Translate

Minggu, 15 Januari 2012

GAIRAH LIAR PREMAN PASAR


Ujang anak jalanan, umurnya baru 15
tahun, badannnya kurus. Ujang yang
biasa tidur di salah satu kios pasar,
setelah sibuk ngamen diperempatan
jalan pasar “X ”. Malam itu seperti
biasanya si Ujang masuk pasar, saat
dia sedang mencari kardus bekas
untuk alas tidurnya, Ujang didatangi
oleh Rono preman pasar tersebut
yang saat itu sedang setengah mabuk
setelah minum minuman keras
bersama teman-temannya .
“Hei jang baru datang, mau tidur
ya?”
“Iya kang”, Ujang menjawab dengan
sedikit takut.
“Aku nggak punya duit nih, sini
bayar ongkos numpang tidur dulu.”
“wah kang tadi lagi sepi buat Ujang
makan aja udah nggak ada?”
“Jangan banyak omong kamu, sini
ikut aku dan jangan banyak omong
ayo…”
Ujang dengan terpaksa mengikuti
Rono dengan perasaan takut dan
gemetaran. Saat tiba disalah satu
sudut kios yang sedikit tersembunyi,
gelap dan sepi Rono berhenti.
“Udah disini saja”
“Ampun kang, bener Ujang nggak
punya uang ampun kang jangan
ujnag dipukuli?”
“Jangan banyak omong diem aja
kamu, kalo mau selamat”
Tanpa banyak basa-basi Rono
kemudian menarik Ujang dan
merogoh celananya. Si Ujang sangat
ketakutan terutama pada Rono
preman pasar yang cukup ditakuti
itu.
“Dasar males kerja apa aja kamu,
duit aja nggak punya” , Rono memaki
Ujang sambil memukul kepalanya.
“Ampun kang, tadi sepi nggak
banyak yang ngasih lagian sebagian
udah Ujang setorin ke kang adun”, si
Ujang hanya bisa pasrah sambil
memegang kepalanya yang dijambak
Rono. Tapi kemudian tiba-tiba Rono
dengan kasar membuka membuka
celana Ujang, sehingga Ujang hampir
jatuh karenanya.
“Ampun kang jangan saya disiksa
kang ampun” , ratap Ujang sambil
menangis sesenggukan.
Tapi Rono sepertinya sudah gelap
mata dengan kasar dia menarik
celana Ujang sehingga anak itu
tinggal memakai kaos oblong lusuh
miliknya, dan celananya dilempar
oleh Rono.
“Kamu diem aja ya jangan coba-coba
bersuara apalagi teriak, sini”, si Rono
dengan kasar menarik pundak Ujang
sehingga posisi Ujang membelakangi
Rono. Kemudian Rono membuka
celananya dan kontolnya yang sudah
tegang langsung berdiri mengacung
siap untuk menembak.Rono dengan
tangannya meraba pantat Ujang dan
saat dia menemukan lubangnya,
kemudian dia mengarahkan
kontolnya ke lubang pantat Ujang.
“Aduh kang sakit ampun” , Ujang
sedikit berteriak saat kontol Rono
mulai mendesak masuk ke
pantatnya.
“Diem kamu jangan banyak bacot!”
Rono memasukan kontolnya
perlahan-lahan dan sedikit demi
sedikit, sepertinya dia juga merasa
sedikit sakit karena lubang pantat
Ujang sangat sempit. Keringat mulai
mengucur dari badan mereka
terutama Ujang yang wajahnya kian
pucat menahan sakit. Saat sudah
hampir setengahnya dengan tanpa
perasaan Rono mendorong kontolnya
masuk, dan bersamaan dengan itu
Ujang berteriak tertahan dan
badannya menegang menahan sakit
di lubang pantatnya.
“Diem kamu jangan bersuara cuman
sebentar aja” , kata Rono dengan
sedikit terengah-engah setelah
kontolnya masuki ke lubang pantat
Ujang.
Setelah beberapa saat kemudian
Rono mulai menggerakkan pantatnya
perlahan-lahan kemudian bertambah
cepat. Ujang hanya bisa menangis
sesenggukan menahan sakit
badannya yang kurus sudah penuh
oleh keringat, dan Ujang sudah tidak
bisa menangis lagi, dia hanya
menggigit bibir menahan sakit.
Gerakan Rono sangat kasar dia
memaju mundurkan pantatnya
dengan cepat. Selang beberapa saat
kemudian nafasnya mulai memburu
dan badannya mulai menegang,
gerakan badannya bertambah kasar
sesekali dia menjambak rambut
Ujang dan sesekali mencengkram
pundak Ujang sampai akhirnya
matanya terpejam, badannya
menegang dan pantatnya menekan
ke pantat Ujang dengan kasar
berkali-kali.
“Ngaaakh… Ouchh”, Rono mendesah
saat kontolnya muncrat membasahi
liang Ujang dengan spermanya.
Dilain pihak bersamaan dengan itu
Ujang menyeringai menahan sakit
dan badannya juga ikut tegang
kemudian terkulai lemas, Ujang
langsung pingsan. Beberapa saat
kemudian Rono melepaskan tubuh
Ujang yang langsung jatuh
tersungkur. Dan tanpa perasaan Rono
kemudian kencing di badan Ujang
dan meninggalkan Ujang yang
terkulai pingsan akibat disodomi
olehnya. Saat sadar Ujang hanya bisa
menangis karena seluruh badannya
terasa sakit terutama lubang
pantatnya yang saat dipegang
olehnya masih ada darah yang
mengalir.
“Mak tologin Ujang mak, sakit”
Ujang meratap sendiri dan suaranya
hampir tidak terdengar, pandangan
mata Ujang mulai gelap. Tidak ada
yang tahu kalau disalah satu sudut
pasar ada anak yang tergolek
kesakitan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda