Translate

Selasa, 24 April 2012

SUMIAH PEMBANTU LUGU


Aku adalah seorang ayah
dari 2 orang anak lelaki yang
berusia 9 dan 4 tahun.
Isteriku bekerja sebagai
Direktur di suatu prusahaan
swasta. Kehidupan rumah
tanggaku harmonis dan
bahagia, kehidupan seks-ku
dengan isteriku tidak ada
hambatan sama sekali. Kami
memiliki seorang pembantu,
Sumiah namanya, berumur
kurang lebih 23 tahun, belum
kawin dan masih lugu karena
kami dapatkan langsung dari
desanya di Jawa Timur.
Wajahnya biasa saja, tidak
cantik juga tidak jelek,
kulitnya bersih dan putih
terawat, badannya kecil,
tinggi kira-kira 155 cm, tidak
gemuk tapi sangat ideal
dengan postur tubuhnya,
buah dadanya juga tidak
besar, hanya sebesar nasi di
Kentucky Fried Chicken.
Cerita ini terjadi pada tahun
1999, berawal ketika aku
pulang kantor kurang lebih
pukul 14:00, jauh lebih cepat
dari biasanya yang pukul
19:00. Anakku biasanya
pulang dengan ibunya pukul
18:30, dari rumah neneknya.
Seperti biasanya, aku
langsung mengganti celanaku
dengan sarung kegemaranku
yang tipis tapi adem, tanpa
celana dalam. Pada saat aku
keluar kamar, nampak
Sumiah sedang menyiapkan
minuman untukku, segelas
besar es teh manis.
Pada saat dia akan
memberikan padaku, tiba-
tiba dia tersandung karpet
di depan sofa di mana aku
duduk sambil membaca
koran, gelas terlempar ke
tempatku, dan dia
terjerembab tepat di
pangkuanku, kepalanya
membentur keras
kemaluanku yang hanya
bersarung tipis. Spontan
aku meringis kesakitan
dengan badan yang sudah
basah kuyup tersiram es teh
manis, dia bangun
membersihkan gelas yang
jatuh sambil memohon maaf
yang tidak henti-hentinya.
Semula aku akan marah,
namun melihat wajahnya
yang lugu aku jadi kasihan,
sambil aku memegangi
kemaluanku aku berkata,
“Sudahlah nggak pa-pa,
cuman iniku jadi pegel”,
sambil menunjuk
kemaluanku.
“Sum harus gimana Pak?”
tanyanya lugu.
Aku berdiri sambil berganti
kaos oblong, menyahut
sambil iseng, “Ini musti
diurut nih!”
“Ya, Pak nanti saya urut,
tapi Sum bersihin ini dulu
Pak!” jawabnya.
Aku langsung masuk kamar,
perasaanku saat itu kaget
bercampur senang, karena
mendengar jawaban
pembantuku yang tidak
disangka-sangka. Tidak lama
kemudian dia mengetuk
pintu, “Pak, Mana Pak yang
harus Sum urut..” Aku
langsung rebah dan
membuka sarung tipisku,
dengan kemaluanku yang
masih lemas menggelantung.
Sum menghampiri pinggir
tempat tidur dan duduk.
“Pake, rhemason apa balsem
Pak?” tanyanya.
“Jangan.. pake tangan aja,
ntar bisa panas!” jawabku.
Lalu dia meraih batang
kemaluanku perlahan-lahan,
sekonyong-konyong
kemaluanku bergerak
tegang, ketika dia
menggenggamnya.
“Pak, kok jadi besar?”
tanyanya kaget.
“Wah itu bengkaknya mesti
cepet-cepet diurut. Kasih
ludahmu aja biar nggak
seret”, kataku sedikit
tegang.
Dengan tenang wajahnya
mendekati kemaluanku,
diludahinya ujung
kemaluanku.
“Ah.. kurang banyak”,
bisikku bernafsu.
Kemudian kuangkat
pantatku, sampai ujung
kemaluanku menyentuh
bibirnya, “Dimasukin aja ke
mulutmu, biar nggak cape
ngurut, dan cepet keluar
yang bikin bengkak!”
perintahku seenaknya.
Perlahan dia memasukkan
kemaluanku, kepalanya
kutuntun naik turun,
awalnya kemaluanku kena
giginya terus, tapi lama-lama
mungkin dia terbiasa dengan
irama dan tusukanku. Aku
merasa nikmat sekali. “Akh..
uh.. uh.. hah..” Kulumannya
semakin nikmat, ketika aku
mau keluar aku bilang
kepadanya, “Sum nanti kalau
aku keluar, jangan
dimuntahin ya, telan aja,
sebab itu obat buat
kesehatan, bagus sekali
buat kamu”, bisikku. “Hepp..
ehm.. HPp”, jawabnya sambil
melirikku dan terus
mengulum naik turun.
Akhirnya kumuncratkan
semua air maniku. “Akh..
akh.. akh.. Sum.. Sum..
enakhh..” Pada saat aku
menyemprotkan air maniku,
dia diam tidak bergerak,
wajahnya meringis
merasakan cairan asing
membasahi
kerongkongannya, hanya aku
saja yang membimbing
kepalanya agar tetap tidak
melepas kulumannya.
Setelah aku lemas baru dia
melepaskan kulumannya,
“Udah Pak?, apa masih sakit
Pak?” tanyanya lugu, dengan
wajah yang memelas,
bibirnya yang basah
memerah, dan sedikit
berkeringat. Aku tertegun
memandang Sum yang begitu
menggairahkan saat itu, aku
duduk menghampirinya, “Sum
kamu capek ya, apa kamu
mau tahu kalau kamu diurut
juga kamu bisa seger kayak
Bapak sekarang!”
“Nggak Pak, saya nggak
capek, apa bener sih Pak
kalo diurut kayak tadi, bisa
bikin seger? tanyanya
semakin penasaran. Aku
hanya menjawab dengan
anggukan dan sambil meraih
pundaknya kucium
keningnya, lalu turun ke
bibirnya yang basah dan
merah, dia tidak meronta
juga tidak membalas. Aku
merasakan keringat
dinginnya mulai keluar,
ketika aku mulai membuka
kancing bajunya satu
persatu, sama sekali dia
tidak berontak hingga
tinggal celana dalam dan Bh-
nya saja.
Tiba-tiba dia berkata, “Pak,
Sum malu Pak, nanti kalo Ibu
dateng gimana Pak?”
tanyanya takut.
“Lho Ibu kan baru nanti jam
enam, sekarang baru jam
tiga, jadi kita masih bisa
bikin seger badan”, jawabku
penuh nafsu. Lalu semua
kubuka tanpa penutup,
begitu juga aku, kemaluanku
sudah mulai berdiri lagi. Dia
kurebahkan di tepi tempat
tidur, lalu aku berjongkok di
depan dengkulnya yang
masih tertutup rapat, “Buka
pelan-pelan ya, nggak pa-pa
kok, aku cuma mau urut
punya kamu”, kataku
meyakinkan, lalu dia mulai
membuka pangkal pahanya,
putih, bersih dan sangat
sedikit bulunya yang
mengitari liang
kewanitaannya, cenderung
botak.
Dengan ketidaksabaranku,
aku langsung menjilat bibir
luar kewanitaannya, tanpa
ampun aku jilat, sesekali aku
sodokkan lidahku ke dalam,
“Akh.. Pak geli.. akh..
akuhhfh..” Klitorisnya basah
mengkilat, berwarna merah
jambu. Aku hisap, hanya
kira-kira 5 menit kulumat
liang kewanitaannya, lalu dia
berteriak sambil menggeliat
dan menjepit kepalaku
dengan pahanya serta
matanya terpejam. “Akh..
akh.. uahh..” teriakan
panjang disertai
mengalirnya cairan dari
dalam liang kewanitaannya
yang langsung kujilati
sampai bersih.
“Gimana Sum, enak?” tanyaku
nakal. Dia mengangguk sambil
menggigit bibir, matanya
basah kutahu dia masih
takut. “Nah sekarang, kalau
kamu sudah ngerti enak, kita
coba lagi ya, kamu nggak
usah takut!”. Kuhampiri
bibirnya, kulumat bibirnya,
dia mulai memberikan reaksi,
kuraba buah dadanya yang
kecil, lalu kuhisap-hisap
puting susunya, dia
menggelinjang, lama
kucumbui dia, hingga dia
merasa rileks dan mulai
memberikan reaksi untuk
membalas cumbuanku,
kemaluanku sudah tegang.
Kemudian kuraba liang
kewanitaannya yang
ternyata sudah berlendir
dan basah, kesempatan ini
tidak kusia-siakan,
kutancapkan kemaluanku ke
dalam liang kenikmatannya,
dia berteriak kecil, “Aauu..
sakit Pak!”. Lalu dengan
perlahan kutusukkan lagi,
sempit memang, “Akhh.. uuf
sakit Pak..”. Melihat
wajahnya yang hanya
meringis dengan bibir basah,
kuteruskan tusukanku
sambil berkata, “Ini nggak
akan lama sakitnya, nanti
lebih enak dari yang tadi,
sakitnya jangan dirasain..”
tanpa menunggu reaksinya
kutancapkan kemaluanku,
meskipun dia meronta
kesakitan, pada saat
kemaluanku terbenam di
dalam liang surganya kulihat
matanya berair (mungkin
menangis) tapi aku sudah
tidak memikirkannya lagi,
aku mulai mengayunkan
semua nafsuku untuk si Sum.
Hanya sekitar 7 menit dia
tidak memberikan reaksi,
namun setelah itu aku
merasakan denyutan di
dalam liang kewanitaannya,
kehangatan cairan liang
kewanitaannya dan erangan
kecil dari bibirnya. Aku tahu
dia akan mencapai klimaks,
ketika dia mulai
menggoyangkan pantatnya,
seolah membantu
kemaluanku memompa
tubuhnya. Tak lama
kemudian, tangannya
merangkul erat leherku,
kakinya menjepit
pinggangku, pantatnya naik
turun, matanya terpejam,
bibirnya digigit sambil
mengerang, “Pak.. Pak
terus.. Pak.. Sum..
Summ..Sum.. daapet enaakhh
Pak.. ahh..” mendengar
erangan seperti itu aku
makin bernafsu, kupompa
dia lebih cepat dan.. “Sum..
akh.. akh.. akh..”
kusemprotkan semua maniku
dalam liang kewanitaannya,
sambil kupandangi wajahnya
yang lemas. Aku lemas, dia
pun lemas.
“Sum aku nikmat sekali,
habis ini kamu mandi ya,
terus beresin tempat tidur
ini ya!”, suruhku di tengah
kenikmatan yang kurasakan.
“Ya Pak”, jawabnya singkat
sambil mengenakan
pakaiannya kembali.
Ketika dia mau keluar kamar
untuk mandi dia berbalik dan
bertanya, “Pak.. kalo pulang
siang kayak gini telpon dulu
ya Pak, biar Sum bisa mandi
dulu, terus bisa ngurutin
Bapak lagi”, lalu ngeloyor
keluar kamar, aku masih
tertegun dengan
omongannya barusan, sambil
menoleh ke sprei yang
terdapat bercak darah
perawan Sum.
Saat ini Sum masih bekerja
di rumahku, setiap 2 hari
menjelang menstruasi
(datang bulannya sangat
teratur), aku pulang lebih
awal untuk berhubungan
dengan pembantuku, namun
hampir setiap hari di pagi
hari kurang lebih pukul 5,
kemaluanku selalu
dikulumnya saat dia mencuci
di ruang cuci, pada saat itu
isteriku dan anak-anakku
belum bangun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini,kami akan kunjungi situs anda