Translate

Selasa, 21 Februari 2012

HASRAT BINAL MAHASISWI BERJILBAB


Aida namaku, mahasiswi 20 tahun di salah satu
universitas di Surabaya. Aku berjilbab, tapi bukan
jilbab biasa, aku adalah seorang akhwat yang juga
menjadi pengurus di masjid kampusku. Namun
aku cenderung supel, senang tersenyum, periang
dan aktif. Seperti akhwat-akhwat lainnya, aku
sangat menjaga pakaianku, meski cukup sulit
menemukan pakaian terusan yang tidak
menonjolkan payudaraku yg berukuran 36B.
Kesalahanku adalah aku terlalu supel dan cepat
dekat dengan laki-laki tanpa memikirkan bahwa
mungkin saja mereka memiliki niat jahat. dan
itulah yang terjadi…
Siang itu teman akrab sekelasku (yang sudah
kuanggap sebagai kakak sendiri) yang bernama
Taufik mampir ke kostku. seperti biasanya, saat
siang keadaan kostku sangatlah sepi. saat itu aku
sedang tidak ada kuliah, jadi aku sendiri di kost.
Taufik mengucapkan salam dan akupun
membalasnya. Lalu kami ngobrol di ruang tamu
yg letaknya tidak jauhdari kamarku (kamarku
paling depan). Setelah duduk, Taufik
menyerahkan bungkusan yang ternyata berisi
juice alpukat, kesukaanku.
“tumben bawa ginian?” tanyaku. “ada acara apa
nih?”
“nggak, cuman tadi abis ke warung juice sama
Yogi dan faruk” jawabnya santai. Akupun
membuka minuman itu dan meminumnya. Taufik
lantas mengeluarkan buku pelajaran dan duduk
di sampingku sambil memintaku mengajarinya.
Beberapa menit kemudian aku merasa agak gerah,
langsung saja kuhabiskan es juice pemberian
Mas taufik.
“panas ya?” kata mas Taufik, aku cuma
mengangguk.
Rasa gerah itu lama-lama berubah menjadi
sebuah perasaan yg aneh, tiba-tiba saja jantungku
berpacu kencang.
“Da… kamu dah putus sama si Hildan ya?” tanya
mas Taufik. aku hanya mengangguk pelan sambil
berusaha memfokuskan pikiran. Tiba-tiba tangan
mas taufik menyentuh pundakku dan menarikku
ke pundaknya.
Entah apa yangaku pikirkan tapi badnku sangat
lemas dan tidak bisa bergerak. belum habis
heranku, tiba-tiba terasa gatal di sekitar
kemaluanku, kemaluanku teras panas, dan aku
dapat merasakan putingku mengeras.
“kenapa Da?” tanyanya lgi, belum aku menjawab,
mas Taufik sudah mencium pipiku dan lalu
semakin mendekat ke bibirku hingga akhirnya dia
mencium bibirku. aku tidak bisa bergerak aku
hanya memalingkan wajah begitu mas Taufik
menghentikan cumbuannya.
Tanpa banyak kata tangan Mas Taufik turun ke
payudaraku yg masih terbungkus pakaianku dan
mulai meremasnya.
“jangan…” kataku lemas… vaginaku terasa
semakin panas dan gatal,sedang putingku
semakin mengeras. aku mencoba menggerakkan
diriku tapi tidak mampu.
Mas Taufik meneruskan remasannya sambil
tangan satunya mencopoti kancing depan baju
terusanku. dalam hitungan menit, tangannya
menyelusup ke dalam bajuku dan terus ke dalam
Bra-ku, kini Mas Taufik menyentuh payudaraku
langsung. Tanpa sadar aku mendesah lirih dan
badanku terangkat saat Mas Taufik menyentuh
dan mulai meremas payudaraku. Ciumannya di
bibirku semakin ganas, dan aku terbawa, aku
membalas ciumannya, melupakan ke akhwatanku
selama ini.
jari jemarinya memilin-milin kecil putingku
hingga aku benar-benar terangsang. Tiba-tiba dia
menarik tangannya keluar dari bra-ku dan mulai
masuk ke dalam rok panjangku dari arah bawah.
Sekali lagi aku tak mampu melawannya, ciuman
panas di bibirnya dan sentuhannya di
kemaluanku (yang terbalut CD) membuatku
semakin terbawa. Di bawah sana, aku sudah
sangat basah. Ini memang bukan pertama kalinya
tubuhku dijamah lelaki, kekasih pertamaku,
Hildan, pernah memasukkan tiga jarinya saat
main ke kost, malah dia melakukan saat ada
teman-teman kost, untung saja teman kost tidak
tahu.
Perlahan tapi pasti Mas Taufik menarik Celana
Dalamku hingga benar-benar lepas, kini
tangannya bermain-main di permukaan bibir
vaginaku, sesekali menyentuh klitorisku,
membuatku tanpa sadar mendesah.
“jangan disini” ujar Mas Taufik tiba-tiba. “nanti
kelihatan orang, kita ke kamarmu saja” Dan tanpa
basa-basi lagi Mas Taufik menuntunku (yang
sudah sangat lemas dan terangsang) ke dalam
kamarku.
Kamarku tidak memiliki daun pintu, hanya
ditutup kain kelambu, itu kamar paling depan dan
akses ke ruang tamu paling cepat, itu sebabnya
aku memilih kamar itu, meski tidak ada pintunya.
soalnya teman-temanku sering datang kemari.
Di kamar, Mas Taufik tidak menunggu lama, dia
merebahkanku di ranjang dan mulai menggulung
rok-ku ke atas, hingga dia dapat melihat dengan
jelas vaginaku yg sudah basah. Bajuku di singkap
dan Bra-ku dinaikkan sehingga payudaraku juga
terlihat, dia mengecup dan memainkan lidahnya
di payudaraku, menghisap-hisap putingku hingga
aku lebih sering lagi mendesah. Beberapa menit
melakukan itu, dia melepas celana panjangnya
berikut CDnya. dan inilah pertama kalinya aku
menyaksikan tongkol laki-laki. dia memegangkan
tanganku ke kemaluannya dan memintaku
mengocoknya. aku belum tau harus bagaiman
jadi yang aku lakukan malah meremas-remasnya.
Tak lama kemudian Mas Taufik membuka kedua
kakiku dan menggesek-gesekkan kemaluanny ke
vaginaku, aku merasa sangat nikmat, detik
berikutnya dia mulai mencari lubang dan
melakukan penetrasi.
Aku tersentak karena sakit yang luar biasa! tiba-
tiba kesadaranku pulih! aku mendorong tubuh
Mas Taufik yang menindihku, tapi dia malah
menekankan tubuhnya.
“Sakit!!” ujarku sambil meringis menahan sakit,
“jangan!! sakit!! sudah mas! jangan!” pintaku.
Tapi satu hentakan berikutnya terasa sangat
menyakitkan, Mas Taufik terus menekan-nekankan
tongkolnya hingga benar-benar amblas. Aku
menangis meringis menahan sakit, tanpa banyak
kata, Mas Taufik mulai menarik kembali
tongkolnya dan membenamkannya lebih dalam
lagi. aku kembali tersentak.
“Hmmmpphh” desahku menahan sakit. Mas
Taufik melakukannya berulang-ulang sambil terus
menahan tubuhku yang berontak, dia
menggejotku semakin cepat dan cepat, tiba-tiba
tirai pintu kamarku terbuka, dan aku dapat
melihat Yogi dan Faruk masuk ke kamarku.
“bisa juga ternyata Aida dient*t” komentar Yogi
sambil tersenyum melihat Taufik yang
menggenjotku makin keras.
“hebat kamu fik, akhwat juga bisa kamu ent*t”
tmbah Faruk.
Aku meronta tapi tak ada tenaga, Taufik
mempercepat gerakannya, Yogi dan faruk duduk
di kursi kecil di tepi ranjangku, menyaksikan
Taufik yang semakin menggenjotku, tiba-tiba ada
suara langkah dari ruang tamu, lantas terdengar
suara wanita dewasa, Ibu Kost! pikirku setengah
panik, aku berusaha menahan desahan dan
eranganku sebisa mungkin. Mengetahui itu, Mas
Taufik bukannya memperlambat malah
mempercepat genjotannya.
lalu tiba-tiba mencabut penisnya dan
mengeluarkan spermanya di atas perutku.
Aku berusaha bangkit tapi Yogi dan faruk (yang
sudah telanjang) menekan tubuhku kembali
berbaring.
“jangan…. jangan… yog…. sudah…” ucapku lemas.
Tubuhku sudah sangat lemas dan entah mengapa
rasanya libidoku masih tinggi, tanpa perlawanan
berarti yogi menancapkan penisnya ke vaginaku
dan memompanya.
“habis kamu perawani” ucap Yogi sembari
menggenjotku, “tapi masih sempit”.
“jangan dibuang didalam” ujar Taufik (yang sudah
kembali berpakaian) “siapa tau dia dalam kondisi
subur” tambahnya sambil pergi keluar kamar.
Faruk yang dari tadi meremas-remas payudaraku
mulai melepas bajuku diikuti rok.
“sekarang kita lihat rambutmu Da..” ujar Faruk
sambil melucuti jilbabku. aku tak berdaya, yogi
masih menggenjotku makin kencang, penisnya
keluar masuk dengan cepat, tubuhku sampai
sedikit terguncang. setelah melihat rambutku
yang sebahu, Faruk menempelkan penisnya ke
bibirku dan memaksaku mengoralnya. aku
menolak, tapi dia menekan terus, hingga akhirnya
penisnya bisa masuk, dia menggoyangkan
penisnya searah, lalu memaksaku memakai lidah,
terpaksa aku menurutinya.
Yogi mencabut penisnya dan memberi isyarat
pada Faruk, segera Faruk melesakkan penisnya ke
vaginaku, saat keperawananku direnggut, aku
digilir tiga orang sekaligus!!.
Yogi mendekatkan penisnya ke mulutku dan
menekannya masuk, begitu penisnya didalam, dia
menekan kepalaku dan mengeluarkan spermanya
di mulutku. aku meronta, tapi Yogi terus
menahan, apalagi Faruk memutar-mutarkan
penisnya, membuat aku tak bisa konsentrasi
melawan, Yogi tidak segera mencabutnya,
sehingga terpaksa aku menelan spermanya.
20 menit Faruk memakaiku, setelah akhirnya dia
mengeluarkan spermanya juga di dalam mulutku.
kejadian itu, direkam oleh Yogi lewat HPnya.
setelah insiden itu, mereka mengancam akan
mengedarkan rekaman itu, dan aku harus siap
untuk dipakai mereka lagi. yang paling aku
sesalkan adalah jumlah mereka terus bertambah
dan berganti-ganti saat memakaiku, aku jadi
budak seks mereka. aku tidak bisa melepas jilbab
karena keluargaku adalh keluarga Islam yg
terpandang. Ternyata bukan hanya aku korban
mereka, satu sahabat baikku (bukan akhwat)
Yungky (pacar Taufik sendiri) diperawani dan
digarap oleh cowok satu kelas saat berlibur di
Villa Malang dulu. (end)
Huda masih menyodok vaginaku dalam posisi
Doggy Style, desahan-desahan kecil keluar dari
mulutku yang sudah lemas ini. Tak lama Huda
mempererat goyangannya dan mencengkeram
pinggangku sambil memasukkan penisnya lebih
dalam lagi.
“Engggh….” erangku pelan saat merasakan cairan
sperma Huda yang hangat memenuhi liang
senggamaku. Ini adalah pertama kalinya Huda
menyetubuhiku. Dengan ini, berarti semua pria di
kelasku sudah pernah menyetubuhiku, menikmati
tubuh yang sehari-harinya kubungkus dengan
jilbab dan pakaian layaknya akhwat yang lainnya.
Tubuhku tersungkur lemas di lantai kamar Yogi
yang dilapisi karpet warna hijau, Huda
mengambil tissue dan membersihkan ceceran
sperma yang menetes di karpet. Malam ini aku
terpaksa (lagi) menginap di rumah Yogi, orang
tuanya sedang ke rumah neneknya, jadi dia hanya
tinggal dengan adik laki-lakinya yang saat ini kelas
2 SMU. Tanpa sepengetahuan Yogi sendiri,
adiknya sering menunggangiku kalau Yogi keluar,
bahkan pernah mengajak teman-temannya
menunggangiku bersamaan.
Kupaksakan kaki yang masih lemas untuk
mengenakan kembali pakaian dan jilbabku, lalu
keluar ke kamar mandi untuk mencuci tubuh,
seusai mandi aku meminum pil anti hamil,
seperti malam-malam sebelumnya. Sebelum aq
terlelap dalam tidur, Yogi sempat mengingatkan
tentang camping bersama yang akan diadakan 2
hari dari sekarang, bersama anak-anak kelas C.
Hanya 2 gadis dari kelas B yang diajak yaitu aku
dan Yungky (yang juga telah menjadi budak seks
mereka), jadi aku tahu sekali kalau aku akan jadi
bahan pertukaran antar kelaCatur membawakan
tas punggungku dan menaruhnya ke dalam bak
truk tentara yang akan menjadi sarana
transportasi kita ke Malang. Sebenarnya tidak
perlu menyewa truk, toh ini hanya camping biasa,
bukan OSPEK. Anak-anak kelas C sibuk menaruh
barang mereka di truk masing-masing, begitu
pula kami. Siswa kelas C ada 55 orang, tapi yang
saat ini ikut camping hanya sekitar 20 orang, 15
cowok dan 5 cewek. Sedangkan seluruh cowok
kelas kami (kelas B) yang berjumlah 25 orang ikut
semua, yang cewek hanya 4 orang, aku, Yungky,
Adhelia dari kelas E dan Poppy dari kelas F. Entah
bagaimana, tapi sepertinya Taufik dkk telah
berhasil membuat mereka berdua menjadi budak
seks juga.
Diantara pria kelas C ada seseorang yang
bernama Agung, yang sering digosipkan menaruh
hati padaku, setiap aku melewati kerumunan
anak-anak kelas C pasti mereka menyebut nama
Agung keras-keras. Dan sepertinya sebentar lagi
dia akan ikut menikmati tubuhku.
“Oke Aida, Adhel ama Yungky ikut truk anak kelas
C” komando Taufik. Aku sempat protes tapi
mereka tidak peduli, sebagai gantinya, 4 cewek
kelas C ikut truk kelas B. sepertinya mereka mau
meraba-raba tubuh kami di sepanjang perjalanan
nanti.
Walhasil aku sekarang duduk diantara cowok-
cowok kelas C yang saat membantuku naik ke truk
tadi dengan sengaja menyentuh-nyentuh
pantatku. Dan dengan sengaja juga mereka
mendudukkanku di sebelah Agung sambil dari
tadi menggodaku. Agung memang pernah bilang
ke teman-temannya kalau dia naksir aku sejak
semester satu.
Truk berjalan, makan waktu 3 jam untuk sampai
di lokasi camping di Malang, aku dan Agung
hanya mengobrol saja. Lalu Agung mulai
memberanikan diri memegang tanganku, aku
diam saja, Agung terlihat sangat kikuk. Yang lain
mulai menyoraki Agung agar bertindak lebih jauh,
Agung semakin bingung dan salah tingkah. Tidak
sabar melihat sikap Agung, Anton, ketua kelas C
menghampiriku dan menarik tanganku sehingga
aku berdiri.
“begini loh Gung!” ujar Anton sambil mendekap
tubuhku dari belakang, tangan kanannya
meremas-remas buah dadaku yang masih
tertutup pakaian terusan. “nih, terus diginiin”
katanya sambil meletakkan tangan kirinya tepat di
selangkanganku, lalu mulai menggerak-gerakkan
jarinya dari luar rokku. Tak perlu waktu lama bagi
libidoku untuk naik, aku memang paling tidak
tahan bila daerah selangkangku dipermainkan.
Apalagi saat itu semua mata di truk memandang
ke arahku, secara refleks aku mengeluarkan
desahan halus tanda kenikmatan. Tiba-tiba Anton
menghentikan aktifitasnya dan mendorongku
jatuh ke pangkuan si Agung. “tuh! Gituin!
Cepetan! Yang lain juga pengin!” ujar Anton
sambil kembali duduk di tempatnya.
Aku kini duduk di pangkuan Agung, penisnya
yang sudah tegang terasa sekali menonjol
menyentuh pantatku. Tanpa banyak bicara dia
meremas payudaraku dari luar, akupun
menjatuhkan tubuhku pasrah dipangkuannya.
Tidak perlu waktu lama bagi tangannya untuk
menyentuh dan membuka kancing depan bajuku
dan dalam sebentar saja tangannya sudah
menelusup ke balik BHku, meremas dan memain-
mainkan putingku yang sudah dari tadi mengeras.
Aku memalingkan wajahku ke belakang dan bibir
kamipun berpagutan, kecupan-kecupan berubah
menjadi hisapan-hisapan sebelum akhirnya
menjadi sapuan-sapuan lidah yang sangat
menggebu-gebu. Tangan kanannya masih aktif
dengan payudara kiriku sedang entah sejak
kapan, tangan kirinya telah bermain menusuk-
nusuk selangkanganku. Aku menjadi sangat
horny, aku tidak tinggal diam, tangan kiriku
meremas-remas tonjolan di celananya,
tampaknya dia sangat menikmatinya.
Aku sudah tidak tahan lagi, biasanya kalau sudah
begini cowok di kelasku pasti sudah
menyodorkan penisnya untuk ku oral. Tapi Agung
tampak sangat polos.
“Aku isep ya?” akhirnya aku tidak tahan untuk
tidak memintanya, Agung melepas pelukannya,
aku berdiri lalu berlutut di dekat
selangkangannya, dan mulai membuka resleting
celananya. Di sisi lain truk terdengar desahan
keras, begitu kutoleh ternyata Adhelia dan Yungky
sudah mulai dipakai bersamaan. Aku jadi
semakin horny, begitu penis Agung yang lumayan
panjang dan kurus itu keluar dari celananya aku
segera mengocok dan memasukkannya ke dalam
mulutku, kuhisap dan kukeluar-masukkan ke
dalam mulutku dengan cepat, diiringi sapuan
lidah dan ludaku, Agung mengerang keenakan
sambil nafasnya terus memburu. Akhirnya
setelah beberapa menit mengoral, Agung berdiri
dan merebahkan tubuhku di kursi.
“aku nggak tahan Da, aku pakai kamu sekarang…”
ujarnya dengan nafas tak teratur sambil
tangannya menggulung rokku hingga ke pinggang,
dan langsung melucuti celana dalamku, dia
membuka celana dan celana dalamnya, lalu
membimbing penisnya ke vaginaku yg sudah
lumayan basah.
Dalam hitungan detik dia menusukkan penisnya,
tubuhku menggelinjang sambil mendesah keras,
detik berikutnya, dia mengeluar-masukkan
penisnya dengan berirama dan sangat cepat,
membuat erangan dan desahanku semakin cepat
juga.
“akh akh ukh akh a…gung.. akh aaah… ssshh…”
desahku mengimbangi goyangannya yang
semakin cepat.
“uuuh… Da… memiawmu enak banget… ah… ah…
nikmat…” ceracaunya sambil menggenjotku lebih
kencang dan dalam, aku semakin menggeliat-
geliat, desahanku jadi berubah menjadi sedikit
berteriak. Luar biasa sekali, Agung mampu
mempertahankan bahkan menambah kecepatan
genjotannya dalam waktu cukup lama, kira-kira
15 menit, biasanya cowok-cowok kelasku sudah
mulai tidak teratur irama genjotannya pada waktu
segitu. Agung meletakkan kedua tangannya ke
payudaraku yang berayun, menjadikan mereka
daya tumpu genjotannya.
“Aw…akh akh akh uh akh ah ahaaa ahaa akh…”
desahku semakin kencang, aku hampir saja
orgasme ketika kurasa Agung menghentikan
genjotannya dan melesakkan penisnya lebih
dalam.
“Ahhak…akh…” desisku saat penisnya menancap
sangat dalam dan memuntahkan cairan hangatnya
di rahimku. Sial pikirku, padahal aku hampir saja
orgasme.
Melihat Agung telah mencapai ejakulasi, Anton
(yang ternyata dari tadi memperhatikan) bergegas
menarik tubuh Agung ke belakang. “Minggir loe!
Lama amat dari tadi” katanya sambil menjauhkan
Agung dariku. Tanpa banyak kata Anton
mendekatiku dan melepas celana serta celana
jeansnya. Penisnya yang kepalanya cukup besar
di pegangnya dengan tangan kanan. Anton
mengangkat kedua kakiku dan meregangkannya,
hingga vaginaku yang sudah bercampur dengan
cairan Anton terpampang jelas. Detik berikutnya
aku mengerang saat kepala penisnya mulai
memasuki liang kewanitaanku.
“augghm… ehm…” desahku. Anton menekan terus
penisnya hingga seluruh batangnya tertanam di
vaginaku.
“gila… bener-bener enak… hebat kamu Da” puji
Anton sambil mulai menggenjotku.
“aah…akh..akh ekhm..uukh..hhh…sshhh”
ceracauku saat penisnya keluar masuk dengan
cepat. “augh..ugh…ugh…” jeritanku semakin
kencang, begitu pula genjotan Anton. Tidak butuh
waktu lama bagiku untuk kembali larut dalam
permainan seks, karena tadi aku sudah hampir
orgasme.
Wawan dan Satria bergerak menghampiri tubuhku
yang sedang digenjot oleh Anton. Di tengah-
tengah desahanku, dengan santai mereka
membantuku duduk dan melepaskan semua
kancing baju depanku lalu melucutinya diikuti
BHku. Sementara Anton tidak menghentikan
aksinya sama sekali, membuat tubuhku sedikit
terlonjak-lonjak.
“jilbabnya biarin aja” ujar Satria. “jadi lebih hot”.
Tubuhku direbahkan kembali, aku hanya menurut
karena tubuhku memang sudah terasa sangat
lemas. Sementara Anton semakin memasuk-
masukkan penisnya semakin dalam, membuatku
mengeluarkan teriakan-teriakan kecil.
Tidak lama kemudian Satria sudah menyodorkan
penisnya ke mulutku, dan memasukkannya.
Sambil menikmati genjotan Anton, aku
mengulum, menghisap, dan menyapu batang
penis Satria sampai Satria mengerang-erang
kenikmatan.
“Hmph! Hmph slurp slurp ehkmm…” tubuhku
mengejang keras. Aku orgasme, Satria dan Anton
menghentikan gerakan mereka ketika tahu aku
mencapai orgasme. Setelah beberapa detik
mengejang, aku kembali lemas. Anton mencabut
penisnya lalu memberi isyarat pada Satria agar
minggir. Begitu Satria minggir, Anton
membalikkan tubuhku yang benar-benar sudah
lemas, dan menarik pantatku, aku tahu yang dia
inginkan, doggy style…
Anton di belakang dan Satria di depan, dengan
kedua tanganku bertumpu pada paha Satria Anton
mengobok-obok vaginaku lagi. Dipegangnya
pinggulku kencang, lalu digerakk-gerakkannya
dengan cepat, kembali jeritan-jeritan kecil keluar
dari mulutku. Tapi jeritanku tidak lama, karena
setelah itu, Satria yang penisnya tepat di wajahku,
menarik kepalaku dan mengarahkan penisnya ke
mulutku.
Anton menggoyangku maju-mundur, dan itu
membuat penis Satria terkocok oleh mulutku.
Dan semakin kencang genjotannya, semakin cepat
juga penis satria terkcok. Benar saja, tidak sampai
2 menit kemudian, Satria mencengkeram
kepalaku yang masih tertutup jilbab dan
mengeluarkan spermanya ke dalam
tenggorokanku. Aku mencoba menelan
semuanya, tapi sebagian spermanya masih
menetes ke jilbabku. Satria mencabut penisnya
dan duduk tidak jauh dengan wajah penuh
kepuasan. Wawan menggantikan posisinya,
sambil meremas-remas buah dadaku, dia
memasukkan penisnya ke mulutku.
Sementara di belakang, Anton mencengkeram dan
menguatkan pegangannya pada pinggulku,
membuat gerakannya semakin kencang dan
dalam, Rintihan dan jeritanku tertahan oleh penis
Wawan. Kemaluanku terasa perih bercampur
nikmat, Anton menunggangiku dengan kasar
sekali, sepertinya dia menumpahkan semua nafsu
birahinya padaku. Sampai akhirnya tubuhnya
mengejang, dibenamkannya penisnya ke vaginaku
sedalam dia mampu, dan dapat aku rasakan dia
menyemburkan spermanya kedalam rahimku.
Sesaat ketika Anton terdiam dan menikmati
ejakulasinya, Wawan mendorong kepalaku hingga
penisnya terkocok mulutku. Aku menggunakan
lidahku, dan tampaknya dia keenakan.
Akhirnya Anton mencabut penisnya.
“Dasar pelacur!” katanya sambil memukul
pantatku, aku sudah tidak peduli lagi, kata-kata itu
sudah sering aku dengar. Wawan mencabut
penisnya, menekan pinggulku dan memasukkan
penisnya ke vaginaku, masih dalam doggy style.
Aku sendiri sudah sangat lemas, tubuhku aku
biarkan terkulai di bangku truk, sementara Wawan
terus menunggangiku, mencari kenikmatannya
sendiri. Desahan dan desisanku sudah sangat
lemas, meski masih jelas terdengar.
Wawan menumpahkan spermanya diwajahku,
bukan mulutku, tapi wajahku, sehingga jilbabku
jadi belepotan terkena spermanya. Cairan kental
itu berceceran di hidung, pipi dan mataku.
Setelah mengeluarkan semua spermanya, dia
menggesek-gesekkan penisnya ke bibirku. Dan
sebelum pergi, Wawan meremas payudaraku
kencang sekali sampai aku meringis kesakitan.
Aku lemas dan tebaring beberapa saat, sebelum
akhirnya aku memaksakan diri mengambil tissue
basah di tasku, lalu membersihkan sperma
Wawan di wajahku, dan juga di kemaluanku.
Setelah itu, aku mengenakan pakaian lengkapku
lagi. Di sepanjang sisa jalan, aku diapit oleh tiga
orang, Rio, Aris dan Nanang, Rio menarikku
dipangkuannya dan menikmati payudaraku dari
luar, sampai pakaian yang aku kenakan jadi
kusut. Sementara Aris dan Nanang bergantian
memacu penisnya dimulutku. Mereka tidak
menunggangiku karena waktu yang tidak
memungkinkan. Hanya Nanang yang sempat
berejakulasi di dalam mulutku, Aris tidak.
Setengah jam kemudian kami tiba di bumi
perkemahan Malang, tempat pesta seks kami
berikutnya.
Truk tentara yang kami gunakan menuju bumi
perkemahan di Malang itu telah berhenti di
pelataran parker. Aku dibantu oleh Agung dan
Anton menurunkan tas ranselku. Dari kejauhan
aku melihat Taufik sedang berbincang-bincang
dengan kedua sopir truk itu. Dan entah apa itu
perasaanku saja, tapi kedua sopir truk itu seolah
melihat ke arahku.
Begitu selesai menurunkan barang, teman-teman
segera menuju ke kapling perkemahan yang
sudah disewa, kecuali Anton dan Taufik yang
sepertinya masih ada urusan dengan para sopir
truk itu. Tidak lama kemudian Taufik
memanggilku, kontan saja perasaanku berubah
jadi tidak enak. Benar saja, setelah mendekat,
Anton langsung mengambil alih barang bawaanku
dan bergegas pergi, sedangkan Taufik bicara
perlahan ke arahku.
“bapak-bapak ini pingin make kamu Da, kamu
naik ke dalam truk gih!”. Ujar Taufik pelan, aku
tahu benar, ini perintah bukan permintaan. “ini
pak Basuki dan yang ini pak Aryo” ujar Taufik
sambil memperkenalkan aku kepada kedua sopir
itu.
Keduanya berpostur tubuh bagus meski sudah
berumur sekitar 40-an, itu karena mereka adalah
supir truk mariner. Potongan keduanya cepak,
hanya saja Pak Aryo berkulit gelap. Akhirnya
akupun naik ke bangku depan truk, diapit Pak
Basuki yang memegang kemudi dan pak Aryo.
Taufik sendiri tidak ikut. Aku jadi takut, selama ini
aku belum pernah melayani laki-laki yang usianya
jauh lebih tua dariku, apalagi aku tidak tahu
mereka akan membawaku kemana.
“kembali utuh lho pak…” pesan Taufik ketika
mesin truk sudah menyala dan mereka siap pergi.
Pak Basuki hanya tersenyum lebar. “beres”
ucapnya. “utuh kok, paling cuman gak kuat jalan
aja..”.Mendengar kata-kata itu aku langsung dapat
membayangkan kalau mereka akan membantaiku
habis-habisan. Tapi aku tetap berusaha tenang.
Tangan pak Basuki menggapai tuas persneling,
tapi oleh dia sengaja dilarikan ke selangkanganku
yang tertutup rok tipis. Dia meremas kuat bagian
itu, membuatku sedikit menggelinjang. Setelah
itu, truk meninggalkan areal parkir. Baru
beberapa menit dari bumi perkemahan, tangan
Pak Aryo sudah menjelajah di tubuhku, mulai
dari paha hingga dadaku, bahkan menyelusup ke
balik jilbabku dan melepas kancing-kancing
atasku. Lalu meremas-remas payudaraku dari
balik bra.
Pak Basuki sama saja, kendati memegang kemudi,
tangannya membimbing tanganku untuk
membuka resleting celananya dan memainkan
barangnya. Akupun menuruti kemauanya. Sampai
akhirnya Pak Aryo menyingkap rokku ke atas,
jarinya menelusup ke balik CD ku dan
memainkan jarinya keluar masuk kewanitaanku.
Aku sudah tidak berdaya, dengan baju dan jilbab
yang kusut dan rok yang tersingkap, aku Cuma
bisa mengerang, semakin cepat permainan jari
Pak Aryo, semakin keras eranganku. Tubuhku
kusandarkan lemas pada dada Pak Aryo yang
semakin bernafsu memainkan vaginaku, nafasku
tidak teratur, vaginaku benar-benar becek.
Akhirnya truk itu berhenti di sebuah jalanan sepi.
Aku dan mereka berdua turun dan melanjutkan
permainan ke bak belakang truk yang sebelumnya
sudah ditutup. Tanpa segan mereka berdua
melepas pakaiannya dan melucuti seluruh
pakaianku, termasuk jilbab dan kaus kakiku. Aku
ditelentangkan di lantai truk, Pak Basuki
memasukkan penisnya yang lumayan besar ke
mulutku, akupun menghisapnya. Sedang Pak Aryo
asyik meremas dan menjilat serta menggigit-gigit
putting susuku. Mereka melakukannya
bergantian.
Puas dengan mulutku, mereka mengambil posisi,
Pak Basuki yang pertama, dia melebarkan
selangkanganku dan menancapkan penisnya
sedikit-demi sedikit, seolah-olah dia sangat
menikmati hal ini.
“eghhhh…ehmmm..akkkkh…….” ceracauku, Pak
Basuki tetap tenang dan mengerang pelan sampai
seluruh penisnya amblas ke dalam vaginaku. Lalu
dia membiarkanku mengambil nafas. Sebelum
dengan tiba-tiba dia menggenjotku dengan irama
yang teratur dan cepat, aku kesakitan, meringis
dan menjerit, tapi genjotan Pak Basuki malah
semakin menggila. Herannya, berapa menit
kemudian aku orgasme. Ini adalah orgasme
tercepatku, mungkin ini bedanya kalau disetubuhi
oleh orang yang lebih tua dan berpengalaman.
PAk Basuki membiarkan aku sebentar, lalu
kembali memompa penisnya di dalam vaginaku.
Aggh…ah…hmm…sshh… desahanku semakin
kencang, libidoku naik kembali, tubuhku
berkelenjotan digenjot Pak Basuki.
“enak banget… ehm… enak banget m3mekmu…
sempit… kmu apain?” tanyanya sambil
mempercepat genjotannya.
“ugh…ra..rajin…mm..minum daun sirih pak…
ahh…sshh…. enak pak…” jawabku terputus-putus.
Dua puluh menit Pak Basuki menindihku,
kewanitaanku benar-benar terasa perih dan
panas.
“ah…aukkkh…agh..agh…agh…auwww” aku hanya
menjerit sambil menggeleng-gelengkan kepalaku
menahan sakit. Tubuhku benar-benar dihimpit
dan kemaluanku benar-benar dipacu sangat kasar
dan cepat. “sss…sssakit…agh….agh…auww…
uhuhhh…” tanpa sadar aku mengeluarkan air
mata. Pak Basuki tidak perduli. Waktu terasa
sangat lama berjalan, rasa nikmat memang ada,
tapi begitu juga rasa sakit.
“bapak keluar… keluarin di dalam ya?” katanya
berbisik ditelingaku sambil menekan-nekan
penisnya lebih dalam dan cepat lagi. Aku hanya
mengangguk pelan, cowok-cowok memang suka
banget ngeluarin di dalam, pikirku.
Akhirnya Pak Basuki menusukkan penisnya
dalam-dalam, aku yang menyadari kalau dia mau
ejakulasi menyambutnya dengan erangan keras.
Dan cairan hangat menyembur ke rahimku.
Tubuhku penuh dengan keringat, keringatku dan
Pak Basuki. Pak Basuki sendiri terlihat sangat
puas.
Pak Aryo tidak menyia-nyiakan kesempatan
barang semenit, dengan santai tubuhku yang
lemas dibimbingnya dan kepala juga dadaku
dinaikkannya ke jok truk, dia mau
menunggangiku dari belakang.
“engghh… pelan pe..lan… agghh…” Aku yang
sudah lemas hanya bisa melenguh pelan saat
k0ntol pak Aryo melesak masuk ke vaginaku.
Mudah saja penisnya masuk, vaginaku sudah
amat basah dari campuran cairan kewanitaan dan
sperma pak Basuki. Pak Basuki sudah
mengenakan baju lengkapnya, dan beranjak
keluar. Tak lama kemudian, mesin truk menyala.
“eengh….ah…ah… ehm..ehmm…” lenguhku saat
Pak Aryo asik mengent0tku di posisi doggy style.
Payudaraku yang terhimpit jok ikut bergoyang
karena tubuhku sudah benar-benar lemas.
“Enak banget tempikmu lonte!!” kata Pak Aryo
sambil mempercepat pacuannya. “Gua bakal
ent*t loe ampe pagi! Tempik cewek jilbaban
emang beda!!.” katanya. Kupingku panas
mendengarnya, tapi aku benar-benar tidak bisa
melakukan apa-apa. Aq hanya bisa merintih dan
semakin keras merintih. Tiba-tiba Pak Aryo
menarik rambutku, hingga tubuhku tertekuk ke
belakang, genjotannya semakin kencang, aq bisa
mendengar bunyi kocokan penisnya di
kemaluanku, tangan kanannya mencengkeram
pinggulku erat-erat, dan dia terus memperkuat
genjotannya.
“Aaaah! Aaakh! Aakh pak! Sss..sssakit! Sakit!”
jeritku.
“Diam loe lonte jilbaban!!” Bentak Pak Aryo.
Aku terus menjerit, tapi Pak Aryo tidak perduli.
Setelah beberapa saat, akhirnya dia melepaskan
jambakan dan genggamannya, mambalikkan
tubuhku dan memerintahku. “Pake jilbabmu!”
Ujarnya kasar, sambil menangis aku mengenakan
jilbabku. Pak Aryo mengeluarkan hp-nya dan
mulai menekan tombol rekam. Dia menyodorkan
k0ntolnya ke wajahku.
Tanpa disuruh, aku menghisap tongkolnya cepat-
cepat, beberapa menit kemudian dia menarik
lepas tongkolnya dan mengeluarkan air maninya
di wajahku, sangat banyak, menetes2 hingga
menodai jilbabku, lalu dipaksakannya tongkolnya
masuk ke mulutku, dan ajaib! Dia mengeluarkan
air maninya sekali lagi didalam mulutku, aq
menelannya dan menjilati k0ntolnya hingga
benar-benar bersih. Semuanya direkam olehnya.
“puas banget gua ngent*t cewek jilbaban kayak
loe”. Katanya, “sekarang pake baju loe semua,
kecuali bra ama CD!!”. Aku menurut saja.
Setelah merapikan pakaianku aku merasa truk
mulai berhenti. “ayo turun, kita mampir sebentar”
ujar Pak Aryo. aku menurut saja, dan begitu
melihat sekitar ternyata aku berada di sebuah
Markas batalyon di Malang. tampak seorang
tentara muda mendekat dan berbincang-bincang
dengan Pak Aryo.
“kamu bakal kita balikin ke kamp da..” ujar Pak
Basuki pelan. “tapi ga mungkin dengan keadaan
kumal gitu, kamu mandi dulu disini, toh kita juga
butuh mandi, dan setelah mandi ntar kamu
layanin dulu tentara muda itu, dia komandan
disini”
“layani dia pak?”
“iya, ngent0t ma dia, tapi kayaknya dia bakal ajak
beberapa orang kepercayaannya”
“aduh pak, saya capek, bapak tau sendiri kan tadi
perjalanan Surabaya-Malang saya dipake temen-
temen, trus dipake bapak-bapak”
“iya deh ntar saya coba lobby supaya dia ga
ngajak temennya banyak-banyak, tapi kmu pinter
ya? minum daun sirih buat ngesetin m3mek
kmu?”
“saya emang dah biasa pak, dari kecil”
Pak Aryo selesai bicara dengan tentara muda itu,
lalu mereka mendekatiku.
“kamu ikut mas Pras ini, mandi sana trus kita
pulangin ke kamp”
Aku menurut saja, mengikuti Pras dari belakang,
ia mengantarku ke sebuah kamar mandi di
belakang barak, dan aku terkejut mengetahui
kamar mandi itu gak ada pintunya.
“dah kmu mandi sana” ujar Pras sambil
mencolek dadaku, “ntar aku sama temenku make
kamu di kamar mandi itu oke?”.
“mas sendiri aja ya?, ga usah pake temen?”
pintaku memelas.
“lho? kenapa?”
“saya capek mas, hri ini digilir banyak orang”
“oke deh, ya udah mandi sana, saya liatin dari
sini”
Perlahan tapi pasti aku memlepaskan jilbabku,
rambutku yang sebahu tergerai luluh, Mas Pras
masih memandangiku dengan senyum-senyum
sendiri. Meski sedikit risih, aku mencoba
bertahan dengan melepaskan pakaian terusanku,
dan segeralah terlihat payudara dan vaginaku
yang memang tak tertutup bra maupun CD. Aku
maju sedikit untuk menyentuh air di bak, dingin
sekali, pikirku, segera kuambil segayung air dan
sambil mencoba mengacuhkan dinginnya mala
itu aku mengguyur tubuhku dengan air, dan
mulai mandi. Kuambil sabun batangan yang ada
di dekat bak dan kugosok-gosokkan ke tubuhku.
Begitu selesai aku mengambil handuk dan
mengeringkan tubuhku, belum selesai aku
mengeringkan tubuhku, Mas Pras sudah
menubrukku dari belakang, meremas-remas
payudaraku lemas, aku mengerang sedikit dan
pasrah dalam pelukannya.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk hanyut
dalam cumbuan Mas Pras, dan juga tidak butuh
waktu lama bagiku untuk menyadari kalau dia
tidak lagi mengenakan celana, penisnya
menegang dan menggesek-gesek belahan
pantatku.
“isep!” katanya agak kasar di telingaku.
Aku segera berbalik, berlutut di depan k0ntolnya
dan mulai membuka mulutku, memasukkan
kepala penisnya dengan hati-hati, memainkan
lidahku, dan menghisapnya sekuatku.
“ehmm… engg…” erang Mas Pras setiap kuhisap
penisnya kuat-kuat.
“masukkan…hmm…. Yang dalam…” perintahnya,
tanpa menunggu dia memegang kepalaku dan
mengocok penisnya dalam mulutku.
Aku sedikit sulit berkosentrasi dengan tarikan di
kepalaku, sekitar 2 menitan dia melepas kepalaku
dan menarik k0ntolnya dari mulutku.
“pegangan ke bak, aku mau nunggangin kamu
dari belakang!” perintahnya, dan segera setelah
aku menungging dia melesakkan k0ntolnya ke
temp1kku.
“Akkhh…” desahku kecil saat k0ntolnya
menembus tiap lapis dinding luar vaginaku.
Tanpa menunggu lama, mas Pras menggoyangku.
Erangannya merasakan setiap kenikmatan saat
menunggangiku menggema ke seluruh kamar
mandi. Membuat desahanku juga jadi semakin
kencang.
“ukh… enak… lama banget ga ngerasain tempikk…
ukh…” ujarnya sambil memepercepat
tunggangannya.
“akh! Akh!… akh… uuh… ssshh…” desahku sambil
berusaha menerima goyangannya yang semakin
kencang. Wajahku megap-megap dan mataku
merem melek menikmati goyangannya.
Dicengkerammnya pinggulku dan ditekannya
penisnya dalam-dalam sambil menarik pinggulku,
sehingga pantatku menekan perutnya, aku jadi
lemas, pasrah, dan lelah, kenikmatan yang
kurasakan lambat-laun semakin mengambil-alih
kendali atas tubuhku.
“akh! Akh!…uhmm… teruss… mas… aku… samp…
sampai… AAAAgH!!!” akhirnya tubuhku
mengejang, Mas Pras menghentikan gerakannya
sekitar lima detikan, lalu kembali
menunggangiku. Setelah beberapa menit dia
menghujamkan penisnya dalam-dalam dan
mengejang, aku dapat merasakan hangat
spermanya yang mengisi kewanitaanku. Setelah
puas dia memintaku membersihkan penisnya
dengan lidahku.
“enak banget!” katanya, “aku bawa ke barak ya?
Biar dient0t ma temen-temenku juga?” katanya,
tapi aku buru-buru menolak sambil memasang
wajah lemas. Untung dia mengurungkan niatnya.
Malam itu aku dikembalikan ke Bumi Perkemahan
Malang, dimana ternyata anak-anak sedang pesta
seks gila-gilaan di alam terbuka, bahkan beberapa
pria yang ikut bukan dari kampusku.

1 komentar:

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda