap Jujun. Karena
gairahnya yang sedang memuncak
dan luar biasa, Jujun membuat Wulan pingsan. Digarap dari pagi
sehabis mengantar Shaloom hingga
siang, dan Wulan baru sadar sore
hari. “Non, bangun Non… ada syuting kan katanya.. ”, Jujun menggoyang badan Wulan. “Emmhh.. jam berapa nih, Huaaah…”, Wulan meregang karena tulangnya serasa lolos. “Jam 3 sore Non, Non ada syuting katanya ”. “Oh iya, ya ampuun …anterin aku ya Bang” kata Wulan sambil bergegas mengenakan pakaian dalam dan
pergi ke kamar mandi. Jujun
tertawa saja melihat tingkah
majikan sekaligus tempat
lampiasan nafsunya itu. Selesai mandi, mereka pergi ke
tampat syuting. Sampai-sampai
Wulan makan di mobil. Malang, ia melupakan sesuatu yang
penting, yakni belum
mengkonsumsi pil pencegah
kehamilan itu. Bahkan sepulang
syuting, sempat-sempatnya
mereka cari tempat sepi, lalu main mobil goyang. Wulan memang tak
pernah menolak keperkasaan
Jujun, si Abang mantan kue
pancong tersebut. Sperma kembali
mengisi rahim Wulan. -# #- Malamnya … sekitar pukul 2 malam, ia baru ingat, kalau belum minum
pil maha penting itu. Ia hendak
meraih kotak berisi pil tersebut.
Saat meraba hingga ke bagian dasar
kotak.. KOSONG?!, Shit!!! Celaka tiga
belas, pikir Wulan. Dia lupa kemarin memang tinggal satu dan sudah di-
konsumsi. Sekarang …?. Wulan berdo’a, mudah-mudahan saja gagal benih dan tidak jadi, batinnya. - Selang Beberapa Hari “Hueeek!! Hueeek!!”, Wulan berlari ke kamar mandi tengah malam. “Kenapa kamu Mah ?”. Jantung Wulan serasa berhenti berdetak. Ia
merasa baik-baik saja, tidak sakit
atau apa. Jangan-jangan… “Besok kita ke dokter ya, pagi.. ”. “Jangan!!”, Wulan menjawab spontan. Suami Wulan memandang
aneh, Wulan segera mencari akal. “Nggak pa-pa Mas… paling cuma masuk angin kok ”. “Ya nggak pa-pa toh, kebetulan aku besok mau cuti.. kan senin
tanggal merah. Tadinya mau ngajak
ke Villa. Tapi karena kamu sakit
gitu, batal deh ke dokter aja ”. Suami Wulan memaksa. Wulan semakin panik, tadinya ia
pikir, jika ia hamil, ia terpaksa
aborsi demi keutuhan rumah
tangga. Tapi melihat suaminya
maksa mengantar, ia pasrah. “Kali aja kamu hamil lagi, kalo iya toh nggak apa-apa.. kebetulan
kasihan si Shaloom sendiri. Biar ada
temennya dan ngerasain punya
adik” canda Suami Wulan, Wulan tersenyum, tapi dalam hatinya
khawatir bukan main. Kalau
anaknya dengan sang suami tak
apa-apa, tapi kalau dengan Jujun …?. -# #- “Waah, selamat ya Pak.. Bu.. kalian akan kehadiran seorang jagoan
(anak laki) hahaha ” canda sang Dokter. Suami Wulan gembira bukan main,
sementara Wulan.. (Gimana
niiiih…?). Baginya tinggal menunggu waktu saja kemarahan
suaminya, serta keretakan rumah
tangga. Jujun juga hanya diam saja
setelah diberitakan Wulan, Wulan
juga melarangnya untuk kabur dan
hadapi saja apa yang akan terjadi. Mereka berdua sudah pasrah. *** Perut Wulan semakin lama semakin
bulat membesar. Suaminya sudah
siaga di rumah, melayani
kebutuhan Wulan. “Aneh-aneh aja nih bayi.. kamu ngidamnya kue pancong terus
sih?”, Wulan melayangkan pandangan ke Tv sambil melahap
kue pancong, pura-pura tak dengar
dan tidak menyahut kata-kata
suaminya. 9 Bulan 10 hari yang penuh
perjuangan terlewati. Wulan kini
berada di rumah sakit menunggu
eksekusi. Sang suami menunggu
dengan tegang. Jujun pun sama
tegangnya, dia tengah gelisah duduk di dalam bangku supir mobil. “Doroong, ayo teruss … dorong!!” kata Dokter dan Suster memberi
semangat ke Wulan. Peluh memenuhi tubuh artis Indo
itu. “Heee… Heeee”, Wulan berjuang dan, “Eaa.. Eaa.. Eaa..” suara tangis bayi mengisi ruangan. Tapi suasana
sepi, Dokter dan Suster bertukar
pandang melihat bayi yang
dilahirkan Wulan. Hitam dan
sepertinya berfisik tidak normal. Wulan sudah pasrah, bagaimana
pun itu anak yang dikandungnya,
meski itu bukan hasil benih
suaminya. “Mana.. mana?”, suami Wulan menerobos masuk mendengar
suara tangis bayi, ingin segera
melihat anak laki-lakinya. BUK!!!, kepalanya bagai dihantam sebuah martil besar. Semua yang
ada disitu tidak bersuara, kecuali
sang bayi.. yang lahir ke dunia
tanpa cela dan dosa. -# #- anak hasil hubungan Wulan dan si tukang kue pancong Antara Wulan dan suaminya tidak
terlibat pembicaraan selama
beberapa hari ke depan, menunggu
kondisi Wulan pulih. Mereka selalu
menghindar jika ada teman-teman
mereka yang ingin datang menengok, memalukan!.
Perseteruan antara keluarga Wulan
dan sang suami pun tak terelakkan.
Akhir dari keputusan, sang suami
menggugat cerai. Hak asuh Shaloom
jatuh ke tangan suaminya. Jujun sempat dihajar suami Wulan,
namun ia diam saja. Alasan
perceraian Wulan tidak sampai
dicium wartawan dan publik, aib
tetap tersembunyi rapi. Akhirnya,
dengan penuh ke-ikhlasan, Wulan bersama Jujun membesarkan anak
mereka apa adanya.

BERCINTA DENGAN GIGOLO


Setelah lama berpetualang dengan
Hendra, aku perlu juga variasi
bermain sex yang lain, dengan ragu-
ragu akhirnya kuusulkan ke Hendra
untuk memanggil gigolo supaya
permainan bertambah menarik. Dengan berat hati Hendra
menyetujui dengan syarat aku yang
mencari dan dia yang memutuskan
atau memilih orangnya. Setelah mencari informasi dari sana
sini, akhirnya kudapatkan nomor
telepon jaringan gigolo, aku tidak
mau lewat milist yang banyak
menawarkan diri, karena dari
pengalaman mereka hanya besar nyali dan nafsu saja, tapi tidak
dengan stamina dan variasi
permainan. Sesuai dengan
kesepakatan dengan seorang GM,
akhirnya dia akan mengirim 3 orang
untuk kami pilih di tempat kami menginap, uang bukanlah masalah
bagi kami. Pada hari yang sudah ditetapkan,
kami check in di Hotel Sahid. Tidak
lama kemudian datanglah sang GM
dengan membawa 3 anak muda
ganteng dan macho, mungkin
dibawah 25 tahun. Ketiganya memang kelihatan begitu atletis dan
tampan, tapi satu sudah out karena
terlalu pendek, sedangkan dua
lainnya mampunyai tinggi paling
tidak sama denganku, yang menjadi
masalah bagiku adalah memilih di antaranya. Terus terang agak nervous juga aku,
karena belum pernah aku
membayar untuk urusan sex.
Setelah berpikir sejenak akhirnya
aku menyuruh mereka bertiga
untuk telanjang di hadapan kami, sesaat mereka ragu, tapi akhirnya
mau juga setelah kupancing dengan
membuka baju atasku hingga
terlihat bra merahku. Dari
pandangan matanya aku tahu
bahwa mereka tertarik denganku, bahkan tanpa dibayar pun aku
yakin mereka mau melakukannya.
Kupikir hanya orang gila saja yang
tidak tertarik dengan postur
tubuhku yang putih seperti Cina,
tinggi semampai, sexy, dan wajah cantik, paling tidak itulah yang
sering dikatakan laki-laki. “Oke, yang tidak terpilih, kalian boleh memegang buah dadaku ini
sebelum pergi asal mau telanjang di
depanku sekarang. ” kataku menggoda, dengan demikian aku
dapat melihat kejantanan mereka
saat tegang, itulah yang menjadi
pertimbanganku.
Serempak mereka melepas
pakaiannya secara bersamaan, telanjang di depanku. Hasilnya
cukup mengejutkanku, ternyata
disamping memiliki tubuh yang
atletis, ternyata mereka mempunyai
alat kejantanan yang
mengagumkan, aku dibuat takjub karenanya. Rata-rata panjang
kejantanan mereka hampir sama,
tapi besar diameter dan bentuk
kejantanan itu yang berbeda, kalau
tidak ‘malu’ dengan Hendra mungkin kupilih keduanya
langsung. Pandanganku tertuju pada yang di
ujung, alat kejantanannya yang
besar, aku membayangkan mungkin
mulutku tidak akan cukup untuk
mengulumnya, hingga akhirnya
kuputuskan untuk memilih dia. Namanya Rio, mahasiswa semester
akhir di perguruan tinggi swasta di
Jakarta.
“Rio tinggal di sini, lainnya mungkin lain kali.” kataku mengakhiri masa pemilihan. Setelah pilihan diambil, maka dua
lainnya segera berpakaian dan
menghampiri aku yang masih tidak
berbaju. Mula-mula si pendek
mendekatiku dan memelukku,
tingginya hanya setelingaku. Diciumnya leherku dan tangannya
meremas lembut buah dadaku, lalu
wajahnya dibenamkan ke dadaku,
diusap-usap sejenak sambil tetap
meremas-remas menikmati
kenyalnya buah dadaku, lalu dia pergi. Berikutnya langsung
meremas-remas buah dadaku, jari
tangannya menyelinap di balik bra,
mempermainkan sejenak sambil
mencium pipiku.
“Mbak mempunyai buah dada dan puting yang bagus. ” bisiknya, kemudian dia pergi, hingga tinggal
kami bertiga di kamar, aku, Rio dan
Hendra yang dari tadi hanya
memperhatikan, tidak ada
komentar dari dia kalau setuju atas
pilihanku. “Rio, temenin aku mandi ya, biar segar..!” kataku, sebenarnya agak ragu juga bagaimana untuk
memulainya.
“Ayo Tante, entar Rio mandiin. ” jawabnya.
“Emang aku udah Tante-Tante.. ?” jawabku ketus, “Panggil aku Lily. ” lanjutku sambil menuju kamar
mandi, meninggalkan Hendra
sendirian. Sesampai di kamar mandi, Rio
langsung mencium tengkukku,
membuatku merinding. Dipeluknya
aku dari belakang sambil ciumannya
berlanjut ke belakang telingaku
hingga leher. Kedua tangannya mulai meraba-raba buah dadaku yang
masih terbungkus bra merahku.
“Rio, kamu nakal.. !” desahku sambil tanganku meraba ke belakang
mencari pegangan di antara kedua
kaki Rio yang masih telanjang.
“Abis Mbak menggoda terus sih, ” bisiknya disela-sela ciumannya di
telinga. Tangannya diturunkan ke celana
jeans-ku, tanpa menghentikan
ciumannya, dia membuka celana
jeans-ku, hingga sekarang aku tingal
bikini merahku. Ciumannya sudah
sampai di pundak, dengan gigitan lembut diturunkan tali bra-ku
hingga turun ke lengan, begitu pula
yang satunya, sepertinya dia sudah
terlatih untuk menelanjangi wanita
dengan erotis dan perlahan, semakin
perlahan semakin menggoda. Perlahan tapi pasti aku dibuatnya
makin terbakar birahi. Rio mendudukkan tubuhku di meja
toilet kamar mandi, dia berlutut di
depanku, dicium dan dijilatinya betis
hingga paha. Perlahan dia menarik
turun celana dalam merah hingga
terlepas dari tempatnya, jilatan Rio sungguh lain dari yang pernah
kualami, begitu sensual, entah pakai
metode apa hingga aku dibuat
kelojotan. Kepalanya sudah
membenam di antara kedua pahaku,
tapi aku belum merasakan sentuhan pada daerah kewanitaanku, hanya
kurasakan jilatan di sekitar
selangkangan dan daerah anus, aku
dibuat semakin kelojotan. Sepintas kulihat Hendra berdiri di
pintu kamar mandi melihat
bagaimana Rio menservisku, tapi
tidak kuperhatikan lebih lanjut
karena jilatan Rio semakin ganas di
daerah kewanitaanku, hingga kurasakan jilatan di bibir vaginaku.
Lidahnya terasa menari-nari di pintu
kenikmatan itu, kupegang
kepalanya dan kubenamkan lebih
dalam ke vaginaku, entah dia dapat
bernapas atau tidak aku tidak perduli, aku ingin mendapat
kenikmatan yang lebih. Jilatan lidah
Rio sudah mencapai vaginaku,
permainan lidahnya memang tiada
duanya, saat ini the best
dibandingkan lainnya, bahkan dibandingkan dengan suamiku yang
selalu kubanggakan permainan sex-
nya. Rio berdiri di hadapanku,
kejantanannya yang besar dan
tegang hanya berjarak beberapa
centimeter dari vaginaku.
Sebenarnya aku sudah siap, tapi lagi-
lagi dia tidak mau melakukan secara langsung, kembali dia mencium
mulutku dan untuk kesekian
kalinya kurasakan permainan
lidahnya di mulutku terasa
meledakkan birahiku, sementara jari
tangannya sudah bermain di liang kenikmatanku menggantikan tugas
lidahnya. Aku tidak mau
melepaskan ciumannya, benar-benar
kunikmati saat itu, seperti anak SMU
yang baru pertama kali berciuman,
tapi kali ini jauh lebih menggairahkan. Ciuman Rio berpindah ke leherku,
terus turun menyusuri dada hingga
belahan dadaku. Dengan sekali sentil
di kaitan belakang, terlepaslah bra
merah dari tubuhku, membuatku
telanjang di depannya. Aku siap menerima permainan lidah Rio di
buah dadaku, terutama kunantikan
permainan di putingku yang sudah
mengencang. Dan aku tidak perlu
menunggu terlalu lama untuk itu,
kembali kurasakan permainan lidah Rio di putingku, dan kembali pula
kurasakan sensasi-sensasi baru dari
permainan lidah. Aku benar-benar
dibuat terbakar, napasku sudah
tidak karuan, kombinasi antara
permainan lidah di puting dan permainan jari di vaginaku terlalu
berlebihan bagiku, aku tidak dapat
menahan lebih lama lagi, ingin
meledak rasanya. “Rio, pleassee, sekarang ya.. !” pintaku sambil mendorong tubuh
atletisnya.
“Pake kondom Mbak.. ?” tanyanya sambil mengusap-usapkan kepala
kejantanannya di bibir vaginaku
yang sudah basah, sah, sah, sah.
Aku tidak tahu harus menjawab
apa, biasanya aku tidak pernah
pakai kondom, tapi karena kali ini aku bercinta dengan seorang gigolo,
aku harus berhati-hati, meskipun
dengan lainnya belum tentu lebih
baik. Kalau seandainya dia langsung
memasukkan kejantannya ke
vaginaku, aku tidak akan keberatan, tapi dengan pertanyaan
ini aku jadi bingung. Kulihat ke arah
Hendra yang dari tadi
memperhatikan, tapi tidak kudapat
jawaban dari dia. Tidak ada waktu lagi, pikirku. Maka
tanpa menjawab, kutarik tubuhnya
dan dia mengerti isyaratku. Perlahan
didorongnya kejantanannya yang
sebesar pisang Ambon itu masuk ke
liang kenikmatanku, vaginaku terasa melar. Makin dalam batang
kejantanannya masuk kurasakan
seolah makin membesar, vaginaku
terasa penuh ketika Rio melesakkan
seluruhnya ke dalam.
“Aagh.. yess.. ennak Sayang.. !” bisikku sambil memandang ke
wajah Rio yang ganteng dan macho,
expresinya dingin, tapi aku tahu dia
begitu menikmatinya.
“Pelan ya Sayang.. !” pintaku sambil mencengkeramkan otot vaginaku
pada kejantanannya.
Kulihat wajaah Rio menegang,
tangan kanannya meremas buah
dadaku sedang tangan kirinya
meremas pantatku sambil menahan gerakan tubuhku. Kurasakan kejantanan Rio pelan-
pelan ditarik keluar, dan
dimasukkan lagi saat setengah
batangnya keluar, begitu
seterusnya, makin lama makin
cepat. “Oohh.. yaa.., truss..! Yes.., I love it.. !” desahku, menerima kocokan
kejantanan Rio di vaginaku.
Rio dengan irama yang teratur
memompa vaginaku, sambil
mempermainkan lidahnya di leher
dan bibirku. Aku tak bisa lagi mengontrol gerakanku, desahanku
semakin berisik terdengar. Rio
mengangkat kaki kananku dan
ditumpangkan di pundaknya,
kurasakan penetrasinya semakin
dalam di vaginaku, menyentuh relung vagina yang paling dalam.
Kocokan Rio semakin cepat dan
keras, diselingi goyangan pantat
menambah sensasi yang kurasakan. “Sshhit.., fuck me like a dog.. !” desahanku sudah ngaco, keringat
sudah membasahi tubuhku, begitu
juga dengan Rio, menambah pesona
sexy pada tubuhnya.
Aku hampir mencapai puncak
kenikmatan ketika Rio menghentikan kocokannya, dan
memintaku untuk berdiri, tentu saja
aku sedikit kecewa, tapi aku
percaya kalau dia akan memberikan
yang terbaik.
“Mau dilanjutin di sini atau pindah ke ranjang..?” tanyanya terus menjilati putingku. Tanpa menjawab aku langsung
membelakanginya dan
kubungkukkan badanku, rupanya
dia sudah tahu mauku, langsung
mengarahkan kejantanannya ke
vaginaku. Kuangkat kaki kananku dan dia menahan dengan tangannya,
sehingga kejantanannya dapat
masuk dengan mudah. Dengan
sedikit bimbingan, melesaklah
batang kejantanan itu ke vaginaku,
dan Rio langsung menyodok dengan keras, terasa sampai menyentuh
dinding dalam batas terakhir
vaginaku, terdongak aku dibuatnya
karena kaget.
“Aauugghh.., yes.., teruss.., yaa.. !” teriakku larut dalam kenikmatan. Sodokan demi sodokan kunikmati,
Rio menurunkan kakiku, dan
kurentangkan lebar sambil
tanganku tertumpu pada meja
toilet, tangan Rio memegang
pinggulku dan menariknya saat dia menyodok ke arahku, begitu
seterusnya. Rasanya sudah tidak
tahan lagi, ketika tangan Rio
meremas buah dadaku dan
mempermainkan putingku dengan
jari tangannya, sensasinya terlalu berlebihan, apalagi keberadaan
Hendra yang dengan setia
menyaksikan pertunjukan kami
sambil memegang kejantanannya
sendiri. “Rio a.. ak.. aku.. sud.. sudah.. nggak ta.. ta.. han..!” desahku, ternyata Rio langsung menghentikan
gerakannya.
“Jangan dulu Sayang, kamu belum merasakan yang lebih hebat. ” katanya, tapi terlambat, aku sudah
mencapai puncak kenikmatan
terlebih dahulu.
“Aaughh.., yess.., yess.. !” teriakku mengiringi orgasme yang kualami,
denyutan di vaginaku terasa
terganjal begitu besar.
Rio hanya mendesah sesaat sambil
tangannya tetap meremas buah
dadaku yang ikut menegang. “Ayo Rio, keluarin sekarang, jangan goda aku lagi..!” pintaku memelas karena lemas.
Rio mengambil handuk dan
ditaruhnya di lantai, lalu dia
memintaku berlutut, rupanya Rio
menginginkan doggie style, kuturuti
permintaannya. Sekarang posisiku merangkak di lantai dengan lututku
beralaskan tumpukan handuk,
menghadap ke pintu ke arah Hendra. Rio mendatangiku dari belakang,
mengatur posisinya untuk
memudahkan penetrasi ke
vaginaku. Setelah menyapukan
kejantanannya yang masih
menegang, dengan sekali dorong masuklah semua kejantanan itu ke
vaginaku. Meskipun sudah berulang
kali terkocok oleh kejantanannya,
tidak urung terkaget juga aku
dibuatnya. Rio langsung memacu
kocokannya dengan cepat seperti piston mobil dengan silindernya
pada putaran di atas 3000 rpm,
kenikmatan langsung menyelimuti
tubuhku. Rio menarik rambutku ke belakang
sehingga aku terdongak tepat
mengarah ke Hendra. Berpegangan
pada rambutku Rio
mempermainkan kocokannya,
sesekali pantatnya digoyang ke kiri dan ke kanan, atau turun naik,
sehingga vaginaku seperti diaduk-
aduk kejantanannya. Dia sungguh
pandai menyenangkan hati wanita
karena permainannya yang penuh
variasi dan diluar dugaan. Tiba-tiba kudengar teriakan dari
Hendra, tepat ketika aku
mendongak ke arah dia,
menyemprotlah sperma dia dari
tempatnya dan tepat mengenai
wajah dan rambutku. Ternyata sambil menikmati permainan kami,
dia mengocok sendiri kejantanannya
alias self service. Rio mengangkat
badannya tanpa melepas
kejantanannya dariku, kini posisi dia
menungging, sehingga kejantanannya makin menancap di
vaginaku tanpa menurunkan tempo
permainannya. Aku sudah tidak
tahan diperlakukan demikian, dan
untuk kedua kalinya aku mengalami
orgasme hebat dalam waktu yang relatif singkat, sementara Rio masih
tetap tegar menantang. “Masih kuat untuk melanjutkan Mbak..?” tantang dia. Kalau seandainya dia tidak bertanya
seperti itu aku pasti minta waktu
istirahat dulu, tapi dengan
pertanyaan itu, aku merasa
tertantang untuk adu kuat, dan
tantangan itu tidak dapat kutolak begitu saja. Sebagai jawaban,
kukeluarkan kejantanannya dari
tubuhku, kuminta dia rebah di lantai
kamar mandi beralas handuk, aku
juga ingin ngerjain dia, pikirku. Tanpa menunggu waktu lebih lama
lagi, begitu dia telentang,
kukangkangkan kakiku di
wajahnya hingga dia dapat
merasakan cairan orgasme yang
meleleh dari vaginaku. Rasain, pikirku. Tapi aku salah, ternyata dia
malah dengan senang hati
menghisap vaginaku hingga terasa
kering dan kembali
mempermainkan lidah mautnya di
vaginaku. Agak kesulitan juga aku ber-hula
hop karena terasa kejantanannya
yang besar mengganjal di dalam dan
mengganggu gerakanku. Semakin
kupaksakan semakin nikmat
rasanya dan semakin cepat gerakan bergoyangku kenikmatan itu
semakin bertambah, maka hula hop-
ku semakin cepat dan tambah tidak
beraturan. Kuamati wajah Rio yang
ganteng bersimbah peluh dan
terlihat menegang dalam kenikmatan, tangannya meremas-
remas buah dadaku dengan liarnya
sambil mempermainkan putingku. Hampir saja aku orgasme lagi kalau
tidak segera kuhentikan gerakanku,
tapi ternyata Rio tidak mau
berhenti. Ketika aku menghentikan
gerakanku, ternyata justru dia
menggoyang tubuhku sambil menggerak-gerakkan pinggulnya
sehingga vaginaku tetap terkocok
dari bawah, dan kembali orgasmeku
tidak terbendung lagi untuk
kesekian kalinya. Rio tetap saja mengocok, meski dia
tahu aku sedang di puncak
kenikmatan birahi. Kali ini aku
benar-benar lemes mes mes, tapi Rio
tidak juga mengentikan
gerakannya. Kutelungkupkan tubuhku di atas tubuhnya, sehingga
kami saling berpelukan. Dinginnya
AC tidak mampu mengusir panasnya
permainan kami, peluh kami sudah
menyatu dalam kenikmatan nafsu
birahi. Rio memelukku dan mencium mulutku sambil kembali
mempermainkan lidahnya,
kejantanannya masih keras bercokol
di vaginaku, terasa panas sudah,
atau mungkin lecet. Tidak lama kemudian nafsuku
bangkit lagi, kuatur posisi kakiku
hingga aku dapat menaik-turunkan
tubuhku supaya kejantanan Rio bisa
sliding lagi. Meskipun kakiku terasa
lemas, kupaksakan untuk men- sliding kejantanan Rio yang
sepertinya makin lama makin
mengeras. Melihatku sudah
kecapean, Rio memintaku untuk
masuk ke bathtub dan kuturuti
keinginannya supaya aku kembali ke posisi doggie. Sebelum
memasukkan kejantanannya, Rio
membuka kran air hingga keluarlah
air dingin dari shower di atas,
kemudian dengan mudahnya dia
melesakkan kejantanannya ke vaginaku untuk kesekian kalinya. Bercinta di bawah guyuran air
shower membuat tubuhku segar
kembali, sepertinya dia dapat
membaca kemauan lawan mainnya,
kali ini kocokannya bervariasi
antara cepat keras dan pelan. Tidak mau kalah, setelah terasa staminaku
agak pulih, kuimbangi gerakan
sodokan Rio dengan menggoyang-
goyangkan pantatku ke kiri dan ke
kanan atau maju mundur melawan
gerakan tubuh Rio. Dan benar saja, tidak lama kemudian kurasakan
cengkeraman tangan Rio di
pantatku mengencang, kurasakan
kejantanan Rio terasa membesar dan
diikuti semprotan dan denyutan
yang begitu kuat dari kejantanan Rio. Vaginaku terasa dihantam kuat oleh
gelombang air bah, denyutan dan
semprotan itu begitu kuat hingga
aku terbawa melambung mencapai
puncak kenikmatan yang ke sekian
kalinya. Kami orgasme secara bersamaan akhirnya, tubuhku
langsung terkulai di bathtub.
Kucuran air kurasakan begitu sejuk
menerpa tubuhku yang masih
berpeluh. Rio mengambil sabun dan
menyabuni punggungku serta seluruh tubuhku. Dengan gentle dia
memperlakukan aku seperti
layaknya seorang lady hingga aku
selesai mandi. Dengan hanya berbalut handuk aku
keluar kamar mandi menuju ranjang
untuk beristirahat. Kulihat Hendra
sudah mengenakan piyama dan
duduk di sofa memperhatikanku
keluar dari kamar mandi. Expresi di wajah Hendra tidak dapat kutebak,
tapi tiada terlihat sinar kemarahan
atau cemburu melihat bagaimana
aku bercinta dengan Rio di kamar
mandi selama lebih dari satu jam.
Aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang yang hangat, mataku
sudah terlalu berat untuk terbuka,
masih kudengar sayup-sayup
pembicaraan Hendra sebelum aku
terlelap dalam tidurku. “Kamu hebat Rio, belum pernah ada yang membuat dia orgasme terlebih
dahulu, bahkan setelah bermain
dengan dua orang.” kata Hendra ketika Rio keluar dari kamar mandi.
“Ah biasa saja Om. ” jawab Rio kalem merendah.
“Emang dia sering melayani 2 orang sekaligus..?” lanjut Rio. “Ah bukan urusanmu anak muda, oke Rio, tugas kamu sudah selesai,
uang kamu ada di sebelah TV dan
kamu boleh pergi.” kata Hendra. “Om, boleh saya usul.. ?” “Silakan..!” “Kalau saya boleh tinggal dan menemani lebih lama bahkan sampai
pagi, biarlah nggak usah ada
tambahan bayar overtime, aku
jamin dia pasti lebih dari puas.” usul Rio.
“Cilaka..,” pikirku. Aku tidak tahu apa yang dikatakan
Hendra karena sudah terlelap dalam
tidur indah. Entah sudah berapa lama tertidur
ketika kurasakan sesuati
menggelitik vaginaku. Sambil
membuka mata yang masih berat,
kulihat kepala sudah terbenam di
selangkanganku yang telah tebuka lebar. Ah, Rio mulai lagi, pikirku.
Ketika aku menoleh ke sofa mencari
Hendra, kulihat dia telanjang duduk
di samping Rio yang juga telanjang
sambil tersenyum ke arahku. Jadi
siapa yang bermain di vaginaku saat ini, terkaget aku dibuatnya.
Langsung duduk kutarik rambutnya
dan ternyata si Andre, teman Rio
yang kusuruh pulang bersama si
pendek tadi. Sebenarnya dia tidak terpilih bukan
karena aku tidak tertarik, tapi aku
harus memutuskan satu di antara
dua yang baik.
“What the hell going on here.. ?” pikirku, tapi tidak sempat terucap
karena permainan lidahnya sungguh
menggetarkan naluri kewanitaanku.
Kubiarkan Andre bermain di
selangkanganku dan kunikmati
permainan lidahnya, meskipun tidak sepintar Rio, tapi masih membuatku
menggelinjang-gelinjang
kenikmatan. “Ugh.., shh..!” aku mulai mendesis. Kubenamkan kepala Andre lebih
dalam untuk mendapatkan
kenikmatan lebih jauh. Andre
menjilatiku dengan hebatnya hingga
beberapa saat sampai kulihat Rio
berdiri dari tempatnya dan menghampiri Andre. Diangkatnya
kakiku hingga terpentang dan Rio
mengganjal pantatku dengan bantal
hingga posisi vaginaku sekarang
menantang ke atas. Rio mengganti posisi Andre,
menjilati vaginaku dengan
mahirnya, kemudian mereka
berganti posisi lagi. Cukup lama juga
Rio dan Andre menjilati vaginaku
secara simultan. Sensasinya sungguh luar biasa hingga aku larut dalam
kenikmatan. Jilatan Andre sudah
berpindah ke daerah anusku, ketika
Rio menjilati pahaku terus naik dan
berhenti untuk bermain di daerah
vaginaku. “Aahh.., gilaa.., aagh.., shit.. yess.. !” aku terkaget, karena baru kali ini
aku dijilati oleh dua laki-laki di
daerah kewanitaanku.
Bayangkan dua lidah dengan satu di
anus dan satunya di vagina.
Keduanya begitu expert dalam permainan lidah. Aku tidak tahu
bagaimana menggambarkan dengan
kata-kata, sensasi ini terlalu
berlebihan bagiku, bahkan
terbayang pun tidak pernah. Dengan penuh gairah mereka
bermain di kedua lubangku, aku
tidak tahu harus berkata apa selain
mendesah dan menjerit dalam
kenikmatan birahi. Aku mencari
pegangan sebagai pelampiasan rasa histeriaku, tapi tidak kudapatkan
hingga akhirnya kuremas-remas
sendiri buah dadaku yang ikut
menegang. Tidak tahan menahan
sensasi yang berlebihan, akhirnya
aku mencapai orgasme duluan. Orgasme tercepat selama hidupku,
tidak sampai penetrasi dan tidak
lebih dari 15 menit, suatu rekor yang
tidak perlu dibanggakan. Mulut Rio tidak pernah beranjak dari
vaginaku, disedotnya vaginaku
seperti layaknya vacum cleaner.
“Shit.. Rio.. stop.. stoop..! Please.. !” pintaku menahan malu.
Lidah Rio naik menelusuri perutku
dan berhenti di antara kedua bukit
di dadaku, lalu mendaki hingga
mencapai putingku. Dikulumnya lalu
sambil meremas buah dadaku dia mulai mengulum dan
mempermainkan putingnya dengan
lidah mautnya. Belum sempat kurasakan mautnya
permainan lidah Rio, aku merasakan
Andre telah menyapukan
kejantanannya di bibir vaginaku
sebentar dan langsung kejantanan
Andre tanpa basa basi langsung melesak masuk ke vaginaku.
Kurasakan ada perbedaan rasa
dengan Rio karena bentuknya
memang berbeda. Punya Rio besar
dan melengkung ke kiri bawah,
agak unik, sedangkan Andre kecil panjang melengkung lurus ke atas,
jadi disini kurasakan dua rasa. Gila, kalau tadi siang kurasakan
punya Rio yang banyak menggesek
bagian kananku, sekarang
kurasakan bagian atas vagina
menerima sensasi yang hebat,
karena kejantanan Andre mempunyai kepala yang besar,
menyodok-nyodok dinding
vaginaku. Kedua kakiku
dipentangkan dengan lebar oleh
Andre, Rio bertambah gairan
bergerilya menjelajahi kedua bukit dan menikmati kenyalnya bukit dan
putingku yang makin menegang.
Tangannya tidak henti meremas dan
mengelus kedua bukit di dadaku,
sesekali wajahnya dibenamkan di
antara kedua bukitku seperti orang gemas. Andre makin kencang mengocok
vaginaku sambil menjilati jari-jari
kakiku. Aku menggelinjang makin
tidak karuan diperlakukan kedua
anak muda ini. Kocokan dan
remasan tanganku di kejantanan Rio makin keras mengimbangi
permainan mereka.
“Uugghh.. sshh.. kalian.. me.., me..mang gilaa..!” teriakku. Permainan mereka semakin ganas
mengerjaiku. Kutarik tubuh Rio ke atas, kini Rio
sudah berlutut di samping kepalaku,
kejantanannya yang tegang tepat
ke arah wajahku. Segera kulahap
kejantanannya, sekarang aku mau
mengulumnya karena kejantanan itu terakhir kali masuk di vaginaku,
tidak seperti saat pertama tadi,
entah dengan siapa sebelum aku.
Seperti dugaanku, mulutku ternyata
tidak dapat mengulum masuk
semua batang kejantanannya, terlalu besar untuk mulut mungilku. Rio sekarang mengangkangiku,
kepalaku di antara kedua kakinya,
sementara kejantanannya kembali
tertanam di mulutku. Dikocok-
kocoknya mulutku dengan penis
besarnya seolah berusaha menanamkan semuanya ke dalam,
tapi tetap tidak bisa, it ’s too big to my nice mouth, very hard blowjob.
Kurasakan kenikmatan yang
memuncak, dan kembali aku
mengalami orgasme beberapa saat
kemudian.
“Mmgghh.. mmgh.. uugh..!” teriakku tertahan karena terhalang
kejantanan Rio, masih untung tidak
tergigit saat aku orgasme. Tanpa memberiku istirahat, mereka
membalikkan tubuhku, kini aku
tertumpu pada lutut dan tanganku,
doggy style. Andre tetap bertugas
di belakang sementara Rio duduk
berselonjor di hadapanku. Seperti sebelumnya, Andre langsung tancap
gas mengocokku dengan cepat,
kurasakan kejantanannya makin
dalam melesak ke dalam vaginaku,
pinggangku dipegangnya dan
gerakkan berlawanan dengan arah kocokannya, sehingga makin masuk
ke dalam di vaginaku. Antara sakit
dan nikmat sudah sulit dibedakan,
dan aku tidak sempat berpikir lebih
lama ketika Rio menyodorkan
kejantanannya di mulutku kembali. Kedua lubang tubuhku kini terisi dan
kurasakan sensasi yang luar biasa.
Dengan terus mengocok, Andre
mengelus-elus punggungku,
kemudian tangannya menjelajah ke
dadaku, dielus dan diremasnya dengan keras keduanya sesekali
mempermainkan putingku, kegelian
dan kenikmatan bercampur menjadi
satu. Tidak ketinggalan Rio
memegang rambutku, didorongnya
supaya kejantanannya dapat masuk lebih dalam di mulutku.
“Emmhh.., mhh..!” desahku sudah tidak keluar lagi, terlalu sibuk
dengan kejantanan Rio di mulutku. Kugoyang-goyangkan badanku,
pantatku bergerak berlawanan
gerakan Andre dan kepalaku turun
naik dengan cepat mengocok Rio.
Tidak lama kemudian, “Shit.., aku mau keluar..!” teriak Rio sambil menarik kepalaku ke atas, tapi aku
tidak perduli, malah kupercepat
kocokan mulutku hingga
menyemprotlah sperma Rio dengan
deras ke mulutku, semprotannya
cukup kencang hingga langsung masuk ke tenggorokanku.
Tanpa ragu lagi kutelan sperma yang
ada di mulutku, Rio mengusap sisa
sperma di bibir yang tidak
tertampung di mulutku. Kulihat senyum puas di wajah Rio,
lalu dia bergeser ke samping,
ternyata Hendra sudah berada di
samping ranjang, dia kemudian
mengganti posisi Rio berselonjor di
hadapanku. Tanpa menunggu lebih lama lagi langsung kukulum
kejantanan dia yang basah,
kurasakan aroma sperma,
sepertinya dia habis berejakulasi
melihat permainan kami bertiga.
Karena ukuran kejantanan Hendra tidak sebesar punya Rio, maka
dengan mudah aku melahap semua
hingga habis sampai ke pangkal
batangnya, dan segera mengocok
keluar masuk. Andre mendorong tubuhku hingga
telungkup di ranjang, entah
bagaimana posisi dia dengan
tubuhku telungkup, dia tetap
mengocok vaginaku dengan
ganasnya. Hendra hanya dapat mengelus rambutku dan
mempermainkan buah dadaku dari
bawah. Tidak lama kemudian Andre
mencabut kejantanannya, dan
langsung berbaring di sebelahku.
Aku mengerti maksudnya, sebenarnya harusnya aku yang
mengatur dia bukan sebaliknya, tapi
toh kuturuti juga. Kutinggalkan Hendra dan aku
menaiki tubuh Andre,
kejantanannya masih menegang ke
atas, kuatur tubuhku hingga
vaginaku pas dengan kejantanannya
yang sudah menunggu, lalu kuturunkan pantatku dan bles.
Langsung saja aku bergoyang salsa
di atasnya. Kini aku pegang kendali,
pantatku kuputar-putar sehingga
vaginaku terasa diaduk-aduk
olehnya. Andre memegangi kedua buah dadaku dan meremasnya.
Hendra berdiri di atas ranjang dan
menghampiriku, dia menyodorkan
kembali kejantanannya, kubalas
dengan jilatan dan kuluman. Ternyata Rio yang sudah recovery
tidak mau ketinggalan, dia berdiri di
sisi lainnya dan menyodorkan
kejantanannya ke arahku. Kini
tanganku memegang dua penis yang
berbeda, baik dari ukuran, bentuk dan kekerasannya, belum lagi yang
tertanam di vaginaku, aku sedang
menikmati tiga macam penis
sekarang. Kupermainkan Rio dan
Hendra secara bergantian di mulutku
antara kuluman dan kocokan tangan. Pantatku tidak pernah
berhenti bergoyang di atas Andre,
sungguh suatu sensasi dan
kenikmatan yang sangat berlebihan
dan rasanya tidak semua orang
dapat menikmatinya. Beruntungkah aku..? Entahlah, yang
jelas sekarang aku sedang
melambung dalam lautan
kenikmatan birahi tertinggi. Entah
sudah berapa banyak cairan
vaginaku terkuras keluar. Andre belum juga memperlihatkan tanda-
tanda akan orgasme. Aku
mengganti gerakanku, kini turun
naik sliding di atasnya, kulepas
tangan kiriku dari penis Rio dan
kuelus kantong pelir Andre untuk menambah rangsangan padanya.
Ternyata Andre melawan
gerakanku dengan menaik-
turunkan pantatnya berlawanan
denganku sehingga kejantanannya
makin menancap dalam, tangannya tidak pernah melepas remasannya
dari buah dadaku. Rio bergerak ke belakangku,
dielusnya punggungku dan
elusannya berhenti di lubang
anusku. Dengan ludahnya dia
mengolesi lubang itu dan mencoba
memasukkan jarinya ke dalam, sesaat terlintas di benakku bahwa
dia mau anal, berarti double
penetration. Aku belum siap untuk
itu, tidak seorang pun kecuali
suamiku yang mendapatkan anal
dariku. Kuangkat tangannya dari anusku, pertanda penolakan dan dia
mengerti. Rio berlutut di
belakangku, didekapnya tubuhku
dari belakang dan tangannya ikut
meremas-remas buah dadaku.
Sambil menciumi tengkuk dan telingaku, kejantanannya menempel
hangat di pantatku, kini dua pasang
tangan di kedua buah dadaku. Karena didekap dari belakang aku
tidak dapat bergerak dengan leluasa,
akibatnya Andre lebih bebas
mengocok vaginaku dari bawah.
Aku sudah tidak dapat mengontrol
tubuhku lagi, entah sudah berapa kali aku mengalami orgasme,
padahal masih dengan Andre. Ada
dua lagi penis menunggu giliran
menikmati vaginaku, Rio dan
Hendra, suamiku. Tidak lama setelah mengocokku dari
bawah, kurasakan badan Andre
yang menegang kemudian disusul
denyutan keras di vaginaku. Begitu
keras dan deras semprotan
spermanya hingga aku tersentak kaget menerima sensasi itu hingga
aku menyusul orgasme sesaat
setelahnya. Begitu nikmat dan
nikmat, untung aku sempat
mengeluarkan kejantanan Hendra
dari mulutku sesaat setelah kurasakan semburan Andre, kalau
tidak hampir pasti dia akan tergigit
saat aku mengikuti orgasme.
Tubuhku langsung melemas, aku
langsung terkulai di atas tubuh
Andre. Rio sudah melepas dekapannya dan Hendra duduk di
samping Andre, sepertinya mereka
menunggu giliran. Napasku sudah ngos-ngosan, aku
dapat merasakan degup jantung
Andre yang masih kencang,
keringat kami sudah bercampur
menjadi satu. Kejantanan Andre
masih tertanam di vaginaku meskipun sudah melemas hingga
akhirnya keluar dengan sendirinya.
Rio menawariku lippovitan,
penambah energi. Setelah aku
berbaring di samping Andre, berarti
dia sudah bersiap untuk bertempur denganku, segera kuhabiskan
minuman itu, kesegaran memasuki
di tubuhku tidak lama kemudian. “Gila kamu Ndre, ternyata tak kalah dengan Rio.” komentarku. “Ah biasa Mbak, kita udah biasa kerjasama kok. ” jawabnya. “Makanya kompak kan Mbak, dan Mbak termasuk hebat bisa melayani
kami sendiri-sendiri dalam satu hari,
dan barusan adalah satu jam 17
menit.” Rio menimpali. “Biasanya kami langsung main bertiga, dan itu tidak lebih lama
daripada sendiri-sendiri, paling lama
setengah jam sudah KO. ” kembali Andre menambahi. Aku ke kamar mandi supaya badan
segar, kuguyurkan air hangat di
sekujur tubuhku, kusiram
rambutku yang tidak karuan
bercampur bau sperma. Jarum jam
sudah menunjukkan pukul 10.30 malam ketika aku keluar dari kamar
mandi. Kulihat mereka duduk di
sofa, Rio dan Andre di sofa panjang
sementara Hendra di sofa satunya,
masih bertelanjang. Ketika aku
datang hanya berbalut handuk, ranjang sudah dirapikan, entah apa
rencana mereka, pikirku. Persetan
yang penting aku dapat menikmati
dan kuikuti permainannya. Rupanya aku terlalu lama dan asyik
mandi hingga tidak tahu kalau
makanan datang dan sudah tersaji di
meja. Aku merasa lapar, maklum
habis selesai dengan Rio disambung
sama Andre dan aku belum makan sejak tadi siang. Aku duduk di
antara Rio dan Andre, yang
kemudian disambut tarikan handuk
pembalut tubuhku oleh Rio hingga
terlepas. Keduanya langsung
mencium pipiku kiri kanan dan kusambut remasan di kejantanan
mereka yang agak menegang. “Makan dulu yuk.. !” ajakku langsung ke meja.
Kami berempat bertelanjang makan
bersama sambil bercerita
pengalaman mereka. Aku tidak
berani makan terlalu banyak, takut
kalau terlalu banyak bergoyang jadi sakit perut, yang penting tidak lapar
dan dapat menambah energi nanti,
sepertinya mereka melakukan hal
yang sama. Setelah istirahat selesai makan,
kembali aku duduk di antara dua
anak muda itu. Kali ini mereka
langsung mencium leherku di kiri
dan kanan sambil meremas-remas
dadaku masing-masing satu. Hendra berdiri ke arah kami, dia meminta
Rio berpindah tempat, dan dia
langsung melakukan hal yang sama,
menciumi leherku dan terus turun
ke dada, sekarang Andre dan Hendra
mengulum putingku di kiri dan kanan. Rio tidak mau jadi penonton, dia
langsung bejongkok di antara
kakiku, melebarkannya dan
lidahnya mulai menjelajah di
vaginaku. Mungkin dia masih
mencium aroma sperma Andre karena memang tidak kubersihkan,
tapi dia tidak perduli, jilatan demi
jilatan menjelajah di vaginaku,
dipermainkannya vaginaku dengan
lidah dan jari tangannya.
Kenikmatan mulai kurasakan, foreplay dengan 3 orang sekaligus,
akan mempercepat perjalanan
menuju puncak kenikmatan birahi. Dengan kemahiran permainan lidah
Rio, aku sudah terbakar birahi,
kepalanya kujepit dengan kedua
kakiku supaya lebih merapat di
selangkanganku. Aku tidak mau
kejadian tadi terulang lagi, layu sebelum birahi.
“Sshh.., Rio masukin Sayang.., sekarang..!” pintaku di sela kuluman Andre dan Hendra di dadaku. Tanpa menunggu kedua kalinya, Rio
segera bangkit dan menyapukan
kepala kejantanannya ke vaginaku,
ternyata Andre mengikuti Rio, dia
stand by di sampingnya sambil
mementangkan kakiku lebar. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Rio
langsung mengocokku cepat dan
keras, aku langsung menggeliat
kaget, tapi segera mulutku
dibungkam dengan ciuman bibir oleh
Hendra. Andre sambil memegangi kakiku, dia menjilati kedua jari
kakiku secara bergantian. Aku ingin
menjerit dalam kenikmatan tapi
tidak dapat karena lidah Hendra
masih menikmati bibirku. Kocokan Rio bertambah cepat,
iramanya susah ditebak karena
terlalu banyak improvisasi, aku
kewalahan mengikuti iramanya,
disamping memang dia expert
mempermainkan iramanya, dilain sisi aku juga sibuk menghadapi dua
orang lainnya. Hendra minta aku
mengulum kejantanannya, maka
kusingkirkan Rio dari vaginaku, aku
langsung jongkok di depan dia yang
duduk di sofa, langsung mengulum penisnya yang sudah tegang. Rio tidak mau menunggu lebih lama,
dengan doggy style dia mulai
memasuki vaginaku. Sodokan awal
perlahan, tapi selanjutnya makin
keras dan cepat. Andre, aku tidak
tahu dimana posisi dia, tapi yang kutahu dia stand by di samping Rio.
Kugoyang-goyangkan pantatku
mengikuti irama Rio, makin lama
makin terasa nikmatnya, cukup
lama dia mengocokku dengan
berbagai variasi gerakan hingga ketika puncak kenikmatan hampir
kurengkuh, tiba tiba dia mencabut
kejantanannya. Aku mau protes,
tapi ketika kutengok ke belakang
ternyata Andre sudah bersiap
menggantikan posisi Rio, dan sekali dorong tanpa menunggu reaksiku
amblaslah kejantanannya ke
vaginaku. Sekali lagi kurasakan perbedaan
sensasi dari keduanya. Entahlah aku
tidak dapat menentukan mana yang
lebih nikmat. Andre langsung
menggoyang sambil mengocokku
dengan iramanya sendiri. Saat Andre sedang memacuku dengan cepat,
tiba-tiba Hendra menyemprotkan
spermanya di mulutku, terkaget
juga aku, karena terkonsentrasi
pada kocokan Andre hingga kurang
memperhatikan ke Hendra. Kujilati sisa sperma di kejantanan dia yang
tidak terlalu banyak. Ternyata Rio sudah mengganti posisi
Andre, kemudian mereka berganti
lagi begitu seterusnya entah sudah
berapa kali berganti menggilirku
hingga aku sudah tidak dapat
membedakan lagi apakah yang mengocok vaginaku Andre atau Rio,
keduanya sama-sama nikmat.
Mereka tidak memperdulikan sudah
berapa kali puncak birahi sudah
kurengkuh. Selama aku belum
bilang stop, mereka akan terus memacuku ke puncak kenikmatan. Entah sudah berapa lama dengan
doggy style, lututku terasa capek.
Aku merangkak naik ke sofa yang
ditinggal Hendra, tetap dengan posisi
doggy sofa mereka tidak
memberiku kesempatan bernapas. Melayani satu Andre atau Rio saja
aku sudah kewalahan, apalagi
menghadapi mereka berdua secara
bersamaan, dan mereka begitu
kompak melayani birahiku.
Berulang kali mereka mencoba memasukkan kejantanannya ke
lubang anus, tapi selalu kutolak dan
kutuntun kejantanannya kembali
ke vaginaku. Kunikmati sodokan demi sodokan
dari belakang entah dari Rio atau
Andre hingga tiba-tiba kurasakan
perbedaan yang drastis, begitu kecil
dan rasanya seperti hanya masuk
separoh saja kocokannya. Aku menoleh kebelakang, ternyata
Hendra ikut bergiliran dengan
mereka. Ternyata mereka
melakukan permainan. Ketika
Hendra sedang mengocokku, Rio dan
Andre mengundi siapa berikutnya, begitu juga ketika Rio
menyodokku, Hendra dan Andre
mengundi berikutnya, begitu
seterusnya. Aku berharap supaya
Hendra tidak pernah menang. Waktu giliran ternyata ditentukan
tidak lebih dari 3 menit untuk orang
berikutnya, yang orgasme duluan
harus merelakan diri jadi penonton.
Entah sudah berapa lama
berlangsung, lututku sudah lemas, tapi serangan dari belakang tidak
menurun juga, aku heran juga
ternyata Hendra dapat sedikit
mengimbangi permainan Rio dan
Andre. Dan benar dugaanku, tidak
lama kemudian ketika si penis kecil sedang mengocokku, kurasakan
denyutan-denyutan di dinding
vaginaku dan kudengar teriakan
Hendra pertanda dia orgasme.
Kemudian kembali vaginaku
berganti penghuni secara bergantian. Mereka melakukannya dengan
kompak, banyak lagi variasi yang
dilakukan mereka kepadaku, baik di
ranjang, di meja makan, sambil
berdiri menghadap dinding, mereka
lebih suka melakukan secara simultan. Ketika aku hampir
menghentikan permainan, mereka
memberi tanda supaya aku
berjongkok di antara mereka dan
dengan sedikit bantuan kuluman
dan kocokan pada kejantanan mereka secara bergantian, akhirnya
menyemprotlah sperma mereka
secara hampir bersamaan. Semua
memuncrat ke wajah, sebagaian
masuk mulut hingga ke tubuhku.
Aku sangat menikmati ketika semprotan demi semprotan menerpa
wajah dan tubuhku, terasa begitu
erotic. Kami semua rebah di ranjang, jarum
jam menunjukkan 01,30 dini hari,
berarti sekitar dua jam bercinta
dengan tiga orang sekaligus,
sungguh permainan yang indah dan
jauh memuaskan. Satu persatu tertidur kelelahan masih dalam
keadaan telanjang. Tidak lama mataku terpejam ketika
kurasakan ciuman di mulutku,
Andre yang sudah menindihku
berbisik, “Boleh nggak aku minta lagi.” bisiknya pelan di telingaku. Tanpa menjawab, kubuka kakiku
dan dengan mudahnya dia
memasukkan kejantanannya ke
dalam. Dengan goyangan perlahan
seperti menikmati, ternyata tidak
lama dia sudah orgasme, ternyata bisa juga dia orgasme dengan cepat,
mungkin 15 menit. Kemudian kami
kembali tertidur.
Tidak lama kemudian kejadian tadi
terulang lagi, kali ini dengan Rio.
Dengan cepat pula dia menuntaskan hasratnya. Ketika kami semua
terbangun pukul 10 pagi, rasanya
aku belum lama tidur, Kulihat
Hendra sudah memakai pakaian,
sementara Rio dan Andre masih
telanjang berbincang dengan Hendra. “Pagi Sayang, bagaimana mimpi indahmu..?” tanyanya. “Terlalu indah untuk sebuah mimpi. ” jawabku yang langsung ke kamar
mandi untuk berendam
menghilangkan lelah.
Tidak lama kemudian ketika sedang
asyik berendam, muncullah Rio dan
Andre di pintu kamar mandi yang memang tidak kukunci. “Mau ditemenin mandi Mbak.. ?” tanya Andre.
“Pasti asyik kalau mandi bertiga. ” sambung Rio.
Dan akhirnya sudah dapat diduga,
kembali kami melakukan permainan
sex bertiga, tapi kali ini dilakukan di
kamar mandi, ternyata sensasinya
berbeda dari tadi malam. Banyak juga aku belajar variasi baru. Bertiga
di kamar mandi, baik itu di bathtub,
shower ataupun di meja westafel
kamar mandi, sungguh pengalaman
yang luar biasa. Cukup lama juga
kami bercinta di kamar mandi hingga akhirnya Hendra
mengingatkan kami waktu check
out. Pukul 12 siang kami sudah bersiap
untuk check out. Ketika Rio dan
Andre sedang berpakaian, ternyata
Hendra memintaku sekali lagi untuk
‘quicky ’. Dengan membuka pakaian seperlunya, kami kembali bercinta
disaksikan kedua gigolo itu.
Namanya saja quicky, maka tidak
sampai sepuluh menit dia sudah
menyemprotkan spermanya di
vaginaku, dan segera memasukkan kembali kejantanannya di balik
celananya dan tanpa membersihkan
lebih lanjut. Aku menngenakan
kembali celanaku yang merosot tadi,
dan kami check out hotel secara
bersama-sama, tidak lupa setelah menukar nomer HP masing-masing
dengan kenangan yang indah. Sejak saat itu aku sering meminta
Rio ataupun Andre atau mereka
berdua untuk menemaniku kalau
aku lagi perlu penyegaran. Soal
‘bisnis’ dengan mereka sepertinya sudah tidak menjadi point utama
lagi.